
Malam itu, setelah pertemuannya yang membuang waktu dengan Tuan Madison. Joe mengendarai mobilnya menuju kota Z. Ada sesuatu yang ingin ia pastikan tentang perasan yang sejak kemarin mengganjal hatinya.
Ia tidak peduli dengan adiknya, apalagi dengan Andrew Oak yang tidak ada hubungan darah sama sekali dengannya. Tapi tiba-tiba entah kenapa ia ingin sekali bertemu dengan Andrew Oak, maka ia meminta asisten pribadinya untuk mencari nomor Andrew yang bisa ia hubungi.
"Tuan Forest, saya sudah mendapatkan nomor asisten Tuan Oak. Apakah saya hubungi sekarang juga?" tanya Tommy Johansson, yang biasa di panggil TJ oleh Joe.
Joe melirik asistennya dengan tatapan tak sabar. "Menurutmu bagaimana, TJ? Tentu saja sekarang juga!" tukas Joe.
Ia menghentikan mobilnya secara mendadak, dan mengambil ponsel di samping kursi supir. "Cepat hubungi dia sekarang!" titah Joe.
Dengan tergesa-gesa, TJ menghubungi Josh, asisten Andrew Oak. Tak lama, ia sudah mendapatkan nomor Andrew Oak dengan alasan ingin membicarakan tentang kerja sama bisnis yang sedang tuannya itu kerjakan.
"Sudah saya kirim, Tuan," kata TJ.
Joe pun melihat nomor itu dan beberapa detik kemudian, jarinya sudah menari-nari di atas keypad ponsel. "Aku akan menemui dia malam ini di restoran setelah itu aku akan menginap di apartemen Millo," ucap Joe, melajukan kendaraan mewahnya lagi menuju titik bertemu yang sudah mereka sepakati.
Setibanya di restoran klasik yang mendapatkan 3 bintang Michelin itu, Joe pun segera ke meja resepsionis. "Reservasi atas nama Stuart Forest," kata Joe.
Seorang resepsionis wanita dengan pakaian formal berwarna merah maroon menunjukan ruangan private kepada Joe. "Silahkan, Tuan,"
Joe menundukkan kepalanya sebagai ungkapan terima kasih kepada resepsionis tersebut.
Tak sampai 15 menit, Andrew Oak pun sudah di antarkan oleh resepsionis yang sama ke ruangan yang sudah di reservasi oleh Joe.
"Another Forest, huh?" ucap Andrew, mengulurkan tangannya kepada Joe.
Joe menyambut tangan hangat Andrew dan tersenyum. "Andrew Oak, nice to meet you,"
Mereka pun duduk dan makanan pembuka segera dihidangkan. Restoran yang mengusung konsep gastronomi itu menghidangkan Salmon Bunuelos atau kroket salmon.
"Apa yang membawamu malam ini sampai aku mendapatkan kehormatan bertemu denganmu, Joe?" tanya Andrew.
Karena Andrew sudah menyelidiki siapa Joe Forest yang menjadi pengacara keluarga Madison itu, maka ia sudah mengetahui tentang Joe Forest lebih kurangnya.
__ADS_1
Joe mengukir senyum kecil di wajah tampannya. "Ide bagus, untuk saling memanggil nama kecil," sahut Joe.
"So, bagaimana?" Andrew bertanya lagi.
Belum sempat Joe menjawab pertanyaan yang di ajukan Andrew, pelayan restoran pun datang membawa piring berbentuk datar yang diisi dengan sesuatu yang berwarna seperti tinta cumi dan di atasnya terdapat cumi, udang serta ikan kerapu yang turut serta dalam campuran nasi.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada pelayan tersebut, mereka mulai menyantap makanan yang diberi nama Seafood Paella itu.
"Cerdas sekali kamu memilih restoran. Hidangannya not bad," puji Andrew.
"Aku to the point saja, kamu pasti sudah tau kalau aku memegang kasus Madison. Aku ingin melepasnya," ucap Joe.
Andrew tersedak mendengar ucapan Joe yang tiba-tiba itu. "Uhuk! Bagaimana maksudmu?" tanya Andrew sembari meletakkan gelas yang tadi dipegangnya.
"Kamu mengajukan tuntutan terhadap Madison bukan? Silahkan, serang mereka. Bukan berarti aku melepaskan tanggung jawabku hanya saja aku merasa tugasku sudah selesai," kata Joe.
Andrew mengelap mulutnya memakai serbet makan sambil mengganggu-anggukkan kepalanya. "Dengan senang hati, aku akan segera mengajukan tuntutan dan akan kuberikan kepada pengacaraku untuk segera diproses di pengadilan,"
"Apa yang membuatmu berubah pikiran?" tanya Andrew penasaran. Andrew tau kalau Joe tidak dibayar oleh keluarga Madison tetapi jika sedari awal Joe membantu mereka mengapa hanya sampai di tengah jalan?
