PESONA POLWAN CANTIK

PESONA POLWAN CANTIK
Chapter 52


__ADS_3

...PENYANDERAAN NAYA...


Di Tempat Persembunyiannya, Andre mendapatkan kabar bahwa Pak Harso telah tertangkap Polisi. Bukan hanya itu orang yang menangkap Pak Harso adalah Arga, Kekasihnya Naya. Andre sangat kesal mendapatkan kabar itu dari Ajudannya Alvin yang kebetulan memantau penangkapan Pak Harso kemarin siang. Andre berencana membalas dendam kepada Arga karena dirinya lah gagal mendapatkan Naya dan membuatnya menjadi buronan Polisi.


Andre berusaha menghubungi Alvin dengan nomor lain takut seluruh nomornya telah disadap Polisi. Andre menyuruh Alvin menemuinya di Kota Malang karena disana lebih aman dan tidak mudah terendus Polisi. Alvin setuju dengan perintah Bosnya dan langsung berangkat menuju Kota Malang. Sesampainya di Rumah yang dimaksud Andre kemudian masuk menemui Andre. Mereka sempat berbincang mengenai rencana yang tepat untuk membalas dendam kepada Arga. Alvin mengusulkan Andre menculik sekaligus menyandera Naya kemudian menjebak Arga untuk datang.


“ Gini aja Bos. Kita culik dan sandera Naya di suatu tempat yang jauh dari Jakarta. Terus minta tebusan sekaligus menjebak Arga biar datang menyelamatkan Naya”, ucap Alvin memberikan ide mengenai rencana penculikan Naya dan menjebak Arga.


“ Bagus ide lo gue setuju”, ucap Andre setuju dengan ide Alvin.


“ Tapi kota mana yang bagus buat sandera Naya?”, tanya Andre bingung kota mana yang akan dipilih Alvin nanti. Andre melihat kearah Alvin memastikan jawaban tepat. Dia sejujurnya tidak terlalu mengetahui Kota-kota di Indonesia karena selama ini selalu ke Luar Negeri. Dia lebih mempercayakan Alvin yang memilih kota mana yang akan menjadi tempat penyanderaan Naya.


“ Mending ke Surabaya aja Bos”, ucap Alvin memberikan saran memilih Kota Surabaya menjadi tempat penyanderaan Naya nanti.


“ Gue setuju”, jawab singkat Andre setuju kepada saran Alvin.


“ Segera kirim orang buat culik Naya segera”, perintah Andre kepada Alvin. Andre tersenyum puas karena rencananya kali ini pasti akan berhasil membuat Arga kewalahan mencari keberadaan Naya. Dia juga yakin apabila Arga tidak akan bisa menemukan Naya dan Andre berencana menikahi Naya secara paksa kemudian membawanya ke Luar Negeri. Dia masih kecewa terhadap penilaian Naya yang lebih memilih Arga ketimbang dirinya.


“ Baik Bos. Segera saya laksanakan. Saya permisi”, ucap Alvin mengerti perintah Bosnya dan pamit berlalu meninggalkan Andre di Rumah itu.


Alvin menghubungi anak buahnya untuk menjalankan misi penculikan dan penyanderaan Naya. Dia memerintahkan agar anak buahnya memakai topeng dan jaket agar tidak mudah dicurigai. Dia juga mengatakan setelah berhasil menculik Naya harus dibawa langsung ke Kota Surabaya. Setelah panggilan telpon berakhir, Alvin tersenyum lebar karena kali ini rencana Bosnya pasti berhasil dan membuat Arga datang kemudian menghabisinya.


Sore hari, Naya keluar Kantornya dengan wajah capek dan lusuh. Naya berjalan kearah Mobilnya yang sudah dikeluarkan oleh Gilang tadi. Ketika mau membuka pintu mobilnya Naya dikejutkan oleh kedatangan 6 orang pria misterius memakai topeng dan jaket. Mereka mencegah Naya masuk kedalam mobilnya kemudian menarik tangan Naya hingga terjatuh di tanah. Naya meringis kesakitan dan berdiri untuk melawan mereka semua. Kebetulan Naya jago bela diri hingga mudah baginya menjatuhkan 2 orang sekaligus dari mereka semua.


