
Vito sudah kembali ke rumah sakit. Dia sudah berganti pakaian. Sebelumnya pakaiannya bau keringat dan kotor setelah berkelahi di gang itu. Dia tak sempat makan malam. Setelah mandi dan berganti pakaian dia langsung kembali ke rumah sakit.
Mbak Leni dan Mbak Citra terlihat sudah tidur di sofa karena Seli belum juga sadar. Sekuat apa pukulan mereka hingga sampai saat ini Seli belum sadarkan diri? Apa banyak darah yang keluar? apa otaknya akan baik baik saja? Vito segera menepis semua pikiran pikiran buruk itu. Seli pasti baik baik saja.
Vito yang sedari tadi mondar mandir akhirnya memutuskan duduk di sofa sebelah mbak Leni dan mbak citra. Dia bahkan tidak bisa tidur. Vito memejamkan matanya sejenak kemudian kembali berdiri mendekati kasur Seli. Belum ada pergerakan. Wajah Seli terlihat pucat. Vito menghela nafas kemudian kembali berjalan dan duduk di sofa.
Vito terbangun saat mendengar mbak Seli dan mbak Citra membuka pintu. Sepertinya mereka baru dari luar membeli sesuatu. Entah sejak kapan Vito tertidur di sofa itu. Dia merapikan duduknya menatap ranjang Seli berharap Seli sudah sadar. ternyata sampai sekarang Seli masih belum sadar.
"tuan muda mau makan roti? dari kemarin malam ga makan" tanya mbak Leni. Vito hanya menggeleng
"pulanglah. Aku dan mbak Leni bisa menunggu Seli sadar. kami akan segera mengabari jika Seli sudah siuman" kata mbak Citra. Vito masih menggelang.
Vito berdiri dan berjalan mendekati ranjang Seli. Dia duduk di bangku samping ranjang itu. memperhatikan Seli. Dia melihat sedikit pergerakan, menyaksikan Seli perlahan membuka matanya.
Seli menatap ke arah langit langit ruangannya. Bukan langit langit yang dia kenali. kemudian dia mengalihkan pandangannya ke kanan. disitu terlihat Vito dengan ekspresi lega yang menutupi wajah lelahnya.
"Sel, kamu gapapa? apa masih ada yang sakit?"
Seli tak menjawab. Dia hanya menatap datar Vito.
"Sel? kamu baik baik aja kan"
"ka...kamu siapa?
Vito membulatkan matanya. Dia terkejut mendengarnya. Apa Seli-?
"Aku Vito sel"
Vi... Vito?"
Vito menghela nafas kemudian berdiri lalu pergi meninggalkan Seli. Mbak citra mendekati Seli perlahan.
"aku siapa?"
"apaan sih mbak citra"
"hah?" mbak citra dan mbak leni kaget mendengar jawaban Seli.
"kamu ga lupa?"
"ya enggalah mbak"
"terus Vito?"
"itu supaya dia pulang mbak. wajahnya terlihat lelah sekali."
"iya memang sejak kamu di rumah sakit dia tidak makan tidur hanya sebentar. itu pun karena ketiduran. Dia cemas sekali" jawab mbak Citra
"apa masih ada yang sakit?"
"engga mbak"
__ADS_1
"kata dokter juga memang semuanya baik baik saja. kamu pingsan cukup lama cuma karena butuh istirahat"
"Nanti siang sepertinya sudah bisa pulang dan istirahat di rumah"
Siangnya Seli dibawa pulang. Dia bukan tipe orang yang mudah sakit. kekebalan tubuh masih bagus. Ini adalah kali pertamanya masuk rumah sakit. Dan tak butuh waktu lama dia sudah diizinkan pulang karena kondisinya yang membaik. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dia hanya butuh istirahat saja.
Vito sudah sampai di rumah. Duduk di sofa sambil meletakkan kepalanya di dinding sampingnya. Dia galau seperti baru putus cinta. Dia lelah sampai akhirnya dia tertidur disana hingga sore.
Perlahan Seli mendekati Vito. Dia melihat Vito tertidur di sofa sejenak kemudian mengambil srlimut dan menyelimutinya. Tapi Vito malah terbangun dan samar samar melihat Seli.
"Seli?" tatapannya masih buram.
