
Seli sungguh bingung dengan takdirnya. bingung dengan garis nasibnya. Dia bingung dengan takdir alam yang selalu mendatangkan masalah untuknya. Saat Satu masalah sudah dia ketahui jawabannya, tapi masalah lain malah sedang menunggunya. bagaimana dia akan menanggapi Vito di sekolah? jika di taman, dia bisa tidak pergi ke taman untuk beberapa saat. Tapi jika ke sekolah? Dia tidak mungkin tidak masuk sekolah untuk menghindari Vito.
Hari ini Vito tidak masuk sekolah. entah apa yang terjadi pada lelaki itu. Itu tidak seperti biasanya. Dia tidak pernah absen selama ini. tapi untunglah itu bisa memberi kesempatan untuk Seli menghindar darinya. Setidaknya dia punya sedikit waktu untuk mencari cara menghadapi Vito
"drrreeettt drreeettt" Ponselnya bergetar berhasil membuyarkan lamunannya
"halo selamat siang ini siapa ya?"
"halo selamat siang nona. ini mbak Leni"
"oh mbak Leni kenapa mbak?" jawab Seli ramah. dia kenal betul kepala pembantu di rumah Vito itu
"mmm begini non." kata Leni ragu ragu menjelaskan
"iya kenapa mbak?"
"sebenarnya ini tentang tuan muda Vito non"
"i... iya kenapa dengan Vito mbak?" jawab Seli ragu saat nama Vito disebut. dia takut Vito melakukan kekerasan pada nya setelah semua yang dia saksikan. dia yakin Vito suka berkelahi seperti itu
"*begini nona. Sejak kemarin malam, tuan Vito tidak keluar dari kamarnya. dia mengurung diri di dalam kamarnya. Dia bahkan tidak makan sedikit pun. Aku mengantar makanannya tapi kamarnya di kunci. aku meninggalkan makanannya di luar kamarnya. Tapi hingga pagi makanan itu sama srkali tidak disentuh."
"Hingga sekarang dia tidak keluar kamar. saya khawatir terjadi sesuatu padanya nona. kemarin malam dia pulang dengan luka luka. Sepertinya dia baru selesai berkelahi. Dan sampai srkarang aku tidak tau kondisinya. Entah itu sakit atau pun tidak aku tetap khawatir nona. bagaimana jika nyonya ibu nya tuan muda bertanya kondisinya?"
"Tuan muda tidak pernah seperti ini. Aku sangat takut nona. bagaimana jika dia pingsan di kamarnya. atau melakukan hal hak aneh atau ada sesuatu terjadi padanya*"
__ADS_1
"terus mbak Leni mau a...aku melakukan apa?" tanya Seli masih ragu
"bagaimana kalau nona datang kesini? hanya nona yang aku tau temannya. Dia tidak punya teman lain seperti nona. hanya nona yang pernah dia bawa berkunjung ke rumah. Apakah nona bisa menenangkannya atau membujuknya? tolong datang kesini non Seli" jelas Leni dengan nada cemas
"ma...maaf mbak kayanya aku ga bisa"
"aku mohon nona. setidaknya kalau nona Seli tidak bisa datang, tolong tenangkan atau tanya kabarnya melalui telfon. pastikan dia baik baik saja." kata Leni di seberang telfon semakin cemas.
"akan aku usahakan mbak tapi aku tidak bisa berjanji" jawab Seli langsung menutup telfonnya. Dia menghela nafas panjang kemudian memperbaiki posisi duduknya
"Dari siapa?"
"hah? oh, kak Abrian? urusannya udah selesai?" tanya Seli yang sedari tadi menunggunya di bangku luar ruang Osis
"udah. kamu lama nunggunya?"
"kamu bisa aja haha. oh iya, kita langsung pulang? kamu mau ke suatu tempat?" tanya Abrian mengambil sepasang helm.
Seli diam sejenak. Dia memikirkan telfon dari mbak Leni tadi. apa dia akan ke rumah Vito? tapi apa yang akan dia jelaskan pada Abrian? apa abrian tidak akan marah? tapi jika dia marah? suasananya sungguh tidak tepat menjelaskan semua ini.
