Please Come Back

Please Come Back
~34~


__ADS_3

mereka lengang sejenak. Mata Vito merah tapi dia tidak menangis sama sekali. Seli merasa bersalah pada Vito yang ternyata berniat baik. Sepertinya dia memang terlalu menganggap buruk Vito. Pertama kali dia bertemu dengan Vito, dia menganggap Vito bagian dari Melly dan sekarang dia menganggap Vito bruntal. Padahal niat nya baik. Dia hanya ingin membela yang lemah. Membela wanita yang tersakiti.


"ma...maafin gue. Gue memang wanita bodoh. Seharusnya gue ga berprasangka buruk sama lo. Lagi pula lo udah pernah nolong gue hisa bisa nya gue ga ngingat bantuan lo itu dan memilih untuk curiga" Kata Seli memecah lengang. Dia merasa sangat bersalah.


"lo ga perlu minta maaf. Seharusnya gue lebih cepat menjelaskan ini"


Suasananya kembali lengang mereka asik dengan pikiran masing masing. Lagipula, sepertinya tak ada lagi hal yang perlu dibahas.


"lo belum mau pulang? gue udah lapar" Seli kembali ceria. Dia bertanya sambil tersenyum kepada Vito. Rasa takutnya sudah hilang setelah Vito menjelaskan kesalah pahamannya tadi.


"ayolah. gue tau warung pangsit yang enak dekat sini" Seli berdiri dan menarik tangan Vito. Mereka menuju parkiran. Vito hanya menurut. Cowo cuek itu memang malas sekali mengeluarkan suara. Seakan setiap kata yang keluar dari mulutnya itu sangat berharga. Mereka sampai di parkiran dan segera naik ke mobil Vito.


"duh gue lapar banget" Seli memegang perutnya. Vito tersenyum tipis dibalik tangan kanan yang menutupi sebagian mulutnya. mungkin ini pertama kalinya dia tersenyum.


"Lo suka makan pangsit?" Vito mengangkat Bahunya tanda tak tau


"lo ga pernah makan pangsit?" Vito tidak menanggapi pertanyaan Seli.


"cuek banget sih lo." Seli mendengus kesal. kemudian diam beberapa saat.


"eh, sekarang kan kita udah temenan nih. udah ga ada salah paham lagi. Jadi, dipertemanan kita ini, gue ada peraturan buat lo." Kata Seli kembali ceria.


"ga asik banget sih lo. tanya kek apa peraturannya" Seli kembali kesal.


"Apa?" Vito bertanya singkat


"peraturan pertama, lo ga boleh cuek sama gue. perturan kedua, kalau lo cuek, kembali ke peraturan pertama. Gue teman lo satu satunya kan" Seli tersenyum ke arah Vito. melupakan jengkelnya.


"lo boleh cuek sama siapa saja kecuali gue. Karena pertemanan kita punya aturan" Vito belum menjawab


"setuju ga? harus setuju nih. kalau engga gue ga mau temenan sama lo" Ancam Seli sambil memegang kenop pintu. Berjaga jaga kalau Vito tidak setuju. Fia akan langsung membuka pintu mobil dan pergi. Vito membalas dengan mengangguk.


"oh iya di depan nanti belok kanan ke gang itu ya. warung pangsitnya dalam gang itu"


"warung pangsitnya seperti apa?"


"yah kaya warung warung biasa lah. masa lo ga tau?"


Vito masih menatap Seli bingung. warung pangsit itu seperti apa? Seli melihat ke arah Vito yang bingung.

__ADS_1


"lo ga tau?" Vito menggeleng.


"lo ga pernah makan di luar? di warung contohnya?" Vito menggeleng lagi.


"gue lupa lo kan tuan muda haha"


"sekali pun lo ga pernah makan di warung?" Vito menggeleng.


"kenapa?"


"gue ga punya temen"


"sendiri kan bisa"


"lo mau gue kaya orang bodoh makan sendiri? lagipula kalau sendiri kan lebih mending makan masakan mbak Leni di rumah"


"lo tenang aja. Setelah ini gue akan ngajak lo makan ke tempat tempat yang enak di kota lo ini"


"Jadi kalau nanti gue udah kembali ke kota gue ga tinggal disini lagi, lo bisa tau tempat tempat yang enak di pinggir jalan."