“ Kalian siapa?”, tanya Naya setengah berteriak kepada 6 orang pria misterius itu.


“ Tidak penting bagi kamu tau”, ucap Seorang Pria misterius memegang tangan Naya dengan erat.


“ Lepasin”, bentak Naya kepada Seorang Pria misterius itu yang tengah memegang tangannya. Naya mengepalkan tangannya kemudian menghajar Pria Misterius itu hingga tersungkur di tanah. Kemudian seorang lagi menarik hijab Naya dengan kuat sampai membuat Naya kesulitan bernapas dan hampir kehilangan kesadaran. Kesadaran Naya pulih kembali dia berbalik dengan menendang perut dan dada Pria Misterius itu.


“ Kalian nyerah aja”, ucap Naya sambil menarik napasnya kelelahan dan letih menghadapi 6 orang Pria Misterius itu.


“ Gak bakal”, seorang Pria Misterius itu mengambil suntikan bius dari saku celananya dan meloncat kearah Naya ingin menyuntikkan obat bius itu ke bahu Naya. Naya membanting Pria Misterius itu ke tanah. Naya mulai merasakan sempoyongan namun masih bisa melawan. Naya menjatuhkan 3 orang Pria Misterius itu hingga terkapar di tanah namun kesadaran Naya mulai hilang hingga akhirnya pingsan akibat suntikan obat bius tadi.


Setelah memastikan bahwa Naya benar-benar pingsan 6 orang Pria Misterius itu mengangkat tubuh Naya masuk kedalam mobil. Mereka mengangkat Naya tergesa-gesa takut ada saksi mata yang melihatnya. Mobil yang membawa 6 orang Pria Misterius dan Naya melaju meninggalkan tempat itu. 6 orang Pria Misterius itu terlihat babak belur wajahnya bahkan ada yang masih pingsan habis dibanting Naya. Mereka geleng-geleng kepala melihat Naya yang tengah pingsan mampu mengalahkan dan menumbangkan mereka semua.

__ADS_1


Sedangkan Gilang datang dengan setengah berlari melihat sebuah mobil Van menculik Naya dan membawanya pergi. Gilang sempat memotret nomor plat mobil Van itu sebelum pergi jauh. Gilang kebingungan harus berbuat apa karena tadi dirinya terlambat datang dan tidak bisa menolong Bosnya. Gilang terduduk lemas di tanah sambil memandangi foto plat mobil Van tadi. Gilang merasa bersalah kepada Bosnya akibat dirinya yang ceroboh menjalankan tugas dan lalai menjamin keamanan Bosnya selama di Kantor.


 


......PENYANDERAAN NAYA PART II......


Andre tengah senang mendapatkan kabar bahwa anak buahnya mampu menculik Naya meskipun banyak anak buahnya terluka. Dia tidak peduli yang terpenting Naya telah berhasil diculik dan memerintahkan mereka membawa Naya ke Surabaya. Tak lupa dia memberikan bonus kepada Alvin dan anak buahnya karena menjalankan tugasnya dengan baik dan sukses. Dia tersenyum puas atas kinerja anak buahnya yang mampu menaklukan sekaligus menculik Naya.


Sesampainya Alvin dan anak buahnya bersama Naya yang pingsan. Mereka semua membawa Naya menuju Rumah Persembunyian Andre. Didalam perjalanan ternyata Naya telah bangun namun berpura-pura tak sadar sambil menekan tombol alat GPS. Naya yakin dengan alat yang diberikan Arga kepadanya itu mampu memberikan pesan mengenai keberadaannya saat itu kepada Arga.


