
Vito sudah memasuki masa Karantina sebelum dia mengikuti kejuaraan yang semakin dekat itu. bahkan Tinggal hitung hari lagi. Rasanya sangat tidak sabar menunggu saat itu. Sedangkan Seli, dia tetap sekolah walau tidak akan bertemu dengan Vito sampai pertandingan itu berlangsung.
Saat ini bel istirahat sudah berbunyi terlihat Rendy keluar kelas bersama temannya yang bernama Brimus. Mereka hendak ke kantin
"Ren, gua lupa"
"lupa apa?"
"Gua lupa ngasi tau lo kalau gua mau ketemu sama pacar gua. Duh maaf ya. lu bisa ke kantin sendiri kan"
"Oh ya udah" Rendy menjawab singkat kemudian mengangkat tangan lalu melanjutkan perjalanannya menuju kantin.
"kantin cukup sepi ternyata" Batin Rendy sesampainya dia di kantin
"Ren" Bahu Rendy ditepuk dari belakang kemudian sekitarnya dipenuhi dengan gerombolan abang kelas.
"lho bang Mario? sekolah disini juga? kenapa? tumben"
"lu memang ga pernah bisa ya ngikuti peringatan gue"
"peringatan? peringatan yang mana bang?"
"Udah gue bilang kan. Sejak SMP pun udah gue bilang sama lu. Lu jangan deket deket sama adek gue"
"tapi sampe sekarang kan kami masih temenan bang"
"Terserah lo temenan atau engga. Tapi ga boleh lebih dari itu. Dan lo ga seharusnya bawa adek gua ke tempat berbahaya"
"tempat berbahaya? gua ga pernah bawa Seli ketempat berbahaya"
"Dan, ga seharusnya lo jadi orang ketiga didalam hubungannya"
"Gua makin bingung deh. sebenarnya kita ngebahas apa sih? kenapa cuma gue yang ga ngerti"
"Lu banyak alasan. pura pura ga ngerti pula"
"Tapi gua memang bingung arah pembicaraan lu. Lu sebenarnya bahas apa sih?"
"Okay lu ngebahas Seli. terus, kenapa lu bilang gua bawa dia ketempat berbahaya? dan kenapa pula lo bilang gue orang ketiga dalam hubungannya? lo waras?"
"Banyak bacot lu. Seret dia ke toilet dari belakang! sekarang!" Mario memerintah.
"gua salah apa?"
"apa apaan ini?"
.
__ADS_1
.
.
"Bruuuk"
Sesampainya di toilet pria, Mario menendang Rendy yang diseret tadi hingga jatuh ke lantai.
"Lu kenapa? emangnya gua buat apa? lo gila ya"
"dari dulu juga gue udah ngasih peringat sama lu karena gue tau lu bukan orang baik baik. Dan itu terbukti kan. Lu bawa adek gue ke tempat berbahaya. Tapi lu ngelanggar peringatan gue. Jadi terima saja akibatnya"
"Tapi gue memang ga tau apa apa. lu yang tiba tiba bertindak semau lu. Gue bahkan ga tau apa permasalahannya"
"oke biar gue jelaskan kembali semuanya"
"Yang pertama, lu udah berani bawa adek gue ke tempat berbahaya. Cafe dan tempat perjudian. Lu kira gue ga tau kalau tempat itu sarang perjudian?"
"lu salah paham gu-"
"Sssttt gue belum selesai. Lu boleh ngomong kalau gue udah selesai menjelaskan semuanya. karena lo yang minta supaya gue menjelaskan ini kembali"
"Tapi lu memang salah paham" Rendy berteriak sambil mendongak. Dia masih terduduk di lantai toilet.
"bungkam mulutnya" Perintah Mario lagi.
"Lo tau kan Vito dan Seli itu pasangan yang cocok. Vito bisa melindungi Seli. Seli juga bahagia sama Vito. Orang kaya lo ga akan bisa menjaga Seli. Bela diri saja tidak punya. lo pikir olahraga lu cukup untuk jaga dia?"
"lo cerdik juga ya. Ngajak Seli jalan ke tempat berbahaya disaat Vito sedang cedera."
