
Andrew tidak pernah menyangka kalau Milla suka tertawa tergelak, dan tawanya terdengar sangat merdu. Andrew juga baru mengetahui kalau Milla bisa menyanyikan lagu cinta dengan sangat indah.
Yang membuat Andrew sangat terkejut adalah Camilla Madison penggemar Blink 182 serta lagu-lagu punk rock lainnya ternyata seorang wanita yang rapi dan epik. Dia menyimpan barang-barang dengan teratur dan tertata dengan baik.
"Semakin aku mengenalnya semakin aku jatuh cinta kepadanya, Josh," ucap Andrew pada Josh hari itu. Wajah Andrew di penuhi dengan senyuman serta kekaguman kepada Camilla Madison.
Josh ikut tersenyum melihat tuannya bahagia. "Tampaknya, Tuan Oak bahagia sekali hari ini," goda Josh.
"Ya, aku baru saja menyaksikan seorang wanita yang begitu sempurna ada di depanku," sahut Andrew.
Josh ingin menyela dan mengingatkan supaya Andrew tidak melupakan tujuan sebenarnya mereka datang ke kota Z dan menyamar sebagai Robert Willow disana. Namun, melihat tuannya berseri-seri seperti itu, Josh tidak tega untuk menyelanya.
"Ayo, kita cari makan. Aku lapar," titah Andrew.
Sesampainya di tempat makan, Andrew makan dengan sangat lahap bahkan dia mentraktir Josh untuk makan bersamanya.
Begitu selesai makan, ia mengeluarkan kartu hitam miliknya, tapi tak lama pegawai restoran itu datang dan memberitukannya sesuatu, "Maaf, Tuan. Kartu ada declined, mungkin ada kartu lain?" tanya pegawai itu.
Andrew mengambil kartu itu. "Tidak mungkin declined, nona. Ini kartu keluaran terbaru saya dan saldonya masih tersisa cukup banyak," ucap Andrew membantah.
Kemudian, ia mengeluarkan beberapa kartu dan meminta pegawai restoran itu untuk membawakan mesin EDC ke meja mereka.
*EDC : Electronic Data Capture
Namun, semua kartu yang di berikan Andrew statusnya declined.
"Berikan saya nomor rekening, saya akan mentransfer tagihannya," Andrew berseru dengan panik. Apa yang terjadi? Kenapa ia tidak dapat memakai kartu-kartu itu?
Setelah Andrew mentransfer biaya makan, Andrew menghubungi ayahnya. Dia yakin ini ada hubungannya dengan ayah Andrew.
"Halo papa. Apakah papa memblokir semua kartuku?" tanya Andrew kesal.
Terdengar suara tawa dari seberang, "Hahaha. Kamu bilang kamu bisa hidup tanpa nama Oak tersemat di dirimu. Tapi untuk makan saja kamu masih memakai kartu kredit papa. Apa itu, Andrew? Kalau kamu menyerah, kembalilah dan ceritakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi!" seru Tuan Oak.
Andrew mengepalkan tangannya. "Baiklah! Akan aku buktikan kepadamu kalau aku bisa menghasilkan uang tanpa bantuan papa! Aku bisa! Dan untuk masalah itu, beri aku waktu untuk mencari buktinya karena aku sudah mendekati targetku," kata Andrew tegas.
"Akan papa tunggu, Andrew. Begitu kamu berhasil membuktikannya, aku akan mengembalikan semua fasilitasmu. Untuk mobil dan Josh, kembalikan semuanya kepadaku. Aku tau Josh ada disana, silahkan sampaikan kepadanya. Oke, Andrew?" tantang Tuan Oak.
__ADS_1
Andrew memejamkan matanya kesal. "Oke! Tidak perlu di kembalikan juga tidak apa-apa. Aku tidak membutuhkan fasilitasmu atau Josh! Bawa saja mereka!" tukas Andrew.
"Oke. Buktikanlah!" kata Tuan Oak lagi.
Setelah mengakhiri panggilannya, Andrew meminta Josh untuk pergi darinya dan kembali ke rumah keluarga Oak di pusat kota.
Sekarang, Andrew harus pulang ke tempat Camilla dengan berjalan kaki. 'Tapi sangat jauh, kan? Aarrgghh! Papa ada masalah apa denganku sih? Apakah benar aku anak kandungnya?' peperangan batin di dalam hati Andrew pun dimulai. Berbagai spekulasi ia pertanyakan.
Karena tak kuat berjalan, ia mengambil ponsel Robert Willownya dan menghubungi Camilla.
"Willow? Dimana kamu?" tanya suara Camilla di sebrang. Suaranya tidak terdengar seperti khawatir tapi lebih kepada suara jengkel.
