
"Sabeum mark?"
"Sel?" Mark mengganti larinya dengan berjalan
"Selamat sore pak" Seli sedikit membungkuk.
"haha kamu lucu ya. kadang manggil sabeum kadang manggil pak"
"haha maaf pak" Sekarang mereka berjalan santai
"kamu ngapain disini?"
"cuma mau jalan jalan sore aja pak"
"ooh bagus tuh."
"gimana keadaan taekwondo sejak seminggu aku tak berkunjung pak?"
"masih kaya biasa sih. Tapi adik adik kamu tuh. pada nyariin kamu haha."
"aku juga kangen sama adek adek yang imut imut itu pak hahaha"
Eh teringatnya, dengar dengar seminggu yang lalu kamu masuk rumah sakit ya?"
"iya pak. Tapi ga kenapa napa kok pak"
"kalau kami tau nya lebih awal mungkin anak anak taekwondo udah datang jenguk kamu"
"hahaha wah, aku merasa udah jadi bagian dari taekwondo nih. padahal aku bukan anggota taewondo haha"
"kamu kan sering main ke sana. kamu itu suporter loh haha. anak anak taekwondo juga senang kamu datang haha"
"oh iya masalah taekwondo, kamu udah tau kalau Vito cedera?" kata Sabeum Mark lagi
"hah? cedera? aku ga tau. kapan? Dia ga bilang apa apa"
"haha mungkin dia lupa Sel. baru kemarin kok. mungkin nanti dia bilang sama kamu"
"kenapa bisa cedera pak?"
"latihannya terlalu keras sel. tinggal sebentar lagi kejuaraan itu dilaksanakan. Dan dia latihan terlalu keras."
"Apa parah?"
"tulangnya sedikit bergeser. jadi lututnya pasti terasa sakit. Untungnya, kemarin langsung ditangani."
"apa dia bisa berjalan?"
"hahaha sudah kuduga haha. sudah pasti bisa sel. tapi tidak dengan berlari. Untuk sementara dia belum bisa berlari ataupun menendang. tulangnya bisa bergeser lagi jika terlalu dipaksa"
"huuhh syukurlah" Seli menghela nafas.
"oh iya sel, Bapak duluan ya. Soalnya kan masih ke club"
"oh iya pak. hati hati" Seli sedikit menunduk kemudian Pak Mark meninggalkannya. Seli segera menepi dari lintasan lari.
"Vito cidera? kenapa ga bilang sih?" Seli mengambil ponselnya sambil berjalan menuju bangku taman. Tangannya kemudian mengutak atik layar ponsel hingga terlihat nama Vito. Panggilan keluar. Tak diangkat. panggilan keluar lagi. Juga tak diangkat
"kenapa ga diangkat?" lagi ngapain sih?" Sekali lagi Seli mencoba menelfon
"Halo?"
"astaga lama benget sih diangkat. lagi ngapain sih? katanya kamu cedera? kenapa ga bilang? seharusnya kamu cerita dong"
"astaga sel. Satu satu dong pertanyaannya"
"huh maaf maaf" Seli menghela nafas
"Aku jawab satu satu ya sel. Yang pertama kenapa telfonnya baru diangkat itu karena tadi aku tidur sel."
"tumben"
__ADS_1
"ya begitulah. pertanyaan kedua, iya aku memang cedera. itu kemarin sewaktu latihan"
"Dan yang ketiga kenapa aku ga bilang, bukan aku ga mau bilang sel. Tapi memang aku mau bilang setelah aku bangun tidur"
"aku malah tau nya dari Sabeum Mark"
"Kamu ketemu sama sabeum Mark?"
"Iya. baru aja ketemunya"
"emangnya kamu dimana?"
"Di taman kota"
"Ya udah aku datang"
"ga usah lah. aku juga udah mau pulang"
"ya udah aku jemput"
"ga usah. nanti bergeser lagi tuh tulang. udah dulu ya" Seli mematikan ponselnya.
Ponselnya kembali berbunyi. panggilan masuk
"kan udah aku bilang ga usah datang"Jawab Seli tanpa melihat siapa yang menelfonnya.
