
Panggilan keluar. Tidak diangkat.
Ini sudah kesekian kalinya Vito menelfon Seli. Tapi tidak ada balasan. Dia bahkan sudah menelfon mbak citra berkali kali. Tapi mbak citra juga sama. Tidak mengangkat telfon darinya.
Sudah 2 jam yang lalu Vito kembali dari taman kota. tapi tetap saja Seli tidak menghubunginya. Bahkan telfonnya pun tidak diangkat oleh Seli. Sepulang dari taman kota tadi, Vito sudah menyempatkan Singgah dirumah Seli. Tapi nihil. Rumah itu juga kosong. Bahkan mbak citra pun tak ada. Kemana mereka? Apa ada urusan mendadak sampai mereka tak bisa dihubungi?
Vito gelisah. perasaannya tak enak. Dia sebenarnya khawatir. Tapi tak tau harus melakukan apa pun. Dia berusaha untuk menutup matanya tapi hatinya serasa tidak tenang. Tidak pernah dia merasakan hal seperti ini sebelumnya. Tapi dia segera berpikir positif dan kembali memejamkan matanya sampai akhirnya dia tertidur.
Sudah pagi. Dan Vito segera mengecek ponselnya. Berharap Seli mengirim pesan padanya atau menelfonnya. Tapi tak ada apa pun. Itu sangat membingungkan. Vito kembali menghubungi Seli, tapi tetap tidak ada balasan. Vito kemudian menelfon mbak citra. Tapi tetap saja tak diangkat oleh siapa pun.
Vito mulai kebingung saat tau bahwa Seli juga tidak masuk sekolah. Ini semua sungguh sangat aneh. Dia bertanya pada teman teman Seli termasuk Mira, sahabat terdekat Seli. Tapi tak ada yang tau dimana dia saat ini.
Vito mulai memutar otak. Tapi dia sama sekali tak tau dimana tempat yang sering Seli kunjungi selain taman kota saat senja. Vito memutuskan untuk kembali menemui Seli di rumahnya. Tapi tetap saja tak ada siapa pun disana.
Vito yang sudah seperti orang depresi akhirnya memiliki semangat lagi saat mendapat pesan dari Seli. Pesan yang sangat singkat dan padat tapi cukup untuk membuat Vito senang.
"Temui aku di taman kota nanti sore"
hanya itu? Apa dia tak merasa bersalah setelah melihat banyak sekali panggilan masuk dari Vito? Tapi sudahlah. Setidaknya untuk saat ini Vito sudah tidak khawatir lagi pada Seli. Dia akan segera menemuinya saat sore tiba di tempat favorite Seli itu.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Vito sudah menunggu sedari tadi. Tapi tak melihat Seli yang datang. Dia sudah duduk di tempat favorit Seli. Tempat yang paling cocok untuk menyaksikan Senja. Sore ini juga senja terlihat indah sekali.
tiga puluh menit berlalu lagi. Tapi Seli tetap tak terlihat muncul. Vito mulai bosan menunggunya. Dia bahkan sudah mulai melamun. Saat tengah melamun, seorang pria tampan datang menghampirinya dan hendak duduk di sebelahnya. Matanya terlihat sendu
"boleh aku duduk?" kalimat yang membuyarkan lamunan Vito itu, dibalas anggukan olehnya.
"Apa kau sedang menunggu seseorang?" lagi lagi Vito hanya mengangguk.
"Apa dia kekasihmu?" Vito membalas dengan mengangguk
"Seperti apa dia bagimu?"
__ADS_1
"Untuk apa aku bercerita padamu?"
"Aku hanya ingin tau saja sebagai sesama lelaki"
"Dia orang yang paling spesial bagiku."
"Dan, jika dia harus pergi, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tak tau apakah aku akan bisa mencari penggantinya atau tidak. Tapi kuharap dia bisa terus bersamaku sehingga aku tak perlu mencari penggantinya." Lawan bicara Vito mulai meneteskan air matanya.
"ternyata Seberharga itu dia dimatamu" Dia mengusap air matanya
"Mengapa kau bertanya seperti itu padaku? dan mengapa kau menangis?"
"Tidak. Aku hanya ingin tau saja. Aku juga menganggap wanita itu seberharga itu."
"Dan kau, apa yang kau lakukan disini? Apa kau juga menunggu seseorang?" Kali ini Vito yang bertanya.Dia menatap lurus kedepan tanpa meliht lawan bicaranya
"Kau membicarakan apa? Aku tidak mengerti. Orang itu, wanita itu, siapa maksudmu?"
