PESONA POLWAN CANTIK

PESONA POLWAN CANTIK
Chapter 45


__ADS_3

...MENGUJI KEMAMPUAN NAYA...


Naya, Arum, dan Rahmi telah bersiap menuju tempat Meeting dengan klien di Kota Bandung. Meeting akan diadakan di Gedung Bandung Central District Tower (Gedung BCDT) salah satu tempat pertemuan meeting termegah dan mewah di Kota Bandung. Naya didampingi oleh Arum dan Rahmi telah sampai di depan gedung, mereka bertiga disambut oleh seorang staff khusus acara meeting hari ini. Staff tersebut mempersilahkan dan mengantarkan Naya beserta Arum dan Rahmi menuju Ruangan Meeting.


Sesampainya di Ruangan Meeting, mereka bertiga disambut oleh para pebisnis hebat di Indonesia sedang berkumpul disana. Seusai mendapatkan sambutan oleh para bisnis tadi Naya, Arum, dan Rahmi duduk di kursi yang disediakan dalam Ruangan Meeting itu. Naya memperkenalkan diri kepada seluruh peserta meeting dengan sopan dan ramah. Pandangan Naya sempat tertuju pada salah satu orang yang ada disana dan ikut memandangi nya dengan senyum remeh kepada Naya. Pebisnis tersebut bernama Suharso Indrawan seorang Pebisnis Senior, Politikus, dan Tokoh Pers Nasional.


Acara meeting pun dimulai dengan materi pemaparan yang dijelaskan oleh Rahmi. Konsep materi nya tentang pembangunan kawasan bisnis terpadu dan berkelaannjutan dengan memprioritaskan sumber daya lokal yang melimpah. Konsep yang dipaparkan begitu menarik hampir seluruh peserta meeting kecuali Pak Harso. Dia merasa belum yakin terhadap kemampuan Naya dalam mengelola bisnis itu apalagi modal yang akan di guyurkan sangat melimpah.


“ Bagaimana anda bakal menjamin project yang ada paparkan berhasil? apa sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat?”, tanya Pak Harso mengintimidasi Naya.


“ Baik saya akan jelaskan bahwa jamin keberhasilan project ini mampu membantu meningkatkan lapangan kerja dan perekonomian. Karena saya akan prioritaskan menggunakan SDM dalam negeri. Saya telah melakukan beberapa riset bahwa SDA kita itu sangatlah potensial namun karena kurangnya tenaga kerja terampil dan berkompeten namun semua itu tidak akan berjalan baik akibat terlalu banyak tergantung impor pekerja asing. Saya pastikan project ini sangat membantu masyarakat untuk lebih maju lagi dan mampu secara global”, ucap Naya menjelaskan jawaban atas pertanyaan Pak Harso yang tidak membuatnya gusar dan takut.


“ Menarik sekali project yang anda tawarkan”, ucap Pak Harso dengan senyum sinis kepada Naya. Naya yang melihat tetap tenang dan memikirkan jawaban apa yang tepat membalas ucapan Pak Harso. Pak Harso masih ragu pada kemampuan Naya karena dia sempat mendengar banyak investor yang menyukai caranya. Pak Harso hanya menganggapnya hanya bocah ingusan dalam dunia bisnis. Naya menghela napasnya pelan kemudian tersenyum kepada Pak Harso dengan membalikkan pertanyaannya kepada Pak Harso.


“ Apakah bapak punya solusi selain project saya? saya akan menerimanya dengan hormat”, ucap Naya tersenyum membalikkan ucapan Pak Harso yang mengintimidasi nya tadi.


“ Sa..sa...saya belum menyiapkan project saya”, ucap Pak Harso terbata-bata karena tercengang pada ucapan Naya yang ganti mengintimidasi nya.

__ADS_1


“ Baik Pak. Mohon maaf sebelumnya kalo saya lancang kepada anda maupun rekan-rekan lainnya saya berada disini sebagai CEO Perusahaan Wardhana Group yang dipercayakan dikelola kepada saya. Saya tau kalo masih baru terjun dalam dunia bisnis tapi ingat jangan menilai orang lain pada penampilannya saja tanpa melihat kemampuan dan kredibilitasnya”, ucap Naya menjelaskan statusnya sekaligus meluruskan kesalahpahaman terhadap dirinya yang diremehkan kemampuan dalam mengelola bisnis. Sontak seluruh peserta meeting tercengang dengan ucapan Naya tadi. Ruangan itu menjadi hening seketika karena Naya memberikan sebuah peringatan keras. Naya merasa jengah karena sikap para bisnis yang diam tanpa berbicara dan memutuskan untuk pergi sekaligus menarik seluruh modal yang akan ditanamnya.


“ Baik saya hanya ingin mengatakan apabila rekan-rekan keberatan terhadap kehadiran saya disini. Saya akan undur diri karena masih banyak hal yang harus saya urus. Saya ucapkan terima kasih”, ucap Naya merasa risih terhadap sikap beberapa pebisnis yang meremehkan nya dan izin pergi dari Ruangan Meeting itu.  


