
"Arum, papa sudah bilang kamu harus akhiri cinta kalian itu. Papa benar benar tidak suka! sebentar lagi, satu bulan lagi kamu harus mau menerima. Pernikahan pilihan papa. Jack lebih baik dan sayang!"
"Pah, Arum mohon. Ghani sangat mencintai Arum, ia memang tidak mempunyai pekerjaan tetap.Tapi Arum yakin, dia sosok pria yang baik untuk imam Arum."
"Cukup Arum! papa berikan waktu, agar kalian benar benar putus tidak bertemu lagi. Jika tidak, papa akan berlaku kasar pada anak itu." ujar sang papa.
Beberapa Hari Kemudian.
"Ghani! sudah cukup, aku akan kembali. Aku harus menjenguk papa, aku menyempatkan bertemu denganmu. Karena aku akan dinikahi."
"Arum, tolonglah. Kita harus pertahankan kisah kita."
"Aku akan pergi sekarang, lepaskan aku!"
Ghani pun menghentikan langkah tangan Arum, tubuhnya tak bisa menolak, debaran cinta mereka memang kuat, meski ia yakin. Jika Ghani tengah memperjuangkannya. Tapi sulit baginya semua telah terlambat. Jack sudah masuk mempengaruhi papa tersayangnya.
"Arum, aku mohon maafkan aku. Meski kita menjalani diam diam. Aku akan menunggu dan bertahan mencari jalan keluarnya. Apa kau mengerti maksudku?"
Ghani berkali - kali memohon untuk menunggu, ingin sekali Arum menolak, tapi rasanya sulit, tubuh dan perasaan itu tak bisa menolak jika cintanya pada Ghani amat besar. Semakin sulit untuk melepaskan, ia pun tak rela jika ditinggal kekasih hati nya yang telah mendalam begitu saja.
"Ghani, apa kamu tau resiko nantinya. Keadaanku berbeda dan aku takut?"
"Tidak masalah Arum, kita akan bertemu di waktu Jack tak disampingmu. Meski dengan sembunyi, percayalah beri aku ruang untuk memperjuangkan pada papamu, dan masalah kita nanti. Aku yakin kita bisa melewatinya."
Arum pun menangis memeluk tubuh pria dihadapannya, ia tak bisa menolak. Cinta memang membuat menjadi mata terasa kabur, ia jelas paham akan resiko nanti yang ia akan dapat. Tapi entah mengapa ia seperti sanggup akan melewati badai kelak jika ia memperjuangkan hati nya bersamanya.
"Terimakasih, aku rindu sangat aku kangen suasana dulu, jangan pernah bercerita pada kedua sahabatku tentang masalahku. Apalagi Mey aku tidak ingin ia terlibat, kasian ia sudah banyak melewati badai, mungkin ini adalah ujianku untuk menempuh kebahagiaan."
"Ya Arum, terimakasih tak menolak ku. Maafkan aku, aku janji akan memperjuangkanmu dalam keadaan apapun, situasi apapun."
Dua jam mereka menghabiskan makan, dengan gaya Arum yang seperti mencari buronan. Pakaian jaket dan topi serta kacamata serba hitam ia keluar bersama Ghani, dan membuka nya ketika diwaktu yang aman dan tak terlihat.
__ADS_1
"Makasih ya Ghani, aku masuk dulu. Juga makasih telah mengantarkan kerumah sakit menjenguk papa meski tadi kamu ..."
"Tak apa Arum, aku paham, kita lakukan perlahan, dan ponselmu dariku itu khusus hanya ada nomorku saja. Untuk berkomunikasi dengan aman, jika kamu tak membalas aku paham ada Jack disampingmu, tapi pastikan simpan dan gunakan dengan aman."
"Siap komandan."
Arum pun menyambar kilat mencium pipi Ghani dan beranjak pergi. Ia menatap masuk gerbang dan melambaikan tangan masuk kedalam rumah.
Ghani hanya bisa mengantar ditepi samping gerbang rumah, melihat Arum masuk dengan selamat. Ia pun pergi.
"Sekarang aku telah berbaikan dengan Arum, tinggal masalah Jack, aku harus mencari tau tentangnya dan merebut hati papa Jien untuk merestui hubungan kami." lirih Ghani, ia juga bingung karena Rico sang papa, sangat tak menyukai wanita pilihannya juga.
Sabar Ghani, cinta memang butuh pengorbanan, semua salahku yang terlambat yang mengabaikan hubungan ini.
