
Seli melangkah seperti biasa. Tapi wajahnya tidak seceria biasanya. Dia takut. memarnya belum menghilang sempurna. masih ada bekas yang tersisa. kemarin dia sudah mengompres memarnya tanpa sepengetahuan mbak Citra dan itu membuat nyeri pada memarnya berkurang.
tinggal beberapa lanhkah lagi menuju gerbang sekolah. Dia berhenti. menatap lurus ke arah gerbang sekolah. Rasanya dia tidak ingin melangkahkan kaki nya lewat dari gerbang itu. bagaimana jika geng kak Melly telah menunggunya disitu seperti kemarin? seketika Seli merinding. kalau hanya kak Melly mungkin dia akan menerima satu tamparan. tapi, bagaimana jika teman-teman kak Melly ikut memperpanas suasana seperti kemarin? itu akan membangkitkan amarah kak Melly dan mungkin saja dia akan menambah tamparan itu
Tanpa Seli sadari kakinya perlahan berjalan mundur namun tatapannya masih lurus menatap gerbang. Dia membayangkan bagaimana dia diperlakukan kemarin. tentu saja siapa pun yang ada diposisinya saat itu tidak ingin mengulanginya. Dia kembali memegang pipinya yang masih menggunakan masker untuk menutupi lukanya. sakit. tapi lebih sakit hatinya. Hati nya perih. apa salahnya sampai diperlakukan begitu?
"hei! bisa ga sih liat liat dulu?" kata seseorang yang suaranya terdengar laki laki
"ma maaf" kata Seli tak melihat. pikirannya kacau hatinya sakit diperlakukan seperti itu. ditambah lagi dia hanya memendamnya semuanya sendiri.
"kau" kata Pria yang ditabrak Seli yang saat ini menunduk mensejajarkan tingginya dengan Seli sambil menatap wajah Seli dari dekat dan membuka maskernya untuk memastikan.
Seli yang kaget reflex mundur dari hadapan orang itu tapi dia malah menabrak yang yang dibelangnya.Dengan cepat dia langsung menghindar setelah menabrak orang yang di belakangnya itu. tapi dia malah ditabrak lagi oleh orang lain. tentu saja itu bisa terjadi karena murid yang berjalan masuk juga banyak.
"kau sungguh tak punya mata" kata Pria yang dia tabrak pertama kali tadi yang sekarang berjalan mendekatinya.
"itu kan cowo yang kemarin sore. ngapain dia disini? seragamnya? dia sekolah disini? ah jangan jangan memang benar dia bagian dari kak Melly. sepertinya ga salah lagi. dia benar benar bagian dari kak Melly. ah gawat gue harus gimana dong? gue harus cari cara supaya bisa menghindar dari Cowo ini.
"ehm ma...maaf gue ga liat tadi. gu...gue duluan ya udah mau bel soalnya" kata Seli
"kelas berapa?" katanya dingin
"gu...gue? X-mipa 4"
"searah" jawabnya singkat dengan ekspresi datar sambil melihat ke Seli sekilas kemudian berjalan.
__ADS_1
"ma... maaksudnya? kelas kami searah? lalu kenapa kalau searah? apa dia mau kami jalan beriringan? atau dia mau membawaku ke geng kak Melly yang sedang menunggu? aduh kenapa gue cari masalah lagi sama orang berbahaya? kali ini pipi mana yang akan dia tampar?" batin Seli sambil memegang kedua pipinya. dia terlibat sangat ketakutan. jari jarinya terlihat bergetar. Dia takut. ditambah lagi, mereka akan segera sampai di lorong kelas X. bagaimana jika geng Melly sudah menunggunya di depan kelas atau di kantin samping kelasnya? dia mulai panik
"kenapa cewe ini terlihat ketakutan?" batin lelaki yang berada di sebelahnya.
Seli memperlambat jalannya. Dia menatap ke arah kantin yang tinggal beberapa langkah lagi. tatapan itu tatapan ketakutan. karena benar saja, di depannya tepatnya di depan kantin, geng Melly sudah berkumpul. sepertinya dia menunggu Seli. kalau pun dia berjalan dari jalan lain, geng itu sudah terlanjur melihatnya. ditambah lagi disampingnya ada seseorang yang merupakan bagian dari mereka. bagaimana caranya kabur?
