Please Come Back

Please Come Back
~39~


__ADS_3

Rasanya canggung sekali suasana saat ini. Seakan Ini pertemuan pertama mereka. Vito masih curi curi pandangan pada wanita cantik di sebelahnya. Wanita itu terlihat sesekali tersenyum menatap layar ponselnya. Entahlah apa yang Vito rasakan saat ini. Yangbpasti Dia terlihat dangat gugup. Apa dia akan mengungkapkannya sekarang? apa dia sudah siap dengan segala kemungkinan? Tapi bila bukan sekarang kapan lagi?


Vito memperbaiki posisi duduknya. Semahir apa pun dia bertarung, dia tetap tidak berpengalaman soal cinta. Baginya lebih mudah menaklukkan lawan bertarung daripada menaklukkan hati seorang wanita.


Entah keberapa kalinya dia kembali memperbaiki posisi duduknya. Dia tak tau harus berkata apa untuk pembuka pembicaraan. Ditambah lagi Seli tidak membuka pembicaraan sejak Tadi. Sepertinya memang tidak ada topik yang mau dibahas.


"ini kedua kalinya loh kita lewat sini" Seli melihat sekeliling dari kaca


"ya mmm ah iya Sel. Lo buru buru pulang?"


"Engga sih. Tapi bukan berarti ngabisin waktu sia sia dengan putar putar kaya gini. Bensin lo juga bisa habis tuh"


"bensin gue full"


"lo gabut? sampai ga tau tujuan?"


"mungkin"


Suasana kembali hening hanya suara kendaraan yang berpapasan dengan mobil Vito yang terdengar. Vito menghela nafas. Dia mulai merilekskan pikirannya. Dia harus berani mengungkapkannya hari ini. Dia melirik ke Seli yang kembali asik dengan ponselnya. Bagaimana mengatakannya?


"gue lapar. Dari tadi ga sampai rumah" Seli berpaling dari ponselnya


"mau makan apa?"


"pangsit"


"okay" Jawab Vito sambil membelokkan mobilnya. Entah menagapa hati dan mulut tak sejalan. Dia selalu berusaha untuk memperpanjang percakapan agar bisa menyatakan perasaannya di sela sela percakapan mereka tapi mulutnya seakan tak mendukung. Entah mengapa pula mulutnya selalu mengakatan kata kata cuek penutup percakapan. Sial.


"2 pangsit kuah mang" Seli memesan. Vito hanya mengekor dari belakang. Sampai akhirnya mereka duduk di bangku yang kosong. Vito masih menjatuhkan pandangannya pada Seli. Sepertinya bukan waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan. Disini banyak orang. Sama sekali bukan tempat yang tepat. Tapi kapan?


Seli meraba wajahnya lalu merapikan rambutnya kemudian melihat ke arah Vito.

__ADS_1


"ada sesuatu di muka gue?"


"eh oh eh ya?"


"kenapa lo liatin gue terus?"


"ada yang berantakan?"


Vito hanya menggeleng. Sial. Seli sudah mengetahui kalau dia curi curi pandangan sejak tadi. Percakapan mereka terhenti saat 2 mangkuk pangsit kuah mendarat dengan rapi di meja mereka. Mereka kembali diam, asik menghabiskan makanan masing-masing. Entah mengapa suasana terasa canggung sekali.


"Sebentar biar gue bayar" Vito akhirnya membuka suara setelah lama diam. Pangsit mereka sudah habis. Seli segera membalasnya dengan anggukan.


Vito segera kembali dan mengajak Seli segera pergi dari situ. Suasana hening kembali terasa saat mereka sudah berada di mobil. Hanya suara musik yang terdengar. Mereka Saling curi pandangan dan canggung. Tak ada yang memulai percakapan. Seli kembali melihat ponselnya saat ada panggilan masuk. Seli mengangkat telfonnya. Vito segera melirik ke sebelahnya. Penasaran siapa kira kira yang menelfonnya. Mbak citra? mungkin saja.Dia mematikan musik saat Seli sudah menjawab telfon itu


Ketika Vito mendengar kata "Ren" dari mulut Seli, Dia lanhsung tau kalau yang menelfon itu pasti Rendy sahabat Seli sejak lama. Vito mendengus kesal. Ngapain pula dia menelfon Seli? waktu yang sangat tidak tepat. Padahal Vito belum sempat menyatakan perasaannya dan sekarang malah diganggu si brengsek itu.


