
"Sel" Yang dipanggil malah terus berjalan seakan tidak mendengar panggilan dari siapa pun
"Sel. kamu kenapa sih?" kata orang itu lagi menarik tangan Seli. Tapi Seli memegang tangan orang itu dan melepaskannya pelan tanpa melihat orangnya"
"Sel. kamu kenapa jawab dong Sel." kata orang itu yang kini berada beberapa langkah di belakang Seli. Seli berhenti sejenak, kemudian menghela nafas dan berbalik
"kak, Aku mohon kakak jangan ikuti atau pun menghubungi aku lagi kak aku mohon jauhi aku." kata Seli kemudian sedikit membungkuk lalu berbalik badan dan meninggalkan Zohan masih berdiri bingung sambil mencoba mencerna kata kata Seli.
"Sel"
"aku bilang jangan ikuti aku" kata Seli sinis
"loh aku salah apa Sel?"
Seli yang merasa ada yang berbeda segera berbalik badan.
"loh kak Abrian?" kata Seli melihat ke kanan dan kiri Abrian mana tau memang ada Zohan bersamanya
"kamu kenapa sih sel? kenapa tiba tiba bilang gitu ke aku?"
"oh engga kak sepertinya salah orang"
"kamu udah sembuh?" tanya Abrian sambil meletakkan telapak tangan di kening Seli.
"masih panas loh kening kamu. memang ga separah kemarin sih. kamu mau aku antar ke uks?"
"engga kak makasih. kayanya aku masuk kelas aja deh."
"ya udah yuk aku antar"
"ga usah kak. tinggal beberapa langkah lagi loh kelas aku" kata Seli menolak halus
__ADS_1
"ah gapapa lah. kan tanggung jawab aku juga srbagai osis. Sebelum pemilihan osis yang baru aku masih bertanggung jawab dong" kata Abrian mulai berjalan. Seli hanya bisa mengikuti perkataan Abrian. lagi pula kata kata itu sempurna tak bisa ditolak. Abrian dan Seli disambut oleh Mira yang baru saja keluar kelas
"jaga dia ya Mir."
"loh kak Abrian"
"kalau sakitnya memburuk, langsung bawa ke uks aja ga perlu tanya persetujuannya lagi. Dia keras kepala. pasti nolak" kata Abrian Tersenyum
"siap kak" jawab Mira.
Mira dan Abrian tetanggaan. makanya mereka sudah saling mengenal satu sama lain
"lo pacaran sama kak Abrian?"
"engga. kenapa lo bilang gitu?"
"soalnya banyak yang bilang gitu sih. awalnya sih gue ga percaya tapi setelah gue liat tadi, gue jadi ngerasa memang benar. makanya gue tanya."
"lo mau pulang? kan udah gue bilang kalau lo cari masalah sama gue, tiap hari lo ga akan merasa tenang. ya ga terlepas dari hari ini lah." kata Melly mengungkung Seli di tembok belakang sekolah
"cepat bilang sama gue apa salah lo" kata Melly melepas kungkungannya kemudian melipat tangan di depan dada menatap Seli tajam
"karena aku dekat dengan kak Zohan?"
"lagi. bukan itu intinya"
"karena kak Zohan suka sama aku."
"LAGI!" kata Melly geram kemudian menampar pipi Seli yang menggunakan masker
"cuma itu kesalahan yang aku buat kak"
__ADS_1
"KARENA LO NGEREBUT ZOHAN DARI GUE!" itu kesalahan lo"
"tapi aku ga ngerebut kak Zohan sama srkali kak. aku juga ga tau kalau kakak masih cinta sama kak Zohan"
"Plaaak" Melly menampar Seli dengan amarah membara. kemudian mencengkeram kerah baju Selu.
