
...MENJENGUK NENEK...
Revi, Tuan Wardhana, Nyonya Nisa, dan Hendra telah tiba di Jambi. Mereka disambut oleh beberapa utusan sang nenek. Mereka diantar menuju kediaman sang nenek lumayan jauh dari bandara tadi. Neneknya Revi bernama Rahma Indriani dikenal sebagai pemilik perkebunan kelapa sawit dan kelapa terbesar di Sumatera. Nenek Rahma terkenal baik dan dermawan kepada siapa pun, banyak pekerja yang betah bekerja bersama nya.
Setelah melalui perjalanan menggunakan mobil, mereka pun sampai disalah satu rumah berukuran sedang dan asri. Semua penumpang mobil turun dan disambut hangat oleh Nenek Rahma bersama pengasuhnya menghampiri para tamu. Nenek Rahma tersenyum ramah melihat mereka tiba.
“ Assalamualaikum Nek. Nenek apa kabar nya?”, tanya Revi.
“ Walaikumsalam. Nenek keadaannya baik kok”, ucap Nenek Rahma menyampaikan kabarnya.
“ Alhamdulillah kalo sehat Nek”, ucap Revi memeluk sang nenek dan menciumnya. Setelah itu melepaskan pelukan sang cucu kemudian melihat anaknya dan menantu nya.
“ Bu, Dhana juga datang nih”, ucap Tuan Wardhana menyalimi Nenek Rahma.
“ Dasar Dhana. Baru mau pulang ibu kira lupa kamu ya”, ucap Nenek Rahma menjewer telinga Tuan Wardhana. Sontak Nyonya Nisa, Revi, dan Hendra tertawa melihatnya.
“ Ampunn Buk. Dhana kemarin sibuk baru bisa pulang”, ucap Tuan Wardhana berusaha mengipasi kupingnya yang panas kena jewer.
“ Ya Buk. Mas Dhana kemarin sibuk maaf kalo Nisa baru bisa pulang. Selama ini cuman bisa video call an dengan ibu”, ucap Nyonya Nisa meminta maaf ke sang mertua.
“ Gak minta maaf Nisa. Ibu ngerti kok kondisi kamu tapi suami itu lo nelpon gak mau ya bikin ibu kesal dong”, ucap Nenek Rahma kesal kepada Tuna Wardhana.
“ Maafin Dhana ya. Ibu tercantik”, ucap Dhana merayu Nenek Rahma. Revi hanya tertawa renyah melihat tingkah sang Papa.
“ Owhh merayu ya. Basi ibu kebal akan rayuan mu”, ucap Nenek Rahma hendak memukul Tuan Wardhana dengan sapu lidi. Untung bisa dicegah oleh Nyonya Nisa.
“ Bu jangan marah-marah ya. Nanti capek lo kita masuk aja ya biarin Mas Dhana sama Revi diluar”, ucap Nyonya Nisa menenangkan hati sang mertua.
“ Ya Nisa. Untung ada kamu kalo gak ibu dah gantung tuh Wardhana di tiang jemuran”, ucap Nenek Rahma dengan tatapan sangar ke Tuan Wardhana. Nisa mengandeng sang mertua masuk kedalam rumah kembali.
Revi hanya tertawa melihat kelakuan sang papa yang ternyata takut pada nenek kesayangan nya. Tuan Wardhana hanya menarik napasnya dalam karena malu gara-gara sang ibu harga diri nya turun dihadapan istri dan anaknya. Revi dan Hendra masuk kedalam rumah disusul oleh Tuan Wardhana. Revi dan Hendra mengobrol di ruang tamu tentang kisah cinta Hendra dan Lisa yang belum selesai.
Hari pun sudah malam, seluruh keluarga Wardhana pun makan malam di ruang makan pukul 19.00 malam. Mereka makan dengan lahap memakan makanan favorit masing-masing selera Tuan Wardhana sama dengan Nyonya Nisa. Sedangkan Revi lebih menyukai masakan sang nenek yang menurut sudah lama tidak memakannya. Sehabis makan malam mereka pun duduk di ruang tamu dan mengobrol mengobati rindu sampai pada rencana perjodohan Revi.
“ Revi kamu mau menerima perjodohan ini, apakah kamu ada wanita lain?”, tanya Nenek Rahma.
“ Udah Nek. Aku pengen nyoba dulu aja kalo gak cocok ya mungkin cari wanita lain aja nek”, ucap Revi menerima tawaran perjodohan.
“ Baiklah, kalo kamu setuju. Nenek harap kamu tidak kecewa”, ucap Nenek Rahma menerima keputusan Revi. Revi hanya menganggukkan kepalanya tanda dia paham.
“ Mama boleh Revi liat foto calon istri Revi. Dari kemarin belum melihatnya”, ucap Revi meminta foto calon istri nya ke Mama nya.
“ Boleh sayang bentar ya. Pasti kamu terkejut”, ucap Mama Nisa ingin membuat anaknya terkejut.
