Please Come Back

Please Come Back
~37~


__ADS_3

Mobil hitam milik Vito melaju membelah jalanan.


"lo kenapa ninggalin gue sih kemarin?"


"masih aja dibahas"


"lo kan belum kasih tau alasannya sama gue"


"emangnya lo perlu alasan gue?"


"hah ribet lo"


"hahaha"


"bentar lagi ujian kenaikan kelas."


"terus?"


"kita harus mempersiapkan diri dong. lo mau ga naik kelas?"


"bareng lo sih gue mau"


"serius lo?"


"ya enggalah. siapa juga yang mau tinggal kelas"


"ngomong ngomong Osis kita yang baru punya peraturan yang baru ya"


"pindah pindah topik terus lo"


"ya iyalah. kalau gue nunggu lo nyari topik ga akan muncul juga kan. masa kita seharian diam aja. Kaya orang berantam aja"


"kita udah sampai nih. Ayo turun" Seli melihat sekitar.


Seli dan Vito segera turun dari mobil kemudian berjalan sedikit. Tak jauh dari mobilnya parkir


"bersih banget"


"memang ada petugas yang rawat sel." Jawab Vito masih berjalan. Dia mendahului Seli. Tepatnya membawa jalan.


"ini makam kakak gue sel" Seli melihat ke arah Vito kemudian berlari kecil menghampiri vito yang sudah berada di samping makam.

__ADS_1


"lo pasti rindu sama kakak lo ya"


"sangat. gue rindu banget sama dia sel. Tapi gue udah nemu orang yang sifatnya mirip kaya dia sel"


"oh ya? siapa?"


"elo sel" Vito tersenyum ke arah Seli


"bisa aja lo" balas Seli tersenyum sambil meletakkan setangkai bunga mawar di atas makam kakak Vito


"sayangnya kita kesini tanpa perencanaan. Jadi ga bawa bunga. Cuma ini satu satunya yang kita punya"


"makasih Sel. Kakak gue pasti senang lo ngeletakin bunga di tempatnya"


"lo sering ke tempat ini?"


"iya. tiap kali gue kangen sama dia. Atau tiap kali gue punya masalah. Kalau dia masih ada, gue pasti curhat ke dia. Tapi karena dia udah ga ada gue cuma bisa datang ke tempat ini kalau ada masalah. Ngadu ke kakak gue. Gue yakin dia masih tetap mendengar setiap curhat gue. Walau dia ga bisa ngasih semangat kaya dulu lagi gue yakin dari sana dia terus memperhatikan gue. Andai dia masih bisa disisi gue. Di dekat gue, menemani gue dewasa, mendengar setiap curhatan gue, menyemangati gue, gue pasti adik yang bahagia. Sampai srkarang bahkan gue ga bisa nerima semua ini. Tapi apa yang harus gue lakuin?"


"maaf gue curhat sama lo srl. Gue terbawa suasana"


Seli tersenyum "gapapa kali. kaya sama siapa aja"


"kita pulang sel?" Pertanyaan Vito dibalas anggukan Seli.Vito berjalan terlebih dahulu dan disusul oleh Seli dari belakang.


"lo kenapa Sel?" Vito segera membalikkan badan.


"ah gapapa kena kawat di pagar doang. Gue ga liat liat soalnya"


"lo yakin sel? berdarah loh"


"iya gapapa" Seli segera mengusap betisnya yang berdarah. Walaupun di usap masih terlihat darahnya kembali mengalir.


"lo masih sanggup jalan?"


"masih lah. masa engga. gue ga secemen itu juga kali" Seli mendahuli Vito menuju mobil. Sedangkan Vito masih memperhatikannya berjalan. Seli sudah sampai di dekat mobil Vito lalu melambai ke arah Vito srakan akan dia mengatakan "Tuh liat kan gue masih sanggup berjalan" Vito segera menyusulnya. Dia membuka Bagasi mobil dan mengeluarkan kotak p3k kecil. Kotak P3K itu selalu ada di mobilnya.


