Pernikahan Yang Tertukar

Pernikahan Yang Tertukar
IDE GHINA


__ADS_3

"Bagaimana jika terima perjanjian pernikahan Shiren. Bukankah dengan membalas dendam orangtuanya, kau bisa merusak gadisnya. Sama seperti keluarganya yang licik menjebak kasus market papa dulu."


"Ghina, kau yakin keluarga Shiren yang membuat papa bangkrut. Aku tidak mau salah orang membalaskan."


"Percayalah! aku saudara kandungmu, saudara kembarmu. Tidak mungkin aku menyesatkan. Lagi pula kita buat bangga Bunda dan Papa, jika kita bisa membalas dendam bukan?"


Ide Ghina, membuat Ghani berfikir dua kali. Benar jika ia harus melamar Arum dengan kekuatan uang. Tapi ia harus melangkahi pernikahan keluarga Shiren, dan membuatnya tersiksa lalu menceraikan. Setelah itu, ia bisa melamar Arum dengan bangga. Papa Tjien pasti tidak akan menolaknya kala ia juga setara dengan kekayaan Jack.


"Baiklah, apa rencanamu?" ujar Ghani, menatap Ghina.


Hingga Ghina berbisik, pada saudara kembarnya itu. Lalu Ghani menatap serius, mengrenyitkan salah satu alisnya.


'Apa itu tidak berlebihan?' batin Ghani. Ia pun menghubungi nomor Arum, mengajaknya pertemuan esok pagi di kampus.


***


Ke Esokan Harinya.


Saat Arum terbangun, "Aaaakh .... aku tertidur lagi gadis bodoh, bagus tugasku tak terkena tinta atau lemon fresh digelas ini! Tapi ini apa, haah mungkin cairan yang mengeces dari bibirku."


"Tak apalah hanya sedikit. Dosen pasti tak akan mencium lembar tugasku bukan?"


Arum tertawa kecil menatap tugasnya, lalu segera bersiap siap untuk kekampus, dengan setelan jeans yang menggulung robek dibagian paha dan lutut menggaris kecil. Serta kemeja bergaris ketat serta topi dan kacamata hitam nya yang melingkar dirambut.


"Okee .... perfect sudahlah biarkan seperti ini."


Arum menatap cermin gaya casual, lagi pula hari ini kan tidak sibuk hanya mengumpulkan dan pulang. Setelah ke kampus, setelah itu aku kemana ya? Rasanya tak ada Shiren dan Santi aku kesepian dikota padat ini. Ah dua sahabatku yang aku rindukan.


"Mmmm! sudahlah ga usah dipikirkan sepertinya aku akan ketempat Shiren, ya pantai tempat biasa. Shiren bilang jika penat full. Kita bisa gunakan menatap ombak dan berfikir jernih, ide briliant akan hadir disana dan pemandangan bule pasti antri dipantai."


Arum pun membayangkan hal bodoh, ia pun segera berangkat dan tersenyum, lalu mencoba menarik nafas agar harinya kini lebih ringan.


Setibanya dikampus, mereka bergabung bersama, teman satu kampus dan jurusan, ia makan bersama. Setelah itu Arum mengajak pulang pergi namun mereka ada acara.


"Baiklah aku sendiri lagi." lirih Arum.


Tak lama dari kejauhan di jam makan ada sebuah kegaduhan.


"Ada apa sih Ar, rame banget?" tapi Arum menggelengkan kepala karena ia benar benar tidak tahu.

__ADS_1


"Woy .. ada apa sih disana rame bener." ucap seseorang di didepan meja kantin.


"Ya nih, apa kampus kita lagi ada antrian kupon sembako ya, seru pasti aku antri duluan lah buat emak dirumah."


Seorang mahasiswa gendut menyambar. Namun Arum, masih santai dengan mie samyang super level gila dan seteguk jeruk ia berhenti ketika seorang wanita ada dihadapannya.


"Dimana wanita yang bernama Arum jurusan kedokteran?" ucap seorang wanita, Arum yang makan pun terkejut.


"Ada apa lagi sih ini ganggu aja orang lagi makan." Arum mencerna ucapan wanita itu, dia bilang Arum jurusan kedokteran. Ia pun menatap dan menoleh ke arah kedua temannya.


