Please Come Back

Please Come Back
~35~


__ADS_3

"lo udah mulai bisa ngelupain kak Abrian?" Tanya Mira. Mereka sedang di kantin dekat kelas mereka sepulang sekolah


"kayanya belum Mir"


"sampai kapan?"


"gue juga ga tau"


"tapi dia ga peduli loh. Malah udah dekat sama banyak cowo"


"terserah dia Mir. Gue bisa apa?"


"lo ga kepikir mau nyari yang lain?"


"ah malas. Gue takut di selingkuhi lagi"


"lo trauma ya."


"kayanya gitu. Itu pertama kalinya gue punya pacar tapi ternyata itu bukan awal yang baik"


"ah pacaran sama playboy mah gitu"


"gue harap kalau lo punya pacar nanti, lo ga kaya gue."


"hah... mudah mudah gitu sih Mir. Gue ada deket sih sama seseorang. Yapi gue belum memikirkan untuk lebih jauh"


"lo dekat sama siapa?"


"nanti juga lo tau deh. Nanti gue cerita tau tau nya ga jadian. kan gue malu"


"duh dia lama banget sih. Entar lo terlambat latihan lagi. Bisa bisa lo dihukum senior lo"


"emangnya lo janjian sama dia"


"iya lah mir. ngapain gue nunggu dia kalau ga janjian"


"emangnya kalian mau kemana?"


"pacaran" Seli tersenyum.


"Serius? dia pacar baru lo?


"ya engga lah Mir. gue sama dia temenan. Masa secepat itu gue dapat pacar baru"


"jadi kalian mau kemana?"


"gue mau ikut dia ke tempat latihannya."


"Gue penasaran lah kenapa dia bisa se jago itu" Bisik Seli.


"terus kalau dia jago lo mau apa? lo mau nyaingi dia?"


"ah ga asik benar lo. Ya gue penasaran aja Mir"


Vito datang ke kantin. Dan duduk di bangku yang kosong di dekat Seli dan Mira tanpa mengatakan apa pun

__ADS_1


"eh udah datang nih. Yuk bareng. Lo di aula kan. dekat parkiran."


Mereka beranjak berdiri dan berjalan bersama sama.


"lo cocok sama dia Sel." Bisik Mira ke telinga Seli


"apa lo bilang?" Seli hendak mencubit Mira.


"hahaha bye bye Sel. Jaga Seli ya Vito" Mira malah lebih dahulu berlari menghindar dan melambai kepada Seli dan Vito. Seli tidak sempat mencubitnya.


"lo lama nunggu sel?" Vito tidak melihatnya


"lama lah. lo darimana sih?"


"Ada urusan Sel"


"urusan apa sih? gue ga boleh tau ya?"


"gue piket kelas sel"


"Ya elah apaan sih lo. piket kelas doang. harisnya lo bilang. Sel, gue piket kelas. Gue kira lo ada urusan apa gitu" Vito tersenyum tipis lantas naik ke atas mobil.


"kita kemana dulu?"


"tapi ke tempat latihan lo"


"lo lapar kaya kemarin?"


"lapar sih"


"boleh" Mobil Vito segera melaju.


"gue latihan kan malam. Sorenya gue lari di taman kota. masih lama banget malam"


"terus gimana dong? jangan buat gue kecewa nih"


"lo sih semangat banget."


"ya iyalah. mana tau gue nemu cogan disana" Seli terkekeh. Sedangkan Vito mendengus kesal.


"emangnya lo diizinin pulang malam?"


"Ga tau juga sih. Tapi mbak Citra ngizinin kalau peegi sama orang yang tepat."


"lain kali aja deh. Entar mbak Citra marah lo pulang lama"


"ah padahal gue udah berharap bisa ketemu cogan" Seli pura pura sedih.


"cogan aja di otak lo"


"Gue punya ide. Kita makan di rumah gue aja"


"kenapa di rumah lo?"


"yah biar kita ajak mbak Citra sekalian lah. Mbak Citra mah ribet kalo ditinggal sendiri. Sekalian gue ganti baju."

__ADS_1


"jadi, kita kerumah lo nih? udah mau sampai soalnya. komplek mawar kan"


"yap. jadi habis dari rumah gue, kita ke rumah lo. Lo juga perlu ganti baju kan. Kan yang latihan lo"


"hah... ribet sekali yah"


Mereka sampai di halaman rumah Seli. Vito segera memarkirkan mobilnya. Seli menekan bel dan pintu dibuka oleh mbak Citra.


"udah pulang sel? Loh ini siapa?"


"Tuan muda Vito mbak" Seli terkekeh kemudian langsung masuk dan menuju kamarnya.


"mbak kita makan disini ya" Seli teriak dari dalam kamarnya.


