Pernikahan Yang Tertukar

Pernikahan Yang Tertukar
Got You!


__ADS_3

Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit untuk pemulihan, Charlie akhirnya perbolehkan pulang ke rumah. Tanpa ada sedikitpun rasa sedih, Charlie menghubungi Will beberapa minggu kemudian.


Karena Will tak kunjung membalas pesan ataupun teleponnya, Charlie pun merasa kesal dan memutuskan untuk mengunjungi kediaman Will.


Sesampainya di kediaman Will, Charlie segera keluar dari mobil mewahnya dan menekan tombol lonceng yang berada di balik gerbang tinggi itu.


Tak lama, pelayan rumah Scott pun berlari keluar dan menyambut Charlie.


"Oh, Nona Madison. Masuk dulu, Non, saya panggilkan Tuan Will," katanya ramah.


Tanpa menunda-nunda lagi, Charlie segera masuk dan mendahului pelayan bertubuh mungil tersebut. Charlie bergegas menuju kamar Will, dia tau Will tidak akan kemana-mana selama Charlie tidak ada.


Charlie mengetuk pintu kamar Will, "Will! Will! Ini aku!" tukasnya, kemudian ia membuka pintu kamar Will. Namun, pintu itu di kunci dari dalam sehingga Charlie harus mengetuknya kembali.


"Will! William!" panggil Charlie. Ia menempelkan daun telingnya ke pintu kamar Will untuk mendeteksi apakah ada sesuatu yang dapat di tangkap oleh indera pendengarannya itu.


"Aku tau kamu ada di dalam, Will! Buka pintunya! Will, kalau kamu tidak mau membuka pintu ini, aku akan mendobraknya! Lihat saja!" Charlie pun mengambil posisi kuda-kuda untuk bersiap menendang.


"Satu!" teriak Charlie dengan lantang.


"Dua! Jangan sampai kau menyesal, William! Kalau aku punya salah, paling tidak kamu bisa memberitahukan kepadaku, apa salahku bukan malah menghindariku seperti ini!" kata Charlie lagi. Tidak akan ada orang yang menyangka kalau Charlie baru saja keluar dari rumah sakit, kehabisan darah, serta kehilangan anaknya jika melihat semangatnya yang luar biasa untuk mendobrak pintu kamar Will.

__ADS_1


"Ti,-... Waaaa! Will!"


Bruk!


Tiba-tiba saja pintu kamar Will terbuka, dan Will tidak menangkap Charlie yang kehilangan keseimbangan karena satu kakinya telah terangkat dan siap untuk menendang.


"Ouch! Will!" seru Charlie mengaduh kesakitan.


Will menutup pintu kamarnya kembali dan menatap Charlie dengan dingin. Tidak ada uluran tangan yang diarahkan untuk Charlie. "Untuk apa kamu kesini?" tanya Will.


Charlie memberengutkan bibir merahnya dengan angkuh dan kemudian ia beranjak berdiri dari lantai berkarpet biru itu. "Tentu saja ingin menemui kekasihku!" jawab Charlie.


"Siapa kekasihmu?" tanya Will dengan nada datar.


"Pikir saja sendiri!" jawab Will lagi.


Charlie berdecak dan menghentakkan kedua kakinya menandakan bahwa ia kesal, Will dapat menebak setelah ini, air mata akan menggantung di pelupuk mata Charlie.


Benar saja tebakan Will, Charlie mulai mengeluarkan jurus pamungkasnya yakni menangis. "Will! Kamu kenapa sih? Kenapa kamu marah kepadaku?" tanya Charlie dengan suara tercekat.


"Tidak perlu menangis! Tangisi saja anakmu yang sudah tiada itu!" sahut Will. Ia masih sakit hati mengingat Charlie tidak berduka saat buah hati mereka meninggal dunia.

__ADS_1


Charlie segera mengusap air matanya. "Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjaganya, Will! Dia sempat hidup beberapa lama sampai akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya.


"Kalau kamu menjaganya, anak kita tidak akan MATI!" tukas Will penuh emosi.


Suara Charlie yang masuk ke dalam indera pendengarannya membuat Charlie menganga dan terhenyak. Ia tidak pernah menyangka kalau Will akan semarah ini. "Will, dia hanya seorang bayi, ken,-"


"Hanya seorang bayi? Kau gila, Charlie! Sudah kukatakan kepadamu untuk menjaga dan merawatnya! Bukan melenyapkannya! Bagaimana pun juga ada darahku mengalir di bayi itu dan kuletakkan setengah harapan hidupku padanya. Itu buah cinta kita, Charlie!" jawab Will denban nada tinggi.


Charlie menelan salivanya kasar, ia tak pernah membayangkan betapa berartinya bayi itu untuk Will. "Wi- Will, maafkan aku. Tapi itu bukan sepenuhnya kesalahanku," rengek Charlie.


"Itu kesalahanmu! Karena kesalahanmulah, anakku mati!" tuding Will keras sambil mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Charlie.


"Tidak! Itu bukan salahku! Aku tidak mau kau salahkan! Lagipula aku tidak ada niat untuk memiliki anak tapi kau yang menginginkannya! Kalau kamu cukup kaya, kita bisa menyewa ibu pengganti untuk anak itu, bukan dengan tubuhku, Will!" ucap Charlie tak kalah pedas.


Will mengangguk-angguk. "Aku menyesal telah mencintaimu, Charlie!" sahut Will.


Nafas Charlie naik turun dan ia bergegas keluar dari kamar Will, akan tetapi baru saja ia hendak keluar, suara sirene mobil polisi telah mengepung kediaman Will.


Charlie kembali ke kamar Will. "Will, ada apa ini?" tanya Charlie panik.


Charlie bertambah panik saat dilihatnya raut keji dan licik di wajah Will. "Seperti sudah kukatakan kepadamu, jika anak itu mati maka aku akan membongkar kejahatanmu mulai dari lima tahun lalu sampai penipuan hasil test DNA," jawab Will tersenyum miring.

__ADS_1


Charlie hanya bisa menggelengkan kepalanya, tubuhnya lemas tak bertenaga dan ia merosot ke lantai sambil terus menatap tak percaya pada pria yang pernah dicintainya itu.


...----------------...


__ADS_2