Pernikahan Yang Tertukar

Pernikahan Yang Tertukar
About Us


__ADS_3

Semenjak kehadiran Robert Willow di apartemen mereka, Millo menjadi sangat sensitif dan mudah sekali marah. Bahkan hal kecil pun bisa membuatnya senewen.


Seperti pagi itu, ketika Rob hendak menggunakan kamar mandi, dan di saat yang sama Millo sedang berada di kamar mandi lebih dulu kemudian Rob membuka pintu kamar mandi tersebut tanpa tau ada Millo di dalamnya.


"Aarrgghh! Willow! Keluarlah! Seharusnya kamu ketuk dulu pintu itu! Dimana sopan santunmu! My God!" seru Millo geram.


"Maafkan aku, Millo. Aku tidak tau." ucap Rob tanpa menutup pintu kamar mandi tersebut.


Dan membuat Millo mengeluarkan suara indahnya kembali, "Willow, tutup pintunya!" teriak Millo lagi.


"Ah, aku lupa. Maafkan aku." ucap Rob lagi.


Milla yang menyaksikan kejadian itu setiap hari sudah terbiasa mendengar teriakan Millo. Ia hanya menggelengkan kepalanya.


Dilihatnya Millo yang sudah berpakaian dan keluar dari kamar mandi tersebut, "Kita harus bicara mengenai peraturan di rumah ini, terutama untukmu, Willow." tukas Millo.


Willow dan Milla duduk mengelilingi meja makan kecil berbentuk lingkaran itu. Biasanya meja itu tampak luas karena di huni oleh dua orang saja.


"Pertama, mengetuk pintu. Willow, aku tidak tau kamu berasal dari kasta mana tapi ketuklah pintu terlebih dahulu. Kamar mandi yang kita miliki hanya ada satu, jadi ketuklah apakah ada orang atau tidak. Yang kedua, makanlah makanan apa pun, jangan pilih-pilih!" kata Millo memulai aturannya.


Saat pertama kali datang, Willow memang tampak menyukai makanan, tapi beberapa hari sesudahnya ia memilih makanan. Dia tidak suka sayuran atau makanan sederhana. Dan selalu minta daging. Ini terkadang membuat Milla dan Millo kesal.


"Get a job, Willow!" seru Milla saat itu.


Tapi entah apa yang dilakukan Willow, setiap jam 10 pagi sampai jam 4 sore, dia menghilang.


"Apakah dia bekerja? Bekerja macam apa itu, cepat sekali." tanya Millo suatu hari.


Milla mengangkat bahunya. Willow yang misterius, begitu pikir mereka.


Kembali kepada aturan, Willow hanya terdiam saat Millo menjabarkan aturan di rumah itu.


"Maafkan aku, aku belum terbiasa tinggal bersama orang lain. Aku biasa sendiri." sanggah Willow membela dirinya sendiri.

__ADS_1


Milla dan Millo saling berpandangan, "Kamu berada disini sudah hampir sebulan. Kami berharap kamu ikut membantu kami bekerja dan mengerjakan pekerjaan rumah, mengertikah?" tanya Milla.


Willow mengangguk pelan, "Ya, aku akan berusaha lebih baik lagi." katanya.


Setelah Milla dan Millo berangkat kerja, Willow membuka penyamarannya,


"Josh, jemput aku di tempat biasa." perintah Willow.


Josh tampak heran mendengar suara tuannya lesu dan tak bersemangat, "Apa yang terjadi, Tuan Oak ?" tanya Josh.


Willow menghela nafasnya, "Ini sangat berat. Cepatlah jemput aku." titah Willow lagi.


"Baik, Tuan Oak saya segera kesana." jawab Josh.


Tak lama, mobil Josh sudah tampak di pertigaan jalan. Disanalah tempat Josh menjemput Willow atau Andrew. Begitu masuk ke dalam mobil, wajah Andrew tampak lelah, "Aku tidak pernah menyangka hidup Milla bisa sekeras ini. Tinggal bersama seorang pria dengan segala aturannya yang mengekang." kata Andrew.


Josh menyimak cerita tuannya itu, "Jadi kesimpulan apa yang anda dapatkan, Tuan Oak?" tanya Josh.


Andrew menggeleng, "Mungkinkah Milla benar-benar pergi atas kemauannya sendiri? Atau ada orang yang mengancamnya? Melihat dia sangat menikmati hidupnya sekali disini dan tidak tampak raut kesedihan di wajahnya. Aku ragu dia berada di bawah ancaman." jawab Andrew.


