
Beberapa bulan kemudian di kediaman Will,
"Aku tidak kuat menahan beban di perutku ini, Will! Kenapa juga aku mau mengikuti ide bodohmu untuk mengandung dan meminta Andrew mengakui dia sebagai anak kami! Aahh, aku tidak suka rasa ini!" keluh Charlie dalam dekapan Will.
Kandungan Charlie memasuki usia 7 bulan, bukannya membaik justru kondisi Charlie semakin memburuk. Ia mengeluh sepanjang waktu, belum lagi diet ketat yang masih di jalaninya. "Aku tidak mau tubuhku membengkak!" tegas Charlie kepada siapa pun di rumah itu yang meminta Charlie untuk menggandakan porsi makannya.
"Anakmu butuh nutrisi, begitu juga dengan kamu," kata Nyonya Manor sambil berusaha menyuapi Charlie.
Sementara Andrew hanya berdecak dalam hati melihat kelakuan Charlie dan keluarga Manor. "Dia sudah dewasa, Nyonya Manor dan seharusnya urusan dia mau makan atau tidak biarlah jadi urusan dia," ucap Andrew sambil melengos pergi.
Ia harus menunggu 2 bulan lagi untuk membuktikan kalau anak yang di kandung Charlie bukanlah anaknya. Menurutnya dua bulan adalah waktu yang lama dan betapa ia merindukan Camilla.
-
Will mengecup pucuk kepala Charlie dengan sayang. "Bersabarlah, dalam waktu dua bulan lagi, kita sudah dapat melihat buah kasih kita. Makanlah yang banyak, Charlie. Aku mau anak kita sehat dan pintar sehingga ia dapat merebut hati Oak. Dengan begitu, ia akan menjadi pewaris tunggal harta kekayaan Oak beserta segala asetnya," jawab Will sambil mengelus-elus perut Charlie.
Bayi kecil itu seakan mendengar harapan Will, sehingga ia berjumpalitan di dalam perut Charlie. Gerakan tiba-tiba itu menyebabkan Charlie mual. "Aku benci dia dan aku benci ini. Aku ingin mengakhiri segalanya!" ucap Charlie setengah menangis.
Will semakin memasukan Charlie ke dalam dekapannya. "Kita tidak boleh menyerah, Charlie. Tunggulah sampai kita bisa mendapatkan segalanya dari keluarga Oak. Setelah itu terjadi, kita bisa bersenang-senang," kata Will memenangkan.
"Aku rasa aku tidak akan bisa bertahan sampai dua bulan lagi, Will," keluh Charlie lagi. Air matanya mulai mengalir membasahi pipinya.
"Bertahanlah sayang, bertahanlah," hibur Will sambul terus menciumi perut Charlie.
***
Di saat yang sama,
Andrew meminta waktu kepada Tuan dan Nyonya Manor untuk mengunjungi Camilla, tentu saja dia tidak akan sejujur itu kepada Tuan dan Nyonya Manor.
"Pergilah, kami tidak peduli ada kau atau tidak," tukas Tuan Manor.
"Aku diajarkan sopan santun oleh orangtuaku, paling tidak aku harus ijin apalagi ini bukan rumahku. Jadi, aku permisi dulu," sahut Andrew saat ia berpamitan dengan Tuan dan Nyonya Manor.
Tuan dan Nyonya Manor membuang mukanya dari Andrew. Kehadiran Andrew disana hanya semata-mata untuk menunjukan kepada wartawan bahwa anak yang di kandung Charlie adalah anak Andrew dan mereka akan mulai rujuk kembali karena kehadiran sang buah hati.
__ADS_1
Begitulah, akhirnya Andrew pun keluar dan mengendarai kendaraan roda duanya menuju kota Z. Butuh waktu tiga jam untuk sampai sana.
Andrew segera memarkirkan kendaraannya di depan apartemen Millo. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Millo.
