
"Kamu udah nunggu lama?" Seli bertanya pada lelaki yang sedang berdiri membelakanginya. Mereka sedang berada di parkiran sekolah saat ini
"Baru 5 menit"
"Kamu nyuruh ketemuan disini supaya bisa pulang bareng kan. Udah lama juga kita ga pulang bareng. Ya udah yuk" Seli mulai berjalan.
"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu sel" lelaki itu mulai serius.
"Kenapa Vito?"
"Tentang Rendy."
"Kenapa dengan rendy?"
"Selama Aku di karantina, apa yang kamu lakukan sama dia?"
"Maksud kamu?"
"Kata orang orang kalian sering bareng bahkan ketemu di cafe. Apa kamu selingku-"
"Kamu mulai ga percaya sama aku? Sampai kamu tega nuduh aku kaya gitu. Sama seperti kak Abrian. Apa semua laki laki seperti itu?
"Tapi, aku juga ngeliat kamu dan Rendy saat itu. Aku nuduh kamu bukan tanpa alasan kaya kak Abrian Sel. Tolong jangan samakan kami.
"Kamu yakin?"
"Iya. Waktu aku ke rumah sakit untuk cek cederaku. Dan saat itu aku tau apa alasan kamu tidak datang menjenguk ku. Aku hanya mencari waktu yang tepat untuk menanyakan hal ini sama kamu."
"Aku terkadang heran dengan hubungan kita Vito. Baru kemarin kita bersenang senang atas kemenangan kamu. Sekarang kamu malah membahas masalah itu. Kamu memang benar benar ga bisa percaya padaku Vito" Seli mulai berkaca kaca.
"Kamu kenapa nangis? Apa kata kataku salah?"
"Kamu bahkan ga tau apa yang aku lalui saat kamu tidak ada disini Vito. Kamu tidak tau apa apa. Kenapa kamu tidak bisa percaya saja padaku? Aku cuma mau kamu percaya samaku Vito"
__ADS_1
"Aku cuma butuh kejelasan dari kamu sel. Orang orang juga bilang kamu ada di uks sama Rendy saat pertandinganku. Karena itu kamu ga bisa datang di pertandinganku waktu itu?"
"Tolong Vito jangan menambah bebanku. Aku capek"
"Aku juga capek kalau kamu ga bisa jujur sama aku Sel."
"Apa kali ini juga kamu akan membentakku seperti kemarin?" Seli melemas. kepalanya terasa sakit sekali. Bagimana pun pikiran beberapa hari lalu membuatnya sakit dan saat dia belum sembuh Vito bahkan menanyakan hal itu. Bagaimana dia akan menjelaskannya? Sekeliling mulai terlihat buram dan bergetar.
"Aku sudah berjanji ga akan pernah membentak kamu lagi sel.
Seli memeluk Vito dan menangis tanpa suara di dada bidangnya itu.
"Maafkan aku Vito aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Aku masih butuh istirahat. Kepalaku sakit sekali."
"Temui aku di taman kota saat senja. Aku akan menjelaskan semuanya saat kita bertemu disana nanti. Dan ini adalah yang terakhir kalinya semua ini akan terjadi. Aku janji. Setelah ini tidak akan ada salah paham lagi" Ucap Seli setelah melepas pelukannya.
"Sekarang biarkan aku pulang sendiri. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri. Jangan mengikutiku. Tunggu saja aku di taman. aku akan menemuimu untuk terakhir kalinya disana" Seli mengusap air matanya. Entah apa maksud dari "terakhir kalinya" itu. Tapi Seli memang benar benar tidak menyadari ucapannya itu. Dan itu merupakan pertanda yang tidak disadari oleh siapa pun. Siapa pun yang hendak pergi, selalu memiliki pertanda. Entah itu dari sifat anehnya atau dari kata kata yang dia ucapkan tanpa sadar.
