
"Aku akan membantumu untuk mengeluarkan kalian dari sini. Setelah itu, aku akan pergi dari kehidupan kalian!" ucap Camilla beberapa hari setelah ia menjawab pernyataan cinta Joe.
Tuan Madison tersenyum lebar. "Kau memang anak baik, Camilla. Baiklah, aku akan menunggumu," ucap Tuan Madison.
Camilla pun meninggalkan ayahnya dan segera keluar dari rumah tahanan itu. Hatinya terus mengatakan kalau apa yang ia perbuat ini salah. Namun sayangnya, Camilla tidak dapat menolak permintaan keluarganya.
Hari itu, ia hanya ditemani oleh dirinya sendiri. Sejak ia memutuskan untuk menerima pernyataan cinta Joe, ia tidak pernah merasa bahagia.
Padahal Camilla pernah bercerita kepada Bob, kalau ia nyaman berada di dekat Joe.
"Tujuanmu salah, Milla!" ucap Bob sembari mengelap kasar meja-meja barnya.
"Maafkan aku, Bob. Aku tidak tau kalau rasanya akan tidak nyaman seperti ini," jawab Camilla lirih.
"Itu namanya perasaan bersalah. Berterus teranglah pada Joe, minta maaf padany, dan lupakan keluargamu! Aku tidak bermaksud jahat hanya saja keluargamu sudah di luar batas, Milla! Mereka harus berani menanggung resiko, bukan mengemis simpati darimu!" omel Bob.
Camilla menghela napasnya panjang. "Kalau aku jujur, Joe pasti marah dan meninggalkanku. Aku ingin bersamanya, Bob," jawab Camilla.
Bob mendekati Camilla dengan jari telunjuk gembulnya ia acung-acunkan ke arah gadis yang sedang gundah gulana itu. "Nah, kan. Nah, kan! Itu cinta namanya, Camilla. Kau sudah jatuh cinta padanya! Hahahaha," tukas Bob menari-nari.
Wajah Camilla berubah menjadi merah merona. "Aku tak tau ini benar-benar cinta atau bukan? Sewaktu bersama Andrew, aku tidak merasakan hal ini," kata Camilla berusaha membandingkan.
"Waktu telah berhasil mendewasakanmu, Camilla. Lima tahun lalu mungkin kamu hanya melihat hebat dan tampannya Andrew. Tapi sekarang, kamu melihat betapa nyamanny kamu berada di dekat Joe dan saat kamu berdua dengannya, segalanya terasa benar. Bukan begitu?" tanya Bob.
Camilla mengangguk pelan. "Mungkin kau benar, Bob. Saat lima tahun lalu, siapa yang tidak ingin bersanding dengan seorang Andrew Oak? Tampan, cerdas, dan calon pewaris tunggal pula, kan? Tapi aku menerima Andrew bukan karena hal itu, aku menerima dia karena aku melihat kesungguhan dia mendapatkanku," sahut Camilla mengenang saat-saat bersama Andrew.
"Setiap kali mendengar ceritamu tentang itu, aku sangat sedih, Milla. Saat itu harusnya kamu sudah bahagia dan tidak bertemu denganku di kota kecil ini," kata Bob.
Camilla tertawa kecil. "Aku justru bersyukur bisa bertemu denganmu, Bob. Artinya di dunia ini masih ada orang baik. Kalau aku tidak diculik dan tidak bertemu denganmu, aku hanya bertemu orang-orang licik dan serakah yang hanya memperebutkan keuntungan semata,"
"Aku juga senang bertemu denganmu, Camilla. Kau anak baik," ucap Bob terkekeh dan melanjutkan pekerjaannya kembali.
__ADS_1
Sementara itu, di pusat kota. Dua orang pria sedang berada di gedung megah nan elite. Di depan gedung itu terpampang nama pemilik gedung "Forest Legal."
"Kenapa ayahmu tidak mau mengakui kakakmu, Millo? Dia sukses sekali merintis karirnya sendiri," tanya Andrew kagum.
"Jelas saja dia tidak diakui, dia bukan anak ayahku. Dia anak ibuku dari laki-laki lain," jawab Millo santai seolah menjawab pertanyaan penjumlahan sederhana.
Andrew menganggukan kepalanya. "Pantas saja dia tidak pernah ada di foto keluargamu. Tapi, kenapa ibumu tidak memperjuangkannya supaya ayahmu mau mengakui dan menerima kakakmu?" Andrew bertanya lagi.
"Itu karena ibuku terlalu lemah dan takut kehilangan harta kekayaannya!"
Tiba-tiba saja, Joe datang dan menjawab pertanyaan Andrew.
