
...MEMBEBASKAN NAYA...
Keesokan pagi, Arga mendapatkan panggilan telpon dari Andre. Andre minta kepada Arga menyerahkan tebusan senilai Rp 2 Triliun dan mengancam apabila permintaannya dipenuhi Naya akan dibunuh. Arga hanya menyimak tanpa mau menggubris ucapan Andre. Andre memutuskan mengakhiri panggilan telpon secara sepihak. Andre heran karena Arga tidak panik dan khawatir pada kondisinya Naya. Kemudian Andre tak mau ambil pusing sikap Arga tadi baginya yang terpenting duit tebusannya.
Setelah panggilan telpon berakhir, Arga menghubungi Rezi memintanya melacak lokasi panggilan tadi. Rezi memberitahukan alamatnya di Sebuah Rumah Tua bergaya Belanda di Pinggiran Kota Surabaya tidak begitu jauh dari Hotel tempatnya menginap. Sebelumnya Arga telah datang ke Kota Surabaya bersama dengan Tim Kepolisian.
Seusai mendapatkan alamat Rumah Tua itu Arga dan Tim Kepolisian bergerak kesana. Arga membagi timnya menjadi beberapa tim kecil agar tidak terlalu mencurigakan dan tidak terintai dengan mudah. Arga memilih menyamar sebagai kurir pengantar paket supaya lebih mudah menggelabui pengawal Andre di Rumah Tua itu. Arga sampai didepan Rumah Tua itu sambil memencet belnya beberapa kali hingga akhirnya pintu terbuka.
“ Siapa ya?”, tanya Pengawal Andre memastikan siapa yang datang itu.
“ Paket Pak. Atas nama Andrean Fadillah. Paket dari Jakarta”, ucap Arga ramah menjelaskan paket untuk Andre dan menyerahkan paket itu kepada Pengawal Andre.
“ Owhh cuman paket”, ucap Pengawal Andre tanpa curiga kepada Arga. Arga sempat melihat-lihat sekeliling Rumah Tua itu. Hingga tatapannya tersorot pada sebuah gudang yang tidak jauh dari Rumah Utama. Arga yakin bahwa Naya berada disana karena tadi sempat melihat Andre membawa nampan makanan kesana.
“ Ini tolong tanda tangan disini Pak”, ucap Arga ramah meminta tanda tangan bukti penerimaan paket itu kepada Pengawal Andre.
“ Baiklah”, jawab singkat Pengawal Andre sambil menandatangani paket itu. Setelah menandatangani paket itu Pengawal Andre menerima paketnya tanpa curiga sama sekali. Pengawal itu meletakkan paketnya disebuah Sofa dalam Ruang Tamu. Kemudian Arga pamit kepada Pengawal Andre untuk segera pergi dari sana.
“ Saya permisi Pak”, ucap Arga berpamitan secara sopan dan ramah kepada Pengawal Andre.
Pengawal Andre masuk kedalam Rumah Tua itu setelah kepergian kurir paket tadi. Dia menatap aneh karena selama ini Bosnya tidak pernah menerima paket dari Jakarta. Karena tidak berani membukanya Pengawal itu akan menunggu Bosnya masuk kedalam Rumah. Cukup lama dia menunggu Bosnya masuk kedalam Rumah hingga Bosnya masuk melalui pintu depan. Andre merasa aneh mendapatkan kiriman paket dari Jakarta dan menanyakan kepada Pengawalnya tadi.
“ Ini paket dari mana?”, tanya Andre penuh selidik kepada Pengawalnya itu.
“ Katanya buat Bos jadi saya gak berani buka sebelum disuruh. Makanya nungguin bos masuk dulu. Takutnya saya kena marah Bos”, ucap Pengawal Andre menjelaskan bahwa paket itu untuk Andre dan tidak berani membukanya kecuali disuruh Bosnya. Andre begitu kesal karena anak buahnya sangat bodoh membiarkan paket itu tanpa memeriksanya. Dia berusaha tenang menghadapi kebodohan anak buahnya namun tidak mampu. Hingga dia meluapkan emosi dan kekesalan pada anak buahnya itu dengan mengumpatinya.
__ADS_1
“ Bego lo cepat buka”, ucap Andre kesal dan emosi kepada Pengawal itu kemudian menyuruh membuka paket itu.
“ Baik Bos”, jawab singkat Pengawal Andre melaksanakan perintah Bosnya. Dengan agak takut Pengawal Andre itu membuka paketnya. Diluar dugaan paketnya berisi boneka bertuliskan “ Telah tertangkap” dan sebuah surat tantangan dari Arga. Sontak wajah Andre sangatlah marah dan emosi yang seakan-akan mau meledek. Andre mengeluarkan pistol dari saku celananya dan memanggil beberapa anak buahnya yang sedang bersantai di Ruangan Lain.
“ Kalian semua cepat kesini”, teriak Andre memerintahkan anak buahnya segera berkumpul.
