Please Come Back

Please Come Back
~51~


__ADS_3

Seli masih belum memiliki nafsu makan. Malam ini dia hanya makan sepotong roti dan segelas jus. Itu pun tak habis dia makan. Seharian sepulang sekolah dia tidak keluar kamar. Bahkan mbak Citra pun tak tau kalau dia sedang sakit. Jus ini Seli yang membuatnya tadi. kebetulan hari ini jadwal belanja keperluan bulanan. Dia biasa pulang agak kemalaman. Jadi mbak citra tidak di rumah. Seli tak harus dipaksa untuk makan.


tanpa makan minum dan istirahat yang cukup, membuat kondisi Seli semakin memburuk. Tapi dia sama sekali tak peduli dengan kondisinya. Dia lebih mengkhawatirkan Rendy yang menjadi korban karenanya.


Seli masuk ke kamarnya meninggalkan piring roti dan gelas Jusnya tadi disana. Rasanya malas sekali mengembalikannya ke dapur. Sedari tadi dia berada di balkon kamarnya menatap bintang bintang. Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Sudah berjam jam dia duduk di balkon kamarnya. Entah mengapa dia tiba tiba merasa betah duduk di sofa balkonnya.


Dia beranjak ke atas kasurnya. menarik selimut, tidur menyamping dan mulai memejamkan mata. Tapi, matanya kembali terbuka. Entah karena sesak didada atau rasa rindu atau karena mengkhawatirkan Rendy, tiba tiba di menangis. sungguh membingungkan sikapnya ini. Dia tegar saat di luar tapi saat malam hari sendiri di kamar, dia menumpahkan segala kesedihannya.


Hatinya terasa sesak. Tak ada kah hari dimana dia bisa tenang? kenapa setiap masalah datang berbondong bondong padanya? Apa dia sedang dihukum oleh Tuhan? Atau hanya dicobai? Tak bisa dijelaskan dengan kata kata bagaimana sesak didadanya ini. Semua terlihat menyedihkan Sekali.


Seli perlahan membuka matanya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Tadi pagi sepertinya dia ketiduran setelah menangis dan menumpahkan segala kesedihannya.


Kondisinya sekarang sangat buruk. beberapa hari ini dia kurang istirahat dan juga tak menjaga pola makannya membuat kondisinya berkali kali lipat lebih buruk. Tapi, dia harus tetap sekolah. Dia harus memastikan kalau Rendy baik baik saja.


"Sel, lo tau ga tampang lo udah kaya orang mau koma tau ga"


"mmm" jawab Seli kemudian meletakkan kepalanya di Meja. Rasanya pusing sekali. Seakan ingin meledak.


"Lo pulang aja Sel"


"Engga usah Mir"


"Lo mau dirawat lagi di rumah sakit?"


"enggalah"


"Ya udah. lo pulang aja terus istirahat"


"Engga Mir. Makasih"


"Ayuk Sel. Lo ga boleh terus kaya gini. Jangan keras kepala Sel. Gue mohon. Lo ga perlu terlalu memikirkan orang lain Sel"


"Tapi ini menyangkut gue Mir"


"Udah Sel. lo harus pulang. Ayo cepat"


"Engga sel"


"Pulang Seli!" Mira meninggikan suaranya.


"Engga Mir. maaf gue harus mastiin Rendy baik baik saja. Gue masih kuat kok"


"Ya udah deh kita ke uks kalau gitu"

__ADS_1


"Ga usah sel. Gue masih sanggup"


"terserah lo deh.


Seli dan Mira tidak menyadari kalau sedari tadi Rendy mengamati mereka dari kaca jendela kelas dengan diam diam. Dia kecewa dengan dirinya yang sudah membuat Seli kehilangan senyumnya. Dia bahkan membuat Seli sakit. Rasanya hatinya sakit melihat semua ini.


Pria macam apa dia ini membuat wanita yang dia sukai sejak 5 tahun lalu sakit dan berubah 180 derajat. Dia selalu menyalahkan dirinya karena telah membuat Seli seperti itu. Dia memang bodoh. Pria yang tak berguna.


seli mengubah posisi kepalanya yang tadinya menghadap Mira sekarang menghadap jendela Kelas. Dia masih meletakkan Kepalanya di meja. Dia melihat Rendy yang masih berdiri di luar jendela. Pandangan mereka bertemu.


