Please Come Back

Please Come Back
~27~


__ADS_3

Abrian sudah pulang dari olimpiade nya. Dia juara dua olimpiade tingkat provinsi. Itu diumumkan di mading yang Seli baca tadi pagi. Sedangkan hans, dia juga sudah pulang kemarin pagi. Dia berjanji akan membawa Seli jalan jalan ke kampusnya kalau dia ada waktu.


Seperti beberapa hari lalu, Abrian sudah menunggu Seli di depan kelasnya. Seli yang baru keluar dari kelasnya disambut senyuman dari Abrian.


"selamat kak" Seli tersenyum tipis


"makasih ya. karena semangat dari kamu aku bisa menang" Seli hanya mengangguk menanggapi kalimat Abrian.


"gimana ulang tahun kamu sel?"


"ya begitulah"


"maaf ya sel. aku pergi waktu kamu ulang tahun"


"iya gapapa kak"


"Makasih banyak ya"


"untuk apa?"


"kamu udah maafin aku"


Seli hanya membalas dengan senyuman.


***


Seli sudah bersiap siap. Dia hendak pergi ke perpustakaan kota. Rasanya sudah lama sekali dia tidak mengunjungi tempat itu. Tempat tenang dengan bau buku yang menyenangkan. Dia sendiri. tidak ada Mira, Abrian ataupun Vito.


Senang sekali rasanya bisa memilih buku yang begitu banyak. Juga bisa memilih buku yang akan dipinjam. Buku yang mungkin tidak ada di pasaran. Banyak novel juga yang bisa dipilih disini. Novel yang paling Seli suka bergendre fantasi dan misteri seperti detektif. Kalau dipikir pikir aneh sekali seleranya. Dia menyukai 2 gendre yang saling bertolak belakang. Fantasi tentang dunia hayalan sedangkan detektif menggunakan logika.

__ADS_1


Seli sudah menghabiskan banyak waktu di tempat itu. Tanpa sadar sekarang sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sedikit. Dia tersadar karena ponselnya bergetar. Memang bagi kutu buku, waktu terasa sangat cepat berjalan. Padahal dia juga tidak sadar kalau dia sudah membaca banyak buku.


"halo" Seli keluar dari perpustakaan. Di dalam perpustakaan tidak boleh mengeluarkan suara


"Kamu dimana? kenapa belum pulang?"


"bentar lagi mbak masih di perpus nih"


"jangan bentar bentar lagi deh. Pulang sekatang aja. udah malam nih?"


"malam?" Melihat kearah jam tangan yang melingkar angun di tangan kirinya


"Astaga sudah pukul 7 malam. Iya iya mbak. Seli pulang sekarang. kirain masih jam 5 sore"


"dasar kamu."


Seli menutup telfonnya kemudian langsung bergegas pulang. dia bahkan tidak jadi memimjam buku apa pun karena baru tersadar kalau hari sudah malam.


Tapi sialnya di luar hujan. Seli berkali kali mendengus kesal. kenapa pula turun hujan ketika dia hendak pulang. Seharusnya hujan menunggu sampai dia sampai di rumah. Seli mondar mandir ke sana kemari. Dia tidak membawa payung karena sedari tadi cerah dan yang lebih mengesalkan lagi, tidak ada satu pun taksi yang lewat. dia kembali mendengus kesal. Sial sekali nasibnya hari.


waktu cepat berjalan. Sudah 10 menit Seli menunggu taksi tapi tak ada yang lewat. Kemana semua taksi saat dibutuhkan seperti ini? jarak rumah Seli dengan perpustakaan memang bisa dijalani. Tapi siapa yang akan mau menjalaninya di bawah hujan deras ini? tanpa payung atau pun jaket? Kekesalan Seli bertambah.


Tak guna juga jika dia menghubungi mbak Citra. mbak citra tidak bisa membawa mobil. Dia juga biasanya berbelanja pakai angkot atau taksi. Lalu, siapa lagi yang bisa dia mintai? Abrian? Tidak mungkin rumahnya jauh dari sini. Mira? tidak mungkin juga. Dia hanya bisa mengendarai sepeda motor. Itu sama saja dengan Seli berlari lari pulang ke rumah. Vito? apalagi. Itu tidak mungkin sekali. Vito orang yang menakutkan. Lagipula untuk apa meminta bantuan pada si es batu itu


Lima menit berjalan sia sia. Seli masih mondar mandir di depan perpustakaan. Tak tau harus melakukan apa. Dia semakin kesal karena sekarang sudah hampir jam setelah delapan. Ayolah taksi datang. Seli tidak mungkin bermalam disitu.


lagi lagi lima menitnya terbuang sia sia. Seli belum menemukan solusi untuk masalah ini. Sebentar lagi perpustakaan ini akan tutup juga. Dan tidak mungkin jika dia berdiri sendiri disana terus. Pikirkan solusinya. Tapi otaknya semakin tak tau harus melakukan apa.