"Dengar ya brengsek! lo ga perlu sok polos dan merasa ga bersalah kaya gini. masih cinta? lo bilang gue masih cinta? lo buat gue seakan ga punya harga diri sebagai cewe yang masih mengejar cowo yang udah putusin gue. LO BUAT GUE SEAKAN GA PUNYA HARGA DIRI" kata Melly berteriak sambil marah
"kalau kakak memang ga cinta lagi sama kak Zohan ga mungkin kakak melakukan semua ini samaku. aku salah apa? emangnya salah kak Zohan suka sama aku? emangnya salah kalau kak Zohan suka aku?! aku salah dimana? apa orang lain ga boleh suka dan nembak aku? kenapa aku yang dibully? Aku kasian sama kakak yang hanya bisa menindas orang lemah karena dibuang oleh orang yang kakak sayang"
"BERANI SEKALI KAU CEWE BRENGSEK!!!" teriak Melly menjambak rambut Seli, menampar nampar pipinya dan entah apalagi yang dia lakukan yang pasti dia terlihat seperti orang yang kesurupan melakukan semua kekerasan itu pada Seli.
"kakak iri padaku kan" kata Seli yang sekarang sangat berantakan. rambutnya beranyakan seperti rambut yang tak pernah disisir. seragamnya juga berantakan ada yang masuk dan keluar. pipinya yang memarnya belum sembuh ditambah memar lagi dan hidungnya mimisan.
"kau hah hah hah" kata Melly terengah engah
"Kau, BERANI SEKALI LANCANG PADAKU. kau harus tau. ini bukan akhir. masih banyak hari yang akan aku gunakan untuk menindasmu. Yang pasti akan lebih menyakitkan karena kau sekatang sudah berani padaku" kata Melly meninggalkan Seli masih di tempatnya
Seli menyesal. dia sungguh sangat menyesal. seharusnya dia tidak mengeluarkan semua unek unek selama ini begitu saja. Semua kata kata yang dia keluarkan malah membuat Melly semakin marah padanya. Dia menatap dirinya yang menyedihkan di kaca toilet. besok besok entah apalagi yang akan Melly lakukan padanya.
Seli merapikan pakaian dan rambutnya di toilet, mengelap hidungnya yang mimisan. dia tidak mungkin pergi dengan penampilan seperti itu. Dia akan Ke taman seperti biasa. Melihat Senja yang hangat dan menenangkan hati.
Dia sudah sampai di Taman yang sama dan bangku yang sama. tidak ada senja yang hangat. hanya ada gumpalan awan hitam yang menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Dia tetap duduk di bangkunya tanpa peduli hujan akan segera turun.
air matanya mulai mengalir. Sungguh tak dapat diekspresikan bagaimana suasana hatinya saat ini. Tepat saat air matanya jatuh ke tanah, saat itu pula hujan mulai turun. seakan alam ikut merasakan kesedihan yang Seli alami. Alam menemaninya menangis saat ini. alam ingin menghilangkan jejak air mata Seli.
Seli semakin tak kuat menahan semua hingga ia menangis tersedu sedu. memang menangis kala hujan adalah yang terbaik. tidak akan ada yang tau kalau kau menangis saat hujan turun. Dia mengeluarkan semua yang dia tahan dan simpan saat itu. bagaimana pun hujan akan menghilangkan jejaknya. Dia membiarkan hujan membasahi tubuhnya tak peduli kalau dia masih sakit.
Dia benar benar tak tau lagi harus melakukan apa. Saat ini, mungkin inilah yang terbaik untuk mengeluarkan segala hal yang menyakitkan yang dia simpan selama ini. Dia menangis sekuat kuatnya hanya supaya hatinya bisa sedikit lega. sampai akhirnya dia merasa kelelahan dan pingsan di bangku itu dengan hujan yang masih turun dengan derasnya.
"tolong hentikan. aku tak sanggup lagi. aku menyerah. terlalu berat. tolong hentikan" gumam Seli pelan kemudian dia pingsan
__ADS_1
Dia lelah dan tak sanggup lagi untuk semua ini pundaknya sudah terlalu berat memikul semua ini sendiri. seakan tubuhnya remuk oleh beban berat di pundaknya itu