Seli melihat Rendy lamat lamat sedangkan Remdy tersenyum manis padanya. Setelah melihatnya lamat lamat Seli mengangkat tangannya pelan. Tanpa tersenyum sedikit pun. Tidak tinggi. hanya sejajar meja yang dia letaki kepalanya. Rendy membalas dengan mengangkat tangan juga kemudian langsung pergi meninggalkannya.


Hati Rendy sungguh sangat hancur melihat ini semua. Dia duduk di bangku yang berada di bawah pohon. Merenungi mengapa semuanya harus terjadi. Mengapa harus melibatkan Seli. Mengapa semuanya harus terjadi.


Pulang sekolah, Seli diantar oleh Mira. Mira takut Seli kenapa napa di jalan jadi dia memutuskan untuk mengantar Seli sampai rumah. Sesampainya di rumah, rasanya semuanya sudah tak tertahankan. Kepalanya semakin terasa sakit.


Dia sudah berganti pakaian dengan pakaian rumah. Dan hendak tidur siang. Kepalanya sangat sakit dan rasanya dia ngantuk berat karena beberapa hari terakhir dia kurang istirahat. Seli pun naik ke kasurnya dan menarik selimut hendak tidur. Tapi tiba tiba ponselnya berbunyi.


"halo" Jawab Seli tanpa melihat siapa yang menelfonnya. Dia saat ini sedang dalam posisi duduk bersandar.


"Halo ini Aku sel"


"Vito?"


"Mmm aku... aku baik baik saja"


"Tapi suara kamu kedengaran tidak baik baik saja. Kamu sakit?"


"Engga. Cuma kurng minum aja"


"maaf Vito. aku ga bermaksud bohong sama kamu. Tapi, kamu harus fokus latihan tanpa perlu mengkhawatirkan aku yang sedang sakit"


"oh aku kira kamu sakit"


"....." Sama sekali tak ada jawaban dari Seli. Padahal ini pertama kalinya mereka bicara setelah Vito masuk karantina.


"Sel?"


"Sel?"


"Sel kamu masih disana?"


"Iya. Iya aku masih disini Vito. Maaf" Air mata Seli mulai mengalir. Entah mengapa hati sangat rapuh beberapa hari belakangan ini. Sikap yang aneh juga.

__ADS_1


"Kamu kenapa sel?"


"aku gapapa"


"Tapi suara kamu beda"


"....."


"kaya... kaya suara orang yang nangis? kamu kenapa sel? kamu baik baik aja kan"


"iya aku baik baik aja Vito. Kamu latihan aja yang bagus. jangan khawatirkan aku. Aku bisa menjaga diri hiks"


"Gimana aku ga khawatir sel? Kamu tiba tiba nangis tanpa sebab gini. Gimana aku bisa tenang?"


"aku ga kenapa napa Vito. hiks. aku... aku cuma rindu saja sama kamu"


"Hah?"


"Maaf udah buat kamu khawatir"


"Maaf ya Sel. Aku ninggalin kamu sementara waktu untuk karantina ini. Tapi aku berjanji ga akan mengecewakan kamu"


"Ku harap juga begitu. Persembahkan Mendali emas"


"Iya sel aku akan berusaha sebaik baiknya untuk kamu"


"Vito, kamu harus tau aku sayang sama kamu. Kalau kita harus berpisah, aku harap jika kita diberikan waktu lagi untuk hidup, di kehidupan selanjutnya, aku ingin kamu tetap jadi pasanganku. hiks. Aku sayang sama kamu."


"haha kamu bilang gitu seakan mau pergi jauh aja" Jawab Vito bercanda.


"Aku serius Vito"


"Ya udah. Iya aku percaya. waktu aku telfonan udah hampir habis. kamu jangan nangis lagi ya. Sebentar lagi kita akan ketemu. Aku nelfon kamu cuma minta doa. Semoga aku bisa bertanding dengan baik. Nanti malam Jadwal pertandingan sudah keluar. Aku belum tau kapan aku akan tanding. Nanti aku ga bisa hubungi kamu kapan aku tanding. Tapi, Sabeum Mark pasti bisa menghubungi kamu."


"Iya Aku tau."


"aku tutup ya"


"a...aku... ya udah kamu tutup aja"


"sampai jumpa sewaktu pertandingan sel. Jaga kesehatan kamu"


"iya makasih Vito"

__ADS_1


__ADS_2