
"Chung hong"
"Sijak" Ronde ketiga dimulai. Ini adalah penentuan siapa yang akan menang. Lawan Vito terlihat lebih serius dan sangar dari sebelumnya. Dia mengumpulkan kembali pointnya dengan perlahan.
Vito bahkan tak diberi kesempatan untuk menyerang. Tapi Vito masih bisa terus menahan serangannya. Gerakan lawan gesit sekali. Dengan cepat dia kembali memulihkan pointnya. Sekarang point mereka seri.
Pelanggaran. Poin lawan bertambah satu. sekarang tertinggal 1 point. Pertarungan yang sangat gesit sekali. Ekspresi penonton bahkan tegang menyaksikan pertarungan gesit mereka. Tak terlepas juga Seli yang terlihat tegang sekali menyaksikan pertarungan Vito.
Vito Menatap Seli dan Sabeum Mark selama 2 detik kemudian melihat ke layar tempat poin mereka. 18-17. 30 detik tersisa. Dia tidak akan membuat Seli kecewa.
Dia tidak boleh selalu bertahan tanpa melawan. Dia juga harus melawan untuk mendapatkan point. Dan cara yang paling tepat adalah memblok lawan. Dia harus memblok serangan lawan. masih ada 30 detik tersisa. dia pasti bisa mengejar Point.
"Sijak"
perubahan cara main Vito membuat Lawan kewalahan menanggapinya. Dia hanya bisa menghindar. Sedangkan Vito terus dengan gesit memojokkan lawan. Pointnya dengan cepat juga bertambah. +1 +3 +1 +2. Kini point 18-24.
Tapi lawan juga mempunyai serangan tak terduga hingga berhasil merebut 3 poin. kini point 21-24. Disaat saat terakhir pertatungan semakin gesit. Vito masih menang 3 point. Tapi jika dia tidak bisa bertahan, lawannya bisa mengalahkannya.
Vito kini mulai kelelahan. dibandingankan lawan, latihan fisiknya lebih sedikit. Tapi tehniknya lebih unggul. lawan difinal ini tak bisa dianggap remeh. tinggal 15 detik terakhir. Penonton mulai resah.
agi lagi lawan mengambil 4 point. 25-24 sedangkan Vito semakin sulit bertahan. Prinsipnya hanya satu. Seli tidak boleh kecewa padanya. tinggal 5 detik terakhir, Vito menonjok body lawan kemudian melakukan deol ke kepala lawan. +4 poin. kini 25-28 point. pertandingan Selesai dan dimenangkan oleh Vito.
Vito hormat dan mengelilingi lapangan dengan bendera kebangsaan. Rasa bangga yang tak terhingga. Seli segera turun dari tribun dan menghampiri Vito. Lagi lagi kembali memeluknya. Tindakan yang sangat aneh.
Vito yang masih memakai Body protektor membalas pelukan Seli dengan sangat erat. Sambil mengusap rambutnya lembut. Dia berhasil membuat Seli bangga padanya. Seli tak peduli dengan keringat Vito yang masih mengalir. Yang pasti dia nyaman seperti itu. Tubuhnya bahkan tenggelam dipelukan Vito yang tinggi.
"Sel, Aku harus melepas body ini dulu"
"Aku nyaman seperti ini"
"aku tau. Tapi memakai body seperti ini gerah sel."
"baiklah." Seli melepaskan tangannya. Tapi Vito malah tetap memeluknya erat.
"Dasar goblok. katanya Mau lepas body"
"hahaha" Vito membalasnya dengan tertawa lalu melepaskan Seli perlahan.
Seli membantu melepaskan body dan segala pengaman yang melekat pada Vito.
"Gimana sekolah selama aku karantina?" Vito bertanya
"Yah biasa aja. Dan bagaimana karantinamu?"
__ADS_1
"Aku bahkan bosan dikarantina. Aku mau cepat cepat berlalu agar bisa bertemu dengan mu"
"hmmm gue beli minum dulu ya Sel" kata Mira melihat mereka asik dan mengabaikannya sejak tadi.
"Lho Mira? Gue baru tau lo ada disini"
"Itu karena lo asik berdua Vito. Udah ah. Gue beli minum dulu. Malas liat orang pacaran" Mira berjalan kesal meninggalkan mereka.
