Pernikahan Yang Tertukar

Pernikahan Yang Tertukar
Panic


__ADS_3

"Milla, kamu baik-baik saja?" tanya Millo. Ia memegang kening Camilla dan merasakan suhu tubuh Camilla naik dengan cepat.


"Tunggulah disini aku akan membelikanmu obat. Sebentar ya," kata Millo lagi. Ia menyelimuti tubuh Camilla dengan selimut tipis supaya Camilla tidak menggigil kedinginan, tak lupa ia menyalakan penghangat ruangan.


Millo segera berlari ke toko obat untuk membeli obat demam serta beberapa vitamin.


"Sampaikan salam dan doaku untuk Camilla, semoga ia lekas sembuh," kata pegawai toko obat itu.


Millo tersenyum. "Akan aku sampaikan," jawab Millo berterima kasih kepada pegawai tersebut.


Setibanya di depan apartemen, ada seseorang yang sangat ia benci menunggunya disana.


"****! Untuk apa ayah kesini?" tanya Millo bermonolog.


Ia memutar arah dan melewati jalan belakang apartemen. Dengan cekatan ia memanjat jendela apartemennya dan masuk dari sana. Millo sempat mengintip dari balik jendela.


"Apa yang ia lakukan disini?" tanya Millo lagi kepada dirinya sendiri.


Ia melupakan ayahnya dengan cepat. "Milla, minum obatnya dulu, aku akan membuatkanmu bubur," bisik Millo.


Camilla membuka matanya. "Aku mendengar suara seseorang memanggilmu, Millo," kata Milla dengan suara lirih.


Millo mengibaskan tangannya, ia membantu Milla untuk duduk dan meminum obatnya. "Ini airnya, berbaringlah. Aku akan membuatkanmu bubur,"


Milla menggelengkan kepalanya. "Temuilah ayahmu dukuy, Millo," titah Milla.


"No! Aku akan menemui dia saat kondisimu lebih baik," kata Millo.


"Dia menemuiku hanya untuk keperluan wawancara dengan suatu majalah atau media elektronik atau bahkan hanya untuk pemotretan keluarga," sahut Millo lagi, ia menghela nafasnya dengan berat.


Kemudian ia bergegas menuju dapur, mengambil panci, mengisinya dengan air, memasukkan beberapa potong ayam dan segenggam beras. Dengan sabar yang mengaduk-aduk isi panci itu sampai menjadi bubur.


Ia menuangkan dua 2 sendok sayur ke dalam mangkuk. Setelah itu ia membangunkan Camila untuk makan bubur yang sudah ia siapkan.


"Hei, makanlah dulu. Aku akan menyuapimu," bisik Millo.


Milla menuruti kemauan Millo. "Setelah aku makan, maukah kamu menemui ayahmu?" tanya Milla.

__ADS_1


"Aku akan menemui dia sekarang tapi berjanjilah kau akan menghabiskan makananmu!" ucap Millo.


Camilla mengangguk setuju. Ia menyendok satu suap bubur dan memasukkannya ke dalam mulut. Sementara Millo bergegas menemui ayahnya yang sedari tadi menunggu ia di depan pintu apartemen.


"Millo," kata ayahnya.


"Ada apa Ayah kemari?" tanya Millo dengan dingin.


Tuan Forest menarik tangan Millo dan memasukkannya ke dalam mobil. "Ada seorang wartawan yang ingin mewawancarai keluarga kita. Wartawan itu ingin membuat sebuah buku biografi tentang keluarga kita dan terutama tentang kesuksesanku dalam membangun bisnis serta keluarga yang harmonis," kata Tuan Forest tanpa melepaskan cengkeraman tangannya.


Millo tau, semakin ia bergerak untuk menepis cengkeraman tangan ayahnya, semakin kencang pula tangan Tuan Forest mencengkeram lengan Millo.


"Katakan saja aku senang ikut wajib militer selama 5 tahun, dan aku mendapatkan perlakuan khusus Karena Kau sering membangkang dan memberontak atasan," jawab Millo asal.


Tuan Forest mengepalkan tangannya. "Jaga ucapanmu, Millo! Kalau aku menjawab seperti itu sama saja aku menjatuhkan harga diriku sendiri dan itu akan mencoreng nama besar keluarga kita. Keluarga Forest!" tukas Tuan Forest lagi.


"Apakah wartawan tahu kalau kamu suka menyiksa anakmu? Atau apakah wartawan akan menuliskan cerita tentang perselingkuhan ayah dan ayah menikahinya karena ia mengandung anak ayah? Begitu pula dengan ibu, yang sebenarnya sudah menikah dengan pria pilihannya sendiri. Begitukah yang ingin ayah katakan pada wartawan itu? Aku rasa buku itu akan menjadi best seller sepanjang tahun jika ayah berani mengungkapkan hal itu kepada wartawan," sahut Millo dengan berani.