Dia kembali mendengus kesal. kali ini lebih keras terdengar dengusannya. Kemudian menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Dia segera mengikat rambut hitam panjangnya. Ikat rambutnya selalu dia taruh di pergelangan tangannya. Seakan akan itu Gelang. Itu untuk berjaga jaga jika dia ingin mengikat rambutnya seperti sekarang ini. Seli sudah mengikat rambut panjangnya kemudian mengangkat celana panjangnya agar tidak basah. Sekali lagi dia menghela nafas sambil masih memegangi celana panjangnya ke atas.

__ADS_1


Tak ada cara lain. Kalau pun dia menunggu, itu sangat tidak pasti. bagaimana kalau taksi tidak ada yang lewat hingga jam delapan malam? Maka dari itu dia memutuskan untuk berlari di bawah hujan menuju rumahnya. Tangannya yang memegangi celana membuatnya lebih leluasa berlari karena celana panjangnya tidak mengganggu larinya lagi. Sepatunya sudah terasa berat karena diisi dengan air. Tapi mau bagaimana lagi? dia tidak mungkin membuka sepatunya kemudian berlari dengan kaki telanjang. Bagaimana kalau ada sesuatu di jalanan. Paku misalnya. Itu bukanlah pilihan yang tepat.


Seli masih berlari di bawah hujan dengan rambut sudah mulai acak acakan. mungkin karena hujan leluasa mengguyur rambut Seli yang tak tertutup apa apa. Seli tidak peduli dengan penampilannya. Dia harus segara sampai di rumah. Lagi pula siapa yang akan peduli dengan penampilan jika berada diposisinya saat ini?


Saat Seli masih terus berlari, disaat itulah sebuah taksi melewatinya. Dia berteriak teriak memanggil taksi itu. tapi suara tidak terdengar karena hujan. Dia menghentakkan kaki nya karena kesal. Tapi kalau pun dia menunggu taksi lain mungkin saja tidak ada lagi taksi yang lewat.


Seli masih kesal dengan hari sialnya ini. Dia masih berdiri diposisinya sampai sebuah mobil melaju dengan sangat kencang mengguyurnya dengan becek dijalanan. Seli sempurna sudah seperti gelandangan sekarang. baju dan celananya kotor. rambut acak acakan basah dan wajahnya terlihat bercak bercak becek.


Seli mengepalkan tangan kanannya kuat kuat di depan dada. Sedangkan tangan kirinya masih memegang celananya. Sungguh hari ini bukan hari yang baik. Dia sangat kesal dengan hari ini. Tapi dia segera menghela nafas dan menurunkan kepalan tangannya. Pada siapa dia akan marah? pada aspal? pada hujan? atau pada genangan becek? itu bukan ide yang baik. bisa bisa dia dikira orang gila beneran dengan penampilan seperti itu.


Tanpa membuang buang waktu terlalu lama, Seli kembali berlari hingga ia sampai di depan teras rumahnya. membunyikan bel setelah membuka sepatunya. mbak citra membuka pintu saat bel berbunyi. Setelah pintu dibuka, terlihat seli bak gelandangan berdiri di ambang pintu. Dia berdiri dengan Tangan kanannya masih memegang sepasang sepatu.


"astaga? kamu sel?" mbak citra menahan tawanya. Terlihat Seli datar menatapnya mungkin bercampur kesal


"mbak kira gelandangan" kali ini mbak citra sudah tidak bisa menahan tawanya.


"mbak, Seli punya pertanyaan deh sama mbak"


"ada apa sel" Mbak Citra baru saja selesai tertawa


"simpel banget mbak" Seli masih menatap mbak citra datar.


"apaan sel?"


"kenapa mbak ga datang aja ke perpus, bawa dua payung? mbak kan tau jam segini susah nyari taksi atau angkot. Setidaknya kan seli ga sampai kaya gini walaupun harus jalan juga pulangnya"


Mbak citra kembali tertawa "oh iya ya. ga kepikiran sel"


Seli menjatuhkan sepatunya mendengar jawaban mbak citra. Dia menatap kesal ke mbak citra

__ADS_1


__ADS_2