
Sore itu, sore yang sibuk bagi keluarga Oak dan Madison. Bagaimana tidak mereka harus menunggu dokter yang akan melakukan test DNA terhadap bayi yang di kandung oleh Charlie saat ini.
Tim laboratorium serta dokter Jane sudah berkumpul. "Baik, saya akan masuk dan akan mulai mengambil sampel dari cairan ketuban Charlie. Silahkan dua orang saksi dari keluarga Charlie serta dari keluarga Oak," ucap dokter Jane.
Tak lama, Andrew dan Tuan Madison masuk ke dalam kamar Charlie.
"Hai, bagaimana kabarmu, Charlie?" sapa dokter Jane ramah.
Charlie tersenyum, wajahnya masih pucat dan tampak lemah sekali. "Aku baik. Apakah ini akan menyakitkan?" tanya Charlie.
Dokter Jane menggelengkan kepalanya. "Tidak, rasanya sama seperti saat seseorang mengambil sampel darahmu," jawab dokter Jane.
Dokter Jane memeriksa Charlie, setelah ia merasa kondisi Charlie oke, dokter Jane meminta kepada tim laboratorium untuk menyiapkan suntikan dan sebuah tabung kecil.
Tim laboratorium kemudian mengeluarkan suntikan yang masih tersegel serta dua buah botol tabung kecil. "Saya mulai yah, Nyonya Madison. Silahkan tarik nafas panjang, hembuskan,"
Charlie mengikuti instruksi dari tim laboratorium tersebut, untuk tarik nafas dan menghembuskannya. Perlahan, Charlie bisa merasakan sebuah benda tajam menusuk dinding perutnya. "Auch," seru Charlie meringis menahan rasa nyeri sesaat yang di akibatkan dari jarum suntik.
"Tahan sebentar, Nyonya," kata tim laboratorium itu menenangkan.
Dua sampel dari cairan ketuban Charlie sudah berhasil di ambil. "Hasilnya akan keluar 2-4 minggu dari hari ini. Mohon di tunggu," kata seorang pria berpakaian hijau.
Andrew dan Tuan Madison keluar dari kamar Charlie. "Terimakasih bantuannya," kata Andrew bersalaman dengan donter Jane dan tim laboratorium tersebut.
"Semoga hasilnya tidak di curangi," kata Andrew sambul melirik Tuan Madison yang dengan cepat mengepalkan tangannya.
Andrew berjalan kembali ke ruang keluarga Tuan Madison. "Kita akan menunggu hasilnya sampai 4 minggu ke depan," kata Andrew menyampaikan informasi itu kepada kedua orangtuanya.
Tuan dan Nyonya Oak mengangguk. "Baiklah, kita akan menunggu hasilnya," ucap Nyonya Oak.
__ADS_1
Setelah itu mereka berpamitan. Sebelum Tuan dan Nyonya Oak masuk ke dalam mobil, mereka mengajak Andrew untuk berbicara. "Apa yang akan kamu lakukan seandainya Charlie benar-benar mengandung anakmu?" tanya Tuan Oak.
"Tidak mungkin, aku berani bersumpah aku melakukan hal itu hanya sekali, 3 bulan yang lalu, dan itu pun aman. Maksudku aku mengamankan diriku sendiri. Kalau terbukti itu anakku, aku akan menyewa detektif untuk mencari kebenaran dari kasus ini," jawab Andrew.
Tuan dan Nyonya Oak berusaha mempercayai ucapan Andrew. "Untuk saat ini kami belum mempercayaimu, kita benar-benar hanya menunggu hasil tes DNA itu. Jika dan hanya jika terjadi sesuatu yang buruk, hasil dari tes DNA itu menyatakan bayi yang dikandung oleh Charlie adalah anakmu maka batalkan gugatan cerainya dan bertanggung jawablah serta bertindaklah sebagai seorang laki-laki sejati," ujar Tuan Oak.
Andrew mengusap wajahnya dengan kasar. "Percayalah kepadaku papa! Itu bukan anakku. Dan bagaimana jika keluarga Madison memanipulasi hasil tes DNA tersebut hanya untuk menguasai hartaku?" tanya Andrew.
Tuan Oak menggelengkan kepalanya tak percaya. "Apakah ada orang yang akan melakukan segala hal hanya untuk mendapatkan harta? Lagi pula semua yang telah aku dapatkan bukan sepenuhnya milikku, culas sekali jika mereka menggunakan segala cara untuk mendapatkan semua harta kita," jawab Tuan Oak.
Nyonya Oak menghela nafasnya panjang. "Berarti kita harus menyiapkan pengacara dan menambah pekerjaan detektif Daniel untuk menyelidiki latar belakang keluarga Madison juga jumlah kekayaannya," usul Nyonya Oak.
"Sejauh ini, Itu ide yang paling bagus," balas Andrew.