"dasar anak itu. bukannya tamunya disuruh masuk malah ninggalin"


"Silahkan masuk Vito" Mbak Citra mempersilahkan. Vito mengikuti nya ke dapur dan duduk di meja makan.


"kamu teman satu sekolah Seli?" Vito mengangguk.


"sepertinya aku pernah dengar nama Vito. jangan jangan kamu Vito anak pak Edward?" Vito mengangguk lagi.


"wah pantas saja Seli bilang kamu guan muda Vito. Aku kira anak itu bercanda lagi"


"mbak, aku mau ikut ke tempat latihannya Vito. Tapi mau ngajak mbak sekalian." Seli berjalan ke dapur. Dia sudah mengenakan baju kaos dan celana training. Seperti orang yang ingin latihan. Baju dan celana itu terlihat cantik sekali dikenakan oleh Seli.


"mbak ikut?"


"iya mbak. Malam minggu nih. Sekali sekali keluar mbak" Seli terkekeh meraih kursi di dekat Vito lalu duduk.


"mbak udah makan? makan bareng yuk. Habis ini kita ke rumah Vito."


mereka makan siang bersama kemudian berangkat ke rumah Vito. Vito segera masuk dan berganti pakaian.


"mbak kayanya ga usah ikut deh Sel."


"loh kenapa mbak?"


"sepertinya lebih asik bercerita di sini sama yang lain daripada ikut kalian olahraga" mbak Citra tersenyum sambil melihat mbak leni dan yang lain.


"ah mbak mah berubah ubah pikiran terus. Ya udah deh kita berdua aja yang berangkat" Kata Seli melihat Vito berjalan ke arahnya. Sepertinya dia juga udah siap.


"berangkat dulu ya mbak" Seli pamitan. Vito dan Seli berjalan beriringan.


"mereka cocok banget ga sih?" para mbak mbak membahas Vito dan Seli yang terlihat cocok.


Mereka naik ke mobil dan mobil yang Vito kendarai melaju dengan cepat. Sehingga Mereka cepat sampai di taman kota. Vito dan Seli mulai berlari. Seli lebih sering berhenti sedangkan Vito tetap fokus berlari. Keringatnya mulai bercucuran. Bajunya mulai basah. jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Mereka segera pergi meninggalkan taman dan berangkat menuju tempat latihan Vito. Hari ini jadwal latihan taekwondonya.


Sampai di tempat itu, Vito langsung mengganti pakaiannya dengan Dobok (baju latihan taekwondo) Dia terlihat lebih tampan memakai itu. Di luar dugaan ternyata cogan ditempat itu lebih banyak dari perkiraan Seli. Tapi tetap saja Vito yang paling memancarkan ketampanannya disana.


Seli mulai bercakap cakap dengan sabeum (pelatih taekwondo) di tempat latihan Vito pelatihnya bukan hanya satu. Dan Seli sedang bercakap cakap dengan sanim (kepala pelatih) Awalnya dia mengira Seli adalah pacar Vito. Tapi seli langsung menjelaskan kalau dia teman Vito. Dia juga menceritakan kalau Vito adalah murid kebanggaannya. Tapi sayangnya Vito sudah tak mau berlaga di arena. Sanim terlihat sedih. Padahal jika dia mau, dia bisa menjuarai Taekwondo Internasional lagi. Kemampuannya tak bisa diragukan lagi. Seli mengangguk aguk mendengarkan penjelasan dan cerita dari pelatih Vito. Ternyata Vito memang orang yang sangat baik. Vito yang sedang berlatih sesekali melirik Seli yang sedang bercakap cakap dan sesekali tertawa.


Vito selesai latihan dan menghampiri Seli yang masih bercerita dengan pelatih Vito. Seli segera berdiri dan memberika Vito minum. Sedari tadi mereka duduk di atas tumpukan matras keras. Vito menerimanya. menegukknya, kemudian kembali memberikannya pada Seli. Dia segera pergi untuk mengganti pakaiannya. Selesai Vito mengganti pakaiannya, Seli menerima dobok itu dan melipatnya lantas memasukkannya ke dalam tas Vito.


Vito segera memberi hormat kepada Pelatihnya sedangkan Seli minta izin pulang. Pelatih Vito sangat baik. Mereka bahkan senang Seli datang. Pelatihnya menyarankan agar Seli sering sering berkunjung kesana.

__ADS_1


Sesampainya di Rumah Vito, Srli menjemput mbak Citra sekalian berpamitan dengan mbak Leni dan yang lainnya. Sebenarnya mbak Citra tidak mau pulang. Dia bilang lebih asik disana banyak teman. Tapi Seli tetap mengajaknya pulang. Dia takut mbak Leni menceritakan tentang luka lukanya waktu itu walau Seli sudah memberi tahu terlebih dahulu agar mereka tidak memberitahu siapa pun. Tapi hanya untuk berjaga jaga saja. Siapa tau mbak leni keceplosan.


__ADS_2