"ah ga mungkin. apa aku berhalusinasi? Seli kan ga ingat aku siapa"
"benar kok"
"hah?" Vito membulatkan matanya
"kamu beneran Seli?" Vito kembali mengucek matanya
"iya Vito"
"ha? ka...kamu, kamu ingat aku?"
"hahaha emangnya siapa juga yang lupa?" Seli tertawa kemudian berjalan meninggalkan Vito yang masih kaget.
"Sel, kamu beneran ga lupa kan" Vito menyusulnya.
"Terus yang tadi di rumah sakit?"
"selamat kamu kena prank. Prank ku keren kan. sukses besar haha"
"hah apa apaan ini. sama sekali ga lucu. bisa bisanya kamu ngeprank disaat baru sadar dari pingsan. Bisa bisanya otakmu memikirkan itu"
"aku kan anak yang cerdas tak perlu diragukan lagi haha"
"Tapi baguslah aku bisa lega srkarang"
"aku pikir kamu akan marah tapi ternyata engga. sepertinya aku sangat beruntung"
"kamu baru sembuh kan. makanya aku ga marah"
"Non Seli, gimana? mau makan malam disini?" mbak Leni bertanya saat Vito dan Seli sudah sampai di ruang tengah
"Ga usah mbak makasih. Aku masih harus banyak istirahat jadi mau pulang aja deh. Yuk mbak Citra"
"ya udah deh hati hati ya. Bye" kata mbak Leni
"yuk, aku antar"
"Seli mengangguk dan segera masuk ke mobil Vito bersama mbak Citra"
__ADS_1
"Besok kamu belum masuk sekolah ya"
"mbak besok masuk srkolah atau engga?"
"jangan dulu deh Sel. biar pulih total"
"tuh. mbak citra belum izinin"
***
keesokan harinya, teman teman sekelas Seli datang menjenguknya termasuk Rendy dan Mira. Mereka yang pulang paling terakhir.
"Jadi lo pacarnya Vito ya"
Seli hanya membalas kalimat Rendy dengan anggukan.
"ohh" jawab Rendy terlihat sedikit kecewa. bagaimana tidak? dia menyukai Seli sejak Smp dan saat ini dia malah memilih pindah sekolah agar bisa bertemu dengan Seli lagi. Ternyata sia sia. cinta bertepuk sebelah tangan. Seli malah sudah memiliki kekasih. Dia terlambat. Walau Rendy dari dulu hanya menyimpan perasaannya, sebenarnya dia ingin Seli mengetahuinya. Tapi, mendengar langsung Seli sudah punya orang lain, sepertinya dia tidak akan mengatakan apa apa. Dia akan mengubur rasa itu dalam dalam tanpa diketahui oleh Seli.
"Terus kepala lo gimana?" sambung Mira
" ya ga gimana gimana sih. udah baik. lagian kemaren itu darahnya ga banyak keluar kok"
"tapi dengar dengar lo pingsan lama"
"Gue juga ga tau sih. mungkin tubuh gue terkejut haha kan ini kali pertama gue sampe harus dirawat di rumah sakit"
"Tapi syukurlah. lo ga sampai lupa ingatan"
"iya benar. Oh iya makasih ya buat roti dan buah nya. padahal gue ga mau ngerepotin loh"
"ya namanya juga ngejenguk yang sakit Sel. bawaannya kan harus yang sehat sehat. masa kita datang bawa pizza haha"
"iya masud gue. Ga bawa juga gapapa sih daripada ngerepotin kan"
"Ga ngerepotin sama sekali kok"
"Bisa aja lo. Gue tau kali lo gimana. Lo pasti heboh milih roti dan buah nya. kebanyakan perhitungan lo haha"
"kayanya roti ini bagus deh. Tapi ini kan terlalu manis. kaya nya ga cocok deh untuk orang sakit" Seli memperaktikan tingkah Seli sambil mengambil roti yang mereka bawa sebagai contoh
"gitu kan lo haha"
"tau aja lo. Gue sampai satu jam lo milihan yang cocok buat lo"
"kalian udah makan? mau makan disini? "
"ga udah deh Sel. kita juga mau pulang."
"cepet banget. ya udah deh"
"bye Sel"
__ADS_1
"bye hati hati ya"