Please Come Back

Please Come Back
~8~


__ADS_3

Seli duduk di bangku taman. Dia kembali ke taman yang Ia kunjungi semalam. bahkan di bangku yang sama. kali ini dia tidak makan sebungkus roti dan sekaleng cola yang nantinya Ia lempar dan mengenai seseorang. tidak. dia duduk menenangkan diri sambil mengingat-ngingat kesalahan apa yang dia buat sampai Melly semarah itu padanya. Tapi setelah berusaha diingat pun, dia tetap tidak tau apa kesalahan yang dia buat. lagi pula sebelumnya dia tidak mengenalnya sama sekali.


ponselnya bergetar. itu pesan dari Zohan. percakapan asik mereka masih berlanjut hingga kini. Seli membuka pesan dari Zohan. betapa terkejutnya Seli saat membaca pesan dari Zohan. isinya bukan basa basi dan obrolan asik seperti biasanya. Isi pesan Zohan adalah pengungkapan cinta nya terhadap Seli.


Sungguh bukan waktu yang tepat. Setelah Seli membaca ungkapan itu, dia mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. Dia sama sekali tidak ingin siapa pun mengganggunya menikmati senja. termasuk Zohan sekali pun. lagi pula selama ini Seli belum pernah pacaran. Dia juga tidak pernah berpikir ingin pacaran. Ditambah lagi karena suasana hati dan pikirannya yang tidak dapat di jelaskan.


Seli yang sekarang mengenakan jaket mengangkat lengan jaket yang menutupi seluruh tangannya. dia melihat bekas pukulan Melly tadi siang. garis garis berwarna merah dan sedikit membiru. Untung dia membawa jaket. jadi jaket itu bisa menutupi luka bekas pukulan tadi siang. Seli hendak menutup kembali tangannya dengan menurunkan lengan jaket yang ia pakai tapi tiba tiba seseorang memegang tangannya.


"lo kenapa?" tanya seorang pria.


"gu... gue gapapa"


"LO KENAPA?!!" tanya Pria itu membentak Seli.


"bukan urusan lo. peduli apa lo sama gue? emangnya kita kenal? lo siapa gue? ha? lo siapa? lo kenal sama gue? ga kan!" kata Seli menahan air matanya.


"lo sama kaya 'dia' yang ga bisa cerita tentang masalah lo." katanya sambil mengambil pulpen dari kantong celananya. dan meraih tangan Seli. hendak menukis sesuatu


" hubungi gue kalo ada yang ganggu lo" katanya sambil menukis nama dan nomornya di tangan Seli lalu langsung pergi meninggalkan Seli


"kenapa tangannya seperti itu? tadi pagi tidak ada bekas apa pun. kenapa sekarang kenapa jadi seperti itu? lalu wajahnya? wajahnya juga kemarin memar. ada apa dengan wanita itu? dia tidak seperti orang yang senang berantam" batin lelaki itu yang sejenak memandang wanita yang masih membatu membelakinya. Setelah beberapa detik memandang wanita yg tidak ada pergerakan, dia membalikkan badannya dan kembali berjalan meninggalkan Seli.


Seli menatap telapan tangannya yang sekarang bertuliskan nama Vito Sebastian yang lengkap dengan nomornya.


"jadi namanya Vito? sangat misterius. aku bahkan tidak tau dia berada di pihakku atau kak Melly" batin Seli kemudian memandang punggung Vito yang berjalan meninggalkannya.


"Seli kan?" kata seorang laki laki-berseragam sama dengan Seli, memastikan.


"eh oh iya kak. selamat sore kak" jawab Seli sedikit membungkuk sambil mengucapkan salam.


"kenapa belum pulang?" tanya lelaki itu.


"oh engga ga. cuma mau refresing aja" jawab Seli cepat


"kakak sendiri kenap belum pulang kak?" tanya Seli balik

__ADS_1


"baru pulang rapat di sekolah. bisa duduk nih? katanya melihat bangku di dekat Seli.


"eh iya boleh kak" kata Seli ikut duduk


"rapat membahas apa kak?" tanya Seli


"tentang pemilihan calon osis baru. kami kan sudah kelas XII jadi udah mau pensiun dong jadi osis. haha" katanya mencoba bercanda. Seli hanya tersenyum menaggapi ketua osisnya.


