Please Come Back

Please Come Back
~31~


__ADS_3

Seli ke sekolah seperti biasa. Dia tidak bisa ceria sama sekali. Seli melihat Abrian dari kejauhan. Menatapnya sejenak kemudian mengalihkan pandangannya sambil menghela nafas dan melanjutkan perjalanannya menuju kelas. Abrian bukan siapa siapa nya lagi sekarang. Tapi diwajah abrian tidak terlihat kesedihan apa pun. Sepertinya dia memang senang putus dengan Seli. lalu? untuk apa dia nembak Seli waktu itu jika dia memang tidak sayang pada Seli? Itu hanya mengukir rasa sakit di hati Seli. Mungkin saja Seli akan Trauma. Karena itu pacar pertamanya tapi dia malah di selingkuhi dan diperlakukan seperti itu.


"lo kenapa? dari kemarin lo-"


"gue udah putus sama kak Abrian" Seli duduk di bangkunya dan melepas ranselnya.


"hah? kok bisa? kapan? kenapa? siapa yang mutusin duluan?"


"satu satu dong nanya nya. mulut gue cuma satu" Seli mende'ngus kesal. Ini masih pagi dan mood nya sudah hancur.


"oke oke. Lo kapan putusnya sama kak Abrian?"


"kemarin pulang sekolah"


"siapa yang putusi?"


"gue"


"sebabnya?"


"Dia selingkuh"


"apa?! astaga benar kan insting gue. Dari awal juga gue udah yakin dia selingkuh. playboy kaya dia mah"


"udah lah Mir. sekarang bukan waktu yang tepat ngebahas insting lo yang tepat."


"Dia selingkuh sama siapa Sel?"


"Echi"


"Echi? Bukannya Echi pacarnya gabriel?"

__ADS_1


"iya"


"terus lo tau darimana mereka selingkuh?"


"Dari gabriel"


"What? seriously? Oh my God. oh ya ampun astaga" Mira reflex menutup mulutnya kaget sekali mendengarnya.


"terus Dia tau darimana?"


"Dia liat sendiri"


"apa?!" Kali ini Mira membulatkan matanya. Mulutnya yang ternganga dengan jari jari menutupi mulut nganganya itu.


"iya. dia liat sendiri kak Abrian berduan dengan Echi waktu pulang sekolah."


"jangan jangan di ruang osis"


"iya."


"lo juga dengar?"


"iya. gue dengar pas lewat. Tapi pas gue lewat pintunya tertutup makanya gue ga tau itu siapa. dan gue pergi aja ga peduli. Ternyata itu kak Abrian dan Echi? astaga"


"berarti yang pertama kali mendengar suara mereka tertawa Mira. kemudian Gabriel datang dan mendengar suara itu lagi sewaktu lewat. Dia membuka sedikit pintu ruang osis dan melihat Kak Abrian dan Echi disana. Gabriel pergi tanpa menutup kembali pintu yang sudah dia buka sedikit. Setelah itu, Kak Mario lewat selesai dari lapangan. dia juga mendengar suara tawa. Dia mengintip ke dalam karena pintu ruang osis masih terbuka sedikit" batin seli. Dia sudah membayangkan bagaimana kejadiannya. Dia dengan mudah merangkai semuanya karena dia memang suka membaca novel dan komik detektif. lagi pula tanpa berpikir pun rangkaian sesimpel itu mudah sekali disimpulkan.


"Sel!"


"apaan sih mir?"Seli tersadar


"ngelamun aja lo. terus hubungan Echi dan Gabriel gimana?"

__ADS_1


"Gabriel juga udah mutusin Echi juga. Dia ngasih tau gue kemarin"


"Astaga... bisa bisanya mereka. Tapi mereka cocok tuh. Sama sama selingkuh"


"terus lo ga ada dihubungi kak Abrian lagi?" Tanya mira lagi


"enggalah Mir. untuk apa? bahkan gue minta putus dari dia juga dia ga keberatan"


"astaga dia maunya apa sih?" Seli hanya mengangkat bahu menanggapi kalimat Mira.


"Dia pasti nyesal udah mutusin lo"


"terus kali gue harus percaya lagi sama insting lo itu?"


