
Sidang William Scott berjalan dengan lancar. Will meminta kepada Majelis Hakim untuk mengadakan sidang tertutup. Begitu ia keluar dari ruangan sidang, wartawan sudah berkumpul disana dan memburunya dengan pertanyaan.
"Bagaimana anda bisa menjadi saksi, Tuan Scott?" tanya salah satu wartawan.
Dengan tenang, Will menjawab, "Karena aku mengungkapkan kebenaran,"
Para wartawan pun segera menyalakan blitz kamera mereka dan mengambil gambar Will dari segala sisi dan sudut manapun yang sanggup mereka gapai.
Kerumunan wartawan itu terus berusaha menanyai Will, namun para penjaga mengawal Will untuk segera masuk ke dalam mobil pembawa narapidana.
Sesampainya di sel, salah seorang penjaga memberitahukan kepada Will bahwa ada tamu yang telah menunggunya.
Will bertanya-tanya siapa tamnu tersebut? Tidak mungkin Charlie datang menjenguknya? Tanpa kau mau mengambil pusing, Will segera menemui tamu tersebut.
"William Scott," sapa tamu itu dan segera mengangkat gagang telpon yang ada si sebelahnya.
Will segera duduk dan melakukan yang sama seperti apa yang tamunya lakukan, "Andrew Oak? Wah, hahahaha. Pantas saja tadi malam aku bermimpi di datangi kupu-kupu cantik, ternyata aku akan kedatangan tamu terhormat," ucap Will dingin dan tanpa senyum di wajahnya.
"Aku tidak terhormat. Ada yang mau aku tanyakan, kamu sekarang menjadi saksi. Apakah kamu mengajukan tuntutan?" tanya Andrew.
"Untuk Charlie? Tidak, aku tidak akan pernah bisa mengalahkan mereka. Mereka terlalu licik, kalau ayahku mungkin bisa. Tapi aku tidak bisa selicik mereka," jawab Will.
"Jadi? Kamu hanya memberi kesaksian dan semuanya tergantung kepada Majelis Hakim?" tanya Andrew lagi.
Will mengangguk. "Apalagi yang aku bisa. Hatiku sudah mati, Oak. Aku tidak memiliki harapan, Charlie telah membunuh harapanku," kata Will lirih.
Seketika itu, Andrew paham. Will hanya ingin menuntut balas atas kematian putranya. Entah apa yang tadinya mereka rencanakan, tetapi sepertinya Will terlalu banyak memakai hatinya disini.
Andrew merasa kasihan kepada Will. "Aku tidak tau apa yang terjadi pada kalian berdua. Namun, aku berharap setelah ini kamu dapat menjadi lebih baik lagi, Will," ucap Andrew.
"Ah, hampir saja lupa. Tujuanku datang kesini adalah untuk menawarkan kerjasama. Aku ingin menyeret keluarga Madison ke dalam penjara. Jika kau mengajukan tuntutan kepada mereka, aku akan menjadi saksi juga, tentu saja dengan bukti kuat yang kau berikan kepada ayahku, dan beberapa bukti lain. Bagaimana?" tanya Andrew.
Will terdiam. "Kenapa aku harus membantumu? Dan apa keuntungannya untukku, Oak?"
"Tentu saja ada. Aku tidak akan membahas keuntunganmu sekarang. Hanya kamu yang bisa menyeret beberapa nama di sidang berikutnya. Aku akan menuliskan nama-nama itu untukmu," kata Andrew.
Will tersenyum dan mengalihkan pandangannya. "Apa kau tau siapa pengacara Madison?" tanya Will. Ia menyangsikan kalau mereka akan menang dalam perkara ini.
"Aku tau. Aku optimis kita menang, Will. Aku harus melakukan ini karena Charlie sudah menipuku, bahkan menipu saudaranya sendiri," sahut Andrew getir.
"Kamu melakukan ini untuk Camilla?" tanya Will tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Tentu saja. Dia nafasku, dia hidupku dan dia segelanya untukku, Will," jawab Andrew tegas.
Will kembali tersenyum. "Sepertinya waktumu sudah habis. Aku akan memikirkan tawaranmu,"
Andrew melihat penjaga sudah memberikan tanda dengan memakai isyarat tangan. Andrew membalasnya dengan mengangkat 1 tangannya. "Pikirkanlah. Aku akan kembali lagi besok sebelum sidang. Siapkan jawabanmu," ucap Andrew sebelum ia bergegas pergi.
***
Sementara itu,
"Kemana Forest sialan itu! Dia seharusnya bekerja dan mengawasi pergerakan musuh! Bukannya keluyuran tidak jelas!" sahut Tuan Madison kesal. Kesabarannya saat ini hanya setipis kertas penyerap minyak wajah.
Charlie yang masih jatuh ke dalam pesona Joe Forest segera membelanya. "Tidak perlu khawatir begitu. Dia itu orang cerdas, pasti akan bekerja secara cerdas juga," jawab Charlie tenang.
"Dimana papa bertemu dengan Joe?" tanya Charlie, tiba-tiba saja ia ingin tau tentang siapa itu Joe Forest. Ia terus bertanya-tanya dalam hati, apakah Joe memang sudah menyihirnya? Bagaimana kalau ia jatuh cinta kepadanya dan Joe juga mencintainya? Hanya dengan membayangkan itu saja, wajah Charlie bersemu merah.
Tuan Madison yang melihat perubahan di wajah putrinya pun tampak khawatir, ia takut Charlie sakit lagi mengingat dia baru saja selesai masa pemulihan.
"Kau sakit? Kenapa wajahmu merah padam?" tanya Tuan Madison memegang kening dan leher Charlie serta membandingkan dengan keningnya sendiri.
