
Seli tiba tiba dipukul dengan benda keras dari belakang. Dia terjatuh pingsan tanpa sempat memberitahukan detail posisinya. Preman yang mengejarnya sudah berhasil menyusulnya.
Dugaan Vito benar. Seli pasti dikejar preman preman itu. Dia menjatuhkan kantong dari toko yang berisi kaleng minuman kemudian mulai berlari. Tadinya dia hendak kembali dan mencari Seli dengan Mobilnya. Tapi pasti akan sangat merepotkan jika dia membawanya. lain lagi jika dia membawa sepeda motor. itu mungkin membantu. Dia berlari dengan cepat sambil melihat kiri dan kanan.
"Wah, sepertinya dia anak orang kaya. Lihat. ponselnya saja mahal seperti ini" Kata Seorang preman memungut ponsel Seli.
"kita dapat ikan besar. Berapa ya uang yang kita dapat jika menjual ponsel itu?"
"kau bodoh sekali. Kita bisa mendapat uang lebih banyak jika kita meminta tebusan pada orang tuanya"
"kau benar. Aku bahkan melupakan cara lama itu"
Vito masih berlari. orang orang sialan itu salah bermain main dengan siapa. Vito sangat marah. Tidak ada orang yang berhak menyakiti Seli. Jika itu terjadi, dia harus berurusan dengan Vito.
Ada sebuah panggilan masuk. Vito berhenti. Melihat dari siapa telfon itu. Seli? Vito kaget.
"Halo Sel, kamu dimana?"
"Dia ada bersama kami. datang kesini bawa uang 50 juta."
"kemana aku harus membawa uang itu?"
"ke toserba di gang cempaka. Datang sendiri dan Jangan lapor siapa pun jika kau mau dia masih selamat"
Vito segera mematikan Telfonnya, Segera berlari ke tempat itu.
"kau bodoh sekali"
"kenapa?"
__ADS_1
"kau mengatakan posisi kita begitu saja"
"kau tenang saja. Kita akan memanggil teman teman kita yang lain. Kau bawa wanita ini ke ujung gang aku akan akan menemuinya disini bersama beberapa teman kita. kami akan memastikan dia membawa uang 50 juta itu tanpa membawa seorang teman pun. Setelah uangnya aman, baru kita serahkan wanita itu padanya.
"baiklah"
Vito sudah sampai di gang yang mereka katakan. tentu saja tidak membawa uang yang mereka minta. Toserba yang mereka maksud adalah toserba lama yang sudah tak dipakai. Cahayanya remang remang di tempat itu. Dengan cahaya seperti itu Vito masih bisa melihat 3 orang yang berjalan mendekat.
"kau bawa uangnya?"
"dimana dia?"
"serahkan uangnya baru kami akan memberikannya padamu"
Vito pura pura merogah saku celananya dan bukannya uang tapi dia malah mengeluarkan kepalan tangannya dari dalam saku celana dan langsung mendarat di dagu Preman tersebut. Preman terjatuh. Sedangkan dua orang lainnya siaga dengan segala kemungkinan. Tapi dengan cepat Vito melompat sambil menendang perut kedua penjahat dengan kedua kakinya.
Vito langsung bergegas ke toserba. Tadi dia bertarung masih beberapa meter dari toserba. Dia tak melihat Seli ada disana. Sial. Dia sangat kesal dengan semua penjahat itu. Berani beraninya dia mengganggu Seli. Sampai mengancam seperti itu.
Vito mengikuti arah darah itu dengan amarah yang membara. Amarahnya lebih besar daripada saat dia mengetahui Seli disiksa oleh Mely and the genk. Tentu saja ini berbeda. Waktu itu Seli hanya mendapat memar. Tapi kali ini Seli sampai berdarah. Dia pasti akan mengamuk besar.
langkah Vito dicegah oleh beberapa preman lagisebelum dia sampai di ujung gang. tanpa basa basi dan penjelasan tendangan langsung mendarat di tubuh preman preman itu. Yang terpenting baginya, menemukan Seli secepatnya. Dia membutuhkan pertolongan.