"Sejak kapan kau ada di belakang kami?" tanya Andrew. Dia masih terkejut karena kedatangan Joe yang sangat mendadak itu.
"Sejak kalian membicarakanku! Jadi, apa maksud kedatangan kalian kesini? Siapa yang ingin kalian gugat?" tanya Joe mengajak mereka duduk di lobi utama dari gedung berlantai 10 itu.
"Kamu," jawab Millo cepat.
Millo mengeluarkan sebuah buku catatan kecil, dan layaknya seorang detektif ia menanyai Joe tentang hubungannya dengan Camilla.
"Jawab dengan jujur! Kenapa kamu memanggil Camills dengan sebutan Gadisku?" tanya Andrew.
"Karena dia memang milikku," jawab Joe singkat. Tak bisa dipungkiri, wajah Joe dipenuhi kebahagiaan saat nama Camilla disebut.
Sontak saja, Andrew dan Millo melebarkan kedua matanya ke arah Joe. "Apakah sudah resmi? Karena kami juga sedang bersaing untuk mendapatkan Camilla," tanya Andrew lagi.
Joe mengangguk puas. "Apakah kalian perlu bukti?" Joe balik bertanya.
"Ah, setiap kalian ada disini. Aku ingin bercerita," ucap Joe.
"Sejak nama Camilla mencuat, awalnya aku hanya ingin menemuimu dan menggodamu. Saat itu kupikir Camilla hanyalah gadis biasa sama seperti mantan-mantanmu, tapi ternyata dia berbeda. Tiba-tiba saja aku sudah jatuh cinta kepadanya," cerita Joe.
__ADS_1
Baik Andrew maupun Millo terdiam. Mereka tidak tau apa maksud cerita Joe. "Aku merasa bersalah kepadamu dan kepada Camilla karena awalnya aku hanya mempermainkan kalian. Mungkin ini yang dinamakan dengan karma. Sekarang aku ingin Camilla terus ada di sisiku,"
Brak!
Joe memukul meja dengan tangannya. "Maka dari itu, aku akan mengajaknya untuk menikah denganku. Kalian tidak tau, kan? Aku sudah resmi menjadi pasangan Camilla Theodora Madison," tukas Joe lagi penuh semangat. Ia mengeluarkan cincin dari saku celananya dan memamerkannya kepada dua pria yang ada di hadapannya dan menatap Joe dengan tercengang.
Tak lama dering ponsel Joe berbunyi, dengan bangga ia memperlihatkan siapa penelpon dirinya. "Hai, babe," jawab Joe.
"Kamu akan mengajakku makan? Hohoho, dengan senang hati," jawab Joe lagi.
"Aku saja yang menjemputmu, sekalian aku akan memulangkan dua transmigran ke arah yang sama," sambung Joe setelah itu ia menutup ponsel pintarnya.
"Cih!" Andrew dan Millo berdecih kesal. Mereka kalah langkah kali ini.
***
"Tumben sekali kamu mengajakku makan?" tanya Joe.
Dengan bantuan Bob, Camilla menyewa satu bar milik Bob hanya untuk perayaan makan malam mereka.
"Ada yang ingin kukatakan. Aku mohon kamu mendengarkanku dahulu setelah itu kamu boleh membenciku bahkan menganggapku tidak ada lagi, silahkan," jawab Camilla. Ia berniat untuk melakukan pengakuan dosa kepada Joe.
Alis Joe bertaut. "Kenapa jadi seram?" tanya Joe.
"Joe, aku menyukaimu dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Aku senang dan nyaman bersamamu. Yang terpenting aku bisa menjadi diriku sendiri saat bersamamu. Aku tidak perlu pura-pura kuat saat bersamamu. Tapi, kemarin aku menerima pernyataan cintamu dengan tujuan berbeda. Tadinya aku tidak mau mengatakan ini kepadamu tapi aku terus dikejar perasaan bersalah jadi aku memutuskan untuk berterus terang kepadamu kalau aku menerimamu karena aku ingin kamu membantuku membebaskan keluargaku. Maafkan aku," kata Camilla sambil memejamkan matanya. Ia takut menghadapi wajah kecewa Joe.
Namun tidak disangka-sangka, sesuatu yang hangat dan kenyal mendarat di bibir Camilla.
"J-, Joe? Kamu tidak marah?" tanya Camilla.
"Untuk apa aku marah? Aku tau kamu mendapat ancaman dari si Bapak Tua. Rekaman CCTV, kau lupa? Aku selalu memantau siapa saja yang datang menjenguknya dan apa yang dibicarakannya. Aku tidak bodoh, Camilla," jawab Joe yang kemudian kembali menempelkan bibirnya kepada Camilla dan memagutnya dengan lembut.
__ADS_1
...----------------...