Namun, Millo tak kunjung menjawab panggilannya. Tak menyerah, ia menghubungi Camilla.
"Ya?" jawab Camilla.
Andrew menautkan kedua alisnya dan bertanya dalam hati kenapa suara Camilla terdengar dingin sekali? Apa yang terjadi? Apakah Camilla marah kepadanya?
"Milla, aku ada di depan," kata Andrew.
Terdengar suara Camilla berbicara dengan orang lain, apakah itu Millo atau Bob, dia tidak tau.
"Kami sedang berada di tempat Bob. Tunggulah, aku akan memberikan kuncinya kepadamu," jawab Camilla lagi.
Belum sempat Andrew menjawab, Camilla sudah menutup panggilannya.
Tak sampai lima belas menit, Andrew sudah melihat Camilla berlari menghampirinya. Hati Andrew terasa damai begitu ia melihat senyum Camilla yang mengembang di wajah cantiknya.
"Hai," sapa Camilla tersenyum.
"Hai, senang bisa melihatmu lagi, Milla," balas Andrew.
Camilla mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum. "Apakah Charlie baik-baik saja? Bagaimana kandungannya? Aku lihat berita tentang kalian di televisi," kata Camilla.
Andrew mendengus. "Berita sampah! Saudarimu sedang asik menyiksa dirinya sendiri," jawab Andrew.
"Aku ingin menjenguknya saat ia sudah melahirkan nanti. Berapa bulan lagi?" Camilla bertanya kembali.
Andrew mengacungkan dua jarinya kepada Camilla.
"Sudah secepat itu?" tanya Camilla terbelalak.
Andrew mengangguk. "Aneh sekali bukan? Aku tidak tau kapan membuatnya, tapi tiba-tiba dia hamil. Hahaha," Andrew tertawa kering saat mengingat kenyataan pahit yang harus ia hadapi.
__ADS_1
Camilla merangkul pundak Andrew. "Sabarlah. Suatu saat kebenaran akan menang," hibur Camilla.
"Semoga secepatnya," jawab Andrew berharap.
"Milla, dengar. Ada yang harus kukatakan kepadamu," kata Andrew. Ia beranjak dari sandarannya kemudian berdiri menghadap Camilla.
"Camilla! Andrew! Hei!" seseorang berlari menghampiri mereka.
Andrew memukulkan kepalan tangannya ke mobil. "****!" bisik Andrew cukup keras sehingga Camilla dapat mendengarnya.
"Hei, kalian sedang apa?" tanya Millo dan mendorong tubuh Andrew ke samping.
"Ada apa?" Millo bertanya lagi.
Camilla menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa, hanya saja,-"
"Aku ingin mengatakan kepada Camilla untuk menungguku karena aku mencintai dia dan ingin memulai hubungan kami dari awal lagi," kata Andrew memutus jawaban Camilla.
Camilla tidak tau harus menyembunyikan dentuman jantungnya dimana. Kenapa Andrew baru mengatakannya sekarang bukan kemarin-kemarin sebelum ada kejadian ini?
"Aku tau kita berteman dalam segala hal, Ndrew. Tapi kali ini aku tidak akan semudah itu menyerahkan Camilla kepadamu. Kami baru mulai berkencan dan hubungan kami sudah berjalan 2 bulan, bukan begitu, Milla?" sahut Millo.
Bugh!
"Andrew!" pekik Camilla.
Tinju Andrew melayang di pipi Millo. Millo jatuh tersungkur dan menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Dengan berani ia bangkit berdiri dan membalas tinju Andrew.
Bugh!
Andrew berpegangan pada spion mobil. Sejurus kemudian, seperti sudah di atur, kilatan cahaya kamera tertuju ke arah mereka.
"Hei! Hentikan!" Camilla kembali memekik tapi para wartawan itu tidak menghentikan tugas mereka. Mereka terus meliput pertempuran sengit antara Andrew dengan Millo.
...----------------...
__ADS_1