
"udah baikan?" tanya seorang wanita masuk ke Kamar Seli. Seli yang sedari tadi memang tidak tidur langsung melihat ke arah sumber suara.
"Prilly" batin Seli yang melihat Prilly menutup pintu kamarnya kemudian berjalan mendekatinya yang kini duduk di atas kasur karena melihat Prilly datang menjenguknya pada minggu siang.
"lo tau darimana gue sakit?"
"kan kemarin itu lo ga masuk kelas dan pergi ke UKS. banyak loh yang baper karena ngelihat kak Abrian ngegendong lo. banyak juga yang pikir kalian pacaran.
"ooo" jawab Seli singkat.
"sejak kapan lo sakit?" tanya Prilly yang mengambil posisi duduk di sisi kasur Seli
"entahlah. mungkin sejak jumat malam."
"lo kenapa bisa sakit? lo pernah cerita sih sama gue kalo lo itu susah bangrt sakit. mungkin ini pertama kalinya lo sakit kaya gini"
"memang ini pertama kalinya" jawab Seli
"sebenarnya kenapa sih? kok lo bisa tiba tiba sakit gitu? imun tubuh lo berkurang? atau lo melemah atau lo kehujanan terus ga makan? tapi setau gue sih ga ada hujan yang deras deras banget yang bisa buat sakit gini. cuma gerimis aja. dan lo kayanya tahan kalau pun diguyur hujan. tapi lihat kondisi lo sekarang pucat lemes kaya gini masa sih karena hujan?"
"gue juga ga tau." kata Seli mengangkat kedua bahunya
"udah lama ya kita ga bicara berdua kaya gini"
"iya lo benar. Chica mana? biasanya lo sama Chica" kata Seli. sebenarnya dia penasaran kenapa mereka tidak bersama. bukankah setelah mereka tidak menganggapnya, mereka selalu bersama kemana pun?
"oh katanya dia ada urusan. makanya ga bareng"
"ohh" jawab Seli singkat. sebenarnya itu bukan jawaban yang memuaskan bagi Seli.
"lo kenapa jadi sependiam ini sih? ya memang sih lo pendiam tapi biasanya ga kaya es batu juga lah. apa efek karena lo sakit?" tanya Prilly
"gue juga ga tau" kata Seli
"lo juga udah sering banget gue liat ngelamun. ga itu di sekolah, di jalan, di bus dan dimana pun, lo sering ngelamun lo kenapa sih ?" tanya Prilly
__ADS_1
"gue gapapa" kata Seli
"Gue udah mulai curiga deh"
"lo curiga apa?" tanya Seli
"jangan jangan lo sakit karena ada srbuah masalah besar yang ga lo ceritain sama siapa pun terua jadi kepikiran, lo ga makan, ga tidur karena masalah itu"
"sebenarnya iya Pril. gue ga makan, ga bisa tidur, tiap hari kepikiran"
"gue baik baik aja Pril"
"gue udah kenal lo gimana Sel. iya gue tau kita juga udah lama ga saling curhat atau sama sama kemana pun kaya dulu lagi. tapi gue tau sifat lo. lo terlalu memaksakan diri lo mecahin semuanya sendiri. nyimpan semuanya sendiri. lo ga pernah mau cerita gimana masalah lo. tapi gue tau Sel. karena selama ini juga lo cuma curhat sama gue." kata Prilly meyakinkan
"Dan bukan karena kita udah ga sedekat dulu lagi bukan berarti lo ga bisa curhat lagi sama gue. lo bisa curhat semau lo. lo berhak curhat sama gue." kata Prilly lagi
"Dan lo jangan merasa lo sanggup untuk semua ini. jangan lo merasa lo bisa menanggung semua ini. gue tau Sel. gue tau lo wanita paling tangguh yang pernah gue temui tapi apa salahnya lo berbagi cerita sama gue? pasti ada limitnya. ada batasnya Sel. setabgguh apa pun lo gue yakin ada masalah yang ga bisa lo tanggung sendiri."
