
"Camilla, hei. Boleh aku bertanya satu hal kepadamu?" tanya Andrew pada suatu hari.
"Tanya saja silahkan," jawab Camilla tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Apakah Millo kekasihmu?" tanya Andrew lagi.
Milla tertawa dan terpaksa menghentikan aktifitas memgatur senar gitarnya. "Hahahaha, apakah tampak seperti itu?" Milla balik bertanya.
Andrew mengangguk tak berdaya, apakah maksudnya mereka belum menjadi pasangan tapi Milla mengharapkan Millo sebagai kekasihnya?
"Aku tidak tertarik untuk memiliki kekasih. Maksudku, aku sudah terkhianati satu kali dan aku tidak akan mau mengulang rasa sakitnya lagi," jawab Milla dingin.
Andrew tidak pernah mendengar hal ini dari Milla sebelumnya. Dan sekarang ia berpikir, siapa yang mengkhianati Milla? Apakah dirinya? Andrew terus bertanya pada dirinya sendiri.
Maka dari itu, Andrew memutuskan untuk bertanya demi memuaskan rasa penasarannya. "Kalau boleh aku tau, siapa yang mengkhianatimu?"
"Ah, yang jelas dia seorang pria dari kota jauh disana dan dia cukup tampan, tapi aku sudah melupakannya jadi aku tidak akan mengingatnya lagi," jawab Milla santai.
Jelas sudah siapa yang dimaksud oleh Camilla dan Andrew pun menyadarinya bahwa dialah yang di maksud Camilla. Tapi dia tidak pernah mengkhianati Camilla. Jadi, siapa disini yang berkhianat?
"Apakah dia meninggalkanmu? Pria itu maksudku?" tanya Andrew lagi.
Tiba-tiba saja Millo datang mendekat. "Apa kamu mengerti bahasa manusia, Willow? Dia berkata di ingin melupakan kejadian itu. Kenapa kamu mengungkitnya? Mungkin saja, kejadian itu sangat menyakitkan untuk Milla sampai ia melupakan pria itu," kata Millo.
Milla tersenyum karena Millo membebaskannya dari keharusan menjawab pertanyaan Andrew.
Deg!
Perasaan aneh itu lagi. Akhir-akhir ini, Andrew memiliki perasaan aneh saat Millo mendekati Milla. Apakah ini rasa cemburu? Andrew menggelengkan kepalanya kuat-kuat, dan karena dia melakukan hal itu, Milla dan Millo tertawa melihat kelakuan Andrew.
"Hahaha, kamu seperti anak anjing kecil yang manis yang menolak untuk di mandikan," ujar Milla kepada Andrew yang di susul dengan anggukan setuju dari Millo.
Kali ini tidak ada yang membela Tuan Andrew Oak karena asisten kesayangan Andrew yang biasa membela dan menjadi teman cerita yang baik, ditarik oleh ayahnya.
Diolok-olok seperti itu, Andrew hanya bisa memberengutkan bibirnya.
Camilla merasa kasihan serta tidak enak melihatnya. "Aku akan menceritakan kepadamu suatu saat, tidak perlu bersedih hati. Semangatlah, Willow!" ucap Camilla berseru.
Selepas pembicaraannya dengan Camilla, Millo menghampiri Andrew dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Hei, aku memperhatikanmu dari awal kedatanganmu, sepertinya kamu menaruh simpati kepada Milla?" tanya Millo to the point.
"Kalau iya, kenapa?" tantang Andrew.
Millo mendengus. "Kalau begitu, kamu bersaing denganku. Aku sudah menyatakan cintaku kepadanya sejak lima tahun yang lalu, dan akan tetap kulanjutkan perjuanganku. Aku pikir perjuangan cintaku akan lebih menarik karena kehadiranmu," kata Millo tanpa rasa kesal.
"Aku tidak takut dengan ultimatummu, kita akan lihat siapa yang akan beruntung mendapatkan Milla," ucap Andrew.
"Tampaknya kamu percaya diri sekali, Willow. Kukagumi rasa optimismu. Ayo kita berjuang. Oh, satu lagi, aku tidak tau asal usulmu tapi aku yakin kamu mengenalku dengan baik," ujar Millo.
Andrew memang sudah mengenal Millo Forest sejak pertama ia melihatnya. Siapa yang tidak kenal Forest? Mereka terkenal dengan segala kekayaan dan badan amal yang tersebar di seluruh penjuru dunia.
"Aku tidak tau," jawab Andrew misterius.
Lagi-lagi Millo tidak mempercayai ucapan Willow. "Tunggu sampai aku mengetahui identitas aslimu, Willow atau someone who's hiding behind you," ujarnya sambil berlalu.
Pertemuan antara Millo dan Willow seperti sudah di takdirkan. Tidak mungkin kalau mereka tidak saling mengenal karena keluarga konglomerat seperti mereka biasa berpesta dan berbaur satu sama lain.
"Proove it, i'll wait!" sahut Andrew.
Persaingan cinta antara Millo dan Willow semakin lama semakin membuat kesal.
Andrew dan Millo saling bertatapan dan saling menyalahkan. "Ini tidak akan terjadi, kalau kamu tidak merebutnya, Millo!" ucap Andrew gusar.
