
"William sialan! Dia menjebakku!" tukas Charlie dengan penuh emosi. Saat itu Tuan dan Nyonya Madison sudah menjenguknya di dalam kurungan.
"Bukti yang William berikan dianggap cukup kuat sehingga mereka akan segera memprosesmu," kata Tuan Madison sambil memegangi jeruji besi tempat putrinya di kurung.
Air mata Charlie mulai menetes dan menjadi deras seketika. "Lalu aku harus bagaimana, pah? Aku tidak mau di penjara," tangis Charlie.
Nyonya Madison mengeluarkan sapu tangan suteranya dan mengusap air mata Charlie. "Tidak akan ada yang boleh memenjarakanmu, sayang. Mama dan papa akan melakukan apapun untuk mengeluarkanmu dari sini," ucap Nyonya Madison. Ia berusaha menenangkan Charlie walau dalam hatinya ia mengutuk karena bukan untung yang mereka dapatkan melainkan buntung.
Suara tangis Charlie bergema di seluruh ruangan itu. "Segera yah, ma. Aku takut, takut sekali," isak Charlie. Rambut ikal yang biasanya tertata rapi, kini entah sudah kemana.
Tuan dan Nyonya Madison berjanji untuk segera mengeluarkan Charlie dari sana.
Sementara William berada di sel kurungan sebelah Charlie. Dia hanya mendengus mendengar ocehan keluarga Madison yang terlalu mendewakan putrinya.
"Aku tidak tau apa yang menyebabkanku mencintaimu? Setelah apa yang terjadi belakangan ini aku sadar kalau aku menyesal pernah mencintaimu. Saudarimu seratus kali lipat lebih baik darimu," ucap Will tenang.
Charlie menoleh tajam ke arah Will. "Kenapa tidak kau nikahi saja dia? Kenapa kau memilihku?" tanya Charlie kesal.
"Aku dibutakan olehmu. Pada saat aku menculik saudarimu, aku sudah merasakan getaran itu. Dia tampak cantik, bahkan lebih cantik darimu. Tak dapat kupungkiri saat itu aku sempat kagum kepadanya," jawab Will.
Dan Will tidak berbohong,
***
Lima tahun yang lalu,
Saat Will berhasil menidurkan Camilla malam itu, jantungnya sempat berpacu dengan cepat begitu melihat wajah Camilla dari jarak dekat.
__ADS_1
"Mereka sungguh berbeda. Bodoh sekali jika Oak tidak dapat membedakan mereka," guman Will dalam hati, matanya masih terpaku pada paras cantik Camilla. Sulit sekali mengalihkan perhatian dari gadis itu.
Dengan hati-hati Will membaringkan Camilla di kursi tengah mobil hitam bertipe XUV miliknya. Bahkan, Will sempat menyingkirkan veil di wajah Camilla dan merapikan rambut Camilla yang terlepas dari ikatannya akibat perlawanannya tadi.
Will kemudian melajukan mobilnya secara perlahan, ia tidak tau akan menyingkirkan Camilla kemana. Sayang sekali kalau di buang di hutan, lebih baik ia yang menjaganya, kan? Begitu pikir Will hari itu.
Tak terasa ia sudah keluar dari kota Metropolitan, melewati pusat kota, dan Will masih tak tau harus meninggalkan Camilla dimana.
Hari sudah menjelang pagi, kedua mata Will sudah sangat lengket menahan kantuk. Maka ia menepikan mobilnya di tempat pengisian bahan bakar kendaraan untuk beristirahat dan membeli secangkir kopi.
Sesekali Will mengintip Camilla untuk mengawasi apakah dia sudah tersadar atau belum. Sambil berjalan ke sekeliling tempat pemberhentian itu, Will bertanya-tanya tentang ada tidaknya perumahan di dekat situ.
Setelah kantuknya hilang dan sesuai arahan dari penjaga tempat pemberhentian tersebut, jika ia terus berjalan lurus maka ia akan menemukan kota Z. Sebuah kota kecil yang hanya dihuni oleh kurang dari lima puluh kepala keluarga.
Maka, Will melajukan kendaraannya ke arah kota Z itu. Sesampainya disana, ia bertemu dengan seorang pria yang baru saja pulang entah dari mana dan pria itu masuk ke dalam apartemen. Will menyipitkan matanya, berusaha melihat lebih jelas.