“ Kalian belum memberitahu nya tentang calon istri nya Revi?”, tanya Nenek Rahma. Menatap Nyonya Nisa kemudian ke Tuan Wardhana yang langsung gusar wajahnya karena takut kena marah.
“ Sabar dulu Buk. Kami ingin agar ibu yang menjelaskan nya ke Revi. Dia memang keras kepala jadi kami niatnya minta bantuan ibu”, ucap Tuan Wardhana menjelaskan dengan ketar-ketir.
__ADS_1
“ Oke Ibu. Bakal bantu kalian”, ucap singkat Nenek Rahma. Wajahnya yang sebelumnya marah sekarang mulai memadam dan tenang kembali.
“ Makasih buk atas bantuannya”, ucap Tuan Wardhana berterima kasih kepada Nenek Rahma.
Nyonya Nisa pun berlalu kedalam kamar tidurnya, mengambil beberapa biodata dan foto. Nyonya Nisa sempat memandangi salah satu foto dan tersenyum bahagia. Setelah itu Nyonya Nisa keluar menuju ruang tamu suasan disana sangatlah tegang wajar karena kalo Nenek Rahma banyak yang tidak berani menengahi nya. Hanya Nyonya Nisa dan Revi yang bisa menenangkannya akan kemarahannya. Nyonya Nisa menyerahkan bukti tadi ke Revi, dia menelisik satu persatu bukti matanya pun membola. Sontak dia terkejut melihat bukti itu dan tak menyangka.
“ I.. i.. ini beneran Ma. Revi gak salah liat kan”, ucap Revi gugup saat melihat foto nya.
“ Ya itu benar Nak. Kamu kenalkan nama nya Naya polwan yang kamu dekati itu”, ucap Mama Nisa berusaha menerangkan.
“ Tapi kok kalian bisa tau. Kan aku gak pernah mengabari kalian sama sekali”, ucap Revi tak percaya.
“ Papa dan Mama tau hal ini dari Hendra. Papa yang minta dia membantu mu mencari keberadaan Naya. Sudah 1 tahun ini papa memantau Naya”, ucap Papa Wardhana menjelaskan fakta sebenarnya.
“ Jadi aku akan menikah dengannya. Apa aku mimpi”, ucap Revi kebingungan terasa mimpi
“ Tidak cucu ku ini bukan mimpi. Nenek sudah lama menjodohkan kamu dari kecil. Nenek juga tau kamu sangat menyukai nya namun pernah ditolak”, ucap Nenek Rahma memberitahukan tujuan perjodohan Revi.
“ Apa kamu masih lanjut atau mau mencari wanita lain Vi?”, tanya Papa Wardhana berusaha meyakinkan Revi.
“ Baik aku terima. Aku harap semua nya setuju dengan perjodohan ini, Revi minta rencana pernikahan nya dilaksanakan 1 Minggu kedepan. Soalny Naya akan mengikuti tes bulan depan”, ucap Revi menerima perjodohan nya dengan sungguh-sungguh.
“ Oke Papa setuju. Semua urusannya akan papa siapkan dengan baik”, ucap Papa Wardhana setuju.
“ Semoga nanti lancar dan kamu bisa jadi keluarga samawa ya nak”, ucap Mama Nisa mendoakan sang anak.
“ Setalah Naya selesai tes kalian harus cepat bikin cucu buat nenek”, ucap Nenek Rahma tersenyum.
“ Siap Nek itu mah gampang. Doain lancar semua nya”, ucap Revi.
Mereka pun berbincang bersama mulai membahas lamarannya sampai acara resepsi nanti. Tuan Wardhana sudah menyiapkan dari jauh-jauh hari mengenai acara itu jadi dia hanya akan menyesuaikan kondisi saja. Sedang Nyonya Nisa telah menyiapkan desain terbaru untuk baju pernikahan Revi-Naya supaya jadi pernikahan yang terbaik. Sang nenek pun juga telah menyiapkan tiket bulan madu untuk sang cucu dan istri nya nanti.
...PERNIKAHAN DIKA DAN LARAS...
Acara pernikahan Dika dan Laras digelar hari ini, seluruh anggota keluarga hadir dengan pakaian terbaik. Naya dan Lisa tak kalah cantiknya memakai baju seragam kebaya dengan make up natural menampilkan wajah cantik kedua gadis. Gibran juga tampil tampan dengan memakai setelan jas dan celana bahan yang seragam dengan Dika. Saat didalam kamar Mbak Laras yang tengah didandani Naya sempat berbincang dengan mbaknya.
“ Mbak kok deg-degan ya Nay. Meskipun bukan yang pertama bagi mbak”, ucap Mbak Laras dengan wajah deg-degan.
“ Tenang Mbak. Aku yakin mbak kuat kok sekarang santai kan nanti malam bisa dangdutan tenang aja Gibran tidur sama aku mbak”, ucap Naya bercanda mencairkan suasana tegang Mbak Laras.
