Pernikahan Yang Tertukar

Pernikahan Yang Tertukar
Love Me, Please


__ADS_3

Siang itu menjadi siang yang sangat ramai ke kediaman Oak. Para wartawan yang berkumpul di rumah mereka semakin banyak jumlahnya karena mendengar berita bahwa anak yang dikandung Charlotte Madison adalah anak kandung dari Andrew Oak.


"Tidak mungkin!" tolak Andrew mentah-mentah. Ia mulai melupakan para wartawan yang akan meliputnya.


Keluarga Madison mendekati Tuan dan Andrew Oak kemudian ia menyerahkan amplop cokelat itu kepada mereka. "Baca ini, Tuan! Kamu tidak bisa berbohong lagi, darahmu sudah mengalir di dalam kandungan anakku!" tukas Tuan Madison berapi-api.


Andrew segera mengambil amplop cokelat itu, membukanya dan mengeluarkan selembar kertas putih dari amplop itu.


Dunianya serasa terbalik begitu ia membaca hasil test DNA itu. Ia terhenyak di kursinya dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Ini salah! Ini tidak mungkin! Ini pasti di manipulasi!" ujar Andrew, dan ia terus mengulangi ucapan itu.


Tuan Oak mengambil hasil test DNA dari tangan Andrew dan membacanya. Di luar dugaan, ia tersenyum. "Cara yang cukup cerdas mengingat backingan kalian adalah William Scott," jawab Tuan Oak menatap tajam Tuan Madison.


Senyum kemenangan di wajah Tuan Madison lenyap seketika. Para wartawan kembali menuntut mereka dengan pertanyaan.


"Scott? William Scott apakah putra dari Timothy Scott yang terjerat kasus korupsi serta penggelapan uang?" tanya salah seorang wartawan pria.


Tuan Oak tertawa keras. "Hahaha! Tentu saja, siapa lagi! Aku sudah mengambil keputusan, Martin. Kebetulan para wartawan yang berkumpul disini dapat menjadi saksi, aku akan tetap meminta Andrew sampai anakmu melahirkan. Kita lihat apakah anak itu memiliki kemiripan dengan Andrew atau tidak. Kamu bisa memanipulasi selembar kertas, Martin, tapi kamu tidak bisa memanipulasi karya Tuhan," ucap Tuan Oak disambut dengan Amin, dari para wartawan.


Tak lama, para penjaga di kediaman Tuan Oak membubarkan para wartawan setelah Nyonya Oak membekali mereka dengan kotak makan siang serta beberapa kudapan manis buatan tangan.


"Kamu yakin itu bukan anakmu?" Tuan Oak kembali memastikan kepada Andrew.


Andrew mengangguk mantap. "Aku yakin. Yakin sekali, pah. Apakah aku pernah berhubungan dengan Charlie? Ya, dalam keadaan mabuk dan itu tiga bulan yang lalu. Setelah itu, aku berada di apartemen Millo sampai hari ini. Kau ingat saat dimana aku kabur dari rumah? Aku pergi kesana, pah," jawab Andrew berusaha meyakinkan ayah dan ibunya.


"Tapi, kenapa hasil test DNA mengatakan itu anakmu?" tanya Nyonya Oak. Bisa dikatakan Keluarga Oak adalah keluarga terhormat yang tidak mempunyai catatan kriminal sedikit pun.


Andrew mengangkat kedua bahunya dengan putus asa. "Aku juga tidak tau, tapi aku berani bersumpah kalau itu bukan anakku," sahut Andrew.


"Bagaimana pun kamu harus kembali bersama Charlie sampai anak itu di lahirkan. Kami percaya kepadamu, bukan karen kamu anak kami. Tapi kami yakin kamu mengatakan kebenaran, Andrew," ucap Nyonya Madison sambil merangkul pundak Andrew untuk membesarkan hatinya.


Malam itu Andrew menghubungi Millo. "Ada sesuatu terjadi disini dan aku tidak bisa kembali. Sampaikan salamku pada Camilla," kata Andrew.

__ADS_1


"Akan kusampaikan, sepertinya masalahmu berat sekali. Aku doakan semoga masalahmu cepat selesai," balas Millo dari sebrang.


Setelah selesai berbicara dengan Andrew, Millo menghampiri Camilla yang sedang menonton berita. Hal yang tidak pernah ia lakukan selama lima tahun mereka tinggal bersama.


"Apa yang kamu cari?" tanya Millo.


"Tentu saja berita tentangku," jawab Camilla tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.


