Please Come Back

Please Come Back
~53~


__ADS_3

"Ingat, jika kalian masih menindas Rendy, kalian ga akan pernah bisa berteman denganku lagi atau hanya sekedar bertemu denganku" Seli langsung menutup panggilannya. Dia baru saja menelfon 2 sahabat Mario itu. Siapa lagi jika bukan Budi dan Thomas.


"Mir, gie harap setelah ini ga ada lagi orang yang menindas Rendy. Kadian sekali dia. Memarnya juga tidak sedikit."


"Gue harap juga gitu Sel. Dan sekarang, lo udah bisa peduli sama diri lo sel. Udah berapa hari lo demam. Lo bahkan ga makan dan kurang istirahat. lo mau mati mendadak"


"Gue ga sakit Mir."


"Lo sakit sel. liat mata lo yang merah itu. badan lo yang panas apalagi lagi kening lo astaga. Lo juga lemas banget. lo yakin lo ga sakit"


"Cuma sedikit pusing aja sih"


"Sedikit?sudahlah lo memang keras kepala. selalu mendahulukan orang lain dan tak memperdulikan diri sendiri."


"Eh mir gue hampir lupa. Sekarang pertandingan Final Vito Mir."


"Hah? kapan dia tanding?"


"Gue ga tau dia partai berapa. Tapi kita harus cepat cepat. Perjalanan kesana kan juga makan waktu"


"Duh lo kok bisa hampir lupa momen momen penting bagi Vito ini"


"bukan waktunya ngebahas itu. Sekarang kita harus cepat bergegas saja.


***


Tinggal beberapa partai lagi di depan Vito. Tapi Seli tak kunjung terlihat. Vito sedari tadi celengak celenguk mencari Seli berharap dia sudah duduk di salah satu bangku tribun. Tapi tak ada. Seli tak ada di bangku mana pun. Berkali kali juga Vito bertanya pada Sabeum Mark tentang keberadaan Seli. Tapi sabeum Mark selalu menjawab. "Tenang. Sebentar lagi dia pasti sudah sampai"


Vito sedikit gugup melihat lawan lamanya yang kini terlihat semakin sangar dan berpower. Dipertandingan yang lalu dia juga melihat banyak sekali yang sudah berubah dari lawannya itu. Dia terlihat lebih menguasainya dibandingkan dulu.


Vito kembali menghela nafas mencari dan bertanya pada pelatihnya itu tentang keberadaan Seli. Tapi jawabannya tetap sama.


Sedangkan Seli dan Mira, mereka sudah khawatir sejak tadi. Jalanan macet karena banyak sekali orang yang juga hendak menonton Final yang sengit. Seli bahkan tidak bisa tenang di dalam taksi. Dia tak boleh melewatkan momen penting itu lagi. Vito akan sangat sangat dan sangat kecewa padanya.


"halo"

__ADS_1


"Halo sel. kamu dimana?"


"Maaf sabeum aku masih di jalan. Jalanan macet. Apa Vito sudah bertanding"


"tinggal dua partai di depannya. Sebentar lagi dia akan bertanding Sel. Cepatlah"


"kami sudah dekat Sabeum tapi macet ini mengganggu sekali"


"baiklah. Pastikan kamu datang. Dengan begitu Vito akan menang"


"Baik sabeum. kami akan berusaha secepatnya sampai di lokasi"


Seli menutup panggilan nya kemudian kembali resah tanpa peduli kalau dia sedang sakit. Yang terpenting dia harus segera sampai di tempat itu. Vito tidak boleh kecewa lagi padanya.


Vito sudah bersiap siap. Sabeum dan beberapa rekannya bahkan sudah memakaikan perlengkapannya. Memasang body protektor nya dan pengaman yang lainnya. Vito hanya diam. Terlihat kekecewaan dimatanya. Dia berharap Seli ada disitu tapi ternyata tidak.


partai yang didepannya sudah memasuki rode terakhir. Itu artinya sebentar lagi gilirannya. Dia sudah memegang gamsil dan helm pelindung kepalanya. Berharap Seli akan databg disaat saat terakhir. Tapi tidak. Dia tidak datang sampai Partainya dipanggil.


"Under 68"


"**Vito sebastian. Tinggi 179. Indonesia"


Gor dipenuhi tepuk tangan yang meriah saat nama mereka berdua dibacakan. Pertaruangan akan sangat sengit berlansung.


Untuk terakhir kalinya Vito mencari keberadaan Seli. Tak ada. Sepertinya Seli tidak akan datang. Vito sudah menyimpulkan itu. Dia terlihat kecewa sekali. Dia ikut pertandingan ini hanya karena Seli. Tapi Seli bahkan tak datang menontonnya. Kekecewaannya membuatnya tak bersemangat bertanding sama sekali. Tapi dia sudah terlanjur di arena. Dia akan tetap bertarung dengan setengah hati.


Kemenangannya hanya untuk Seli. Dan jika Seli tak ada disitu, artinya dia tak harus memenangkan pertarungan kan. Vito melihat lawan lamanya itu. Beda 2 centimeter. Tapi tak terlihat sama sekali. Mereka terlihat sama tinggi.


"chung hong" wasit sudah memanggil mereka. Vito adalah Chung (biru). Vito hormat pada Sabeum Mark dan mulai memasuki lapangan memakai gamsil gigi sambil membawa pelindung kepala. Wasit memeriksa keamanan mereka dan tes body pun dilakukan. Itu dilakukan untuk membuktikan kalau sensor body setiap atlit masih berfungsi dengan baik. Jadi poinnya akan masuk dengan baik.


