
Lapangan sekolah sudah mulai sepi. Hanya orang orang yang bermain basket yang terlihat menggunakan lapangan. Selain pemain basket, ada dua orang lagi yang sedang berdiri menghadap ke lapangan basket. mereka bersebelahan. Masih menggunakan seragam sekolah lengkap.
setelah beberapa menit memperhatikan pemain basket tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, seorang dari mereka memutuskan membuka percakapan.
"Kemarin kamu sibuk?"
"ya aku sibuk. Bisa dibilang gitu lah"
"Tapi tumben banget ya kamu ga angkat telfonku atau membalas pesanku"
"....." Seli tak menjawab
"emangnya kemarin kamu kemana?"
"aku...aku ke..... mmm aku ke...."
"cafe hóngè de kan"
Seli melihat kearah Vito. "ka...kamu tau?"
"Emangnya kenapa? kamu punya rahasia ya?"
"Engga."
"terus, kamu ngapain ke tempat seperti itu? kamu ga tau itu tempat perjudian?" Vito mulai meninggikan suaranya.
"Aku...aku tau" Seli menurunkan pandangannya tak berani menatap Vito
"terus? kenapa kamu kesana?"
"karena aku ada urusan kesana" Jawab Seli pelan
"URUSAN APA KAMU KE TEMPAT BERBAHAYA?!" Vito membentak Seli. Seli yang kaget seketika menunduk
"Jawab!"
Seli mulai menggigit bibirnya menahan tangis. Dia tak tau harus mengatakan atau menjelaskan apa. Vito sudah terlanjur marah padanya.
"Urusan apa Seli? Urusan apa kamu ke tempat berhahaya?"
"....."
"kamu bahkan pernah dikejar kejar preman sel! kamu ga takut? gimana kalau kamu masuk rumah sakit lagi Ha?
__ADS_1
"Aku khawatir sama kamu. Tapi kamu sendiri bahkan ga khawatir sama diri kamu sendiri"
"Aku sama sekali ga menyembunyikan apa pun dari kamu Vito"
"Kamu bahkan ga ngasih tau urusan kamu kesana. Itu yang kamu bilang tidak menyembunyikan apa pun?"
"Percaya saja Vito aku ga akan melakukan hal yang tidak baik"
"Tapi itu memang ga baik Seli.
"URUSAN APA? APA AKU GA BOLEH TAU? HAH? kenapa kamu ga bilang sama aku kalau kamu ada urusan kesana? Aku bisa nemani kamu kan. Jangan jangan kamu memang udah ga menganggap aku lagi. Iya? HAH?
"besok aku akan memasuki masa karantina. Mungkin kamu akan bahagia jauh dari aku."
"aku sama sekali tidak berharap meninggalkanmu untuk karantina dalam keadaan seperti ini. Tapi aku memang benar benar tidak berguna"
"ITU KARENA KAMU CEDERA VITO" Seli balas membentak. air mata yang sempat dia tahan tadi perlahan mulai mengalir.
"Kamu masih butuh istirahat. Kamu masih dalam proses penyembuhan. Aku cuma mau kamu cepat sembuh. Sabeum Mark berharap banyak sama kamu. Dan dia juga berharap aku bisa meyakinkan kamu. Aku ga mau hanya karena nemani aku kemana mana kamu ga bisa ikut tanding. Cederamu harus sembuh Vito!" Seli meninggikan suaranya sambil menangis sedangkan Vito mematung mendengar penjelasan Seli. Ini semua ternyata hanya salah paham.
"Bisa ga sih kamu tidak mendahulukan egomu itu? kamu bahkan tak tau bagaimana perasaanku Vito. AKU CUMA MAU KAMU PULIH DARI CEDERA. Kamu bahkan berpikir yang lain. Tapi sekarang aku udah terlanjur kecewa sama kamu. Selamat masuk Karantina. Jaga kesehatanmu" Seli pergi sambil mengusap air matanya.
Vito mengusap wajahnya. Dia sangat menyesal. apa yang dia lakukan? mengapa dia membentak Seli seperti itu. Dia jelas jelas merasa bersalah. Apa bedanya dia dengan Abrian yang juga membentak Seli. Seharusnya dia bertanya tanpa melibatkan ego nya. Padahal Seli adalah orang yang paling dia sayangi
"Brruuukkk"
"Sel, kamu ga kenapa napa sel? kamu baik baik saja kan"
beberapa pemain basket mulai berlarian ke arah Seli.