"Aku tersesat," jawab Andrew.
Terdengar suara kresak kresek dari sana lalu suara Milla kembali jelas. "Tersesat? Dimana? Disini kan tidak ada hutan, kenapa bisa tersesat?" tanya Milla
"Kirimkan lokasi alamatnya kepadaku dan jangan bergerak dari tempatmu!" tukas Milla.
***
"Millo, maaf tapi kamu terpaksa harus menyiapkan ini sendiri, aku ada urusan sebentar," sahut Camilla.
"Nanti kuceritakan. Aku bawa motormu," jawab Milla dan melajukan deru motornya dengan kecepatan tinggi.
"Si Camilla itu seperti jagoan sekali, yah?" tanya Bob melihat Milla pergi dengan mengendarai motor besar milik Millo.
Millo merangkul Bob. "Dia keren. Itulah sebabnya kenapa aku bisa menyukai dia, Bob. Ada ide bagaimana aku mengungkapkan hatiku kepadanya?" tanya Millo.
Bob menganggukan kepalanya. "Selalu. Ikuti aku!" tukas Bob.
Sementara itu, Camilla menuju lokasi yang di kirimkan oleh Andrew kepadanya. Tak lama, ia melihat Andrew duduk di sebuah bench di bawah lampu kota.
"Willow! Hei!" sapa Milla.
Andrew terbangun, rupanya tadi dia tertidur saat menunggu Camilla. "Kamu sudah datang?" tanya Andrew. Dia berpikir yang menjemputnya adalah Millo, tapi rasa cinta Andrew terhadap Camilla bertambah besar manakala Milla membuka helmnya dan mengibaskan rambut panjangnya yang terikat satu.
"Naiklah. Kita harus bekerja kalau mau makan besok!" seru Milla.
__ADS_1
Andrew tercengang, satu hal lagi yang baru dia ketahui tentang Camilla : she's cool.
***
"Aku tidak bisa, Will. Aku tidak sanggup menjadi Camilla," tangis Charlie saat melihat kuku indahnya di potong pendek oleh pegawai salon.
Will menenangkan Charlie yang terus menangis. "Bersabarlah, Charlie. Tidak akan lama sampai kamu mendapatkan semua harta Oak. Pastikan kamu melakukannya dengan benar," kata Will.
"Tidak akan lama itu seberapa lama, Will?" tanya Charlie.
Will berdecak kesal. "Apa kamu tau arti kata sabar? Jalani saja dulu dan berharaplah ini akan cepat selesai!" tukas Will.
Kedua mata Charlie membulat menatap Will. "Kamu seperti bukan kekasihku saja!" ucapnya gusar.
"Maafkan aku," balas Will pendek.
Setelah selesai dengan urusan kuku dan rambut, kini mereka menuju pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian yang biasa dipakai Camilla sehari-hari.
Charlie memasukan segala yang ia lihat ke dalam troli belanjaan tanpa memilih. Kemudian, ia berganti pakaian dengan kaus pendek dan celana jins seadanya. Itulah yang biasa saudari kembarnya pakai kemana pun ia pergi.
Setibanya di rumah ternyata orangtua Andrew masih ada disana. Charlie menghela nafas panjang, dan bersiap-siap masuk dengan gaya slengean ala Camilla.
Setelah masuk, orangtua Andrew memandang dengan heran sementara Charlie memikirkan apa yang akan Camilla lakukan terhadap orangtua Andrew.
Charlie berjalan mendekati orangtua Andrew dan mencium pipi kiri dan kanan Tuan dan Nyonya Oak.
"Darimana saja kamu?" tanya Tuan Oak.
"Aku dari luar, ada sesuatu yang harus aku lakukan," jawab Charlie.
Tuan Oak memperhatikan Charlie beserta gerak-geriknya kemudian ia menyeringai kecil. "Nice try, girl," ucap Tuan Oak.
Charlie berpikir dalam hati. 'Apakah ia melakukan kesalahan? Apa yang ia lewatkan?'
Charlie tidak tau bahwa Tuan Oak sudah mengenali Charlie selama bertahun-tahun dan tidak mungkin pribadinya berubah dengan cepat seperti itu, dan lagi itu tampak tidak alami dan terlalu memaksakan.
Setelah lelah dengan semua drama yang terjadi, Charlie masuk ke dalam kamarnya dan kemudian ia berpikir, 'Apa yang harus ia lakukan supaya penyamarannya tidak terbongkar?' dan tiba-tiba saja Charlie menjentikkan jarinya lalu ia mengambil ponsel dan menghubungi Will.
__ADS_1
"Will, aku baru saja terpikirkan ide luar biasa dan tidak harus menyiksaku seperti ini!" serunya dengan senyum lebar.
...----------------...