Vito segera membasahi sebuah kain lalu mengelap luka Seli perlahan. Darahnya terus menetes walau memang tak terlalu banyak yang keluar. tiap kali diusap darahnya krmbali keluar


"luka lo bisa infeksi kalau ga segera dibersihkan"


"wah lo udah cocok jadi dokter tuh"

__ADS_1


"bisa bisanya lo bercanda. lo mau darah lo habis keluar?"


"ya engga sih. Tapi lo tau ga, tindakan lo ini lebih mencolok daripada adegan di drama korea hahaha"


"sikap lo ini yang buat gue takut sel"


"kenapa?"


"karena dia (kakak Vito) dulunya juga bersikap kaya lo. Berusaha terlihat tegar dan kuat. Gue tau luka ini sakit Sel. Tapi lo memaksa diri lo tegar di depan orang lain. Sel jangan terlalu menyembunyikan luka fisik dan luka batin lo" Vito kembali berdiri. dia sudah membalut luka Seli.


"maaf gue. tapi sulit bagi gue untuk cerita sama siapa pun. Gue takut orang lain terbebani sama curhatan gue. Dan semenjak gue dihianati teman gue sendiri gue jafi lebih menutup tentang masalah gue. Gue takut gue bakal dihianatai lagi. Vito, mungkin lo ga seperti itu tapi gue masih butuh waktu untuk membuka diri tentang apa pun yang gue alami. Maafin gue Vito"


Mobil Vito kembali melaju membelah jalanan. Mereka hanya diam satu sama lain. Tak ada topik yang dibahas.


"*apa aku akan mengatakannya sekarang? Tapi bagaimana jika dia belum bisa melupakan Abrian?"


"Yapi apa salahnya mencoba kan? Tapi kalau dia menolak?"


"gue harus bilang apa? gue sama sekali ga berpengalaman?"


"duh gue harus gimana*?"


Dia sudah menyukai Seli sejak pertemuan pertama mereka di taman waktu itu. Dan dia ingin menyatakan perasaannya pada Seli hari ini. Tapi dia tak tau harus bagaimana. Dia sama sekali tak pernah melakukan ini sebelumnya. Dia sama sekali tak berpengalaman. Pikirannya dan hatinya juga saling bertentangan. Saat Dia hendak menyatakannya, otaknya selalu memberikan alasan alasan kepadanya. bagaimana jika begini? bagaimana jika begitu? harus mengatakan apa? Hah... Vito tak tau harus melakukan apa. Dia menggerutu sendiri


"lo kenapa?"


"hah apa? gu...gue? gue kenapa?"


"ya elah gue nanya lo kenapa lo malah nanya balik lo kenapa. mana gue tau lo kenapa. kalau gue tau ga akan gue tanya lo. Astaga"


"gu...gue gapapa"


"terus lo ngapain sampai menggerutu gitu"


"ya sebenarnya..."


Seli masih menunggu lanjutan ucapan Vito. Tapi Vito malah tak melanjutkan kata katanya


"Sebenarnya apa sih?"


"sebenarnya... mmm... sebenarnya.... eh rumah lo udah sampai nih. Sebenarnya gue cuma mau bilang kalau lo harus hati hati supaya ga kaya tadi kena kawat lagi"

__ADS_1


"ah kirain apaan. Gue duluan ya" Seli keluar dari Mobil Vito, kemudian melampai hingga mobil berlalu dari halaman rumahnya. Dia meninggalkan Vito yang lagi lagi menggerutu. Dia gagal melakukannya. Sepertinya dia butuh latihan. Tapi pada siapa? Mbak Leni? tidak mungkin. Mbak Leni pasti ingin tau sekali kenapa dia menanyakan itu. Lalu pada siapa? Sepertinya Vito akan membaca banyak artikel mengenai ini mulai sekarang. Dia harus cepat. Lelaki yang menyukai Seli banyak. Dan tidak menutup kemungkinan Seli akan menerima pria yang menyukainya itu kan. Vito menghela nafas mencoba lebih rilex dan kembali fokus berkendara. Dia bisa menyatalannya besok. Dia akan latihan malam ini. Rasanya lucu sekali dia harus berlatih untuk mrnyatakan perasaannya pada seorang wanita. Apa semua laki laki seperti itu?


__ADS_2