Please Come Back

Please Come Back
~30~


__ADS_3

Seli tidak bersemangat melakukan apa pun hari ini. Dia lebih banyak melamun dalam kelas saat belajar. tidak konsentrasi belajar, berkali kali mendengus kemudian menghela nafas lalu mendengus lagi. Dia terlihat seperti orang depresi. Berkali kali Mira bertanya dia kenapa tapi dia tetap menjawab dia baik baik saja. Dia masih Memikirkan betapa teganya Abrian padanya sejak kemarin malam. Hari ini dia sudah janjian dengan Abrian akan bertemu di depan ruang osis. Tadinya Abrian menolak tapi Seli bersikeras untuk bertemu. dia ingin mengetahui alasan Abrian.


Seli sudah duduk menunggu abrian di depan ruang osis. Menatap lurus kedepan melamun. Tak perlu menunggu lama, Abrian segera menghampiri Seli dan duduk di sebelahnya.


"udah lama sel?" Seli hanya menggeleng menanggapi kalimat Abrian.


"kamu kenapa sel?"


"kak, ada yang mau aku bicarakan"


"tumben sel. tentang apa emang"


"aku mau kita sampai disini saja kak"


"kenapa tiba tiba?" Abrian berdiri


"kita udah ga cocok lagi kak" Seli menahan air matanya


"kamu udah mikirin ini baik baik?" Seli mengangguk. Air matanya mulai mengalir.


"ya udah kalau itu yang kamu mau. Aku ga akan menahan orang yang ga mau bertahan"

__ADS_1


Seli terkejut dengan tanggapan Abrian. dia juga ikut berdiri.


"kamu bahkan ga mencegah aku pergi? ternyata kamu memang ga sayang samaku kak. aku kecewa kak. Dan sekarang kekecewaanku bertambah"


"untuk apa? kamu mau aku berjuang sendiri?"


"selama ini aku kira kamu menganggap aku berharga tapi itu sama sekali ga benar. Ternyata aku bukan siapa siapa selama ini"


"aku menghargai keputusan kamu sel."


"makasih kak sudah menganggapku tidak berharga selama ini"


"sama sama egois?"


"yah mungkin lebih egois aku sedikit. Tapi asal kamu tau, di luar sana banyak yang nunggu untuk jadi pacar ku sel. Tapi kamu malah ninggalin aku kaya gini. maka dari itu aku tidak mencegah kamu sama sekali"


" kak, selama ini aku selalu membela kakak kalau orang lain berkata buruk. Tapi aku udah ga tahan kak. aku ga bisa lagi bertahan sendiri. Aku ga sanggup kalau harus berjuang sendiri" Air mata Seli semakin deras.


"aku ga butuh kamu berjuang. Aku cuma butuh orang yang mau menemani aku. kamu cuma orang yang egois sel. sejak awal kamu memang ga pernah ada buat aku" Abrian meninggikan suaranya.


"dimana? dimana letak keegoisan ku kak? bukannya selama ini aku yang dipihak yang tersakiti?"

__ADS_1


"jangan merasa jadi korban" Abrian mendorong Seli. hingga posisinya mundur beberapa langkah. Seli mengusap Air matanya kemudian menatap Abrian


"kak, makasih untuk satu bulan nya. Mungkin kamu benar, banyak orang yang menunggu untuk jadi pacar kamu. Aku yakin mereka senang kita putus. Mereka pasti menunggu saat ini. Aku rasa ini waktu yang tepat untuk mengakhiri semuanya. kita putus" Seli pergi setelah mungucapkan kalimat itu. Abrian sama sekali tidak mengejarnya. Dia hanya memandang Seli yang pergi meninggalkannya. entah apa yang Abrian pikirkan saat ini.


Saat Seli pergi, Vito muncul dari samping tembok ruang osis. Dia sudah sedari tadi berdiri disana. Bersandar ke tembol mendengarkan pertengkaran Seli dengan abrian. Sedari tadi juga dia sudah mengepalkan tangannya. tapi dia menahannya karena tidak ingin seli melihatnya. Dia sama sekali tidak terima Seli didorang seperti itu. Tidak ada yang boleh membuat Seli menangis. Dia tidak akan segan segan menghajar orang itu.