“ Ada apa Bos?”, ucap Alvin penasaran Bosnya memanggil mereka semua untuk berkumpul.
“ Kalian bego banget sih. Kan gue dah bilang perketat penjagaan jangan sampe ada orang maupun barang yang mencurigakan masuk. Kalian memang gak becus kerja”, ucap Andre meluapkan emosi dan amarahnya dengan mengumpati anak buahnya. Alvin tidak mengerti dengan ucapan Bosnya itu. Dia sangat heran dan penasaran hal apa yang membuat Bosnya begitu marah. Karena penasaran Alvin mulai bertanya kepada Bosnya itu.
“ Bos marah gara-gara apa?”, ucap Alvin penasaran kepada Bosnya tentang penyebab Bosnya marah.
“ Lo bisa liatkan ini. Gara-gara pengawal lo yang bego itu. Menerima paket dari Arga isinya tantangan buat gue”, ucap Andre menjelaskan dirinya marah kepada Pengawalnya yang bodoh tadi dan menunjukkan bukti paket tadi kepada Alvin. Saking marahnya Andre menembak kaki Pengawalnya tadi. Hingga pengawalnya tersungkur ke Lantai Rumah dengan luka dikaki dan mengeluarkan banyak darah. Andre berusaha menenangkan dirinya kemudian menyuruh Pengawalnya yang lain membawa Pengawal bodoh itu dibawa ke Rumah Sakit.
“ Baik Bos”, ucap Pengawal lain mengerti perintah Bosnya.
“ Rencana Bos sekarang apa?”, tanya Alvin kepada Andre karena situasi sudah gawat dan tidak aman.
“ Terpaksa kita hadapi Si Polisi sok ganteng itu. Pertama, Bagi tim menjadi 4 bagian pastiin setiap tim ada senjata api dan rompi anti peluru. Kedua, Tim 1 bertugas membakar rumah ini dan pastikan semua berkas hancur. Ketiga, Tim 2 mengamankan sandera dengan pengamanan ketat kita menuju Ke Pulau Madura untuk mengamankan diri. Keempat, Tim 4 bertugas mengacaukan kota rusak seluruh fasilitas umum dan bikin ledakan ditempat strategis. Kelima, sisanya ikut gue kita hadapi Polisi itu semua”, ucap Andre memberikan perintah kepada seluruh anak buahnya dan membagi tugas mereka semua.
“ Dan untuk lo Alvin pastiin Naya gak kabur kalo perlu ceburin ke Laut dan jangan lupa pastiin Naya pake pelampung”, perintah Andre khusus untuk Alvin menjaga Naya.
“ Baik Bos”, ucap Seluruh Anak Buah Andre mengerti perintah dari Bosnya termasuk Alvin.
Andre dan semua anak buahnya telah bergerak sesuai tugas yang diberikan olehnya tadi. Khusus untuk Tim 2 menggunakan 3 mobil berbaris seperti konvoi dengan mobil ke-3 membawa Naya. Hal itu untuk mengecoh perhatian para Polisi. Sedangkan Andre menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya tempat dia ditantang oleh Arga tadi. Kali ini Andre berjanji menghabisi Arga persis saat dia menghabisi Revi 7 tahun lalu. Keadaan Kota Surabaya menjadi sangat kacau setelah anak buah Andre melakukan kegiatan pengalihan konsentrasi Polisi dengan membakar Rumah Tua Persembunyian Andre, Hotel, Pusat Perbelanjaan, Stasiun, Bandara, Pelabuhan, dan Peledekan Area Strategis lainnya.
__ADS_1
Arga tidak menyangka bahwa Andre benar-benar bertindak nekat untuk menghentikan langkahnya menyelamatkan Naya sekaligus menumpasnya hidup atau mati. Arga memerintahkan bawahannya untuk membantu Polisi Lokal yang terdampak langsung. Arga juga menghubungi bantuan Tim SAR maupun Dinas Pemadam kebakaran. Karena keadaan di Kota yang semakin gawat dan tidak kondusif, Arga memimpin Rapat Terbatas dengan beberapa bawahannya dan Kapolda Jawa Timur untuk mengatasi permasalahan ini.
“ Baik mari kita mulai Rapat Terbatas ini”, ucap Arga memimpin Rapat Terbatas dengan beberapa bawahannya dan Kapolda Jawa Timur.
“ Perkenalkan nama saya Arga Pradipta Herlambang. Saya adalah Wakil Direktur Penyelidikan Khusus dan Intelijen Interpol. Saat ini saya bertugas di Indonesia atas Lisesnsi dari Kepolisian Korea Selatan. Mungkin hanya ini yang dapat saya sampaikan”, ucap Arga menjelaskan identitas dan jabatannya kepada Peserta Rapat Terbatas itu. Sontak semua orang tercengang karena kedatangan seorang Anggota Interpol dan memiliki jabatan tinggi. Mereka saling pandang satu sama lain seakan tidak percaya ucap Arga tadi. Arga yang mengetahui itu berusaha meminta maaf dan menjelaskan situasi saat ini.