Gerakannya lincah dan mematikan. Amarah yang membara membuat energi pukulan dan tendangannya berlipat ganda lebih kuat dari sebelumnya. Hanya beberapa menit saja. 3 Preman itu juga dapat dilumpuhkan oleh Vito.
Vito mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Dia masih sanggup bertarung jika masih ada lreman yang menunggunya. Vito sudah melihat Seli yang pingsan di ujung gang. Tapi dia dijaga oleh 5 orang preman
lagi lagi Vito harus melawan Preman itu seorang diri. pukulan dan tendangannya lebih mematikan dari sebelumnya karena melihat kondisi Seli yang memprihatinkan. Dia sama sekali tak ingin berlama lama menghabiskan waktu menghajar 5 preman itu. Seli lebih membutuhkan pertolongan.
Vito segera mempercepat pertarungannya dengan mengeluarkan semua serangan serangan yang cepat melumpuhkan lawan. Tidak banyak waktu. Seli bisa dalam bahaya jika terlalu lama seperti itu. Daya tahan Tubuh Seli sudah pasti bukan seperti daya tahan tubuh para Atlet yang masih bisa bertahan walau sudah kena benturan atau terlibat pertarungan yang lama.
__ADS_1
Akhirnya kelima lawan berhasil dilumpuhkan. Vito segera mendekati Seli. Sialan. Mereka memukul kepalanya. Itu bagian yang cukup sensitive dan sangat dilindungi. Vito berusaha menyadarkannya tapi tetap saja tidak ada pergerakan.
Tak banyak waktu Seli harus segera dilarikan ke rumah sakit. Vito segera menggendong Seli dipunggungnya. Dia berlari secepat mungkin menuju parkiran. Menaikkan Seli ke mobil lantas melaju kencang menuju rumah sakit
"kumohon bertahanlah sebentar lagi Sel"
Suara decitan ban mobil Vito terdengar di halaman rumah sakit. Vito membawanya ke rumah sakit terdekat. Tanpa menunggu siapa pun Vito langsung menggendongnya masuk. Para dokter dan perawat ikut berlari menghampiri Vito membantunya dan segera membawa Seli ke ruangan.
Vito menatap Seli dari luar dinding kaca. Rasanya dia ingin ikut masuk ke ruangan itu menemani Seli Tapi dia tidak mendapatkan izin. Dia sangat khawatir .
Vito memilih duduk menunggu di bangku depan ruangan Seli. Dia mengutak atik Ponselnya.
"halo mbak Leni, tolong hubungi mbak citra. Aku tidak punya nomornya" Kata Vito pelan
"tuan muda? kenapa? apa yang terjadi?"
"Seli dirampok oleh preman dan sekarang dia di rumah sakit dekat Club taekwondoku"
"a-apa? ba baik tuan"
setengah jam kemudian mbak Leni dan Mbak Citra datang. Mereka terlihat panik dan khawatir.
"apa dia baik baik saja?" Mbak Citra tampak pucat.
"tenanglah. Seli pasti baik baik saja."
"apa aku harus menghubungi orang tuanya?"
"jangan sekarang. Aku yakin Seli baik baik saja. Jika kondisinya memvuruk baru kita hubungi orang tuanya. Jangan membuat mereka terlalu khawatir. Semuanya pasti baik baik saja. Kita berdoa saja" kata Mbak Leni menenangkan
__ADS_1
Vito masih duduk menunduk. Dia merasa bersalah seharusnya dia tidak meninggalkan Seli. Dia merasa itu semua salahnya. Bisa bisanya dia membuat Seli dalam bahaya seperti itu.
Sudah setelah jam lebih tapi Seli belum sadar juga. Vito, mbak Citra dan mbak Leni sangat khawatir tapi mereka selalu berpikir positif kalau Seli pasti akan baik baik saja