Millo menahan tawanya. "Hmmph, setenar apa kamu sampai menunggu dirimu sendiri di televisi?" tanya Millo.


"Loh, aku pasti masuk berita televisi, kan? Karena kejadian sepanjang hari ini," kata Camilla percaya diri. Camilla sendiri pun menahan tawa saat menjawab pertanyaan Millo tersebut.


"Ya, kamu sangat terkenal Camilla Madison," ucap Millo kali ini senyum manisnya terpampang di wajah tampannya.


Baru saja Camilla hendak mematikan televisi, muncullah tayangan konfrensi pers siang tadi yang di adakan di kediaman Oak.


Betapa terkejutnya Milla, saat ayahnya membawa hasil test DNA Charlie dan ia melihat wajah Andrew yang kecewa.


Millo mematikan televisi dan menarik tangan Camilla untuk keluar rumah malam itu. Tak lupa ia memakaikan topi kepada Camilla supaya ia tidak mudah di kenali.


"Kenakan jaketmu, aku akan mengajakmu berkeliling," ucap Millo.


Namun, Camilla tak bergeming. Maka, Millo mengambil jaket Camilla dan memakaikannya ke tubuh wanita yang sedang termenung itu.


Millo menaikan Camilla di atas motor besarnya dan ia mengeratkan tangan Camilla di pinggangnya. "Berpeganglah yang kuat, kalau mau menangis keluarkan air matamu, Milla," ucap Millo.


Milla tidak menjawabnya. Ia terdiam dan masih termenung. Akan tetapi ia memeluk Millo erat-erat dan merebahkan kepalanya ke punggung Millo.


Millo merasakan itu, maka ia memperlambat laju kendaraan roda duanya tersebut.


***

__ADS_1


Mereka tiba di suatu dataran tinggi, dari sana mereka bisa melihat lampu-lampu gemerlapan di bawah mereka.


"Luapkanlah, Milla. Kalau kamu ingin teriak, teriaklah. Tidak akan ada yang mendengarmu," usul Millo.


Millo menangkupkan kedua tangannya membentuk corong, kemudian ia mengambil nafas dalam-dalam. "Felix sialaaaaaaan!" teriak Millo, setelah itu dia menyeringai lebar ke arah Milla yang sedang menatapnya dengan bingung.


"Felix itu ayahku, hehehe," sahut Millo tersenyum lebar.


Sontak saja jawaban Millo membuat Milla tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha! Kamu menyebut ayahmu sendiri brengsek, durhaka sekali kamu, Millo," kata Camilla mengusap air matanya.


Millo mengulurkan lengannya. "Silahkan, itu melegakan loh," balas Millo.


Camilla berdiri, menangkupkan kedua tangannya seperti Millo kemudia ia berteriak, "Hidupku brengsek!" seru Camilla, setelah itu ia tersenyum senang.


"Bagaimana?" tanya Millo.


Camilla menyeringai. "It help and make me feel better," jawab Camilla.


Mereka mendengarkan suara deru kendaraan yang berlalu lalang di bawah mereka. Mereka juga menikmati semilir angin yang mengusap wajah mereka dengan lembut dan terkadang mereka mendengarkan suara binatang malam yang memanjakan indera pendengaran mereka malam itu.


"Milla, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu. Apakah kamu masih mencintai Andrew?" tanya Millo.


Camilla memandang pria berjaket tebal yang saat ini sedang menatapnya tajam. "Bukan mencintai hanya saja mungkin sisa rasa. Saat Andrew melamarku, aku jatuh cinta padanya saat itu. Kemudian rasa itu berubah menjadi kecewa saat ia tidak bisa membedakan aku dengan Charlie. Maksudku, jika kamu mencintai seseorang paling tidak kamu mengenal orang itu dengan baik, kan? Bagaimana bisa Andrew tidak mengenaliku? Tiba-tiba saja dia datang lagi, dan sisa rasa itu menjajahku," ucap Camilla.


"Sisa rasa itu cinta, kan?" tanya Millo lagi karena ia masih belum paham dengan jawaban Camilla.


"Mungkin," jawab Milla singkat.


"Bagaimana kalau kamu mengubah sisa rasa itu menjadi keseluruhan rasa cinta untukku?" tanya Millo.


Milla terdiam sesaat, ia menatap mata bulat Millo. Millo pun mengunci tatapan Milla. "Aku serius, maksudku maukah atau bisakah kamu mencintaiku saja?" tanya Millo lagi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2