“ Saya minta maaf sebesar-besarnya. Akibat kami mengejar buronan Interpol yang berada disini menyebabkan kekacauan disini. Kebetulan terdapat seorang sandera atas nama Kanaya Ariska Putri yang sedang disandera oleh saudara Andrean Fadillah”, ucap Arga meminta maaf dan menjelaskan alasannya mengejar Andre yang diketahui buronan Interpol. Seluruh peserta paham maksud dari ucapan Arga tadi. Suasana menjadi begitu hening saat itu karena para peserta rapat tidak mengerti kondisi yang sebenarnya terjadi dan ragu dalam menentukan tindakan. Arga mulai bicara kembali menjelaskan detail tindakan yang akan diambil dan laksanakan di Lapangan nanti.
“ Saya disini akan memimpin langsung rapat ini. Pertama, Saya memerintahkan anggota Polisi membantu evakuasi para korban yang terdampak langsung kekacauan ini ke Tempat Aman. Kedua, Saya perintahkan anggota tambahan dari Polda dan Polres setempat memblokade seluruh arus lalu lintas baik menuju Surabaya maupun sebaliknya. Ketiga, Saya perintahkan personel yang telah ditunjuk menjaga area Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan penjagaan ketat dan mengawasi gerak-gerik buronan. Baik mungkin itu saja perintah dari saya”, ucap Arga menjelaskan seluruh detail perintahnya dan membagi tugas personel Kepolisian. Semua peserta rapat terbatas itu hanya menganggukkan kepalanya paham setelah Arga memberi perintah. Arga tersenyum mendapati semua peserta rapat telah setuju. Namun Kapolda Jawa Timur masih ragu atas perintah yang telah didengarnya tadi dan menanyakan permasalahan sebenarnya kepada Arga.
“ Maaf sebelumnya apabila saya lancang apakah masalah ini berkaitan dengan buronan yang selama ini dicari Interpol? saya ragu kalo masalah ini terkait dengan terorisme?”, ucap Pak Kapolda Jawa Timur kepada Arga dengan menjelaskan keraguannya atas kejadian yang terjadi.
“ Sebenarnya saudara Andre adalah seorang penyeludup Senjata, Narkoba, Perjudian, dan Penyusup dalam tubuh Interpol. Dia memegang hampir seluruh data Kepolisian di Seluruh Dunia termasuk Indonesia. Oleh karena itu pihak Interpol mengutus saya khusus untuk menangkapnya dan menjebloskan ke Penjara akibat kejahatan luar biasa ini. Ini bukan saja berkaitan dengan terorisme namun berkaitan juga dengan masa depan Dunia karena selain data Kepolisian Seluruh Dunia, terdapat juga Data Penduduk dan Data Reaktor Nuklir. Jadi kita sedang bertaruh dengan masa depan Dunia”, ucap Arga menjelaskan kaitan Andre sebagai buronan dan kehancuran masa depan Dunia melebihi aksi terorisme.
“ Apakah sudah cukup Pak?”, lanjut tanya Arga memastikan jawabannya telah jelas kepada Pak Kapolda Jawa Timur.
“ Sudah Pak”, jawab singkat Pak Kapolda Jawa Timur mengerti ucapan Arga tadi.
Selesai Rapat Terbatas itu, seluruh personel Polisi langsung bergerak menjalankan perintah sesuai arahan Arga. Selama hampir 7 jam seluruh personel polisi maupun personel cadangan berhasil mengatasi seluruh kekacauan itu. Pak Kapolda Jawa Timur berterima kasih kepada Arga karena atas arahannya seluruh warga Surabaya selamat dan mampu mengatasi kekacauan yang terjadi. Arga hanya tersenyum membalas pujian Pak Kapolda Jawa Timur, dia tidak mau berbesar hati dan sombong mendapatkan pujian itu.
Arga mendapatkan kabar dari Rezi bahwa Tim yang dipimpin oleh Rezi berhasil menyelamatkan Naya yang disandera dalam mobil. Sempat terjadi insiden pelumpuhan pelaku karena terjadi baku tembak yang begitu sengit dan panas antara Alvin melawan Rezi. Akhirnya Alvin dapat dilumpuhkan oleh Rezi dengan sebuah tembakan mengenai dada dan bahu kirinya. Namun Naya dinyatakan selamat dalam kondisi baik.
Rezi membawa Naya menuju tempat aman diluar Kota Surabaya untuk menghindari area konflik dan lebih menjaga keamanan nya. Arga begitu bangga kepada Rezi anak asuhnya di Kepolisian yang begitu ahli dalam pembebasan sandera dan pengintaian lawan. Arga sangat berterima kasih kepada Rezi karena berhasil menyelamatkan Naya da membawanya pergi jauh dari sana.
__ADS_1