"Kamu kenal dia Ar, ada urusan masalah apa?"


"Ya nih ada apa Arum, ayo cerita!" kembali temannya.


"Aku, dia .... sama dia .... Aku aja ga kenal apalagi buat masalah." Arum membalas.


Lalu ia pun menatap wanita itu yang terperangah menatap tajam padanya.


"Apa nama mu benar Ningrum Baschim dengan panggilan Arum?" ucap wanita itu.


"Iya benar, tapi anda siapa kenapa anda mencari saya, saya tidak mengenal anda."


"Baiklah saya akan perkenalkan, nama saya Carin."


Arum kaget, apa dia wanita yang di nikahi Jack, ia pun bingung harus berkata apa didepan banyak mahasiswa.


Saat dikantin ramai, semua mata menatap penuh tajam. Di sekelilingnya pun bergunjing membicarakannya.


Sementara Carin masih dengan perkataan yang membabi buta. Sehingga Arum tak bisa berkata apapun.


"Maaf sepertinya anda salah orang, atau itu bukan karena saya, maaf sekali lagi Carin! Sebentar apa kita bisa bicara dilain tempat."


"Who, untuk apa. Diskusi damai, no! wanita murahan mau bernego padaku? you serius?" ujar Carin.


Kedua teman Arum mengelus punggung Arum agar bersabar. Sementara di sekitar membicarakan nama Arum dengan buruk.


"Gak nyangka ya, Arum pelakor kalau di laporin dia pasti kena pasal, dicoret!"


Arum pun pergi berlalu karena tidak tahan, serta Carin mengejar hingga di taman, jauh dari keramaian orang seperti dikantin.

__ADS_1


"Maaf bagaimana mungkin saya bisa dikatakan perebut dan membuat masalahmu nona, kita bisa bicara baik baik!"


Plaaagh!!


Carin menampar Arum. Sehingga Arum terkejut menatap kembali dengan memegang pipi kanannya.


"Apa maksud anda Carin?"


Arum meneteskan air mata ketika Carin bicara, jika ia adalah wanita rendahan murahan, model kw yang hanya bisa melebarkan kaki mulus. Sehingga bisa mendapatkan fasilitas dari seorang Jack.


"Anda salah sangka Carin, aku dan Jack itu hanya sebagai teman, tapi Jack meminta pada ayahku untuk melamar. Aku tidak mencintainya karena aku ..."


Arum pun bingung menjelaskannya, sehingga membuat Carin meradang, melabrak Arum.


"Kenapa, lupa mau bicara? atau bualan kebohongan. Kau malu, aku labrak ditempat ramai seperti ini?" ujar Carin.


Arum pun bingung akan statusnya, ia langsung bicara pada wanita bernama Carin


"Sebaiknya anda tanya Jack! karena aku tak menganggapnya lebih apalagi kekasih!"


"Baiklah aku beri waktu satu minggu, cepat bujuk Jack segera menikahiku atau aku sebar kau dikampus ini agar dikeluarkan. Dasar wanita obral, ingat janji mu aku tunggu Arum!"


Carin melempar foto kegiatan nya bersama Jack secara diam. Sehingga foto itu berhambur melayang diatas kepalanya.


Arum pun menangis ditaman selama lebih sepuluh menit dan terlihat seseorang mengeluarkan sapu tangan memberikannya agar segera menghapus.


"Ayo hapus air mata mu."


"Ghani kamu sedang apa disini?"


Ia pun memakaikan jaket hitam dan topi serta tas Arum ia lipat, kedalam jaket Ghani.


Ghani merangkul dan memegang tangan Arum, untuk pergi dari kampus. Ia membawanya ketempat yang tenang.


"Ghani kita mau kemana?" ucap Arum.


Sementara Arum, melihat kedua temannya seperti sedang mencarinya. Namun ia harus meninggalkan.


"Ayo ikut aku ketempat yang nyaman, hanya ada aku dan kamu. Maafkan aku terlambat datang, kamu tidak apa kan, sekarang ikut aku ya!" Arum pun tak menolak ia tersenyum dan bersandar di pundak sang kekasih.

__ADS_1


Meski terlambat, setidaknya ia pergi bersama Ghani kekasihnya yang terhalang restu.


Tbc.


__ADS_2