Naya sengaja menyalakan alat GPS dan memasukkannya dalam saku celana panjangnya tujuannya agar titik lokasi keberadaan Naya terpantau oleh Arga. Akhirnya Alvin dan anak buahnya telah sampai di Rumah Persembunyian Andre. Mereka semua disambut langsung oleh Andre dengan senyuman puas dan senang. Andre sempat memandangi wajah cantik Naya yang tengah berpura-pura pingsan sambil mencubit pipi Naya yang menggemaskan dan imut seperti abg. Andre menyuruh anak buahnya mengikat kedua tangan dan kaki Naya serta menyimpan mulutnya kemudian memasukkannya kedalam gudang.


Sedangkan di tempat lain Arga tengah berbicara serius dengan Gilang, Arum, dan Rahmi. Gilang menceritakan kejadian penculikan Naya kepada Arga serta meminta maaf atas kecerobohan Naya diculik. Arga mengerti ucapannya Gilang hingga Arga memilih memaafkannya tidak ingin memperkeruh keadaan. Rahmi merasa penasaran kepada petunjuk yang Gilang dapatkan setelah penculikan Naya kemarin.


“ Lo masih ada kan foto plat nomor mobil Van itu?”, tanya Rahmi mencoba mengintrogasi Gilang.


“ Masih Buk”, jawab singkat Gilang ketakutan diinterogasi oleh Rahmi. Rahmi yang melihat Gilang ketakutan mencoba tersenyum kearah Gilang tujuannya supaya Gilang tidak takut dan tertekan. Rahmi mencoba menenangkan Gilang supaya tenang dan tidak tertekan akibat takut dimarahi Rahmi. Rahmi memulai berbicara lagi kepada Gilang dengan meminta bukti foto plat mobil Van itu.


“ Coba liat fotonya”, ucap Rahmi meminta ponsel Gilang dengan sopan dan ramah.


“ Tunggu dulu kayaknya gue kenal Nopol itu. Bentar ya gue cek berkas Perjanjian Kerja Sama. Gue inget banget sama Nopol tadi”, ucap Arum pergi mengecek berkas Perjanjian Kerja Sama. Arga dan Rahmi memandang kearah Gilang memastikan dia tidak berbohong. Namun sorot mata Gilang tidak menunjukkan kebohongan apa pun. Mereka berdua menghela napasnya lega karena sebuah petunjuk ketemu dan tinggal mencari petunjuk lain.


“ Nah kan liat nih Nopol mobil Van itu miliknya Andre”, ucap Arum menunjukkan berkas Perjanjian Kerja Sama Perusahaan Andrean Group dan Perusahaan Wardhana Group.


“ Andre?”, tanya Arga keheranan setelah melihat bukti berkas yang dibawa Arum tadi.


“ Ya Pak Arga. Dulu pernah terjadi kerja sama antara Perusahaan Wardhana Group dan Perusahaan Andrean Group. Yang ngurus berkas semuanya kan saya Pak”, ucap Arum menjelaskan bahwa mobil Van itu milik Andre dan menunjukkan bukti berkas kerja sama kedua Perusahaan.


“ Iya Pak saya baru ingat dulu Pak Andre pernah ajak Buk Naya makan siang bareng pake mobil itu”, ucap Gilang menambahkan bahwa teringat dulu Andre mengajak Naya makan siang pake mobil itu. Arga tersenyum kearah Gilang, Arum, dan Rahmi. Mereka bertiga saling pandang dibuat bingung dengan senyuman dan tatapan aneh Arga. Saking penasarannya Rahmi mulai buka suara terkait sikap Arga yang aneh itu.


“ Kok Pak Arga tersenyum?”, tanya Rahmi keheranan terhadap Arga yang tersenyum setelah tau kebenarannya.


“ Saya sebenarnya sudah tau. Cuman memastikannya aja. Takut salah liat”, ucap Arga bercanda mendengar pertanyaan Rahmi.


“ Jadi Pak Arga akting?”, tanya Arum kepada Arga sambil menebak asal dan tidak percaya pada ucapan Arga tadi. Wajah Rahmi dan Arum keheranan melihat tanggapan Arga yang santai dan bercanda. Gilang ikut tersenyum mendengar candaan Arga tadi yang menurutnya lucu. Arga kembali menjawab pertanyaan tadi dengan tertawa renyah dan menggoda Rahmi maupun Arum.