Setelah merencanakan langkah apa yang akan mereka ambil selanjutnya, mereka pun berpisah jalan. Andrew segera kembali ke apartemen Millo di kota Z.
Sesampainya ia di kota Z ia dikejutkan oleh segerombolan wartawan yang mengepung klub malam milik Bob. Andre segera memarkirkan mobilnya di depan club malam tersebut.
***
Sore itu, Camilla Madison sedang menikmati kopinya sambil berbincang dengan Bob. Namun tak berapa lama, segerombolan wartawan dengan kamera yang menyilaukan mata serta pertanyaan-pertanyaan yang tiada habisnya menyerang Camilla saat itu.
"Apa benar anda yang bernama Camilla Madison?" tanya salah seorang wartawan yang dengan cepat mengulurkan micnya ke arah Camilla.
"Apakah anda juga mengenal seorang pria yang bernama Millo Forest?" seorang wartawan wanita ikutan mencacarnya dengan pertanyaan.
"Bukankah anda sudah menikah dengan Andrew Oak? Apa mungkin ada ingin memiliki dua orang suami? Apa hubungan anda dengan Tuan Millo Forest? Bisa konfirmasikan kepada kami?"
Pertanyaan-pertanyaan serupa pun dilayangkan kepada Camilla. Camilla pun bingung harus menjawab apa karena ia benar-benar tidak tahu apa yang dimaksud oleh para wartawan ini.
__ADS_1
Raut wajah Camilla diselimuti ketakutan dan kebingungan, Andrew pun menyeruak barisan para wartawan itu dan menggandeng tangan Camilla untuk segera keluar dari sana.
Malang bagi mereka, para wartawan itu mengenali Andrew Oak. Akhirnya, mereka berdua dikejar oleh wartawan sampai di depan apartemen Millo.
"Tuan Oak, apa hubungan anda dengan Camilla Madison? Bukankah istri anda adalah Camilla Madison? Lalu mengapa Tuan Forest berkata bahwa ia menyukai Camilla Madison?" para wartawan kembali menyerang mereka dengan pertanyaan.
Mau tidak mau Andrew menghadapi wartawan wartawan tersebut. Ia membalikkan badannya dan tersenyum ke arah wartawan itu.
"Saya tidak tahu apa maksud kalian menyerang Camilla Madison dengan pertanyaan aneh seperti tadi? Ada kabar yang harus saya luruskan, tapi untuk saat ini saya belum bisa mengkonfirmasi apa pun karena belum ada bukti yamh kuat terkait masalah ini," jawab Andrew.
Salah seorang wartawan mengulurkan micnya terlalu dekat sehingga hampir saja mengenai ujung hidung Andrew. "Ah, maafkan saya. Saya terlalu bersemangat. Apakah masalah itu ada hubungannya dengan Millo Forest atau Charlotte Madison?" tanya wartawan itu.
Kehebohan di sore itu segera bertambah dengan hadirnya Millo Forest yang datang bersama Tuan Forest. Karena Millo menyebut nama Camilla Madison, Tuan Forest berniat untuk mengenal lebih jauh Camilla Madison.
Begitu Millo Forest turun dari mobilnya, para wartawan segera menyerbu dan menyerangnya dengan pertanyaan.
"Tuan Forest, apakah anda sudah tinggal bersama dengan Camilla Madison selama ini?"
"Tuan Besar Forest, spakah Ini pertama kalinya anda bertemu dengan Camilla Madison?"
Pengawal Tuan Forest segera membelah lautan wartawan tersebut dan membantu tuannya untuk masuk ke dalam apartemen.
Kini, Tuan Forest beserta tiga orang anak muda berkumpul. Tuan Forest memandang mereka satu per satu. "Aku kesini bukan berarti aku menyetujui hubunganmu dengan Madison! Kamu sudah memiliki calon sendiri hanya saja kamu telah menyebutkan nama Madison, jadi aku tertarik bertemu dengannya," kata Tuan Forest lagi.
Camilla menganggukan kepalanya kepada Tuan Forest.
Tuan Forest menyapa Camilla. "Jadi, inikah salah satu dari si kembar Madison yang terkenal itu?" tanya Tuan Forest.
"Bukan aku yang terkenal tapi mungkin yang Anda maksud adalah adikku," jawab Camilla.
__ADS_1
Tuan Forest mengenali Andrew. "Bukankah Andrew Oak sudah menikah dengan Camilla Madison?" tanya Tuan Forest. Kedua alisnya kini saling bertautan.
Tuan Forest kembali mengalihkan pandangannya dari Andrew ke Millo. "Kamu menyukai istri orang? Jadi selama ini kamu dan Camilla mempunyai hubungan gelap? Kalian gila! Sandiwara macam apa ini dan permainan macam apa yang sedang kalian mainkan!" tanya Tuan Forest menuntut penjelasan dari mereka bertiga.