Please Come Back

Please Come Back
~32~


__ADS_3

Seli berjalan pulang sendiri. Mira? dia selalu saja sibuk dengan ekskulnya. entah apa yang dia lakukan. Yang pasti dia sedang apel sekarang di lapangan. Apel hanya rutinitas yang tak penting menurut Seli. lagi pula untuk apa ekskul musik selalu apel seperti itu? apa yang akan mereka bahas? jika itu paskibra mungkin bisa dimaklumi. karena mereka apel sambil latihan sebentar. Sedangkan mereka? sudahlah Seli tidak mau ambil pusing soal itu. Lagi pula dia bukan bagian dari ekskul itu jadi untuk apa mengurusi itu?


Dia masih melanjutkan perjalanannya. Sepertinya dia harus membiasakan diri seperti ini. Dia tidak punya Abrian yang bisa mengantarnya pulang naik sepeda motor lagi. lagi pula apa pedulinya? sebelumnya juga Seli terbiasa pulang sendiri. Dia anak yang mandiri. Tak ada teman pulang bareng bukan masalah besar bagi Seli. Walau bagi sebagian besar wanita itu masalah. Biasanya mereka akan mencari cari teman pulang. Tapi Seli bukan orang yang banyak bicara jadi dia sama sekali tak mencari teman pulang.


beberapa langkah lagi dia akan sampai di gerbang sekolah. Disana sudah terlihat Vito. Dia seperti menunggu seseorang. Seli sudah menduga orang itu pasti bukan dia. dia sudah tidak punya hububgan apa apa dengan Vito beberapa minggu lalu. Seli kembali mendengus kesal. Mengapa pula dia harus berpapasan dengan orang itu? malas sekali rasanya. Lagipula ngapain dia disitu? dia kan bawa mobil kenapa ga langsung pulang saja?


Kali ini dia lewat tidak gemetar sama sekali di hadapan Vito. Vito bisa melihatnya. Tapi Seli lebih ke kesal. Sepertinya dia malas harus berpapasan dengan Vito si brandal. Tapi setidaknya itu lebih baik daripada dia takut pada Vito. Vito menarik tangan Seli saat mereka bepapasan.


"gawat" jantung Seli mulai berdegup kencang. kenapa malah dia orang yang Vito tunggu?


Seli belum sempat bertanya mengapa Vito mencegahnya. Tapi Vito sudah terlebih dahulu menarik tangannya sambil berjalan. Dia membawa Seli ke parkiran. Menyuruhnya naik ke mobilnya saast mereka sudah sampai di depan mobilnya


"kali ini apalagi? apa dia akan-? atau memang dia baik seperti yang Mira bilang? ah sepertinya aku terlalu berpikir jahat. aku bahkan berpikir negatif pada orang yang pernah menolongku dan mengizinkan aku tinggal di rumahnya. Lagipula jika dia memang orang jahat kenapa dia membantuku saat itu? "


Seli berusaha menenangkan dirinya. Jika dia tidak pernah dibully oleh Kak Melly dengan kekerasan mungkin dia tidak akan berpikiran seperti itu. Dia selalu berpikir positif Tapi Bully dari Melly membuatnya takut pada siapa pun yang sering berhubungan dengan kekerasan. Dia bahkan tak bisa lagi berpikir positif pada orang yang bertengkar sejak saat itu. Dia melipat jemarinya. menekan nekannya untuk menghilangkan rasa takutnya. jari jarinya itu gemetar. Tapi dia berusaha terlihat tegar dan tak takut di depan Vito. Dia juga menggigit bibirnya agar tak kentara dia sedang takut. Jika dia terlihat ketakutan, orang lain akan lebih mudah membuatnya lebih takut dengan mengancamnya. maka dari itu dia harus berpura pura tegar walau Vito tau dia ketakutan saat ini


Vito melihat Seli yang sedikit menunduk. Sepertinya dia memang takut di dekat Vito. Ditambah lagi tangannya yang tak bisa tenang. Menatap Seli yang seperti itu Vito semakin marah kepada mereka yang pernah membully Seli. Mereka membuat Seli trauma pada apa pun yang berbentuk kekerasan. Walau belum tentu kekerasan itu hanya orang jahat. Bisa saja kekerasan itu untuk melindungi yang lemah tapi seli sudah terlanjur trauma. Dia rindu Seli yang ceria. memperhatikannya. Tak takut berada di dekatnya. Dia rindu Seli yang menganggapnya teman. Tapi setelah ini, setelah semua ini Vito berharap Seli bisa menganggapnya teman seperti dulu. Dia akan meluruskan salah paham yang sudah menyelimuti otak Seli.