Charlie menepiskan tangan ayahnya. "Aku tidak sakit. Aku ingin tau tentang Joe Forest," jawab Charlie.
"Dia yang menghubungiku lebih dulu," kata Tuan Madison lagi berbohong.
A Couple Week A Go,
"Bisakah kau mencarikanku Pengacara gratis untuk membantu anakku? Kau tau, kan, keuanganku sedang tidak baik?" ucap Tuan Madison kepada seseorang.
"Tentu saja ada, hanya saja bayaran dia mahal tapi kiprahnya di dunia hukum tidak perlu di ragukan lagi," kata pria yang memakai pakaian serba hitam itu.
"Berikan namanya kepadaku," titah Tuan Madison.
Pria misterius itu pun memberikan selembar kertas nama kepada Tuan Madison. "Ini untukmu," katanya.
Tuan Madison mengambil kartu nama itu dan membacanya. 'Forest lagi? Kenapa hidupku di kelilingi Forest berandalan?' tanya Tuan Madison dalam hati.
Namun, mengingat Forest ini mau memberikan jasanya secara cuma-cuma, maka Tuan Madison pun berusaha berdamai dengan kebenciannya terhadap Forest.
Esok harinya, Tuan Madison menemui Joe Forest di sebuah lobi hotel mewah. Sesampainya disana, ia di arahkan ke kamar Joe Forest di lantai paling atas.
Setelah membunyikan bel, sosok pria dengan wajah ceria dan hanya berbalutkan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya, membukakan pintu untuk Tuan Madison.
__ADS_1
"Madison? Masuklah," kata pria itu.
Tuan Madison tertegun, ia bersyukur dia seorang pria, jika ia seorang wanita, ia tidak akan menunggu lama untuk menggelendot di dada bidang pria itu.
"Y-, ya, saya Madison," jawabnya tergagap.
Joe Forest memiringkan kepalanya sebagai tanda meminta Tuan Madison untuk segera masuk.
Tuan Madison pun masuk dan duduk di sofa tamu di ruangan presiden suite itu.
"Aku sudah diberitahu oleh kawanku tentang permintaanmu. Apa yang berani kau berikan kepadaku sebagai bayaran untukku?" tanya Joe Forest sambil menuangkan segelas wine untuk Tuan Madison dan untuknya sendiri.
"Bagaimana maksudmu? Yang aku tau, kamu bisa memberikan jasamu dengan cuma-cuma," kata Tuan Madison. Ia sudah bersiap pergi kalau ternyata orang yang ia percayai kemarin itu berbohong.
Joe Forest tertawa. "Tidak ada yang cuma-cuma di dunia ini, Bapak Tua, hahaha. Lucu sekali. Paling tidak kalau anda tidak dapat menbayarku dengan uang, bayarlah dengan yang lain," sahut Joe.
Tuan Madison sudah tidak dapat berpikir lagi. "Baiklah apa maumu?" tanya Tuan Madison, ia ingin segera mengakhiri negosiasi konyol yang membuatnya tampak bodoh ini.
"Aku mendengar, bahwa kau mempunyai putri. Tidak hanya satu tapi dua orang putri. Kabar yang lain menyebutkan bahwa kedua putrimu sangatlah cerdas dan terkenal karena kecerdasan mereka di tambah lagi kamu memiliki putri kembar. Anugerah yang luar biasa sekali, bukan?" kata Joe Forest.
Hidung Tuan Madison kembang kempis bangga, tidak ada yang tidak kenal dengan Gadis Kembar Madison. "Tentu saja. Tapi, katakan saja apa maumu? Aku tidak paham kemana arah pembicaraanmu!" tukas Tuan Madison.
"Ohohoho, oke. Berikan anakmu kepadaku!" pinta Joe Forest.
"Apa! Mana bisa begitu! Tidak, aku menolak!" Tuan Madison kali ini membela kedua anaknya dengan gagah berani.
Joe mengangguk kecil. "Charlotte Madison, anakmu yang sedang terancam hukuman penjara 10 tahun bahkan 20 tahun karena kasus penculikan, penipuan, penipuan hasil test DNA, serta yang terakhir yang kudengar adalah melakukan percobaan pembunuhan kepada bayi yang sedang di kandungnya, diet yang di lakukan dengan sengaja dan di temukannya obat-obatan penggugur kandungan di kamarnya. Info valid ini disertai dengan bukti yang kudapatkan dari seorang detektif yang bekerja denganku sebelum aku mengizinkanmu untuk datang hari ini," kata Joe panjang lebar.
Tuan Madison menelan kasar salivanya, keringat dingin mulai bercucuran padahal AC di kamar itu dalam posisi menyala. "Ba-, baiklah. Kau boleh ambil Charlie jika ia sudah bebas tanpa tuduhan nanti," ucap Tuan Madison, tanpa bisa berkutik.
"Nope! Aku menolak," jawab Joe. Ia mengambil sebuah majalah dan di bukanya halaman yang berisi wawancara keluarga Forest, dan di halaman itu juga terselip foto Camilla.
"Aku mau dia. Camilla Madison. Benar namanya? Aku mau dia!" pinta Joe. Kedua matanya berkilat memandang Tuan Madison.
Tanpa berpikir panjang, Tuan Madison menyetujui permintaan Joe. "Baiklah. Bebaskan dulu anakku, tanpa syarat! Ingat bebas tanpa syarat! Setelah itu kau bebas dengan Camilla," jawab Tuan Madison.
Joe tersenyum dan menjentikkan foto Camilla di majalah itu. "Deal, Bapak Tua. Kita mulai bekerja besok," kata Joe.
Tuan Madison pun keluar dari ruangan megah itu dengan lega. Tanpa penyesalan bahwa ia baru saja menjual Camilla Madison, putrinya.
...----------------...
__ADS_1