Tiba-tiba saja ia mempunyai ide untuk meninggalkan Camilla di depan apartemen pria itu dengan pemikiran kota itu cukup jauh dari kota Metropolitan tempat Oak dan Madison tinggal, dan tampaknya pria pekerja itu baik. Jadi, berbekal dengan pemikiran itu, Will menggendong Camilla dengan hati-hati dan perlahan membaringkannya di depan apartemen pria itu.
Will membunyikan bel apartemen pria itu dan kemudian ia berlari masuk kembali ke dalam mobilnya. Will menunggu pria itu keluar tetapi pria itu tak kunjung membuka pintunya.
Sudah lima belas menit ia menunggu disana, ia khawatir Camilla akan kedinginan tapi mengingat gaun pengantin yang di pakai Camilla tebal dan ada beberapa lapis maka Will berharap Camilla tidak kedinginan.
Setelah dua puluh menit, akhirnya penantian Will tidak sia-sia. Pria itu membuka pintu, ia berjongkok dan membangunkan Camilla. Will segera mengambil ponselnya dan menghubungi Charlie. "Hei hon, semua sudah kuselesaikan dengan baik," ucap Will, kemudian ia memutarkan mobilnya untuk kembali ke kota Metropolitan sambil terus mengawasi Camilla dari balik kaca spion.
"Semoga kau selalu berbahagia gadis cantik," ucap Will bermonolog, matanya tak lepas dari Camilla sampai gadis itu masuk ke dalam apartemen.
***
__ADS_1
Setelah membuka kembali kenangan lima tahun lalunya, Will kini menyesali perbuatannya. Apapun akan ia lakukan untuk menebus apa yang telah ia perbuat.
Will juga ingin, putra tercintanya yang kini berada di surga sana bangga dengan ayahnya yang pemberani. Hati Will terasa teriris begitu tau anaknya meninggal. Ia belum sempat melihat wajah jagoan kecilnya tersebut.
Semua karena wanita pembawa sial itu! Ya, semua karena dia!
Will dan Charlie kini terdiam dan duduk hanya beralaskan karpet plastik kecil di dalam kurungan itu. "Hei, Will. Bagaimana jika orang tuaku berhasil mengeluarkan aku dari sini? Kau tidak akan sedih?" tanya Charlie.
Will memandang Charlie dengan pandangan meremehkan. "Hadapi hukumanmu, Charlie. Jadilah manusia yang bertanggung jawab! Aku hanya pelaksana tugasmu tapi otak dari semua kejahatan ini adalah kamu, Charlie!" ucap Will berseru.
"Apa yang tidak bisa di beli dengan uang, Will? Kamu mencintaiku juga karena kamu ingin kecipratan harta Oak, bukan? Jangan munafik!" balas Charlie pedas.
"Aku mencintaimu dari hatiku dan itu tulus. Terserah kamu mau menganggapnya bagaimana. Kalau aku tidak tulus, kenapa aku marah kepadamu karena kamu tidak menjaga anak kita dan membiarkannya mati!" tukas Will tak kalah pedasnya.
Charlie mendengus kesal. "Huh! Bodoh sekali rupanya kau, Will!"
Charlie tidak pernah menyangka bahwa William Scott begitu mencintai dirinya. Charlie berpikir hubungan mereka hanyalah hubungan pertemanan yang saling menguntungkan dan memanfaatkan. Jika ada cinta, maka Charlie akan siap membuangnya jauh-jauh.
Dua insan yang terkurung itu pun kini terdiam, tidak ada kata yang sanggup mereka ungkapkan lagi. Hanya terkadang obrolan basa-basi yang mereka lontarkan.
Beberapa polisi datang bergantian untuk menanyakan perihal penculikan dan manipulasi hasil test DNA kepada Will mau pun Charlie.
Ketika malam datang, kedua orang tua Charlie datang dengan membawa seorang pria bertubuh tegap dan wajah cerdas bersama mereka.
"Aku sudah menyewa pengacara handal, kenalkan dia adalah Stuart Joe Forest," kata Tuan Madison memperkenalkan Joe kepada Charlie.
"Forest? Jangan katakan kalau dia bersaudara dengan,-"
__ADS_1
Ucapan Charlie terputus tatkala pria itu memotong pembicaraannya. "Millo Forest. Kenalkan aku kakak dari Millo Jonathan Forest, panggil saja aku Joe. Tidak perlu berterima kasih kepadaku, anggap saja ini caraku berkenalan denganmu, Charlotte Madison," kata Joe tersenyum, tangannya sibuk membuka kunci sel kurungan Charlie sambil di awasi oleh beberapa petugas sipir tempat itu.
...----------------...