"kita pulang aja kak" Jawab Seli dan langsung dibalas senyuman dari Abrian sambil menyerahkan helm padanya.
Motor Abrian mulai melaju meninggalkan gerbang sekolah. Abrian banyak bercerita tentang pemilihan Osis baru. kendala kendala, calon calon osis yang baru, dan sebagainya. Tapi Seli jangankan menanggapi, mendengarkan saja tidak. Dia masih memikirkan telfon dari mbak Leni tadi. Dia bingung harus melakukan apa
Sudah satu jam dia hanya memandangi ponselnya yang ia letakkan di atas tempat tidur tepat di hadapan posisi dia duduk. Dia ragu ragu menelfon Vito. Dia tak tau apa yang dia rasakan, yang pasti dia tidak punya keberanian untuk menelfon Vito dan menanyakan kabarnya. Dia pun kesal pada dirinya yang sedari tadi bingung harus melakukan apa dia pun beranjak pergi ke luar sambil membawa ponselnya.
__ADS_1
Vito keluar dari kamarnya. Leni yang dari tadi cemas akan keadaannya seketika lega saat melihat tuan mudanya baik baik saja. pelayan pelayannya bertanya tentang keadaannya. Tapi seperti biasa para pelayannya sudah menduga bahwa tuannya pasti akan mengabaikan apa pun yang mereka lakukan atau tanyakan. Dia bahkan jarang menatap pelayannya. jika pun dia menatapnya, pasti dengan tatapan khasnya. yaitu tatapan datar. Leni menduga pasti Seli telah menghubungi Vito. Seperti biasa Vito tidak berpamitan hendak kemana dia pergi. kali ini Vito tidak mengenakan pakaian alahraga. Dia mengenakan pakaian serba hitam yang membuat ketampanannya terpancar.
Vito sudah sampai di taman kota. Dibangku biasa Seli berada. Tapi lagi lagi dia tidak menemukan Seli disana. Dia memutuskan duduk dan menunggu seperti biasanya. Dia hanya ingin menjelaskan sesuatu kepada Seli. Tapi sama seperti kemarin Seli tetap tidak datang ke tempat favoritenya itu.
Seli berjalan hendak ke bangku biasa yang dia pakai. tempat yang paling tepat menurutnya menatap Senja yang hangat menenangkan hati. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Vito sudah berada di tempat itu seakan menunggunya. Dia melihat Vito sejenak kemudian. telfonnya berdering dan ia langsung balik kanan pergi meninggalkan Vito yang berada beberapa meter di depannya.
"halo"
"halo nona Seli"
"iya halo mbak leni kenapa mbak?"
"makasih ya non. Tuan Vito udah keluar dari kamarnya tanpa sakit apa pun. makasih ya nona Seli. mbak udah lega"
"i...iya mbak" jawab Seli mengakhiri telfon
"aku tidak melakukan apa-apa. Tidak menemuinya bahkan tidak menelfonnya. apa dia keluar hanya untuk menungguku? apa dia mau menjelaskan sesuatu? tapi apa? lagi pula aku bukan siapa siapa nya. untuk apa dia menunggu aku?"
Vito mengeluarkan ponselnya. Dia mengutak atik ponselnya. hingga terlihat nama Seli di layar ponselnya. dia ragu ragu hendak menelfon Seli. sudah beberapa kali tangannya hendak menekan tombol telfon. tapi dia selalu menggagalkannya hingga Dia berencana mengirim pesan.
"Sel, lo sibuk" Tangan Vito telah mengetik pesan itu tapi dia menghapusnya kembali
"Sel, gue mau bilang sesuatu sama lo" kalimat itu kembali dihapus
"Sel, ada yang mau gue jelasin sama lo. gue harap lo-" lagi lagi pesan itu dihapus oleh Vito.
__ADS_1
Dia mematikan ponselnya meletakkannya di samping posisi duduknya kemudian mengusap wajah dan rambutnya. Dia sangat bingung harus melakukan apa. Otaknya buntu.