
Naya dan Lingga berjalan bersama tanpa berbicara karena Naya sangat canggung setelah sekian lama tidak jumpa. Banyak Karyawan Naya yang melihat Bosnya jalan bersama Klien membuat mereka heran selama ini jarang ada Klien yang mau diajak oleh Naya makan siang bersama. Kali ini baru Lingga yang menawarkan diri mengajak Naya makan siang bersama. Sorot mata para Karyawan terus melihat hingga bayangan Naya dan Lingga hilang masuk kedalam Kantin Kantor.
Naya memilih makanan yang akan dia santap bersama Lingga sedangkan Lingga memilih mencari kursi yang tepat pilihannya jatuh di Kursi yang berhadap-hadapan duduknya. Lingga memilih duduk sambil memandangi Naya dari kejauhan, dia kagum kepada wanita pujaannya yang kecantikannya tidak berubah bahkan semakin cantik. Setelah cukup lama memilih makanan Naya kembali dan duduk didepan Lingga. Naya memperhatikan Lingga yang terus tersenyum melihatnya hingga Naya risih kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada Lingga.
“ Pak Lingga liatin apa?”, tanya Naya penasaran melihat Lingga tersenyum kepadanya.
“ Gak kok Nay. Jangan panggil Pak dong panggil aja Lingga kan ini diluar Ruang Meeting. Jadi cukup panggil nama aja”, ucap Lingga ngeles mencari alasan dan minta dipanggil namanya aja oleh Naya.
“ Oke Ngga”, jawab singkat Naya mengulaskan senyuman manis. Lingga sempat terpesona memandangi Naya sehabis tersenyum manis kepadanya membuat Lingga bahagia. Dia ingin bertanya mengenai perasaan Naya terhadapnya selama ini tapi Lingga ragu dan takut Naya bakal marah kepadanya kemudian membenci dirinya. Dia mencoba mengalihkan pikirannya itu dengan memuji senyuman dan penampilan Naya yang makin beda dengan yang dulu.
“ Makin cantik aja kamu Nay. Apalagi senyuman kamu seperti mutiara yang membuat banyak cowok terpesona. Kamu sekarang tampil beda banget sama yang dulu makin cantik berhijab gini”, ucap Lingga memuji senyuman Naya yang seperti mutiara maupun memuji kecantikan Naya yang cocok memakai hijab.
__ADS_1
“ Kamu bisa aja puji aku, alasan aku pake hijab itu murni dari hati ku dan dapat dorongan Suami dan Kedua Orang Tuanya”, ucap Naya tertawa menjawab pujian dari Lingga serta mengatakan alasannya berhijab atas permintaan Suami nya dulu. Setelah mendengarkan Naya berbicara perhatiannya tertuju pada kata “Suami”, Lingga penasaran siapa sosok laki-laki yang berhasil menaklukkan hati nya Naya. Dia yakin laki-laki memiliki pesona dan ketampanan melebihi dirinya bahkan mampu meluluhkan seorang Naya. Saking penasarannya Lingga bertanya kepada Naya tentang sosok Suami Naya yang sangat dicintainya.
“Kalo boleh tau siapa nama Suami mu Nay?”, tanya Lingga menanyakan sosok Suami nya Naya.
“ Namanya Revi Aditya Wardhana anaknya Tuan Wardhana. Mertua ku yang mewariskan Perusahaan Wardhana Group kepadaku. Sosok laki-laki hebat yang membuatku sangat mencintainya”, ucap Naya menjelaskan sosok Suami nya sampai menjuluki Revi sebagai laki-laki hebat yang mampu membuat Naya mencintainya.
“ Suami mu itu anaknya Tuan Wardhana”, ucap Lingga tak percaya kepada ucapan Naya tadi.
“ Tenang Nay, kamu harus bisa mengikhlaskannya walaupun itu berat aku yakin kamu bisa kok”, ucap Lingga tersenyum sambil memegang tangan Naya untuk menenangkan Naya.