"ya, dengar Cerita lo kalau kak Abrian bahkan ga mencegah lo pergi, gue kurang yakin sih"


Seli masih melamunkan Abrian. dia sudah pulang sekolah dari tadi. bahkan sudah berganti pakaiannya sebelum dia pergi ke taman kota. Dia bersandar ke bangku tempat biasa dia duduk. Dia menatap kekosongan. Air matanya mulai mengalir dipipinya. Dia bahkan tidak mengusapnya sama sekali.


Sudah hampir satu jam dia di tempat itu. Masih melamun dan menangis. Sudah lelah rasanya menangis seperti itu. Dia mengusap air matanya kemudian memperbaiki posisi duduknya. Lagi pula untuk apa dia menangisi lelaki yang tidak menginginkannya tidak mengharapkannya dan tidak menyayanginya? Seli menghela nafas kemudian berdiri. Dia tidak bisa terus seperti itu. Dia harus kuat. Seli wanita yang tegar. Dia memutuskan berjalan jalan di sekitaran taman kota. Jika dia terus duduk seperti itu, dia akan selalu teringat dengan Abrian brengsek itu.


Dari kejauhan, sejak 1 jam lalu Vito sudah memperhatikannya diam-diam. Selama ini juga fia diam diam melindungi Seli tanpa sepengetahuan Seli. Dia sama sekali tak tega melihat Seli seperti itu. Ingin rasanya dia menemani Seli dan mendengarkan ceritanya. Tapi dia siapa? dia bukan siapa siapa ditambah lagi salah paham Seli. Dia juga bingung kapan dia bisa menjelaskan pada Seli bahwa dia tak seperti yang Seli bayangkan. Selama ini Seli sudah salah paham padanya.


Seli masih berjalan jalan di sekitaran Taman. Sesekali berhenti melihat orang orang dilapangan basket bermain basket. Sesekali juga dia berpapasan dengan orang orang yang lari sore ataupun bersepeda. Sedangkan dia, dia hanya berjalan tak tau mau kemana. juga tak tau mau melakukan apa. Rasanya pulang pun dia malas.


Seli sekarang sudah berjalan di luar taman. Dia melihat ke pergelangan tangannya. Sudah pukul setengah tujuh. hari mulai gelap. dia singgah di sebuah toko di pinggir jalan. Membeli sebungkus roti dan satu botol kaleng susu cokelat. Dia duduk di bangku luar Toko itu. mulai membuka bungkus rotinya dan memakannya perlahan. Dia belum makan sedari tadi. Dan dia tidak akan mengorbankan kesehatannya demi Abrian yang tak peduli padanya


Seli tidak tau kalau sedari tadi Vito juga mengikutinya hingga ke toko. Vito bahkan meninggalkan mobilnya masih di parkiran Taman kota hanya demi mengikuti Seli. Dia tak ingin terjadi sesuatu pada Seli.


Roti Seli sudah habis. Sekarang dia sedang meminum susu kalengnya dan melempar sampah itu ke tempat sampah yang beberapa langkah darinya. malas rasanya harus berdiri untuk jarak sedekat itu.


Sekarang sudah hampir jam 7 malam. Dia akan pulang tepat jam 7 nanti. Lagi pula toko jarang sudah tak jauh lagi dari rumahnya. dia tak butuh taksi. dan hari ini tidak ada hujan yang mengganggu nya berjalan kaki.

__ADS_1


Seli meletakkan Tangannya dibawah dagu. bersandar disana. Sudah berkali kali dia mencoba untuk tidak mengingat Abrian. Tapi semakin ia ingin melupakannya dia justru semakin mengingatnya. Itulah bedanya Hati wanita dan Pria. Wanita akan selalu merasa kehilangan jika dia pernah dekat dengan seseorang. Apalagi jika dia pernah menyayanginya.


Air mata Seli mengalir lagi. Wanita mana yang bisa langsung lupa dengan semua itu? setegar tegar dan tangguhnya Seli, dia juga wanita. Dia juga rapuh. Seli meletakkan kedua tangannya di atas Meja lantas menangis di atasnya. Dia butuh waktu. Semua wanita butuh waktu untuk pulih dari sakit hatinya. Tak terkecuali Seli. Dia tak ada bedanya dengan wanita lain.


__ADS_2