"lo ga perlu takut. Gue ga akan nyakitin lo sedikit pun."


"ada yang mau gue bilang sama lo"

__ADS_1


"tentang apa? dia mau bilang apa?"


"kita udah sampai. kita akan membahasnya disini"


Seli melihat ke luar jendela. Ini tempat yang sangat dia kenal. Itu taman kota. Seli keluar lerlahan. Apa yang akan mereka bicarakan di taman kota? Seli masih bingung tapi terus mengikuti langkah Vito dari belakang. Dia bahkan sudah berjaga jaga akan segera menelfon mbak Citra jika pria ini melakukan kekerasan. Senegatif itu dan securiga itulah Seli pada pria di hadapannya ini. Sekali lagi Dia bahkan lupa pria ini pernah menolongnya.


Vito membawa Seli ke bangku yang biasa Seli tempati. Tentu saja Seli bingung. Vito membawanya kesitu hanya untuk duduk saja? Vito segera duduk dibangku itu dan segera disusul oleh Seli. Mereka duduk bersebelahan. lengang sejenak. Seli semakin bingung dengan tindakan Vito. Bisa bisanya dia masih diam sampai sekarang. bukannya dia bilang ingin membicarakan sesuatu?


"bagaimana hubungan lo sama kak Abrian" Vito bertanya untuk pertama kalinya setelah lengang beberapa saat. Dia bertanya sambil menatap lurus kedepan. Ekspresinya datar


"orang ini membawaku kesini hanya untuk menanyakan itu? lagipula sejak kapan dia peduli dengan urusan percintaanku?"


"udah putus"


Seli diam sejenak. dia tak tau harus menjawab apa. Jika dia bilang dia bahagia, dia jadi teringat perlakuan Abrian padanya. Tapi jika dia bilang tidak, Dia sadar Abrian pernah membuatnya bahagia walau sesaat


"gue ga tau"


"berapa kali dia melakukan kekerasan sama lo?"


Seli menggeleng "ga pernah"

__ADS_1


"berapa kali dia membentak atau marah sama lo?"


Seli menggeleng "ga pernah"


"lo ga perlu menyembunyikan itu semua Sel. Gue tau semuanya. Lo harus sayang sama diri lo sendiri. Dan berhenti membela dia." Vito masih menatap lurus kedepan


"itu bukan urusan lo" Seli mengerutkan dahi lalu menatapnya ke samping kemudian kembali menatap ke depan.


"lo juga harus menjadi orang yang lebih terbuka tentang masalah lo Sel. belajarlah untuk mencintai diri sendiri. Tapi gue ngerti. Perempuan bahkan lebih sayang pada orang lain daripada dirinya sendiri."


"itu juga bukan urusan lo"


"gue cuma ga mau ada korban lagi sel."


"korban apa? korban kekerasan lo?"


"hanya karena dia ga bisa mengungkapkan masalahnya"


"gue ga ngerti apa maksud lo"


"gue ga mau lo berakhir kaya 'dia' Sel"

__ADS_1


Seli bingung kemana arah pembicaraan mereka. Dia juga bingung apa yang sebenarnya Vito maksud? Dia ingin menjelaskan apa? kenapa kalimat kalimatnya sulit sekali dipahami? Dia? Dia siapa maksudnya? dan korban? Korban apa? siapa korban itu? kenapa dia mengatakan itu pada Seli? apa Seli ada hubungannya dengan korban itu? Seli sangat bingung maksud Vito tapi dia tidak menanyakannya. Dia hanya diam sambil berusaha mencerna kalimat demi kalimat Vito yang membingungkan.


"gue akan ceritakan sebuah kisah Sel. kisah beberapa tahun lalu. dari cerita ini lo bisa tau apa maksud gue. lo ga akan bingung kaya gini lagi"


__ADS_2