"Loh, kamu saja yang lemah! Bawa barang ini saja tidak becus! Huh!" balas Millo tak kalah panas.
"Sudah! Biarkan aku membawanya sendiri seperti biasa!" sahut Milla kesal.
Dan hal itu terus berlanjut, hingga Milla sudah tidah dapat menahan emosinya. "Kalian mau apa sih! Aneh sekali! Akhir-akhir ini selalu berebutan tentang apapun! Apakah kalian anak kecil? Menyusahkan saja!" kata Milla saat mereka mengadakan rapat kecil di malam hari.
"Jujur saja, aku ingin menjadi kekasihmu. Sudah kukatakan itu dari lima tahun yang lalu dan karena kamu tidak menjawabnya jadi aku ungkapkan kembali karena memendam sesuatu di dalam hati itu tidak baik dan dapat menyebabkan penyakit kronis," jawab Millo.
Andrew yang merasa Millo mencuri start melayangkan protesnya kepada Milla. "A...aku juga menyukaimu. Su..sudah sejak lama," jawab Andrew melirik ke arah Millo dengan kesal.
Milla membenamkan wajahnya di kedua tangannya. "Eegghh! Sudah kukatakan berkali-kali aku tidak tertarik dengan pria dan aku sudah memutuskan untuk tidak menikah walaupun aku tua, keriput, ubanku banyak dan aku bungkuk!" tukas Milla bergegas pergi dengan membanting pintu.
***
"Apa rencanamu?" tanya Will.
__ADS_1
"Aku akan mengunjungi Camilla dan bertukar tempat dengannya," jawab Charlie santai sambil menyesap minumannya.
Will menggelengkan kepalanya putus asa. "Apa kamu tau, itu bukan jalan keluar, Charlie. Lagipula idemu itu tidak bisa di sebut rencana!" sahut Will.
"Andrew pasti sudah bisa membedakan mana Camilla dan mana kamu yang asli. Kalau pun kamu bertukar tempat, apa kamu sanggup tinggal di kota kecil seperti itu? Kalau Milla, lihat saja lima tahun dia disana dia tampak bahagia, tapi aku tidak dapat membayangkan kamu yang ada disana. Hentikan idemu itu, dan belajar menjadi Camilla supaya kamu bisa mengeruk harta mertuamu," usul Will lagi.
Charlie terdiam dan berpikir, benar juga apa yang dikatakan Will, dia tidak akan sanggup tinggal di kota kecil apalagi tanpa ada pusat belanja atau pun salon. Tanpa sadar, Charlie bergidik ngeri membayangkan dirinya bertukar peran dengan Camilla.
"Baiklah, aku akan berusaha untuk menjadi Camilla yang asli. Namun, sesungguhnya hal itu sangat mengerikan dan menyiksaku, Will," kata Charlie lemas. Ia kembali membayangkan dia harus memasak, menguncir kuda rambutnya, atau segala hal yang aneh yang dilakukan oleh saudara kembarnya itu.
"Minta bantuan kepada orangtuamu juga, supaya mereka tau kalau kamu sedang menyamar menjadi Camilla," kata Will mengingatkan.
Charlie mengangguk. "Ibuku pasti akan setuju saja. Selama aku mendapatkan jaminan hidup dari keluarga Oak." jawab Charlie lagi.
Begitulah Tuan dan Nyonya Madison, mereka sadar bahwa mereka tidak dapat mengelola dengan baik harta serta kekayaan yang mereka miliki maka mereka menjual anak-anak perempuan mereka kepada pengusaha-pengusaha kaya dengan harapan anak-anaknya serta secara tidak langsung, mereka juga akan mendapatkan jaminan kehidupan dari suami anaknya.
***
"Andrew Oak," panggil Millo suatu malam saat Camilla sudah tertidur.
Ia tersenyum. "Begitu kan namamu?" tanya Millo.
Andrew menatapnya. "Jika kamu mengumbar identitasku kepada Camilla, maka habislah masa depanmu, Forest," bisik Andrew tegas.
"Katakan maksud kedatanganmu kesini! Apakah untuk menjemputnya?" tanya Millo.
Andrew menggelengkan kepalanya. "Aku ingin membuktikan sesuatu, dan-"
"Apakah dia kabur saat pernikahan kalian? Aku menemukannya dalam keadaan pingsan dan bergaun pengantin di depan apartemenku. Apakah itu menurutmu kabur?" tanya Millo ketus.
Meskipun dia tidak mengetahui apa yang terjadi kepada Milla saat itu, tapi ia yakin tidak mungkin ia kabur dalam kondisi mengenaskan seperti itu. Millo teringat beberapa waktu lalu, Milla pernah bercerita bahwa ia diculik namun tidak ada seorang pun dari keluarga bahkan calon suaminya mencari Milla selama lima tahun.
Dan tiba-tiba saja, saat ini di hadapannya ada seorang pria yang mengaku sebagai mantan calon suami Milla dan ingin membuktikan kejadian hari itu. Millo tidak bisa menerimanya!
"Ma... maksudmu Milla dijahati seseorang?" tanya Andrew berbisik dengan kencang.
Millo hanya mengangkat bahunya. "Itu tugasmu kan untuk membuktikannya," jawab Millo melengos pergi.
...----------------...
__ADS_1