"pinggir jalan?"


"itu tuh kita udah sampai" seli menunjuk ke depan. Vito segera memarkirkan mobilnya. Mereka masuk dan Seli memesan 2 mangkuk pangsit kuah.


"lo lupa ya. lo ga boleh cuek sama gue. Gue kan jadi kaya ngomong sama patung" Seli duduk sambil kesal. Dia duduk menghadap jalanan. Sedangkan Vito duduk membelakangi jalanan menghadap Seli.


"gue kira warung bakal berantakan. Ternyata bersih. bangunannya juga lebuh bagus dari yang gue bayangkan." Vito melihat sekitar.


"makanya jangan di rumah aja lo. lo harus sering sering ke luar. lo kan laki laki. Masa laki laki sepanjang hari di rumah."


"gue keluar rumah cuma sorenya. Pas latihan. Lagipula gue keluar bareng siapa? bareng lo?"


"boleh aja sih. kalau lo teraktir" Seli nyengir.


"lo latihan apa?" Tanya Seli lagi.


"taekwondo dan Boxing"


"di taman?"

__ADS_1


"di taman cuma lari aja. latihannya bukan di taman. Ada tempat latihan didalam ruangan. Gue latihan malam hari. Tempatnya ga jauh dari rumah gue."


"udah lama lo ikut bela diri?"


"taekwondo sejak gue Sd. kalau Boxing masih baru gabung. Gue ikut waktu SMA ini.


"lo ga kepengan lagi ikut turnamen kaya waktu itu?"


"entahlah. Gue belum tau. Emang nya lo mau nonton gue di arena?"


"kenapa engga."


"lo ga takut?"


"kan bertarung di arena pakai pengaman dan peraturan"


Seli meneguk segelas air putih sambil melihat ke arah Vito setelah menyelesaikan kalimatnya tadi. Seli kembali meletakkan gelasnya dan tak sengaja melihat ke arah depan warung pangsit. Ekspresinya langsung berubah. Di tau siapa itu. Vito yang melihat perubahan Ekspresi Seli ikut melihat kearah mata Seli melihat. Itu Abrian. Dia bersama seorang wanita tapi bukan Echi. Mereka terlihat akrab. Apa itu pacar barunya? Vito kembali melihat Seli setelah menatap Abrian beberapa detik.


"Sel, kayanya gue bakal lebih nyaman deh kalo duduk di situ. Lo mau tukarang posisi sama gue?" Vito langsung berdiri walu belum ada persetujuan dari Seli. Seli ikut berdiri. Mereka berpindah posisi. Sekarang Seli membelakangi mereka. Pangsit pesanan mereka datang. Vito mendekatkan satu mangkuk ke hadapan Seli.


"lo mau makan atau mau sedih sih datang ke sini? tadi lo bilang lapar."


Seli melihat Vito. Tidak seharusnya dia bersikap seperti itu di depan Vito. Seli tersenyum ke arah Vito


"yuk makan"


Mereka sudah selesai makan. Kini mereka sudah di atas mobil Vito. Sepertinya Seli masih memikirkan yang tadi. Tak seperti berangkat, pulangnya mereka lebih banyak diam. Akhirnya Vito membuka percakapan.


"lo masih berhubungan ga sama Melly?"


"enggak. Emang kenapa?"


"gapapa gue cuma mastiin aja. jangan jangan mereka ganggu lo lagi"


"Gue senang cuek lo berkurang. Walau memang masih bisa dibilang cuek sih"


"lo ga boleh cuek terus dong. Nanti lo susah dapat pacar. Lo mau jomblo seumur hidup? haha"


"nanti kalau lo udah ga cuek lagi sama gue, lo bisa belajar ke tahap selanjutnya. Lo belajar supaya ga cuek sama orang lain. Gue yakin deh. Pasti banyak cewek yang ngejar ngejar lo."

__ADS_1


__ADS_2