"KURANG AJARRR!!! BERANI SEKALI KAU MEMBUATNYA SEPERTI ITU" Vito meneriaki orang yang tak sengaja melempar bola basket ke arah Seli. Vito tak terkendali. Dia marah sekali. Walaupun saat ini Seli marah padanya, prinsipnya tetap tidak berubah. dia tetap sayang pada Seli dan akan tetap melindunginya. Seli segera memegang tangan Vito. Menahan agar dia tidak melakukan hal buruk. Saat ini Bukanlah waktu yang tepat untuk bertarung.
"kamu baik baik aja sel?"
"....."
"Sel maafin aku kamu baik baik saja kan. please jawab Sel"
Seli kembali menangis "Ga seharusnya kamu membentak aku Vito. kalau begitu apa bedanya kamu dengan kak Abrian. Apa? Apa bedanya? kalian sama sama suka nyakitin hati perempuan."
"Sel, Maafkan aku. Aku ga akan kaya gitu lagi. Maaf aku terbawa emosi. Aku ga bermaksud buat kamu takut sama sekali. Maafin aku sel"
"....."
__ADS_1
"lutut kamu berdarah sel. Ayo kita obati"
"aku baik baik saja" Seli bangkit berdiri sambil menepuk nepuk seragamnya kemudian mengusap air matanya lalu pergi. Vito tidak mencegahnya. Tapi dia mengikuti Seli diam diam. Seli pergi ke toilet dan menangis tersedu sedu disana. Itu jelas jelas tangisan kekecewaan. Vito mendengarkannya dengan perasaan tak tega sekaligus rasa bersalah yang mendalam.
.
.
.
"kenapa kamu belum pulang?" Seli bertanya tanpa melihat Vito yang berada di parkiran. Dia baru saja dari toilet membersihkan wajah dan lututnya yang tadi berdarah karena tergores semen lapangan. Tanpa aba aba Vito langsung memeluk Seli. Bagaimana bisa dia membuat Seli menangis tersedu sedu seperti tadi? Dia sungguh merasa bersalah.
"Aku ga mungkin ninggalin kamu sendiri disini kan"
"Maafin aku. Aku benar benar minta maaf. Aku ga bermaksud membentak kamu. Itu ga akan pernah kuulangi. Aku sayang sama kamu sel"
"Please maafkan aku. Gimana bisa aku pergi karantina dengan keadaan seperti ini? aku ga akan pergi kalau kamu ga maafin aku"
"Entah kenapa aku ga bisa."
"Entah kenapa aku ga bisa lama lama marah padamu" Seli melepaskan pelukan Vito.
Vito tersenyum "Itu karena aku ganteng"
"Dan untuk masalah tadi-"
"Aku sudah tidak ingin membahasnya sel" Vito memotong kalimat Seli.
"Tapi kamu harus tau. Supaya tidak ada salah paham lagi diantara kita"
"oke. kamu yang minta"
"Adik Mira kabur dari rumah"
"terus gimana sekarang"
"udah ketemu. itu yang harus kami urus. Ternyata adiknya ada di cafe itu. aku cuma bantuin Mira. Ga ada hal buruk yang aku lakuin dan aku juga ga pernah berpikir akan melakukan hal yang buruk.Kamu percaya deh samaku"
"iya sel aku percaya. Maafin aku ya udah membentak kamu kaya tadi. Tapi satu hal yang harus kamu tau, aku sayang banget sama kamu. Aku ga akan pernah terima kalau kamu ninggalin aku. Please jangan tinggalin aku. Cuma itu permohonanku Sel. Dan aku juga ga akan ninggalin kamu."
"Kalau misalnya aku pergi?"
"aku akan tetap nunggu kamu kembali. Tapi, kamu ga berencana pergi kan sel"
__ADS_1
"Mana tau aja kan suatu saat aku akan pergi haha" Seli bercanda.
"Jangan Sel. Jangan pernah pergi jangan pernah tinggalkan aku sendiri"