"lo kenapa sel?"
"hah?" Seli melihat ke layar ponselnya
"eh oh Mira? kenapa mir? maaf gue kira Vito"
"emangnya Vito bilang apa?"
"ah, ga penting kok"
"lo dimana?"
"gue kesana sekarang"
"tapi gue udah mau pulang"
"ya udah, lo bisa bantuin gue ga?"
"apa emangnya?"
"adek gue kabur dari rumah"
"hah?! kok bisa sih? kapan?"
"kemarin sel. Dia ga pulang sampe saat ini"
"Lo yakin dia kabur dari rumah? bisa aja kan dia lagi di rumah temannya"
"Gue udah tanya semua teman nya Sel. Ga ada yang tau"
"Tapi masa sih dia tiba tiba kabur dari rumah tanpa sebab Mir"
"ya... ya sebenarnya sebelum dia kabur, dia ribut sama papa. maaf tapi gur ga bisa cerita soal itu"
"astaga anak seumuran dia memang labil banget. duh, mudah mudah ga terpengaruh ke yang buruk deh"
"iya sel. mudah mudah. lo bisa bantu gue nyari dia kan"
"iya sel. gue bisa kok. Tapi, kita harus cari kemana?"
"itu yang buat gue bingung Sel. gimana kalau kita tempel poster?"
"menurut gue itu bukan ide yang bagus Mir. Dia kan kabur bukan diculik. kalau dia ngeliat poster pencarian itu bisa bisa dia makin jauh perginya"
"duh. lo benar. Gue ga tau lagi harus ngapain soalnya. Mama gue tiap hari nangis."
__ADS_1
"Gue juga ga kenal sih adek lo. lo bisa kirim fotonya?"
"iya gue cari dulu ya. dia ga punya banyak foto"
"terus kalian udah lapor polisi?"
"belum sel."
"kenapa astaga... oh atau karena papa lo ya?"
"iya. lo tau kan papa gue sangat menjaga martabat. Dia ga mau satu pun aib keluarga yang lolos ke publik"
"gue juga jadi bingung nih mau gimana"
"kayanya kita butuh bantuan teman teman sekelas kita deh untuk nyari adek lo. Tapi dengan catatan kalau ini rahasia."
"lo yakin? gimana kalau malah makin runyam?"
"ah benar juga. kayanya kita butuh orang orang yang dapat kita percaya. oh, kita ajak Rendy. dia pasti bisa membantu"
"ajak juga Vito kalau begitu"
"engga. Vito ga boleh ikut"
"loh kenapa sel? dia pacar lo"
"maaf Mir. Dia sedang cedera. Jangan libatkan dia"
"oh okay lah. kalau gitu biar gue ajak lagi sepupu gue Putri dan Diana."
"lo udah dapat foto adik lo?"
"oh iya udah. gue kirim sekarang sama lo. nama Fernando"
"okay. gue matiin ya"
Seli mematikan telfon Mira kemudia layar ponsrlnya berubah menjadi panggilan keluar.
"halo"
"Ren, lo bisa bantu gue kan"
"Bisa bisa aja sih. gue juga ga punya kegiatan"
"bukan sekarang. besok"
"Iya boleh kok. Emang bantu apa?"
"intinya nyari adiknya Mira. Dia kabur dari rumah"
"kenapa ga lapor polisi?"
"jangan. jangan sampe lapor polisi. papa nya Mira orang politik. Masyarakat ga boleh tau. Ingat. ini cuma antara kita. jangan sampe bocor kemana pun"
"lo percaya sama gue?"
"iya gue percaya banget sama lo. lo orang baik. kita udah kenal lama kan"
"tapi kenapa kamu ga bisa jadi milikku?" Kata Rendy pelan. hampir tak terdengar.
"halo... ren?"
"iya gue masih disini"
"lo bisa kan jaga rahasia ini?"
"iya gue pasti bisa. Gue juga pasti bakal bantuin lo sebisa gue. gue janji"
"okay makasih kalau begitu Ren"
Seli menutup telfonnya. Sedangkan Rendy membuang asal ponselnya ke kasur lalu mengusap wajahnya.
__ADS_1