"Sebenarnya lo beruntung, yang liat itu gua bukan Vito. kalau Vito tau mungkin lo sudah masuk rumah sakit sekarang ini"
"okay gue selesai. lo mau ngomong apa? lepas bungkamannya."
"hah... hah..."nafas Rendy naik turun
"Adek lo yang ngajak gue ke tempat itu bangsat!"
"Brukk"
"Diam! berani berani nya lu menyalahkan adik sepupu gua. Gue kenal dia dan dia ga akan berbuat seperti itu."
"Tapi itu benar. Gue sama sekali ga mengajak dia ke tempat berbahaya. Gue juga bukan orang ketiga dihubungannya"
"Gue memang suka sama adek lu sejak SMP dan lu juga tau itu. Tapi bukan berarti karena perasaan gue yang ga terbalas, gua akan merusak hubungannya. GUA GA SEBANGSAT ITU BRENGSEK"
"Lagi pula sampai saat ini gue masih bersahabat sama dia. Gue juga iklas asal dia bahagia walau itu bukan bersama gua. Itu bukan salah Gua!"
__ADS_1
"Banyak bacot lu. Gue ga butuh pembelaan dari lu. Gue liat sendiri lu sama adek gua di cafe itu. Adek gue ga pernah mau pergi ke tempat seperti itu. lalu siapa lagi yang harus gue tuduh kalau bukan lu? cuma lu yang sama dia saat itu"
"Teeeettt...."
"Sebenarnya gue belum puas tapi bel masuk sudah berbunyi. Kita akan bertemu dilain waktu" Mario meninggalkan Rendy yang masih pada posisinya diatas lantai toilet.
"Sial!" Rendy mengepalkan tangannya. Kemudian berdiri perlahan dan menghadap kaca toilet. Dia terlihat berantakan. Dia mengusap ujung bibir nya yang sedikit berdarah kemudian merapikan penampilannya dan bergegas masuk ke kelas.
Rendy sampai di kelas dan duduk di bangkunya dengan kasar. Saat dia sudah duduk di bangkunya, barulah Brimus datang dan duduk di bangku sebelahnya.
"lu kenapa?"
"Dihajar Mario"
"kenapa? lu cari masalah sama dia?"
"Gua ga cari masalah. Semuanya salah paham"
"emangnya masalahnya apa?"
"Dia nuduh gue bawa Seli ke temlat berbahaya dan jadi orang ketiga dalam hubungannya"
"Gue yakin sih itu ga benar. Lu bukan orang yang kaya gitu"
"Waktu itu gue diajak oleh Seli untuk membantu mencari adeknya Mira yang kabur dan kami mencarinya di cafe hóngè."
"Mereka salah paham soal itu. Dia kira gue ngajak Seli jalan terua bawa dia ke cafe itu. Padahal gue sendiri sebelumnya ga tau kalo cafe itu tempat perjudian. Gua juga baru kali itu ke tempat itu."
"Wah gila sih. terus lo mau ngapain sekarang?"
"Gue juga ga tau mau ngapain. Gue juga ga tau mau menjelaskan gimana ke si Brengsek itu"
"Gimana kalau lu ceritain aja sama Seli dia pasti bisa bantu"
"engga. belum sekarang. Ini bukan waktu yang tepat. Lagi pula ini masalah lelaki."
"Terus apa rencana lu selanjutnya?"
"Yang kaya gue bilang tadi. Gue ga punya remcana apa pun. lagi pula, mungkin besok dia udah lupa. Ini kan bukan masalah besar. Lebih baik ga usah diperpanjang. Biar ga makin rumit."
"Terserah lu dah. Gue cuma mastiin aja. Dan lu juga seharusnya punya ancang ancang gimana kalau dia balik lagi nyerang lu. Lu harus pikirin ke situ juga dong"
"Ah udahlah ga penting. Lu main bola ga nanti sore? Gue tunggu di lapangan ya"
"Selamat siang anak anak. Maaf ibu sedikit terlambat
Percakapan mereka terhenti setelah guru bahasa Indonesia masuk ke kelas untuk melanjutkan pembelajaran Siang ini.
__ADS_1