“ Mbak dah tenang kok. Ehh... kamu yang dipikirin malah mbak dangdutan sih, itu mah mbak dah pengalaman. Mbak titip Gibran sama kamu kayaknya dia senang sama Lisa”, ucap Mbak Laras mendengus kesal.
“ Canda mbak. Biar gak tegang aneh banget Gibran kok suka gitu sama Lisa”, ucap Naya heran.
“ Biasa lah namanya anak kecil. Pasti banyak tingkah nya”, ucap Mbak Laras.
__ADS_1
“ Mbak sudah selesai make up nya. Mari saya antar turun ke bawah”, ucap Penata Rias Pengantin MUA.
“ Baik mbak, makasih”, ucap Mbak Laras.
“ Wah cantiknya mbak ku. Foto dulu yuk”, ucap Naya mengajak Mbak Laras berfoto. Naya memotret beberapa gambar Mbak Laras.
Mbak Laras keluar kamarnya diantar oleh penata rias pengantin menuju bawah karena mereka di lantai dua. Sedangkan Naya keluar kamar mbaknya berlalu menemui Lisa takut dia nyasar. Saking banyaknya tamu Naya sempat kesulitan mencari Lisa dia melihatnya tengah makan bareng Gibran. Bocil ngeselin yang sering mengejeknya namun dia sayang ke Naya. Tetap saja Gibran suka jahil ke Naya bahkan sering menggodanya. Naya mendekati mereka berdua yang tengah makan.
“ Enak ya yang lagi makan. Katanya tadi diet ehh.. malah sama bocil”, ucap Naya ketus.
“ Makan Nay. Enak lo gue aja mau nambah lagi apalagi gratis”, ucap Lisa polos tanpa dosa.
“ Aunty ganggu aja ya tante. Orang makan kok diganggu”, ucap Gibran sok cool. Gibran menoleh ke Lisa, dia hanya menganggukkan kepala.
“ Sesat lo ngajarin keponakan gue. Bukannya diantar ke tempat ibu nya tuh”, ucap Naya menunjuk dengan jari nya ke arah Mbak Laras yang mengikuti prosesi adat.
“ Ayo Gibran. Aunty mu mode ngamuk tuh”, ucap Lisa menarik tangan Gibran meninggalkan Naya sendirian. Gibran hanya menjulurkan lidahnya ke Naya.
“ Dosa apa gue semalam. Punya sahabat dan keponakan bikin emosi”, ucap Naya menahan emosi.
Naya melangkah ke dekat pelaminan karena prosesi ijab kabul telah usai. Dia duduk dikursi paling depan disebelah Lisa tanpa sengaja dia sempat menatap seseorang di seberang sana mirip Revi. Serasa gak percaya dia mengucek matanya namun sudah hilang.
“ Tadi kok mirip Revi ya. Kok bisa sampe sini kayaknya bukan sih salah liat gue. Mungkin gara-gara banyak pikiran jadi halu”, gumam Naya dalam hati.
Revi yang tadi sempat diliat Naya bersembunyi di barisan meja. Berjalan pelan pergi ke arah Hendra yang tengah duduk dibarisan belakang. Hendra mengetahui tingkah aneh Revi yang duduk dikursi nya, Revi menceritakan hal itu ke Hendra. Hendra hanya mendengarkan cerita Revi sembari mengejek kelakuan absurd Revi yang dinilai nya aneh.
“ Lo mah aneh-aneh. Kelakuan lo kayak maling ketangkep basah warga”, ucap Hendra tertawa mengejek Revi.
“ Bukannya bantuin. Malah ngejek lo kan gue takut kalo ketahuan ngintilin dia sampe sini”, ucap Revi kesal ke Hendra.
“ Sorry bro. Kalo mertua lo tau kayak mana ya, hati-hati di gorok leher lo”, ucap Hendra kembali tertawa.
“ Bodo amat males gue cerita sama lo. Gue tadi sempat liat mantan lo tuh disamping Naya bareng bocil kayaknya dia suka Lisa”, ucap Revi sengaja ngomong asal.
“ Hah, kok bocil. Kan lebih ganteng dan imut gue. Gak bisa dibiarin nih”, ucap Hendra hendak menyelidiki. Tapi dia ditahan Revi takut ketauan oleh Naya maupun Lisa.
“ Jangan berdiri bego. Ketahuan nanti kita di hajar Naya dan Lisa mereka sabuk hitam karate lo”, ucap Revi menakuti Hendra.
“ Owhh ya gue lupa. Bisa disunat lagi gue”, ucap Hendra takut.
“ Nah itu tau lo. Kita cari posisi aman aja”, ucap Revi.
Revi dan Hendra menikmati makanan yang disajikan di prasmanan sambil memantau kalo ketemu dua orang wanita spesialnya. Banyak tamu yang melihat tingkah aneh mereka hanya tertawa melihatnya dan ke-absurd an yang mereka ciptakan. Revi dan Hendra melanjutkan makannya dengan lahap karena makanan yang disajikan sangatlah enak.
__ADS_1