
Tak terasa sudah sebulan sejak masalah Melly and the gank dengan Seli selesai. Sudah sebulan juga Seli dan Abrian menjalin hubungannya. Mereka selalu pulang sama sama, mengantar Seli sampai rumah, tertawa bercanda satu sama lain dan sama seperti remaja remaja pada umumnya.
hubungan mereka baik baik saja dan sejauh ini tidak ada kendala sama sekali. semuanya berjalan mulus hingga saat ini. mengenai hubungannya dengan Vito, sepertinya mereka mulai menjauh satu sama lain. Seli sibuk dengan segala urusannya begitu juga dengan Vito. Sebenarnya Vito menjauh ada sebabnya. Dia hanya tidak ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan Seli dan Abrian. Lagipula dia bukan siapa siapanya Seli.
"Sel, lo pulang sama kak Abrian lagi hari ini?"
"engga Mir. Kita pulang bareng ya"
"lho kak Abrian ga masuk sekolah? tumben banget"
"masuk sekolah kok Mir"
"terus kenapa dong? kalian bertengkar?"
"engga. kak Abrian masih harus rapat osis Mir. sebentar lagi kan pemilihan Osis baru. mungkin membahas itu"
"oooh. lo masih mau ke suatu tempat dulu atau langsung pulang?"
"langsung pulang aja Mir. lagian mau keman lagi coba?"
"ooh ya udah yuk. kita naik angkot aja"
"kenapa ga bus kota?"
"Padat Sel"
__ADS_1
"ya udah yuk naik apa aja boleh."
"eh lo tau ga... banyak banget tau ga yang baper sama hubungan lo sama kak Abrian. oh my God kalian itu romantis banget tau ga sih. cocok banget dah" Kata Mira sambil terus berjalan. mereka hampir sampai di simpang sekolah.
"masa sih? perasaan biasa aja"
"iya gue ga bercanda kali ini. kalian cocok banget. Pas lo ngobatin kaki kak Abrian juga bayak yang baper tau ga sih. Yang kemarin itu waktu kak Abrian main futsal"
"bisa aja lo"
"gue kapan ya bisa dapat pacar? gue juga pengen kaya kalian lah. buat keuwuan kaya kalian"
"tapi menurut lo kami berlebihan ga sih?"
"mungkin sih"
"kak Abrian sih Humoris parah. jadi lo pasti bahagia sama dia. dia selalu bisa buat ketawa haha"
Seli tersenyum ke arah Mira. Memang benar yang dikatakan Mira. kak Abrian orang yang humoris. Dan sampai saat ini kak Abrian selalu sukses membuatnya tertawa. Mungkin dia beruntung punya kak Abrian. Tawa Seli dan Mira segera terhenti karena mendengar suara tinjuan atau tendangan di tengah siswa siswi yang berkerumun di simpang sekolahnya. mereka ricuh dan sangat ribut. mendukung atau mengatai, yang pasti suasana di sana kacau.
"apaan tuh? kita liat yuk"
"jangan Mir. lebih baik engga dilihat" kawab Seli menarik lengan Mira yang hendak bergegas
"Kenapa Sel? mana tau yang sedang berantam itu teman kita. jafi kita harus lerai dong"
__ADS_1
Mira langsung menarik tangan Seli menuju gerombolan orang. sebenarnya yang dikatakan Mira ada benarnya. tapi kalau pun itu teman mereka bagaimana mereka akan melerainya? toh orang orang juga tidak ada yabg berani merelainya. bagaimana kalau mereka jadi sasarannya? sebenarnya itu yang dipikirkan Seli.
Mereka meyelinap masuk ke rombongan orang yang sedang menonton perkelahian. Mira dengan cepat menarik tangan Seli hingga mereka sampai pada barisan terdepan. dari posisi mereka sangat terlihat jelas orang yang sedang berkelahi di tengah orang orang yang bergerombol.
"bruk" satu tendangan yang menipu itu tepat mengenai dada lawannya. tadinya tendangan itu mengarah ke pinggang tapi saat kaki itu hendak mendarat, malah mengenai dada lawannya. Dia mengubah arah tendangannya di detik detik terakhir.