Tangan Tuan Forest orest nyari saja melayang ke pipi Millo. "Omong kosong! Apa yang kau katakan semuanya itu adalah omong kosong selama tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa aku dan ibumu melakukan hal sekecil itu!" balas Tuan Forest puas.


Millo yang sudah muak dengan temperamen ayahnya berusaha membebaskan diri dari cengkeraman sang ayah. "Ini sudah cukup menjadi bukti kalau ayah sudah melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap anaknya sendiri," ucap Millo sambil menunjukkan lengannya yang biru akibat cengkraman ayahnya sendiri.


"Anak kurang ajar kamu! Turuti saja perintahku! Lusa pukul tujuh pagi supirku akan menjemput! Bersiaplah!" titah Tuan Forest.


Tuan Forest meminta anak buahnya untuk mengeluarkan Millo dari mobilnya sendiri.


***


Kediaman Madison,


Semenjak pagi itu, suasana di kediaman Manor sangatlah ramai. Tuan Madison dan Andrew sedang bertatapan, kemungkinan sebentar lagi mereka akan saling baku hantam.


"Buktikan itu dengan tes DNA, Tuan Madison! Aku akan memanggil Charlie di atas Kalau perlu aku akan menggendongnya untuk melakukan tes DNA ini!" ucap Andrew yang segera menaiki tangga menuju kamar Charlie.


"Kondisinya masih lemah, Tuan Oak. Tunggulah sampai tujuh hari ke depan, setelah itu kamu bisa mengajaknya untuk tes DNA," kata dokter Jane.


Andrew menghentikan langkahnya. "Baiklah, aku akan menunggu sampai tujuh hari kedepan setelah itu aku akan kesini lagi untuk menyeret Charlie untuk melakukan tes DNA!" sahut Andrew.

__ADS_1


Tuan dan Nyonya Madison mengembuskan napas mereka dengan kasar, dan mereka juga tampak sedikit lega. Karena melihat kondisi Charlie yang tidak memungkinkan untuk mengikuti serangkaian test di rumah sakit.


"Terima kasih dokter Jane," ucap Nyonya Madison.


Andrew kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar Charlie.


"Andrew! Hentikan! Apa yang kamu lakukan! Anak kurang ajar kamu, Andrew!" tukas Tuan Madison.


"Aku anak papaku sendiri, Tuan Madison," jawab Andrew.


Andrew pun kembali meneruskan langkahnya. Setibanya Ia di depan kamar Charlie, ia mengetuk pintu kamar itu. "Ini aku. Aku masuk ya," kata Andrew.


Charlie taypak ketakutan dan bingung saat tiba-tiba Andrew masuk ke dalam kamarnya. "Mau apa kamu ke sini? Bukankah kita sudah bercerai?"tanya Charlie.


"Aku tahu siapa Ayah biologis dari anak yang berani dalam kandunganmu itu," ujar Andrew.


Charlie membuang wajahnya dan Ia memutuskan untuk sedang menjawab pertanyaan Andrew tersebut.


"William Scott? Itu ayah dari si bayi, bukan?" tanya Andrew.


Charlie masih terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah jendela.


"Aku akan menunggumu sampai 7 hari ke depan setelah itu aku akan menunjukkan bukti kepada orang tuaku bahwa kamu dalang dari penculikan 5 tahun yang lalu dan tidak hanya itu, kamu ingin memfitnahku dengan cara mengandung anak William Scott dan mengatakan bahwa itu anakku," ujar Andrew.


"Silakan saja. Aku tidak takut!" jawab Charlie singkat.


"Oke. Aku anggap kamu menerima tantanganmu," sahut Andrew. "Tujuh hari ke depan aku akan menghampirimu lagi," jawab Andrew.


Selepas kepergian Andrew dari kamarnya, Charlie mengambil ponsel dan menghubungi Will. "Dimana kamu? Temui aku dalam waktu 20 menit lagi! Kita bertemu di cafe kopi yang biasa dan kumhomon kali ini jangan sampai terlambat! Kamu akan tau akibatnya jika kamu terlambat atau bahkan tidak datang!" sahut Charlie kepada Will.


Pertemuan Charlie dengan Will sore itu membuat Charlie sedikit terhibur. William Scott sudah mengetahui kabar tentang kehamilan kekasih gelapnya itu. Saat ini ia sedang mengelus-ngelus perut Charlie.


"Sebenarnya aku sayang pada anakku ini tapi mau bagaimana lagi aku ingin hidupnya terjamin jadi aku akan memberikannya kepada Andrew untuk diurus dengan baik di sana," ucap Will.


Charlie meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan Will. "Tapi ini tidak nyaman sekali, Will. Dan lagi aku punya masalah. Mereka memintaku untuk tes DNA minggu depan. Pasti mereka akan mengetahuinya kalau ini bukan anak Andrew, kan?" tanya Charlie.


"Kamu tenang saja, makan sajalah yang banyak. Aku ingin anakku sehat dan bahagia walaupun tidak tinggal bersamaku. Untuk urusan tes DNA serahkan saja kepadaku, aku akan mengaturnya," jawab Will.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2