"Sijak" Ronde pertama di mulai. Vito sama sekali tak bersemangat. Dia bahkan banyak memberi point pada lawan. Sabeum Mark mulai geleng geleng kepala melihat Vito yang sama sekali tak bersemangat bertanding.


Sampai akhirnya ronde 1 selesai dan di menangkan oleh Lawannya. Lawannya tersenyum sinis padanya. Sudah lama dia menanti saat ini. Sudah lama dia berlatih hanya untuk bisa mengalahkan juara dunia yang pernah mengalahkannya itu. Kali ini dia akan menggeser posisinya. Istirahat pun berlangsung. Vito kembali ke Coach.


"Vito. Main seperti apa kamu?" Sabeum Mark memarahinya.

__ADS_1


"Kamu harus main dengan baik. Kamu kasih lawan point terlalu banyak. 12-3 itu memalukan sekali Vito. Kamu harus lebih baik lagi di ronde kedua. kalau ronde kedua pun kamu main masih seperti itu, ronde ketiga akan ditiadakan dan kim duck young akan menang. Kamu harus semangat Vito. Ingat kamu membawa nama Indonesia. Kamu ga boleh mempermalukan negara."


Vito hanya meneguk minumannya tanpa memperfuliakan apa yang pelatihnya bilang. Para Maneger sibuk mengelap keringat di kepala dan lehernya. Dia sudah tak memperhatikan apa pun lagi saat ini.


Tiba tiba Seli berlari dan menerobos perbatasan antara penonton dengan pelatih beserta atletnya. Dia langsung memeluk Vito. Vito kaget dan langsung membelas pelukan Vito. Vito sangat rindu pada Seli. Tapi tindakan seli saat ini dan beberapa hari lalu di telfon memang sangat aneh.


Seli memeluk Vito dengan sangat erat begitu pun sebaliknya. Mereka berdua melepas rindu disaat istirahat pertandingan. Tapi istirahat ronde hanya 1 menit saja. Sangat singkat.


"Chung hong"


Wasit sudah memanggil mereka tapi Vito masih memeluk Seli dengan erat. Tak peduli dengan semua itu. Dia hanya rindu pada Seli.


"Chung" Wasit memanggil sekali lagi.


"cepat Vito" Kata sabeum Mark.


"semangat Vito. Kamu harus menang."Seli melepas pelukannya kemudian Vito berlari ke lapangan dengan helm nya. Seli segera kembali ke tribun penonton yang tadi dia trobos.


"Sijak" Ronde kedua dimulai. Vito terlihat kembali semangat. Dia segera mengejar point yang tertinggal 9. kakinya yang lincah mengenai 2 kali kepala lawan. sekarang poinnya mulai terkejar. 12-9 Masih perlu 1 kali kena kepala agar poin mereka seri.


Lawan Vito mulai kewalahan. Bingung mengapa Vito tiba tiba sesemangat ini. Belum mendapat jawaban atas tindakannya, Vito bahkan sudah unggul beberapa poin. 12-15. Lawan yang tadinya tersenyum sinis mulai serius. Dia tau lawan nya juga mulai serius saat ini. Tapi tetap saja Vito unggul mengambil point. 12-17. Selisih 5 point. rode ketiga selesai.


Vito kembali ke coachnya begitu pula dengan lawannya. Vito kembali sambil tersenyum pada Seli. Sedangkan Seli mengepalkan tangannya ke udara. mengisyaratkan "Semangat" Vito tertawa melihatnya. Vito segera meneguk minumannya dan selagi manager memijat pundaknya, dia melirik lawannya yang berada di seberang sana.


Coach lawannya terlihat mati matian memberikan masukan dan memperaktikkan apa yang harus dia lakukan jika lawan melakukan tendangan ini dan itu. Sedangkan lawannya terlihat sangat serius memdengarkan pelatihnya. Dia sangat berambisi menang. Tepatnya, berambisi menggeser posisi Vito.


Mereka berdua adalah. Dua jagoan yang selalu menang dalam pertandingannya. Tapi kali ini mereka juga dipertemuakan seperti bertahun tahun lalu. Dan, hanya 1 yang akan memenangkan medali emas.


Berbeda dengan Sabeum Mark, kali ini dia tidak banyak bicara atau sekedar memberikan tehnik. Dia yakin psda kemampuan Vito. Lagipula apa yang Vito lakukan, masih sedikit yang dia keluarkan dari ilmu yang dia kuasai. Vito selalu memiliki sesuatu yang berbeda disetiap pertandingannya. Itu yang membuat susah mengalahkannya. Gerakannya susah dibaca. Dia selalu memiliki sesuatu yang berbeda.


Satu menit sudah berlalu. Saatnya Vito kembali ke lapangan.


"Chung hong"


Vito kembali ke lapangan setelah hormat pada pelatih dan, Seli? Entah mengapa dia memberikan hormat pada Seli sebelum dia ke lapangan. Tapi bertahun tahun lalu dia juga melakukan hal yang sama pada kakak nya. Dan posisi itu sudah digantikan oleh Seli.

__ADS_1


"Sijak"


akankan Vito juga memenangkan Pertandingan kali ini seperti bertahun tahun lalu?


__ADS_2