"Sel, lo ini nyakitin diri lo sendiri Sel. kalo lo sayang sama diri lo, lo ga bisa terlalu memaksakan diri lo kaya ini"
"mudah banget bagi gue tau kalau lo ada masalah Sel. Tiap kali lo ada masalah lo pasti kaya orang bisu yang ga bersuara dan lo pasti sering melamun juga. gue tau sifat lo itu."
Seli menarik nafas dalam dalam dan mulai membuka maskernya. terlihat wajahnya yang memar memar. Tentu saja Prilly terkejut.
"lo... lo kenapa?"
"jangan kaget dulu. masih ada yang perlu lo lihat" kata Seli mulai membuka kancing jaketnya. melepas jaketnya perlahan menampakkan bekas bekas libasan yang belum sembuh.
"lo... LO KENAPA?!" tanya Prilly menggoncangkan tubuh Seli dengan memegang kedua bahunya
"sssttt... kecilkan suara lo. hanya kita. janji hanya kita yang tau. bahkan mbak Citra pun ga boleh tau. lo harus janji sama gue" kata Seli mengacungkan jari kelingkingnya. Prilly sedikit bergetar membalas jari kelingking Seli kemudian mengkaitkannya.
"i... ini... lo... lo kenapa?" kata Prilly terbata bata
"pembullyan"
__ADS_1
"siapa? siapa yang bully lo?"
"kak Melly and the genk"
"kak Melly? geng yang cukup di takuti di sekolah. jangan jangan adik kelas yang mereka bully itu lo? tapi kenapa ga ada yang tau kalo yang dibully itu lo?"
"sengaja gue ga cerita sama siapa siapa urusannya bisa panjang. gimana kalo geng kak Melly ngebully orang orang yang dekat sama gue juga" kata Seli
"lo memang wanita tertanguh yang pernah gue temui. lo masih mikirin orang lain disaat seperti ini" jawab Prilly
"apa masalahnya?" tanya Prilly
"mereka bilang gue perebut pacarnya" Seli mulai berkaca kaca
"tapi itu ga benar kan?"
"engga. sama sekali engga. gue ga tau kalau Kak Zohan itu mantan kak Melly. lagi pula mereka sudah putus sebelum kita masuk di sekolah itu. jadi gue sama sekali ga tau apa apa. kak Melly masih cinta sama kak Zohan tapi karena kak Zohan dekat sama gue, gue malah dituduh perebut pacarnya. salah gue dimana?" kata Seli kembali berlinang air mata.
"sesadis itu? sampai wajah dan tangan lo kaya gini?. sebenarnya dia mau apa sih?" kata Prilly mulai emosi
"gue juga ga tau. yang pasti dia benci banget sama gue"
"terus kak Zohan suka sama lo?" tanya Prilly dan dibalas anggukan Seli.
"jangan jangan dia nembak lo?" tanya prilly lagi dan dibalas anggukan lagi.
"Dan, kak Zohan tau?" tanya Prilly yang dibalas gelengan Seli
"ga tau? bahkan Zohan ga tau masalah ini? Melly brengsek itu pasti ga ngeizinin siapa pun mengadu sama Kak Zohan. biar dia bisa sesukanya membully lo."
"terus hubungan lo sama kak Zohan gimana?"
"gue ngejauhi kak Zohan dan dia bingung sama sikap gue"
"cewe itu sangat menjijikan. padahal jelas jelas kak Zohan ga suka lagi sama dia terus malah ngebully elo. harusnya dia marah sama Kak Zohan bukan lo. benar benar wanita biadap. tak tau malu."
__ADS_1
"kayanya harus kita samperin dan tampar langsung. gue benci orang kaya dia. bisa bisanya dia buat kaya gitu. sama sekali tidak terhormat" kata Prilly membara bara.
"atau kita ajak berantam aja sekalian. aaahhh gue benci orang kaya dia" kata Prilly.