Gerakannya lincah sekali. sepertinya dia sangat mahir berturung seperti itu. tubuh gesit, kaki yang ringan dan lentur serta tendangan yang menipu. Dan tentu saja tidak ada yang berani melerainya. mereka takut. Lelaki itu tidak pernah kalah saat berkelahi. bertarung dengannya sama saja bersiap untuk kalah. dan siapa lagi orangnya jika bukan "VITO"
"Vito? dia seberandal itu? luka di lengan nya waktu itu juga-? jangan jangan memang dia suka berkelahi selama ini? hanya karena diam dan cuek aku tidak tau?" Batin Seli menatap Vito. matanya sama sekali tidak berkedip. dia hanya memperhatikan Vito. Dia bahkan tidak melihat sedikit pun lawan Vito.
Sebenarnya Seli kecewa pada Vito. bagaimana pun beberapa waktu lalu Vito adalah temannya. Walau sekarang mereka sudah semakin menjauh tapi Seli berhak kecewa atas sikap bruntal Vito. Seli sama sekali tidak suka kekerasan. Tapi Dia malah pernah tinggal di rumah orang yang terbiasa dengan segala kekerasan.
Mata Seli masih menatap Vito dengan kecewa. Dia bahkan tak sadar lawan Vito terjatuh tepat di depannya. hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri. sedangkan di seberang sana Vito masih dengan ekspresi tak terjelaskan. Dia bertarung tapi seperti tak mengeluarkan ekspresi berarti. Ekspresinya itu sempurna menjelaskan betapa dinginnya hatinya. bertapa cueknya sikapnya.
Vito menatap lawannya yang sekarang meringkuh kesakitan. Ekspresinya masih datar. Tidak seperti orang yang senang akan kemenangan juga tidak ekspresi seperti ada kebencian atau perasaan lega di wajahnya. orang orang mulai mendekat membantu lawan Vito itu. Orang orang juga sudah memperkirakan kalau lawan Vito pasti kalah. bagaimana mungkin menang melawan peraih mendali emas kejuaraan internasional taekwondo yang sekarang sedang menekuni boxing. sampai saat ini belum ada yang bisa mengalahkan juara internasional itu.
Tak sengaja Vito melihat Seli yang hanya berjarak beberapa langkah dari lawan bertarungnya. walau berjarak sekitar 5 meter tapi Vito bisa melihat kekecewaan di mata Seli. Seli masih menatapnya tanpa berkedip sedikitpun. Tubuh Seli seakan membatu di posisinya. Saat itulah baru terlihat ekspresi Vito. Dia terlihat kaget melihat Seli yang menyaksikan pertarungannya. Dia tau persis Seli tidak suka kekerasan sejak pembullyan yang dilakukan Melly and the genk. Dia trauma dengan segala bentuk kekerasan. Dan dihadapannya, dia malah menyaksikan temannya bertarung. Dia bahkan terlihat terbiasa dengan segala kebruntalan itu
Srmakin lama tubuh Seli semakin menghilang ditutup oleh orang orang yang berdatangan membantu lawan bertarungnya. Sampai akhirnya lengan Seli ditarik oleh Mira karena pertarungan sudah selasi dan mereka harus pulang. Walau ditarik, tapi pandangan Seli tetap ke arah Vito yang juga membatu di posisinya. sampai akhirnya mereka berdua tak saling melihat.
Vito yang sudah tak melihat Seli, menurunkan pandangannya, mengusap sisi bibir yang berdarah kemudian pergi meninggalkan segerombol orang. Vito tidak pulang. dia langsung menuju taman kota. duduk di bangku yang biasa dipakai oleh Seli. Sepertinya dia menunggu Seli di sana.
satu jam, dua jam, tiga jam tapi tak ada yang kunjung datang. Tidak seperti biasanya. Hari ini Seli tidak datang ke taman kota. Sebenarnya Vito ingin menjelaskan kepada Seli. Dia bukan orang yang seperti itu. Dia bukan orang yang asik dengan kekerasan.
Tapi entah apa yang terjadi dengan Seli. Sepertinya dia sudah terlanjur takut pada Vito. Dia takut dengan kekerasan seperti itu. Melihat semua kekerasan itu membuatnya trauma. Pembullyan Melly membuat Seli trauma yang dalam. Dan sejak saat itu dia tidak ingin berhubgan lagi dengan segala kekerasan. agar traumanya bisa segera hilang. tapi kejadian yang baru dia saksikan. membuat traumanya kembali. dia bahkan takut kalau suatu saat Vito mungkin saja melakukan kekerasan padanya. itulah alasan Kekecewaan Seli terhadap Vito
__ADS_1