__ADS_1


“ Ya hahaha”, ucap Arga tertawa renyah dan menggoda Arum maupun Rahmi yang keheranan.


“ Hahaha Pak Arga berhasil nge-prank kita”, ucap Gilang ikut tertawa renyah setelah mendengar candaan Arga.


“ Pantas aja Buk Naya sering marah-marah kelakuan Pak Arga absurd”, ucap Rahmi kesal kepada Arga karena mengerjainya.


“ Ngeselin tau”, ucap Arum sambil mengerucutkan bibirnya dan kesal kepada Arga.


“ Maaf yah. Sebenarnya kemarin malam bapak dapat sinyal GPS dari Naya sekarang dia ada di Surabaya. Bapak kesini untuk memanfaatkan Nopol itu benar tidak punya Andre, ternyata benar”, ucap Arga meminta maaf dan menunjukkan titik keberadaan Naya.


“ Keren Pak pake alat begitu”, ucap Gilang kagum pada alatnya Arga.


“ Kalo mau besok saya bawakan”, ucap Arga mau memberikan alat yang sama kepada Gilang.


“ Makasih Pak”, jawab singkat Gilang kegirangan. Arum dan Rahmi yang melihat kelakuan 2 cowok absur cuman memandang heran. Wajah mereka berdua berubah kesal kepada Arga dan Gilang. Saking kesalnya Rahmi dengan nada emosi dan marah mulai berbicara dengan nada tinggi.


“ Kalian berdua bisa serius gak sih”, ucap Rahmi dengan nada tinggi dan menatap tajam kearah Arga maupun Gilang.


“ Liat tuh marah”, ucap Arum sambil menunjuk jarinya kearah Rahmi yang marah.


“ Sorry Bestie. Gini aja deh kita tunggu sampe Andre menelpon dan minta tebusan. Saya ada rencana”, ucap Arga meminta maaf ke Rahmi dan Arum serta menunggu panggilan telpon dari Andre. Arum dan Rahmi saling tatap tidak percaya pada ucapan Arga tadi. Mereka berdua bingung terhadap sikap Arga santai dan tenang tanpa beban. Mereka berdua menyerah membalas ucapan Arga hingga Gilang yang penasaran mulai berbicara.


“ Kok Pak Arga santai aja? pacarnya diculik emang gak panik Pak?”, ucap penasaran Gilang terhadap sikap Arga yang santai dan penasaran kenapa Arga tidak panik.


“ Saya pernah menangani masalah penculikan kelas teri kayak gini bahkan di Korea lebih parah dari ini. Selain itu kalian jangan ragukan saya karena dulu saya pernah masuk Pendidikan Kepolisian Seoul, Hongkong, Prancis, Inggris, Amerika, FBI, dan Kepolisian Khusus Interpol. Jadi santai aja gak perlu panik”, ucap Arga menjelaskan bahwa dirinya pernah menangani masalah penculikan dan latar belakang Pendidikan Kepolisian nya.


“ Gila bener”, ucap Arum seakan tak percaya pada ucapan Arga tadi.


“ Hebat Buk Naya punya pacar keren”, ucap Rahmi keheranan mendengar penjelasan Arga tadi.


“ Berarti pernah intipin cewek mandi Pak?”, tanya Gilang kepada Arga asal bertanya.


“ Hahaha gak usah ditanya dah pengalaman”, ucap Arga tertawa renyah.


Sontak semua yang ada di Ruangan Naya tertawa bersama mendengar candaan Arga tadi. Mereka semua tak percaya bahwa latar belakang Pendidikan Kepolisian Arga sangatlah mumpuni dan bikin geleng-geleng kepala. Arga hanya tersenyum mengingat wajah-wajah keheranan tadi yang mendengar latar belakang Pendidikan Kepolisiannya yang begitu hebat dan sangat membanggakan tapi bagi Arga itu hal biasa. Hal terpenting adalah prakteknya dan cerdas memanfaatkan situasi untuk mengatasi masalah.

__ADS_1


 


__ADS_2