Please Come Back

Please Come Back
~9~


__ADS_3

Seli terkejut saat sampai di gerbang sekolah dan tangannya tiba tiba di tarik oleh seseorang


"ada apa kak?" tanya Seli


"ke kantin sebentar"


"buat apa?" kata Seli bingung tapi yang ditanya malah tak menrespon apa pun


"jadi gimana?"


"gimana... gimana apanya kak?"


"kamu mau kan jadi pacarku?" tanyanya


"ternyata kak Zohan membahas yang kemarin ya? aku bahkan sudah lupa"


"gimana?" tanyanya lagi


"kayanya aku harus berpikir dulu deh kak" jawab Seli sambil melepaskan tangan Zohan dengan pelan yang tadi menariknya ke kantin.


"sampai kapan?" tanya nya menatap Seli


"aku ga tau. sebelumnya aku belum pernah pacaran. jadi mungkin dalam beberapa hari aku masih harus berpikir dulu.


"oke. aku tunggu kalau gitu. duluan ya" kata Zohan lalu pergi.


Apa yang harus Seli jawab? tolak? terima? dia bingung. menghela nafas lalu pergi meninggalkan kantin menuju kelasnya.


"Mir, lo bisa ngawani gue ke kamar mandi ga?" kata Seli saat bel istirahat berbunyi.


"yah. maaf ya sel. bukan ga mau tapi gue di panggil wali kelas ke kantor nih" jawab Mira yang hendak bergegas.


seli hanya mengangguk pelan mengisyaratkan dia tak apa sendiri. tentu saja Mira sibuk. dia kan sekretaris kelas. mau tak mau Seli harus ke toilet sendiri.


Saat hendak keluar dari toilet dia mendengar beberapa kakak kelas bercerita sambil mencuci tangan di westafel.


"gue yakin dia belum bisa move on." kata seorang

__ADS_1


"maksud lo? Melly?" tanya seorang lagi


"kak Melly?" batin Seli. dia menurunkan tangannya yang tadi sudah menggenggam pintu toilet hendak keluar. Dia penasaran dengan apa yang dibicarakan kakak kelasnya. terutama tentang Melly. mana tau dia mendapat sesuatu yg menjadi alasan kemarahan Melly padanya. dia pun memutuskan menguping.


"iya. Dia udah putus sejak sebulan yang lalu. tapi belum bisa move on. sedangkan cowonya udah dekat sama adek kelas yang baru. Itu tuh yang buat Melly ga terima. Dia cinta mati sama mantannya itu"


"aduh gue mendadak lupa lagi nama mantannya siapa" kata seorang


"Zohan" jawab seorang lagi


"ZO... ZOHAN??!! mantan kak Melly kak Zohan?" batin Seli sambil menutup mulut tak percaya. Jantungnya berdegup kencang sekali. Dia tidak salah dengar. itu jelas jelas Zohan. Zohan mantan Melly


"Ja... jadi selama ini? Kak Melly membullyku hanya karena aku dekat dengan kak Zohan? lalu bagimana kalau kak Melly tau aku ditembak kak Zohan? engga kak Melly ga boleh tau" batinnya sambil berkaca kaca. Dia tidak percaya.


"Kak Zohan harus tau. engga. Dia ga boleh tau. Tapi apa yang harus aku lakukan?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Seli segera menghapus air mata yang sudah jatuh ke pipinya. berpura pura ceria dan seperti tidak tau apa apa ataupunmendengar apaapa. Perlahan dia menarik gagang pintu toilet dan keluar sambil menatap kedua kakak kelas yang berada di luar. Saat kakak kelas sadar akan tatapan Seli mereka terkejut tapi Seli malah tersenyum kepada mereka


"selamat siang kak" kata Seli sedikit membungkuk, tersenyum lalu segera pergi


"itu...itu adik kelas yang kita bicarakan. astaga... jangan jangan dia dengar semua. aduh gimana dong? "


"benar juga ya. Dari wajahnya juga nampak dia ga peduli. Syukurlah"


Akhirnya Seli tau apa sebenarnya alasan Melly membully nya. Dia tak tau apa yang harus dia rasakan. satu sisi dia sudah mengetahui maksud dan tujuan Melly membully nya. Disisi lain dia semakin takut kalau ternyata Melly tau dia sudah ditembak oleh Zohan. Sebegitu cintanya kah melly kepada Zohan sehingga dia tega menampar dan memukul Seli seperti itu? sebenarnya dia berprilaku begitu kejam karena teman temannya selalu memperpanas suasana dan Melly sendiri takut teman temannya tidak mau mengganggapnya lagi kalau dia tidak bertindak sesuai keinginan mereka.


