PESONA POLWAN CANTIK

PESONA POLWAN CANTIK
Chapter 70


__ADS_3

“ Maaf lama ya Nak Lingga. Tadi Mama Nisa, Naya, dan Mona-Moni sedang makan malam bersama jadi agak lama. Kami biasa jam segini baru makan malam bersama”, ucap Tuan Wardhana meminta maaf kepada Lingga karena mereka lama karena makan malam.


“ Ya gak papa kok Tuan, saya bisa memaklumi hal itu”, ucap Lingga mengerti dengan maksud Tuan Wardhana.


“ Wah Nak Lingga pengertian banget ya”, ucap Mama Nisa memberi pujian untuk Lingga. Lingga senang mendapatkan pujian dari Mama Nisa. Dia yakin Mama Nisa sudah memberikan lampu hijau untuk dia mendekati Naya. Saking senangnya Lingga mulai berbicara berpura-pura malu-malu dan gugup setelah mendapatkan pujian tadi.


“ Bisa aja Nyonya, saya merasa gak enak mendapatkan pujian tadi hal itu biasa aja kok Nyonya”, ucap Lingga berpura-pura malu-malu dan gugup setelah mendapatkan pujian tadi.


“ Lingga memang baik kok Ma. Kami dulu sempat satu SMA bareng. Jadi Naya sedikit tau sifatnya Lingga terkenal baik dan pengertian sejak dulu”, ucap Naya membantu Lingga agar tidak malu-malu dan gugup lagi.


“ Nak Lingga tidak perlu malu-malu apalagi gugup dengan kami”, ucap Mama Nisa meminta Lingga tidak perlu malu-malu dan gugup kepadanya maupun Papa Dhana.


“ Baik Nyonya”, jawab singkat Lingga mengerti ucapan Mama Nisa.


“ Owhh ya ini saya bawa buah tangan”, ucap Lingga memberikan buah tangan untuk mereka semua. Mona-Moni mulai penasaran pada isi buah tangan yang dibawa Lingga. Mereka berdua membuka bungkusan itu setelah terbuka berisi Martabak Manis dan Martabak Telur kesukaaan Mama nya. Mereka berdua bertanya boleh tidak memakan martabak tadi kepada Lingga.


“ Isinya martabak kesukaan Mama ”, ucap Mona menatap Mama nya untuk  memastikan itu Martabak kesukaan Mama nya.

__ADS_1


“ Iya Sayang itu favorit Mama banget”, ucap Naya tersenyum menjawab Mona yang memastikan bahwa itu Martabak kesukaan Mama nya.


“ Om Lingga, kami boleh memakannya kan?”, tanya Moni kepada Lingga menanyakan semua yang disana boleh memakannya.


“ Iya boleh dong cantik kan itu buat kalian”, ucap Lingga tersenyum mencubit pipi Moni yang menggemaskan.


“ Asyik Makasih Om”, ucap Moni berterima kasih kepada Lingga.


“ Sama-sama”, ucap Lingga tersenyum menjawab ucapan terima kasih Moni. Moni minta disuapi oleh Mama nya makan Martabak Manis pemberian Lingga tadi dengan antusias dan memakannya sangat lahap. Sedangkan Mona masih menatap Lingga dengan tatapan penuh selidik dan curiga. Lingga sadar terus ditatap Mona kemudian menjulurkan lidahnya mengejek Mona. Sontak Mona yakin bahwa Lingga berusaha mendekati Mama nya. Mona memiliki sebuah ide untuk mengerjai Lingga supaya kapok mendekati Mama nya.


“ Mau Mama anterin Sayang”, ucap Naya menawarkan bantuan untuk mengantarkan Mona ke Toilet.


“ Gak usah Ma, Mona bisa sendiri kok”, ucap Mona menolak bantuan Mama nya tadi.


“ Tapi Sayang, Mama takut terjadi apa-apa sama Mona”, ucap Naya khawatir Mona kenapa-kenapa.


“ Gak usah Ma, Mona kan dah besar lebih baik Mama disini temani adek makan Martabak”, ucap Mona kembali menolak bantuan Mama nya untuk mengantarkannya ke Toilet Kemudian Mona berlalu ke Toilet sendirian tanpa didampingi Mama nya. Mama Nisa yang melihat itu kemudian mencegah Naya mengantarkan Mona ke Toilet. Naya kembali duduk di Sofa melihat kepergian Moni ke Toilet dengan perasaan was-was dan khawatir. Mama Nisa berusaha menenangkan Naya sambil menjelaskan Naya supaya tidak was-was dan khawatir berlebihan kepada Mona.