"aku sih ga percaya ada wanita secantik kamu di sampingku" kata ketua osis itu menggombali Seli


"makasih kak" jawab Seli sambil tersenyum


"aduh. jantungku mau copot nih. liat kamu senyum" kata ketos itu lagi


"hahaha" Seli mulai tertawa. Dia bahkan tak berpikir kenapa ketos itu bisa mengenalnya.


"hmm Aku bisa nyanyi buat kamu ga nih?" tanya ketos meraih gitarnya yang tadi dia letakkan.


"boleh dong kak" jawab Seli merasa terhibur


Seli merasa sangat terhibur dengan apa yang ketos nya lakukan. Dia kembali bisa ceria dan bisa melupakan segala masalah masalahnya saat berada di samping ketos mendengarkan dia memetik gitar sambil bernyanyi. Seli memperhatikannya sambil tersenyum. Sesekali ketos menatap ke arah Seli sambil terus bernyanyi dan memeyik gitar.


"waaahh keren kak"


"sungguh suatu kehormatan bisa dipuji oleh wanita cantik. hahaha" kata ketos yang lagi lagi menggombali Seli


"makasih kak" jawab Seli.


"oh iya ngomong ngomong pipi kamu kok kaya ada biru birunya" kata ketos menatap pipi Seli


"ah ga kok kak mungkin salah liat" kata Seli yang langsung menutup dengan maskernya. memarnya memang tak sekentara kemarin.


"jangan ditutup dong. kan ga bisa ngeliat senyumannya lagi. haha" kata ketos yang masih menggombal


"oh iya nama kakak siapa? aku lupa" kata Seli mengakihkan pembicaraan tentang pipinya yang memar.

__ADS_1


"kamu lupa nama ketosmu? haha"


"kayanya gitu kak" kata Seli tersenyum. sebenatnya dia bukan lupa tapi memang tidak tau. yang dia tau, pria yang di depannya ini adalah ketua osis di sekokahnya tapi tidak tau siapa namanya.


"Abrian. jangan lupa lagi loh. haha"


"siap kak"


"kamu masih ada urusan di sini?"


"engga sih kak. kenapa emang?"


"kalau kamu ga punya urusan lagi disini ya udah bareng yuk" kata Abrian si ketos


"rumah kamu ke arah kanan atau kiri?"


"kanan kak"


"wah searah tuh. yuk sekalian aku antar pulang. bawa motor soalnya" tawar Abrian tapi yang ditawari malah diam tak mengeluarkan sepatah kata pun. bahkan mengangguk atau menggeleng pun tidak.


"yuk" kata Abrian berdiri sambil menatap ke Seli yang masih duduk.


Seli yang melihat Abrian sudah berdiri hanya mengikutinya saja berjalan. Dia juga tidak tau harus melakukan apa lagi disini. lagi pula dia sebenarnya sudah lapar sampai sore di tempat itu tanpa memakan atau meminum apa pun


"kamu bisa pegang gitar aku di belakang kan?" kata Abrian yang sekarang berdiri di samping motor.


"bisa kak" jawab Seli singkat


sebelum mereka menaiki motor, gerimis turun. tidak terlalu deras tapi cukup membuat sakit kepala jika lama lama dibawah hujan itu. karena itu bukan hujan biasa. tepatnya hujan panas. Seli menatap ke langit yang mendadak gerimis. butiran butiran hujan menerpa pipinya. Tapi dia langsung menurunkan tatapannya karena dia takut Abrian melihat pipinya yang masih ada bekas tamparan itu.


Abrian terlihat sibuk merogah tasnya. kemudian dia tersenyum saat barang yang ia cari sudah ia dapatkan. tanpa basa basi dia langsung memakaikan topi berwarna hitam yang bertuliskan 'goodboy' pada Seli yang berdiri di hadapannya kemudian merapikan rambut Seli sambil tersenyum.


"nanti kamu sakit kalau kena hujan panas gini" Katanya pada Seli yang diam saja.


Seli tak tau kenapa Pria ini sepertinya sangat berbeda. Dia bahkan merasa sangat nyaman berada di sampingnya. sifat humorisnya yang buat hati Seli luluh ditambah lagi sikapnya yang perhatian. cewe mana nya tidak luluh?

__ADS_1


__ADS_2