Andrew tidak tau bagaimana sifat asli Milla, tapi dia bisa mengenali sifat Charlie dengan cepat. Melihat Camilla tinggal disini membuat Andrew harus beradaptasi lagi dengannya. Dia seakan baru mengenal Milla, Andrew baru mengetahui kalau Milla pintar memasak, Andrew baru mengetahui kalau Milla bersuara indah dan pandai bermain keyboard serta gitar. Dia bahkan baru tau kalau Milla seorang wanita yang tegas dan pekerja keras.


Yang dia tau, Milla dulu selalu lupa jam mata kuliah entah apa yang di kerjakannya, dia tau Milla menyukai band Blink 182 terutama Travis Barker sebagai penabuh drum di bank itu. Milla juga pandai bela diri. Milla tomboy dan tidak suka pakaian aneh yang menurutnya ribet. Ya, dia hanya tau Milla dari permukaannya saja.


Rasa kagum Andrew kepada wanita itu kian bertambah, tapi dia belum bisa mengungkapkan jati dirinya kepada Milla.


Hanya saja, Millo tampaknya terlalu mengatur Milla tapi mengapa Milla tahan bersamanya di rumah itu selama 5 tahun?


"Josh, aku tidak mau ke kantor hari ini. Kita pergi ke tempat Camilla bekerja." ucap Andrew.


"Kemarin kan sudah, Tuan. Hari ini banyak meeting yang harus anda datangi." kata Josh mengingatkan.


"Nanti aku yang akan mengaturnya." jawab Andrew bersikeras.

__ADS_1


Akhirnya Josh membawa Andrew ke depan club malam, "Apa kamu tau Josh kalau suara Camilla sangat indah? Dan lihatlah, dia bisa memainkan keyboard dan gitar juga. Keren, bukan?" tanya Andrew yang hanya bisa mengagumi Milla dari kejauhan.


Andrew mengambil dompetnya dan mengeluarka beberapa lembar uang kertas dari dompetnya.


"Josh, berikan ini pada mereka. Siapa tau malam ini aku bisa makan enak bersama mereka." kata Andrew.


Josh menerima uang itu, dan segera turun dari mobilnya untuk menghampiri Milla dan Millo. Dia mendengarkan lagu Milla sampai habis dan memasukan uangnya ke dalam topi jerami yang diedarkan oleh Milla.


"Wah, terimakasih Tuan Baik Hati." kata Milla membungkuk sedalam mungkin kepada Josh.


"Beres, Tuan Oak." sahut Josh dan memutar balikkan kendaraannya untuk membawa Andrew ke kantor.


***


"Camilla, mama tidak lihat Andrew akhir-akhir ini. Kemana dia?" tanya Nyonya Oak kepada menantunya.


Charlie menjawabnya dengan santai, "Sedang dinas ke luar kota ma. Sudah dua minggu ini."


Tuan Oak menautkan kedua alisnya, "Luar kota? Tidak mungkin, absen Andrew di kantor berjalan terus dan setiap hari dia datang. Atau apakah kalian ada masalah?" tanya Tuan Oak.


Kali ini Charlie tampak gugup dengan pertanyaan ayah Andrew itu, "Kami mengalami sedikit masalah, pah. Ada sedikit salah paham yang terjadi dan..." Charlie berpikir sejenak. Otak jahatnya bekerja, dia akan membalas Camilla sekarang.


"Sebenarnya ini tidak pantas di ceritakan, tapi sepertinya aku menyukai orang lain. Andrew mengetahui hal itu dan dia marah kepadaku." jawab Charlie.


Andrew pernah memberitahukan kepadanya bahwa yang tau pertukaran ini hanyalah Andrew seorang, orangtuanya tidak tau tentang pertukaran ini.


Nyonya Oak memandang gusar pada Charlie, "Apa maksudmu, Milla?" tanya Nyonya Oak.


"Maafkan aku, mah. Namun, sepertinya aku menyukai pria lain. Dan mungkin Andrew tinggal bersama Charlotte saudara kembarku." kata Charlie semakin membumbui dramanya.


"Charlotte? Apa maksudmu Milla? Jadi Andrew sekarang tinggal bersama Charlotte? Kembaranmu itu? Memang ada dimana dia sekarang?" tuntut Tuan Oak.


"Di Kota Z, mah." jawab Charlie berbohong.

__ADS_1


'Lihat saja Milla, namamu akan aku buat menjadi sangat buruk di mata orangtua Andrew!' batin Charlie puas.


...----------------...


__ADS_2