Seli tertawa kemudian memeluk Vito saat mereka berdua sudah duduk di tribun.
"Kamu aneh banget deh sel"
"emang kenapa?"
"kemarin kamu nelfon sambil nangis terus sekarang kamu terus aja meluk aku. Emang seriundu itu kamu sama aku?"
"Aku cuma mau di dekat kamu sebentar aja sebelum aku pergi Vito. Emang salah ya."
"haha aneh banget sih kamu." Vito membalas pelukan Seli. Vito yang selesai bertanding dengan keringat dan kegerahan itu, tak menyadari kalau Badan Seli panas. Dia masih demam. Tapi karena tubuhnya yang juga panas membuat rasa panas dari tubuh Seli tak terasa sama sekali. Sedangkan Seli masih lemas dan sakit.
"Kamu tau ga, kita ini kaya orang bucin aja haha"
"Kamu ini merusak suasana aja" Seli melepas pelukan Vito.
"Sebentar ya"
Vito berlari ke lapangan dan menerima mendalinya. Medali emas. Dia segera kembali menemui Seli yang masih menunggunya.
"Kamu terlihat tampan sekali memakai dobok taekwondo yang putih bersih itu dan sabuk hitammu. Ditambah lagi Medali emas itu."
"Kau mau memakaikannya padaku?" Vito memberikan medalinya pada Seli.
"Tentu." Seli menerima dan memakaikannya di leher Vito. Vito sedikit membungkuk agar Seli bisa memakaikannya dengan mudah.
"Sempurna" Kata Seli selesai meletakkan medali itu di lehernya.
Kali ini Vito yang memelukkan. Semenjak Keanehan Seli beberapa waktu terakhir, Vito juga ikut aneh dibuatnya.
"lepaskan aku. Kamu sendiri yang bilang ini bucin kan"
"Tapi aku nyaman seperti ini"
"Sudahlah Vito. Malu dilihat orang"
__ADS_1
"Orang juga tau kamu itu pacarku"
"hah sudahlah. Susah sekali bersamamu" Seli membalas pelukannya.
"haha kamu benar benar aneh beberapa waktu ini sel. kamu bilang bucin. Tapi kamu juga membalas pelukanku"
Seli segera melepas pelukannya. "Merusak suasana saja"
"Selamat ya Vito" Mira memberikan segelas air mineral padanya. Kemudian memberikan Seli boba rasa taro lantas meminum boba rasa red velvet.
"lho kok beda Mir?"
"duh gue mana tau minuman kesukaan lo. Lagi pula lo kan baru siap pertandingan jadi mungkin lo lebih baik minum Air mineral. Ditambah lagi, gue denger denger atlet kaya lo itu harus jaga berat badan. Biar undernya ga naik turun"
"yah. lo benar sih." Vito meminum Minumannya hingga hanya tersisa setengah.
"Lo udah bisa pulang bareng kita?"
"Gue masih harus disini Mir. Banyak pengarahan yang harus kami terima juga dari coach. Lagi pula kan kita tuan rumah jadi mungkin akan banyak tugas juga"
"Jadi lo ga bisa ngantar kita dong"
"Maafin gue. Gapapa kan Sel" Seli mengangguk menanggapi kalimat Vito.
"kamu pulangnya kapan?"
"Besok sepertinya udah bisa pulang Sel"
"Ya udah. Besok kami bakal kesini lagi. Besok kan minggu"
"Iya boleh"
"Ya udah kami duluan pulang ya Vito. Nanti keburu Malam juga. Lo juga ditunggu tuh. Banyak yang mau foto bareng sama lo" Mira menunjuk dengan menggerakkan dagunya kedepan.
"Kaya nya lo benar" Vito melihat ke arah tersebut.
"kalian hati hati ya. Gue antar deh sampe depan"
"Ga usah juga gapapa kok. Kamu ditunggu tuh."
"Mereka ga penting Sel"
"Mereka penting juga. Gue langsung pulang ya. Gue bakal rindu saat saat seperti ini. Saat saat gue bisa menyaksikan lo secara langsung. Gue harap gue bisa menyaksikan lo kaya gini lagi"
__ADS_1
Beberapa hari terakhir memang setiap ucapan dan tindakan Seli sangat aneh. Tapi itulah yang dimanakan dengan pertanda yang tidak disadari oleh orang orang disekitar