Pernikahan Yang Tertukar

Pernikahan Yang Tertukar
Hei, I'm In Love With You!


__ADS_3

Hubungan Camilla dengan Joe semakin dekat. Mereka seperti botol dan tutupnya, tak terpisahkan.


"Sayang sekali, kita tidak tinggal serumah. Kenapa kamu menolak tinggal bersamaku?" tanya Joe saat ia mengantar Camilla ke depan apartemen Millo malam itu.


"Kita belum menikah, Joe. Mana bisa tinggal serumah. Apa nanti yang dikatakan oleh orang-orang?" jawab Camilla.


Joe mengacak-ngacak rambut Camilla dengan gemas. "Uuhh, gadisku ini benar-benar gadis baik," ucap Joe.


Baru saja Joe hendak memeluk Camilla, Millo keluar dengan wajah muram. "Sudah jam malam. Waktunya seorang anak gadis untuk masuk ke dalam. Dan kau, pulanglah!" tukas Millo dan menarik Camilla untuk masuk ke dalam. Ia juga mengibaskan tangannya, mengusir Joe.


"Brengsek! Mengertilah, kami bahkan belum berciuman," ucap Joe dengan nada getir.


Andrew dan Millo mengawal dan menjaga Camilla dengan ketat sekali. Mereka berpikir untuk tidak akan membiarkan Joe menyentuh Camilla seujung rambut pun.


"Kamu belum berciuman dengannya?" tanya Millo setelah Joe pergi.


Camilla menggelengkan kepalanya. "Itu bukan urusanmu, Millo. Sudahlah, aku mau istirahat," jawab Camilla, wajahnya bersemu merah dan membuat Millo gemas.


"Sayangnya, kamu bukan milikku, Milla," ucap Millo bermonolog.


Keesokan harinya, sebuah buket mawar merah mendarat dengan cantik di depan apartemen Millo.


"Untuk Camilla Madison?" tanya kurir pengantar bunga itu kepada Millo.


Millo mengangguk dan menandatangani surat bukti tanda terima.


"Terima kasih, Tuan," sahut si kurir dan bergegas menaiki kendaraan roda duanya untuk menyelesaikan tugas berikutnya.


Millo masuk dan meletakkan buket bunga itu di atas meja tamu. Ia megetuk kamar Camill dan memanggilnya asal-asalan.


"Milla, kau dapat kiriman bunga dari kakakku yang kau cintai," ucap Millo.


Tak ada jawaban dari kamar Camilla. Ia masih tertidur dengan nyenyak sampai beberapa menit kemudian, ia terbangun karena Millo sengaja membuka pintu kamarnya.


Hidung Camilla mengendus bau harum masakan.

__ADS_1


Sniff! Sniff!


"Millo, kamu sedang masak apa?" tanya Camilla mengendus baju Millo.


"Harum sekali," ucap Camilla.


Pria yang memakai apron dan memegang sendok sayur itu pun membalikkan badannya. "Hei, kamu belum ada rencana untuk putus dari Joe? Dia tidak akan harum makanan sepertiku karena dia memiliki juru masak pribadi di rumahnya,"


Sontak saja, Camilla tertawa. "Hahaha, tidak ada, Millo. Kamu ada-ada saja. Aku menyukai kakakmu bukan karena pengacara handal yang kaya, aku menyukainya karena dia mengajarkanku untuk mencintai diriku sendiri. Ia mendorongku untuk memikirkan diriku sendiri. Egois memang tapi begitu aku mempraktekkannya, itu terasa menyenangkan dan beban berat yang selama ini aku panggul terasa hilang begitu saja. Itu sihir yang diberikan kakakmu untukku," jawab Camilla sambil mengambil sesendok kentang tumbuk.


Millo memandang gadis yang sedang mengaduk-aduk kentang tumbuk itu. "Ya, Joe memang pakarnya egois," sahut Millo.


"Ada kiriman bunga untukmu, kuletakkan di bangku di ruang tamu," kata Millo.


Camilla segera mengambil buket bunga dan pesan yang tersemat di antara tangkai bunga nannindah tersebut.


Pesan itu berbunyi. "Pakailah pakaian yang santai. Aku akan mengajakmu ke tempat yang indah, yang hanya ada aku dan kamu,"


***


Setelah selesai sarapan, Joe mengajak Camilla untuk berkencan.