"Sel"


"sel"


"eh oh selamat siang kak. kenapa kak?" jawab Seli melihat ke arah suara yang memanggilnya. itu Abrian si ketos


"dari tadi dipanggil malah melamun. kenapa belum pulang?"


"gapapa kak"


"lapangan udah sepi loh. ga takut?" tanyanya sambil duduk di sebelah Seli yang menghadap lapangan. Seli hanya menggeleng

__ADS_1


"kamu ada masalah ya?" katanya melihat ke Seli. Seli hanya memilih diam. Dia masih menatap lurus ke lapangan


"cerita dong. kalau aku ga bisa bantu setidaknya aku bisa kasih masukan. dan kalau pun aku ga ngasih masukan setidaknya beban di hati kamu berkurang kalau bercerita sama orang lain"


"sebenarnya..." kata Seli yang kemudian kembali terdiam. Dia tidak mungkin bercerita dengan Abrian. Dia tau kak Abrian orang yang baik dan bisa membuatnya nyaman tapi dia tidak bisa bercerita kepada sembarang orang karena dia tidak tau siapa siapa saja yang menjadi bagian genk Melly.


"Sebenarnya apa?" tanya Abrian menatap Seli


"sebenarnya aku mau pulang kak" katanya sebagai alasan.


"ya udah yuk. aku antar"


Seli menatap Abrian sebentar kemudian kembali melempar pandangannya ke lapangan basket. Sebenarnya dia mau sendiri saat ini. berpikir, merenung, dan mencari solusi. Tapi dia tidak tau cara menolak tawaran pria di sampingnya.


"kenapa?" tanya Abrian. Seli masih tetap tidak menjawab


"kamu mau singgah ke suatu tempat atau mau menemui seseorang? aku temenin" kata Abrian lagi. Seli hanya mengangguk.


"jadi kita kemana dulu nih?" tanya Abrian


"taman kota"


"sepertinya kamu sering ya ke taman itu" kata Abrian yang sekarang berdiri.


"ya begitulah." jawab Seli ikut berdiri.


Di atas motor mereka hanya terdiam. Abrian fokus berkendara sedangkan Seli asik dengan pikiran kacaunya. rasanya kepalanya ingin pecah memikirkan semuanya.


"nih. biar ga kelaparan" kata Abrian menyodorkan sebungkus roti dan sebotol jus kepada Seli yang tengah duduk melamun di bangku taman. dan itu sukses membuyarkan lamunan Seli


"makasih kak"


"kamu kenapa melamun terus sih? ga kaya biasanya. cerita dong. jangan pendam sendiri. capek kalau menanggung semuanya sendiri" kata Abrian yang kemudian meneguk jus miliknya. lalu menatap ke arah Seli sambil menutup botol jusnya. Dia heran melihat Seli yang sekarang berkaca kaca.


"kamu kena-" kata Abrian yang langsung dipotong oleh Seli


"maaf kak. aku harus duluan" jawab Seli kemudian sedikit membungkuk lalu pergi.

__ADS_1


Dia tidak ingin Abrian melihatnya menangis. Jadi sebelum air matanya benar benar mengalir dia terlebih dahulu meninggalkan Abrian. hanya itu cara untuk menghindar. hari ini dia bahkan tidak melihat senja seperti biasanya.


perasaannya bercampur aduk. otoknya tidak bisa berpikir lagi. sungguh sangat kacau. Dia bahkan tak tau sejak kapan dia selemah ini. hari ini saja sudah 2 kali dia hampir menangis di depan orang lain. Dan dia merasa itu bukanlah dirinya. dia Tidak selemah itu sebelumnya. Dia ceria, mudah tersenyum dan ramah. Sedangkan sekarang dia hanya menjadi seorang wanita yang suka melamun, tak berdaya, dan tak bisa berpikir apa yang harus dia lakukan.


__ADS_2