.......
Sepanjang jalan yang lelah, Arum membuat makala'nya kembali, perasaan suasana kini benar berbunga bertemu orang yang dicinta kini telah kembali.
"Aku tidak menyangka jika Ghani akan bersikap seperti itu. Semoga saja semua akan baik dan berjalan mulus." ucap Arum yang memegang pena dan memutarnya ke arah wajah dan pipi dengan lamunanan, ia pun membuat makala skripsi kembali ditemani seteguk lemon tea hangat dan sepotong pizza.
"Aku harus merubahnya, jangan sampai salah menjawabnya."
Ia menatap kedua ponsel yang sama itu, merasa seperti sedang selingkuh diam- diam seperti ini. Arum pun menjawab panggilan Jack kala ponselnya berdering.
Jack berkata , "Sedang apa kamu Arum, kenapa lama sekali mengangkatnya?"
"Aku sedang membuat makala Jack, kenapa? dan maaf tadi ponsel ku disilent."
"Baiklah cepat sambungkan videocall, aku akan melihatmu dari jauh. Meski aku sibuk diruanganku, jangan pernah mematikannya!"
Terlihat malas Arum berdebat, jika pria itu memerintah membuatnya takut.
__ADS_1
Arum hanya menatap ponsel dengan kesal, ingin rasanya mengamuk, mencakar- cakar. Tapi ia tak bisa, karena percuma dicakar hanya sebuah kaca ponsel yang didalamnya memang ada seorang nama Jack.
Kini ia merasa bagai peliharaan dan pria ini selalu membuat ku tak nyaman. Jack benar benar menjadi satpam kehidupan yang abadi. Rasanya sangat tidak nyaman di ikuti setiap nafas dengan pria datar seram besar sepertimu Jack.
Sementara Ghani seperti surga jika aku bertemu dengannya, tapi Jack bagai nerakaku tapi entahlah siapa yang akan menjadi surga kehidupanku kelak yang menjadi bagian imamku.
"Aku seperti ada di dalam dua pilihan antara surga dan neraka." lirih Arum dalam hati.
Lama Jack menemani Arum, hingga ia terlihat diponsel layarnya, meski sedang sibuk memandu segala artis movie layar lebar. Ia adalah orang sibuk dan penting dalam bidang sutradara.
Tak terasa Jack memperhatikan Arum dan berkata.
"Dasar gadis bodoh, membuat makala selalu tertidur dimeja seperti itu, bagaimana jika teh digelas itu tumpah mengenai tangannya ketika ia bangun tak sadar."
Jack pun mengakhiri panggilan videonya karena akan meeting.
Jack pun tak tau, kenapa begitu memperhatikan Arum seperti ini. Awalnya ia jatuh hati pada sahabat Arum tapi ia telah mati akibat kecelakaan. Seiringnya waktu ia mencoba mendekati Arum, agar dapat masuk kedalam ruang privasi.
Berkali - kali ia masuk tapi seorang pria yang kuat, dan terlebih mengetahui jika keluarganya orang kuat, sahabat dari kedua orangtuanya. Sehingga Jack mengakhiri dan melampiaskan pada Arum yang membuatnya menyukai.
Meski ia tak ingin menjadikan Arum istrinya. Tapi entahlah ia hanya pria yang bisa memperlakukan berbeda ketika ini adalah hal yang membuatnya senang. Ia sadar akan segera menikah, tapi tak akan melepaskan Arum begitu saja.
Sudah banyak ia korbankan untuk keluarganya. Bukankah pria berkecukupan pantas melakukan apa saja. Senyum tertarik licik dibibir Jack.
***
Sementara Ghani yang tersulut kesal akan kedua orangtuanya yang tetap akan menikahinya dengan wanita pilihan keluarga. Membuat Ghani terdiam di kolam renang.
"Kak, kakak sayang banget ya sama Arum."
"Kenapa kau tanya? kau tidak mengerti perasaan aku Ghina."
__ADS_1
"Aku paham, tapi cobalah mengerti bicara pada papa! mungkin karena market papa tersandung kasus, keluarga mereka licik. Aku juga sebenarnya tidak rela, jika Shiren menjadi bagian keluarga kita. Tapi aku yakin Shiren wanita yang baik. Hanya saja keluarga mereka licik, membuat market papa down. Setidaknya bantu papa!" ujar Ghina, pada Ghani.
Tbc.