Joe berkacak pinggang. "Sebentar lagi dia akan menjadi Nyonya Forest, dan ia tak akan kuizinkan bekerja seperti itu lagi. Ah, aku juga sedang mengajukan penawaran untuk club malam milik Bob. Kuharap ia tertarik dengan tawaranku," kata Joe menyombongkan diri.


"You're totally crazy!" tukas Millo dan bergegas masuk kembali ke dalam dengan membanting pintu apartemennya.


***


"Maukah kamu menikah denganku, Camilla?" tanya Joe.


Wajah Camilla berubah menjadi semerah seekor kepiting rebus. "Aku belum memikirkan ke arah sana. Aku sedang menikmati waktuku bersamamu. Itu saja," jawab Camilla.


"Begitukah?" Joe bertanya lagi.


Camilla mengangguk. "Aku masih fokus kepada diriku sendiri. Ayo, kita jangan terburu-buru, Joe," ajak Camilla.

__ADS_1


Sedangkan Joe, ia ingin segera memiliki Camilla seutuhnya. "Aku ingin bersamamu dan tidak ingin berpisah denganmu, walaupun itu hanya untuk mengantarmu pulang. Kalau kita sudah menikah nanti, kamu akan selalu pulang bersamaku," jawab Joe.


Kaki Camilla bergoyang-goyang di atas kap mobil Joe. Mereka hanya ingin menghabiskan waktu berdua, jadi Joe memarkirkan mobilnya di depan sebuah taman besar. "Banyak yang aku pikirkan sebelum aku memutuskan untuk menikah, Joe. Salah satunya adalah keluargaku," ucap Camilla.


Joe teringat jawaban yang diberikan oleh Tuan Madison kepadanya beberapa waktu lalu dan ia tak ingin memberitahukan jawaban itu kepada Camilla karena ia khawatir Camilla akan sedih mendengar jawaban dari Tuan Madison.


Betapa tidak bersyukurnya keluarga Madison, mereka memiliki anak perempuan cantik yang selalu memikirkan mereka.


Joe membuang pikiran itu jauh-jauh. Ia masuk ke dalam mobilnya dan kemudian ia keluar dengan membawa satu tote kecil untuk berbelanja.


"Tutup matamu, Milla," kata Joe, ia mengambil eye patch dan menutup mata Camilla menggunakan eye patch berbentuk anak gajah itu.


Camilla pun menuruti kemauan kekasihnya, tak lama tangan Joe menyentuh kulit leher Camilla. Seketika itu juga kulit Camilla meremang.


Joe memakaikan kalung kepada Camilla, dan mengecup ceruk leher Camilla dengan lembut membuat kulit Camilla semakin meremang.


"Buka matamu," bisik Joe.


Camilla membuka matanya dan memegang liontin yang teruntai di lehernya. "Apa ini?" tanya Camilla.


"Hadiah untukmu. Liontin kalung itu adalah ikan paus. Kau tau kisah Whalien 52? Kamu mengingatkanku pada paus itu, tidak ada yang mendengar jeritan kesakitanmu selain aku, itulah yang membedakan kamu dan paus itu," jawab Joe.


Tangan Camilla terus memegangi liontin paus itu. "Terima kasih, Joe untuk segalanya," ucap Camilla sambil menengok ke arah Joe.


Joe yang masih berada di belakang Camilla, merangkul pinggang Camilla dan mendekatkan wajahnya ke arah Camilla. Dengan perlahan tapi pasti, ia mendaratkan bibirnya ke bibir kemerahan yang sedari tadi menggodanya.


Camilla membalas pagutan Joe sampai mereka berdua kehabisan napas dan melepaskan ciuman mereka.


"Apa kamu tau, ketika aku jatuh cinta kepada seorang wanita maka itu akan selamanya. Apa kamu siap menghadapi serangan cintaku?"; tanya Joe.


Camilla tersenyum dan mengangguk perlahan. "Aku sudah biasa diserang jadi aku pikir aku pasti bisa menahannya," jawab Camilla.


Joe kembali memberikan kecupan hangat di bibir Camilla. "Kau membuatku tidak bisa berhenti. Bagaimana ini? Sepertinya kita harus menikah secepatnya," ucap Joe berik berusaha mengambil hati Camilla.


"Begitu? Kamu sanggup menanggung segalanya? Termasuk keluargaku?" tantang Camilla.

__ADS_1


"Try me, honey," jawab Joe dan mencium benda kenyal kemerahan yang tampak merona itu dan ia ********** dengan panas.


...----------------...


__ADS_2