"Aku membicarakan orang yang aku temui"
"Siapa yang akan kau temui itu?"
"Kau. Kau orang yang perlu aku temui itu."
"Aku? Kita bahkan tak saling mengenal."
Lawan bicaranya itu menunjukkan foto wallpaper ponselnya. Disana terlihat fotonya dan juga Seli.
"Kau... kau siapanya? jangan bilang-"
"Tidak. Aku kakak laki lakinya"
__ADS_1
"Oh maafkan aku."
"kau tak perlu curiga padanya. Dia memang introvern. Sifatnya tertutup. dia sulit menceritakan masalah masalahnya pada orang lain. Dia takut setelah menceritakan masalahnya orang lain akan terbebani. Tapi yakinlah dia tidak akan melakukan hal yang buruk apalagi sampai menyakiti hati orang yang dia sayangi. Dia hanya sulit menceritakan masalahnya pada orang lain"
"Maaf. Dimana Seli? kalian bersama sama kemari? Apa aku bisa menemuinya? Aku akan minta maaf padanya. Sepertinya memang ada salah paham diantara kami"
"........." Tak ada jawaban dari Kakak laki lakinya Seli itu. Hanya air matanya yang mengalir.
"dimana dia? Dia berjanji akan menemuiku disini. Dia mengirim pesan itu tadi"
"Maaf. Aku yang mengirim pesan itu. Seli tidak bersamaku. Aku baru sampai tadi siang dan mengirim pesan itu padamu"
"lalu, ada perlu apa kau padaku?"
"Aku hanya menyampaikan sesuatu padamu. Seli menitipkan sebuah surat. Kau tenang saja aku tidak membacanya sama sekali. Mungkin itu rahasia kalian berdua. Lagipula tidak sopan terlalu ingin tau masalah orang lain. Aku tau dari Mbak citra, kalau Seli ingin memberikan surat ini padamu secara langsung kemarin. tapi dia tidak bisa melakukannya. Kuharap kau bisa memaafkannya untuk itu. Dan, aku tidak menyalahkanmu sama sekali. Semua ini adalah suratan takdir.
"Kenapa bukan dia sendiri yang memberikannya?"
"Kau harus kuat Vito"
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu pada Seli?
Kakak Laki laki Seli mengangguk pelan. "Aku menemuimu disini setelah dia pergi. Maaf Vito. Tapi dia sudah pergi beberapa menit lalu. Aku bahkan langsung pergi menemuimu saat tau dia sudah tak disini bersama kita. Dia kecelakaan saat hendak menemuimu disini kemarin sore Vito."
"Saat itu dia sakit. Mbak Citra bahkan bilang, dia berjalan sempoyongan. Mbak Mira sudah melarangnya pergi. Tapi dia tetap bersikeras menemuimu disni dan akan memberikan surat ini secara langsung. Sampai akhirnya dia kecelakaan di perempatan jalan. Sebuah mobil melaju kencang dan menabraknya hingga terbanting beberapa meter dari mobil itu. Kepalanya mengeluarkan banyak sekali darah.
"sebenarnya aku hendak marah padamu. Tapi itu tidak akan kulakukan. Karena aku juga pernah melakukan kesalahan dimasa lalu."
"Maaf Vito Kau tidak bisa menemuinya untuk terakhir kalinya. Tapi dia memiliki sesuatu untukmu sebelum pergi" Dia menyerahkan Surat Seli pada Vito. Dan Vito menerimanya dengan tangan gemetar. Setelah surat itu berada di tangan Vito, Hans segera pergi setelah menepuk nepuk pundak Vito.
Air mata Vito jatuh tanpa dia sadari. Seli? Dia pergi? Tidak mungkin. Perlahan Vito membuka Surat dari Seli. Apa isinya? Dia menjelaskan kesalahpahaman itu di surat ini?
"Bodoh. Seharusnya aku percaya saja padanya. Dia tidak akan melakukan sesuatu yang buruk. Dia hanya kesulitan menceritakan masalahnya. Dasar bodoh. Bodoh! kau sama sekali tak berguna Vito. Kau bahkan membiarkan dua orang wanita yang paling kau sayang pergi tanpa sempat menemuimu. Bodoh! Pria bodoh" Vito memaki maki dirinya sendiri.
__ADS_1