Vito menatap Abrian sejenak. ekspresi datar. Dia sudah mengendalikan amarahnya. Tapi dari matanya terlihat bahwa dia tidak suka melihat Abrian. Saat ini tangannya berada di saku celananya.Dia tidak akan menggunakan tangannya. Tanpa basa basi, kaki kanannya sudah mendorong perut Abrian dengan keras. tangannya masih dia simpan di dalam sakunya. langkah abrian mundur beberapa langkah. Dia sama sekali tak tau apa yang dilakukan Vito. mengapa dia tiba tiba menendang Abrian. Vito maju beberapa langkah. mensejajarkan posisinya dengan Abrian


"lo sama sekali ga berhak mendorong Seli kaya gitu. Apalagi membuat dia menangis" kata Vito tanpa melihat Abrian di sampingnya. tatapannya lurus kedepan kemudian dia pergi meninggalkan Abrian yang masih kesakitan sambil memegang perutnya. Itu satu tendangan untuk membalas Abrian yang sudah mendorong dan membuat Seli menangis.


Seli ingin berteriak sekencang kencangnya. Tapi dia tidak melakukan itu. Dia pergi ke taman tempat dia biasa berbagi kesedihan. Cuaca hari ini mendung. Langit seakan ikut merasakan perasaan Seli saat ini. Air mata seli mulai mengalir. begitu pun dengan hujan. Langit mulai mengalirkan air hujan. Seiring hujan yang bertambah deras, bertambah deras pula tangisan Seli. Dia menangis sekencang kencangnya dibawah hujan. Wajahnya dia tutip dengan kedua telapak tangannya. Dia menangis tersedu sedu disana.


Dia sakit hati dengan semua perlakukan Abrian. Cinta pertamanya sungguh sangat menyakitkan. Dia bertemu orang yang salah. Dan dia salah pernah menyayangi orang itu. Tapi orang itu seakan tidak menghargainya. Sifat Abrian berubah 180 derajat dari pertemu pertama mereka. Abrian yang sangat mencintai seli dulu, Abrian yang humoris, Abrian yang menyenangkan. Dia bahkan merasa sangat nyaman berada di dekat Abrian. Tapi sekarang? Tidak ada lagi abrian yang mencintainya. Fia hanya seorang bajingan yang selingkuh. Bajingan yang didak pernah melihat bahwa Seli memafaakannya hanya agar hubungan mereka tetap baik. Tapi dia, Dia seperti tidak menginginkan itu.


Kenapa sesedih ini? apakah dia sedang di hukum oleh alam hingga semua ini terjadi padanya? Baru semester lalu dia dibully dan dikhianati temannya sendiri. Sekarang, Dia bahkan memulai awal semester baru dengan putus cinta.


Hujan deras itu masih terus membasahi bumi. bahkan semakin deras. Tiba tiba hujan di atas seli seakan ditampung. tak ada hujan yang mengenainya saat ini. padahal hujan masih turun dengan derasnya. Dia masih menangis dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia sadar hujan sudah tidak mengenai tubuhnya. Dia pun perlahan lepas telapak tangan di wajahnya. mendongak apa yang sebenarnya terjadi.


Di depannya sudah terlibat seseorang memegang payung. Orang itu memayungi dia dari hujan yang deras. orang itu Seli kenal. Vito. Seli masih mendongak tak mengerti mengapa Vito melakukan itu. Melihat Seli yang bingung, Vito segera meraih tangan Seli kemudian meletakkannya di gagang payung. Kini tangan Seli sudah memegang payung dari Vito. Vito melepas jaketnya dan memakaikannya pada Seli. lantas pergi sambil memasukkan tangannya ke dalam saku. Tak peduli tubuhnya diguyur hujan yang deras. Yang lebih penting wanita itu. Dia tidak mau melihat Seli pingsan lagi dibawah hujan dan sakit seperti kemarin. Dia akan selalu melindungi Seli walau seli sudah salah paham padanya.


"apa kali ini juga Mira benar? apa Vito memang benar benar orang yang baik?"

__ADS_1


__ADS_2