"Memangnya ada apa dengan Camilla?" tanya Andrew, kedua alis matanya yang terbilang tebal itu menyatu.
"Aku tahu kamu sempat memiliki hubungan spesial dengannya tapi aku rasa kamu harus mundur karena aku akan menyatakan cinta kepadanya," jawab Joe terang-terangan.
Andrew tersenyum, wajahnya sangat tenang. "Camilla masih menyimpanku di hatinya, Joe. Jadi, kupikir hilangkan saja perasaanmu itu sebelum kamu sakit hati," canda Andrew.
Tak lama, makanan penutup pun datang. Makanan cantik yang seakan dilukis di atas piring saji itu memiliki bentuk deconstructed dan diberi nama Creamy Cheesecake. Cheesecake yang di padu dengan cream cheese, raspberry, cherry sorbet serta crumble yang akan memanjakan mulut siapapun yang menyantapnya.
Kedua pria dewasa itu sangat menikmati sajian berbintang dari restoran itu.
"Mau bertaruh?" tantang Joe saat mereka menghabiskan makanan mereka.
"Camilla bukan taruhan, bagaimana kalau kita bersaing? Bersaing dengan sehat?" tanya Andrew.
__ADS_1
Joe menjabat tangan Andrew. "Deal," katanya tersenyum.
***
Hari itu, persidangan dilakukan secara tertutup. Tuan Madison beserta keluarganya tidak tau kalau Joe sudah mengundurkan diri menjadi pengacara mereka hanya karena Camilla Madison.
Dengan serangan dari berbagai arah, keluarga Madison tampak tegang mengikuti persidangan hari itu.
Ponsel Charlie pun berbunyi, satu pesan masuk dari Joe. Charlie membaca pesan itu dengan cepat. Kedua netranya membulat dan ia tercengang. Wajahnya tampak panik, ketakutan. "Pa, Ma, ini gawat. Joe akan datang sebagai saksi!" kata Charlie lirih.
"Apa! Orang gila itu! Biar aku yang menghubunginya!" tukas Tuan Madison.
"Tidak perlu repot-repot menghubungiku, Bapak Tua," Joe masuk ke dalam ruang persidangan dengan setelan jas berwarna cokelat tua, membuatnya semakin tampan.
"Aku mengundurkan diri menjadi pengacara kalian, dan sebagai gantinya, aku akan maju sebagai saksi. Hmmm, kalian pasti berpikir mengapa aku berubah? Sama seperti aku yang berpikir, mengapa kalian mendiskriminasikan Camilla, anak kalian sendiri dan-," Joe melirik ke arah Charlie.
"Dia saudari kembarmu! Camilla selalu memikirkan kalian tapi bagaimana dengan kalian? Aku ingin kalian merasakan nikmatnya jeruji besi yang sebentar lagi akan kalian nikmati," ucap Joe dengan sengit.
Charlie mulai menangis dan meneteskan setitik cairan bening yang keluar dari mata indahnya. "Aku tidak mau tidur di sel, Pa. Tolong, bantu aku!" pekik Charlie.
Persidangan pun dimulai dan mengakhiri tangis Charlie. Dalam sidang tersebut, William Scott datang dengan dibantu oleh pengacara dari keluarga Oak. Ia memberitahukan apa yang ia lakukan dan siapa dalang di bakik dari semua perbuatan itu kepada Majelis Hakim.
"Kenapa Anda mau melakukannya, Saudara Scott?" tanya Majelis Hakim.
"Karena saya mencintainy, Yang Mulia," jawab Scott tanpa memandang sedikit pun kepada Charlie ataupun keluarga Madison.
Hakim juga menghadirkan Andrew serta beberapa pelayan dan supir yang menjadi saksi.
Terakhir, tentu saja Joe Forest yang dengan kesaksiannya membuat keluarga Madison terpojokkan. "Sekian kesaksian dari saya, Yang Mulia. Semoga mereka dapat di berikan hukuman seadil-adilnya," kata Joe menutup kesaksiannya.
Majelis Hakim berdiskusi dengan Jaksa untuk memutuskan apakah keluarga Madison bersalah atau tidak. Tak lama, Hakim mengangkat palunya.
"Saya memutuskan, Charlotte Anabelle Madison, Martin Madison, serta Nathalie Madison bersalah. Masa hukuman untuk mereka, seringan-ringannya 5 tahun penjara dan seberat-beratnya 10 tahun penjara!" Hakim pun sudah mengetuk palu. Beberapa petugas kepolisian segera memborgol tangan mereka.
__ADS_1
"Saya mengajukan banding! Yang Mulia, dengarkan saya! Saya mau banding! Ini tidak adil! Lepaskan! Lepaskan saya dan keluarga saya!" seru Tuan Madison.
...----------------...