"ternyata benar. cowo ini? tenang. tenang Seli semua pasti baik baik saja. tak lama. mereka sudah kelas XII dan sebentar lagi akan tamat. setelah itu lo bebas dari semua ini. kuat Seli kumohon. jangan terlihat lemah dan tak berdaya disini. cukup lewat saja dari situ. mana tau mereka sudah melupakan kejadian semalam." batin Seli yang berdiri membatu.
pria yang di samping Seli tadi sekarang sudah berada di depannya. Dia membalikkan badan dan melihat Seli yang masih mematung di tempatnya. Dia berjalan mendekati Seli dan menarik tangannya. Dia sekilas melihat ke tangan Seli karena bagaimana pun bisa merasakan tangan Seli yang bergetar. kemudian dia melihat ke arah Seli. Seli terlihat lebih resah dari sebelumnya dan lebih panik dari sebelumnya. setelah melihat itu semua, pria itu tetap menarik tangan Seli sambil berjalan. jantung Seli semakin berdegup kencang. bagaimana tidak? dia bahkan dituntun menuju orang yang membully nya oleh orang yang merupakan bagian dari itu semua.
tubuhnya semakin bergetar. jarak antara Dia dan geng itu tinggal beberapa langkah lagi. jumlahnya banyak dan salah satu dari mereka bahkan berada tepat di sampingnya. Mereka berjalan semakin dekat dan sekamin dekat dan
"hah? aku melewati geng itu? kenapa geng itu tidak menghentikanku? dan cowo ini (mendongak ke arah wajah pria itu) kenapa dia tidak menyerahkanku kepada geng itu? apa dia bukan bagian dari mereka? mengapa mereka tidak menghentikanku saat bersama cowo ini? sebenarnya apa yang terjadi? apa mereka bermusuhan? atau mereka satu geng tapi sengaja tidak menghentikanku karena mereka merasa pria ini sudah membullyku tadi? gue ga bisa berpikir sebenarnya apa yang terjadi.
Seli bingung. sangat bingung malah. dia tidak mengerti dengan semua ini. mulai dari Kak Melly yang membullynya tanpa sebab. dia belum tau apa alasan Melly membully nya. ditambah lagi Pria yang tadi menyelamatkannya dari geng itu tadi pagi. sebenarnya apa hubungan mereka?
"eh oh iya Mir"
"sebenarnya lo kenapa sih belum pulang?" tanya Mira.
"hmmm anu mmm gue nunggu Prilly." jawabnya Asal. sebenarnya dia sedang menghindari geng Melly
"eh, lo udah akrab lagi sama Prilly ya?"
"ya begitu lah"
__ADS_1
"ya udah gue duluan kalau gitu"
Seli masih duduk di bangkunya ketika Mira pergi pulang duluan. ntah jam berapa Seli akan pulang dari sekolah. yang pasfi dia ingin menghindari Melly and the genk.
"bbrraaakkk" suara pintu kelas Seli yang ditendang seseorang. Seli kaget dan reflex melihat ke arah pintu kelasnya
"wah... kebetulan sekali nih yang dicari belum pulang. lo bisa puas nih ngegunain tongkat sakti lo Mel" kata seseorang yang merupakan bagian geng Melly.
"lo berdiri di hadapan gue!" teriak Melly. dia membawa sesuatu yang dia sebut tongkat sakti. itu terlihat lebih tebal dari tiga buah lidi. bisa dibilang sebesar tabgkai kemoceng. anggota gengnya sekarang berada di belakang nya. sedangkan Seli berjalan pelan ke arahnya.
"sekarang buat pengakuan di hadapan gue dan dihadapan teman teman gue!" kata Melly
"pengakuan apa kak?" tanya Seli gugup
"pplaakk" satu pukulan ke arah atas pergelangan tangan Seli.
"lo jangan pura pura ga tau! cepat buat pengakuan!"
"saya tidak tau apa apa kak" kata Seli menahan sakit yang kemudian langsung disusul pukulan ke dua ke tangan sebelahnya.
"gue kasih lo satu kesempatan lagi. kalo lo memang mau mengakui itu, hukuman lo akan gue kurangi. cepat!" teriak Melly.
"saya benar benar tidak tau apa apa kak" jawab Seli lagi. sedari tadi dia benar benar mencoba untuk bersikap tegar dan tidak cengeng walau pukulan itu sakit tapi dia berusaha tidak menangis. Dia harus tegar.
"pplaaak" sekali lagi suara pukulan ke lengan bawah Seli.
__ADS_1
"hah.. lo ga mau ngaku juga ya? gue jadi capek nih! kalo lo ga ngaku lo bakal terus di bully sama kita. tapi kalo itu mau lo. ya gue sih senang senang aja. yuk cabut" kata Melly pergi membawa pasukannya.