“ Tunggu dulu, Buk Naya maaf apabila kami telah membuat anda merasa risih dan marah. Tapi saya minta kepada anda untuk jangan undur diri dari sini. Kami masih ingin anda memberikan pendapat terhadap project lainnya. Saya harap anda berkenan duduk kembali”, ucap Moderator Meeting meminta Naya untuk tidak pergi dan meminta kesediaannya memberikan pendapat kepada project lainnya. Naya kembali duduk didampingi oleh Arum dan Rahmi tidak jadi beranjak pergi dari sana. Semua peserta lega karena mereka akan rugi besar apabila Perusahaan Wardhana Group tidak jadi menamkan modalnya di project bisnis yang akan disepakati. Semua peserta melihat kearah Pak Harso yang menyebabkan Naya menjadi risih dan kesal. Kemudian Naya kembali berbicara menyetujui permintaan Moderator Meeting.


“ Baiklah saya setuju”, jawab Naya singkat sambil tersenyum ke seluruh peserta meeting, termasuk Pak Harso.


Acara meeting berlangsung selama 3 jam dengan beberapa kali coffe break agar para peserta meeting kembali fokus. Kesepakatan telah tercapai dengan digabungnya seluruh materi konsep project tadi menjadi satu terdiri atas 70% project Naya dan 15% project gabungan para pebisnis. Semua peserta merasa senang atas kesepakatan yang tercapai. Sedangkan Pak Harso hanya bisa tertunduk malu kepada Naya karena berani meremehkan nya bahkan membuat Naya risih dan kesal.


Setelah selesai, Naya didampingi oleh Arum dan Rahmi memutuskan kembali ke Hotel kembali. Mereka tak percaya bahwa Naya berhasil membuat seluruh pebisnis was-was akibat kesalahpahaman tadi karena ada oknum yang sengaja meremehkan kemampuannya. Naya merasa risih dan kesal dengan menyindir menggunakan bahasa yang sopan. Mereka bertiga membahas kejadian tadi dengan bercanda bersama.


“ Kalo Mbak tau baru kali ini ada orang yang bikin Pak Harso kikuk sampai mati kutu. Dulu ketika Tuan Wardhana memimpin beliau sempat terintimidasi oleh Pak Harso sampai memutuskan walk out. Gedek banget mbak aku sama kepala plontosnya itu”, ucap Arum merasa kagum kepada keberanian Naya yang membuat Pak Harso kikuk dan mati kutu bahkan Arum sangat sebal sama Pak Harso.


“ Hal seperti itu biasa bahkan dulu ketika ibu masih jadi polwan pernah menghadapi langsung Wakil Dirlantas Polri”, ucap Naya tertawa renyah mengingat masa lalu nya pernah berurusan dengan Wakil Dirlantas Polri.


“ Hebat Mbak”, jawab singkat Arum terheran-heran dengan cerita Naya tadi.

__ADS_1


“ Penyebab Mbak berani sama Pak Harso?”, tanya Rahmi penasaran sebab Naya bisa seberani itu kepada Pak Harso.


“ Sebenarnya sebelum kita berangkat, mbak udah riset tentang sikap Pak Harso dan konsultasi dengan Papa Dhana. Sarannya papa mbak harus mengikuti permainan dia setelah tepat momennya bisa skakmat Pak Harso. Skakmat ya dengan membalikkan kata-kata intimidasi dari dia dan akting walk out karena risih dengan sikap Pak Harso. Ternyata berhasil buat dia kikuk dan mati kutu”, ucap Naya menjelaskan berani terhadap Pak Harso dan menjalankan rencana nya dengan baik.


“ Maksud mbak tadi semua akting gitu”, ucap Arum seakan tak percaya pada ucapan Naya tadi.


“ Beneran hampir semuanya akting hahaha”, ucap Naya sambil tertawa.


“ Cocok banget mbak jadi aktris”, ucap Arum geleng-geleng kepala mendengar ucapan Naya tadi.


“ Aku sampe heran punya banyak bakat”, ucap Rahmi heran pada bakat Naya yang dinilainya banyak.


“ Kalian bisa aja”, ucap Naya merasa malu mendapatkan pujian dari Arum dan Rahmi.


Setelah obrolan itu mereka tertawa bersama. Sesampainya mereka di Hotel tempatnya menginap mereka memutuskan langsung beristirahat. Arum dan Rahmi berjanji mengajak Naya berkunjung ke Rumah keduanya. Naya begitu antusias saat mendengar ajakan dari Arum dan Rahmi. Selain itu mereka juga akan pergi mengelilingi Kota Bandung sambil menikmati pemandangan maupun kuliner disana.


Selama 3 hari kunjungan bisnis di Kota Bandung. Naya merasa sangat bahagia karena mendapatkan banyak pengalaman baru. Pengalamannya seperti diajak ke Gedung Sate, Gedung Asia-Afrika, dan kulineran di Jalan Layang Pasteur sambil menikmati pemandangan Kota Bandung. Setelah perjalanan bisnis selama 3 hari itu, mereka bertiga memutuskan pulang lebih cepat karena ingin membeli oleh-oleh saat diperjalanan. Naya membeli oleh-oleh untuk Kedua Putrinya, Kedua Mertuanya, dan Arga. Keesokan hari, mereka menjalankan aktivitas nya seperti hari-hari biasa dengan baik dan profesional.

__ADS_1


 


__ADS_2