Dasar Bodoh. mengapa beberapa hari belakangan ini dia banyak sekali menangis? Memang dia sangat aneh. Tapi itu adalah pertanda yang tidak disadari oleh orang di sekitar. Sifat aneh Seli beberapa hari terakhir merupakan pertanda untuk sesuatu yang akan terjadi.
Seli segera tidur selesai menulis surat dan berganti baju. Dia bahkan tak makan siang karena sudah tak tahan lagi. Kepalanya sangat pusing. Dia harus istirahat sebentar sebelum menemui Vito nanti sore.
.
.
.
Alaram membangunkan Seli. Sudah pukul 4 sore kurang sedikit. Dia harus segera menuju taman kota untuk menemui Vito.
"Sel, kamu sakit?"
"engga mbak. Cuma sakit kepala sedikit"
__ADS_1
"Tapi kamu lemas banget Sel. Nampaknya jalan juga sempoyongan"
"gapapa mbak. Seli ga kenapa napa kok"
"kamu mau kemana sih"
"Sebentar aja kok mbak. Cuma ngasih ini ke Vito terus langsung pulang"
"Ya udah hubungi mbak kalau terjadi sesuatu ya"
"iya mbak. Pergi dulu ya"
Seli segera bergegas pergi. Istirahat tadi siang bahkan tidak berdampak baik untuk tubuhnya. kondisinya tak membaik Dia bahkan terlihat lebih buruk dari sebelumnya.
Saat ini Seli sudah berada di perempatan jalan. Dia akan menyebrang dan menunggu bus di seberang sana. Dia tidak mungkin berjalan dengan kondisi yang buruk seperti itu ke taman kota kan.
Seli mulai menyebrang. Tapi sakit kepalanya terasa semakin bergejolak. pandangan buram dan sekitarnya terlihat berputar bahkan langkahnya pun sempoyongan. Seli memaksakan menyebrang dengan kondisi seperti itu tanpa dia sadari sebuah mobil kencang melaju ke arahnya. Mobil itu mengebut. jadi sama sekali tak melihat ada yang sedang menyebrang di depan sana.
"brrruuukk" Tubuh Seli terlempar beberapa meter dari mobil itu. kepalanya yang membentur kaca mobil mengeluarkan darah yang kian membanjiri tempatnya terlempar. Mobil yang menabraknya sudah berusaha untuk ngerem. Tapi laju mobilnya terlalu kencang. Seli sudah tak sadarkan diri. Tapi tangannya masih mengenggam erat surat untuk Vito.
Orang orang mulai berkumpul dan mulai mencari pertolongan sebelum darah Seli habis keluar. Luka yang paling parah adalah kepalanya. Orang orang ricuh membicakan Seli sampai Ambulan datang menjemputnya dan membawa ke rumah sakit terdekat.
Sedangkan Vito, dia sudah sejak 2 jam lalu menunggu Seli di taman kota. Senja bahkan hampir habis. Dia melirik jam. Sudah hampir jam 6 sore. Kenapa seli belum datang juga? Apa dia lupa?
Panggilan keluar. Tidak diangkat
panggilan keluar. Tidak diangkat
Panggilan keluar. Tidak diangkat.
Tidak seperti biasanya. Seli tak pernah seperti itu. Dia tak pernah mengabaikan telfon dari siapa pun. Semarah itu kah Seli hingga dia mengabaikan telfon Vito? Tapi Vito masih tetap menunggu. Dia yakin Seli pasti akan datang menemuinya. Dia akan tetap di tempatnya.
Sekarang hari sudah mulai gelap. Tapi Seli tak kunjung datang menemuinya di taman. Vito menghela nafas. Tak biasanya Seli seperti itu. Bahkan Vito sudah menelfonnya lebih dari sepuluh kali. Tapi tetap saja tak ada jawaban.
__ADS_1
Vito sama sekali tak menyadari bahwa sesuatu yang buruk sudah terjadi. Sesuatu yang akan membuatnya menyesal dan merasa bersalah hingga kapan pun.
***bentar lagi tamat nih. kira kira happy ending atau sad ending ya?***