“ Makasih Ngga dah support aku. Tapi maaf kita bukan muhrim tak enak dilihat Karyawan lain. Sekali lagi aku minta maaf ya”, ucap Naya berterima kasih kepada Lingga yang telah memberikannya support sekaligus menarik tangannya dengan beralasan bukan muhrim dan tidak enak dilihat Karyawannya Naya.
__ADS_1
“ Sorry Nay refleks aja tadi liat kamu sedih jadi gak tega mungkin kamu butuh teman curhat aku siap kok”, ucap Lingga ngeles mencari alasan sambil cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“ Gak papa kok, ya udah yuk makan dah lapar aku”, ucap Naya mengajak Lingga menyantap makanan yang baru aja diantar oleh Ibu Kantin.
“ Iya Nay mari makan”, ucap Lingga tersenyum melihat Naya terlebih dulu menyantap makanannya. Lingga terus menatap Naya dalam-dalam membuatnya semakin jatuh hati pada Naya. Menurutnya Naya adalah wanita cantik, baik, sederhana, pintar, unik, dan lucu hal itu semua membuktikan bahwa Naya berbeda dari wanita lain. Semasa SMA dulu Lingga salah seorang yang mengidolakan Naya gadis populer dengan segudang prestasi dan kepintarannya walaupun sedikit galak meskipun begitu tidak menghilangkan rasa kagum dan cintanya kepada Naya. Lingga merasa saat ini merupakan waktu yang tepat baginya untuk mendekati Naya kembali mengingat status Naya yang single parent tak menyurutkan keinginannya untuk memiliki Naya seutuhnya.
Setelah makan siang bersama, Lingga pamit kepada Naya karena dia harus kembali ke Kantor Cabang Perusahaan Raharja Group. Sebelumnya Lingga tak lupa meminta nomor ponsel Naya supaya mudah menghubunginya apabila ada kesulitan. Namun hal itu hanya modus Lingga untuk mencoba mendekati Naya kembali, Naya tidak curiga dan memberikan nomor ponselnya kepada Lingga karena tidak curiga kepadanya. Lingga sangatlah bahagia setelah mendapatkan nomor ponsel Naya berarti jalannya untuk mendekati Naya bakal semakin mudah.
Sore harinya, Lingga telah menghubungi Naya untuk berkunjung ke Rumah Tuan Wardhana dengan alasan sekedar menjalin silaturahmi. Naya menyetujuinya meminta Lingga datang pukul 20.00 malam karena waktu tersebut Papa Dhana, Mama Nisa, dan Kedua Putrinya sering berkumpul di Ruang Tamu untuk sekedar ngobrol bersama. Lingga menyetujui usulan Naya tadi tak lupa Lingga akan membawakan buah tangan. Tanpa diketahui oleh Naya saat menelpon dengan Lingga, Kedua Putrinya tidak suka Mama nya berdekatan dengan cowok lain. Mereka merencanakan bakal mengerjai cowok yang mendekati Mama nya itu.
Tepat pukul 20.00 malam Lingga telah sampai di Rumah Tuan Wardhana sambil membawa buah tangan. Disana Lingga disambut oleh Tuan Wardhana yang kebetulan sudah menunggu nya datang. Tuan Wardhana mempersilahkan Lingga masuk kedalam Rumahnya kemudian mengantarkannya menuju Ruang Tamu. Tak lupa Tuan Wardhana mempersilahkan Lingga untuk duduk di Sofa Ruang Tamu. Tuan Wardhana permisi sebentar untuk memanggil Mama Nisa, Naya, dan Kedua Putrinya kebetulan sedang makan malam bersama di Ruang Makan. Setelah menunggu cukup lama akhirnya Tuan Wardhana datang bersama Mama Nisa, Naya, dan Kedua Putrinya. Mereka semua duduk di Sofa Ruang Tamu sambil mengobrol dengan Lingga namun berbeda dengan Mona-Moni yang menatapnya penuh selidik dan curiga.
__ADS_1