__ADS_1


“ Nay gak usah was-was dan khawatir berlebihan sama Mona kan tadi Mona dah nolak bantuan kamu”, ucap Mama Nisa menenangkan Naya yang was-was dan khawatir berlebihan kepada Mona.


“ Tapi Ma... Kan aku Mama nya harus tau keadaan nya”, ucap Naya kepada Mama Nisa karena masih was-was dan khawatir berlebihan ke Mona.


“ Ya Mama ngerti kok. Kan Mona dah besar jadi biarin aja dia pergi sendirian tanpa ditemani. Supaya Mona belajar mandiri dan berani”, ucap Mama Nisa memberikan pengertian kepada Naya.


“ Betul kata Mama. Selama ini Papa selalu ngajarin supaya Mona berani pergi ke Toilet sendiri. Papa yakin Mona tidak apa-apa”, tambah Papa Dhana membantu menenangkan Naya.


“ Ya Pa-Ma aku percaya kok”, ucap Naya percaya kepada ucapan Papa Dhana dan Mama Nisa.


Naya, Moni, Papa Dhana, Mama Nisa, dan Lingga memakan bersama Martabak tadi tanpa kehadiran Mona. Naya sempat melihat kearah Ruang Makan tanpa beranjak dari duduknya. Moni yang tau Mama nya khawatir kepada Kaka nya mencoba bersikap manja minta dicium dan dipeluk oleh Mama nya supaya Lingga yang melihatnya cemburu. Benar aja Lingga yang melihat Moni di manja oleh Naya benar-benar membuatnya cemburu. Beberapa kali Lingga membuang muka ke berbagai arah melihat kelakuan manja Moni kepada Mama nya. Moni tersenyum sinis kearah Lingga yang tengah gerah dan panas dibakar api cemburu. Rencana Mona-Moni yang pertama, berhasil membuat Lingga cemburu melihat manja nya Moni kepada Mama nya.


Rencana Mona-Moni selanjutnya adalah Mona meminta Bik Asih memasukkan obat pencuci perut kedalam minuman Lingga. Mona bakal memastikan bahwa Lingga meminum teh yang telah dimasukkan obat pencuci perut. Setelah selesai menyiapkan minuman itu, Mona kembali ke Ruang Tamu setelah berpura-pura ke Toilet. Mona duduk di Sofa tanpa melihat kearah Lingga lagi. Naya yang khawatir sempat bertanya kepada Mona tentang kondisinya hingga Mona hanya bilang kondisinya tidak papa dan merasa baikan. Naya tenang mendengar ucapan Mona yang tidak papa dan sudah baikan setelah ke Toilet.


Akhirnya Bik Asih datang membawa minuman teh. Kemudian Bik Asih memberikan minuman teh itu kepada semua yang hadir disana, kecuali Lingga diberikan teh yang disuruh oleh Mona. Seusai memberikan teh itu Bik Asih pergi kembali ke Dapur dan menunggu kabar dari Mona apakah tugasnya tadi berhasil atau gagal. Tuan Wardhana mengajak semuanya meminum teh yang sudah disajikan tadi. Lingga meminum habis seluruh teh tadi tanpa merasa curiga kalo di minumannya terdapat obat pencuci perut. Mona-Moni tersenyum puas melihat Lingga meminum habis teh itu. Mereka berdua yakin setelahnya Lingga bakal sakit perut dan kentut-kentut. Mereka berdua tinggal menunggu reaksi obat pencuci perut tadi yang sudah dimasukkan kedalam teh yang diminum Lingga.


Sekitar 5 menit kemudian, Lingga mulai merasakan hal aneh pada perutnya karena terasa mules dan kentut-kentut terus. Awalnya mereka yang duduk disana tidak menanggapi suara kentutan dari Lingga tapi lama-kelamaan menjadi sering berbunyi. Hingga suara kentutan besar berbunyi sampai menggema di Ruang Tamu saat itu. Mereka semua merasa terganggu setelah suara kentutan besar dari Lingga. Sontak semua melihat kearahnya semua membuat dirinya malu. Papa Dhana yang merasa terganggu oleh ketuntutan tadi sehingga memilih mengajak Mona-Moni ke Kamar Cucu nya untuk menghirup udara segar. Hanya Naya dan Mama Nisa yang masih bertahan menemani Lingga supaya tidak sendirian. Akhirnya Naya khawatir terhadap kondisi Lingga dia memilih bicara menanyakan kondisi Lingga yang tengah mules perutnya dan kentut-kentut.

__ADS_1


__ADS_2