Vito kembali melihat kearah Seli dia tertawa sambil telfonan. Ntah apa yang mereka bahas. Apa selucu itu? Semudah itu Rendy membuat Seli tertawa? Sebenarnya bacotan apa yang dikatakan Rendy gila itu? Dia ga tau apa Vito sudah menunggu nunggu kesempatan ini untuk mengungkapkan perasaannya?


Vito melirik untuk kesekian kalinya. bagaimana cara menghentikan percakapan mereka yang semakin lama seakan semakin asik. Vito sudah mengumpulkan keberaniannya tapi malah ada pengganggu. Jika besok, bisa saja keberaniannya sudah hilang. Dan dia juga tidak mau menyatakan perasaannya dari pesan. Dia ingin menyatakannya langsung sebagai seorang pria sejati.


Seli melirik kearah Vito yang terlihat kesal. Seli tersenyum tanpa sepengetahuan Vito. Seli bisa merasakan laju mobil Vito yang semakin melambat. Entahlah dia sengaja atau tidak.


"oke deh Ren. Gue udah mau sampai rumah nih. nanti lagi ya. bye" Seli menutup percakapan asik mereka. Vito segera melihat Seli. Akhirnya percakapan Seru itu terakhir juga.


Vito menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Jarak rumah Seli tinggal beberapa meter lagi. Dia harus segera menyatakannya sebelum sampai di rumah Seli. Suasana yanh sangat canggung. Tapi Vito harus berani. Dia harus memanfaatkan kesempatan ini.


"mmm Sel"


"kenapa?"


"ada yang mau gue bilang sebelum lo turun"

__ADS_1


"apaan?"


"Sebenarnya..."


Seli menunggu lanjutan kalimat Vito yang terhenti


"apaan? lama lo"


"Sebenarnya aku suka sama kamu. Eh engga deh aku cinta sama kamu. Eh bukan. Sebenarnya kamu mau jafi pacarku?"


"ah kalimat apa itu barusan?" batin Vito


"haha polos banget sih. tanpa sadar lo udah ungkapin semuanya haha ternyata kali ini juga Mira benar"


"benar apa?"


"gapapa kok. Udah kaya peramal aja dia"


"jadi Sel kam-"


"Yes. Gue mau jadi pacar kamu"


"hah? semudah itu?" batin Vito.


"Ga semudah itu juga sih." Jawab Seli seakan bisa membaca pikiran Vito


"Sekarang Aku udah tau kalau selama ini kamu diam diam melindungi aku. Kamu juga udah menolongku sewaktu pingsan di taman, merawatku yang sakit, mungkin ada hal yang lain yang engga aku ketahui yang kamu lakukan untukku" Seli tersenyum


"Sekarang aku udah bisa melupakan kak Abrian. Mungkin benar yang dikatakan Mira. Aku harus memilih pacar yang benar benar sayang samaku. Orang yang bisa melindungi aku bukan orang yang menuduh dan akhirnya menyia nyiakan aku" Seli berkaca kaca tapi langsung mengalihkan pandangannya dari Vito sambil mengucek matanya sebelum Air matanya sempat jatuh. Dia tidak boleh terlihat lemah di depan siapa pun termasuk Vito sekali pun.


"kamu tau, sebenarnya aku juga sudah menunggu saat ini. Awalnya aku pikir itu tidak akan terjadi" Seli melihat Vito kemudian tersenyum "tapi seperti aku orang yang beruntung"

__ADS_1


jantung Vito berdegup kencang. Akhirnya dia menyatakannya dan sama sekali tak sia sia. Dia langsung diterima oleh Seli. Untuk Pertama kalinya Vito tersenyum semanis itu. Senyum itu spesial untuk Seli. Selama ini dia bahkan sudah melupakan cara tersenyum tapi hari ini senyum benar benar tak dapat disembunyikan. Dia berjanji akan menjaga dan melindungi Seli.


__ADS_2