
hari ini mereka akan memulai rencana yang sudah mereka susun kemaren. Misi pencarian Fernando yang kabur dari Rumah. Seli dan Rendy terlihat sudah rapi lengkap dengan segala persiapan. Rendy mengendarai Motornya sedangkan disisi lain, Mira, Putri dan Diana juga sudah siap mereka naik mobil yang dikendarai oleh Diana. Mereka menuju lokasi masing masing.
"Lo udah menghubungi Mira?" Tanya Rendy saat mereka sudah sampai di depan cafe hóngsè de.
"Bentar. Biar gue telfon"
"Halo?"
"udah sampai di lokasi?"
"Bentar lagi. masih di jalan Sel"
"okay. kasi tau kalau ada informasi"
"oke siap"
"Katanya masih dijalan"
"Kita masuk aja?"
"ya udah yuk"
Mereka mulai berjalan masuk. celangak celenguk mencari fernando di antara orang orang yang berkunjung ke cafe itu. Tapi cafe itu terlihat sama seperti cafe pada umumnya. Sama sekali tak terlihat seperti tempat perjudian. Dinding kaca yang langsung memperlihatkan jalan raya. Semuanya normal adanya. Apa ada jam jam tertentu untuk mengubah tempat ini jadi tempat perjudian? Bukannya Bima bilang hari minggu?
Rendy dan Seli saling menatap sambil mengerutkan kening. Apa apaan cafe ini? tempat perjudian apa? ini hanya cafe pada umumnya. Mereka masih berdiri sampai akhirnya pelayan dan dan mempersilahkan mereka duduk. Rendy dan Seli yang masih bingung harus melakukan apa memilih untuk duduk di bangku dekat pintu masuk. Posisi mereka dapat dilihat dengan jelas dari luar dinding kaca cafe itu.
Seli merogah sakunya dan mengeluarkan ponsel untuk menelfon Mira. Tak ada yang bisa dilakukannya saat ini. panggilan keluar
"Halo"
"halo Mir. lo udah mulai pencarian?"
"udah. Tapi kami masih bingung harus cari dimana. Disini bahkan ga ada perjudian sama sekali"
"kami juga bingung. cafe ini kaya cafe pada umumnya"
"Terus kita harus gimana?"
"Gue juga ga tau harus gimana mir. Gue juga lagi berpikir sekarang ini."
Seli dan Rendy masi bingung harus melakukan apa. Saat itulah Vito lewat dan melihat Rendy dan Seli dari atas mobil yang dikendarai supirnya. Mereka terlihat jelas dari balik dinding kaca cafe yang bening dan bersih.
"tunggu!"
"kita berhenti tuan?" Vito tidak menjawab. Dia masih memandang Seli dan Rendy? "apa yang mereka berdua lakukan?"
"itu tempat apa?"
"itu cafe sekaligus tempat perjudian tuan."
"Perjudian?"
panggilan keluar... tak diangkat.
"Kamu mungkin sibuk sampai tidak mengangkat telfonku. Hubungi aku kalau urusanmu sudah selesai. Telfon aku jika terjadi hal buruk"
__ADS_1
Vito mengirim pesan karena telfonnya tidak diangkat oleh Seli
"maju" perintah Vito.
"baik" jawab Supirnya melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit. sudah waktunya pemeriksaan cederanya lagi.
.
.
.
Panggilan masuk
"halo Mir"
"gue udah tau dimana tempatnya"
"Dimana?"
"lantai 2. tempat perjudiannya ada di lantai dua. Sekarang kami sudah di lantai dua cafenya. kalian juga cepat cek sekarang"
"okay makasih Mir" Seli menutup panggilannya
"Mira bilang, tempat perjudiannya di lantai dua"
"permisi mbak" kata Rendy pada pelayan cafe
"lantai 2 nya juga masih bagian dari cafe ya?tangganya dimana?"
"wah maaf pak. Lantai 2 nya ga digunakan untuk cafe. Lantai dua khusus kamar pelayan cafe dan penyimpanan bahan makanan"
"engga pak. khusus staff cafe aja. Siapa pun diluar staff ga boleh naik ke lantai dua"
"oh gitu ya mbak. makasih ya mbak"
"Gue jadi ga yakin deh. lantai dua digunakan untuk perjudian" Kata Seli setelah pelayan itu pergi meninggalkan meja mereka.
"kok makin rumit ya?" Rendy mengerutu.
"hah ga tau ah." Seli beranjak berdiri
"Lo mau kemana?"
"toilet sebentar" jawab Seli sambil berjalan meninggalkan Rendy yang masih duduk di posisinya kemudian meneguk kopi miliknya.
Seli sudah selesai dan sekarang dia sedang mencuci tangannya di westafel. Setelah mengeringkan tangannya dia menyalakan ponselnya sambil berjalan. Terlihat panggilan Vito yang tidak dia angkat dan pesannya yang belum dia baca. Setelah membaca pesannya dia hendak menelfon Vito tapi seketika perhatiannya teralihkan setelah mendengar suara riuh. Seli mencari sumber suara itu. Tapi dia tidak menemukannya.
"jangan jangan" Seli seketika berjongkok dan berlulut di lantai. Dia meletakkan kepalanya di lantai dengan posisi telinga kanannya menempel pada lantai. "Sudah kuduga"
Seli segera berdiri dan tersenyum. Dia segera bergegas menemui Rendy. Dia Sudah tau harus melakukan apa.
"Permisi mbak..." Seli memanggil pelayan yang tadi sudah mereka tanya.
"Ada yang bisa saya bantu"
__ADS_1
"iya mbak ada. Bantu kami menemukan pintu ke ruangan bawah tanah" Seli tersenyum sedangkan Rendy mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.
"ma...maaf?"
"iya mbak ga salah dengar. kita memang mau ke ruang bawah tanah sekarang"
"emangnya ada?" Rendy berbisik pada Seli.
"Apa kalian polisi yang menyamar"
"engga mbak tenang aja. Kita cuma cari teman kita sebentar setelah itu kita langsung keluar kok"
"baiklah jangan buat keributan" Pelayan cafe setuju dan mengantarkan mereka ke ruangan bawah tanah tempat perjudian itu.
"Ini fotonya fernando. pastikan lo ga salah orang" Seli mengingatkan.
"Iya gue tau" mereka berdua kembali celengak celenguk.
"apa kita terlihat mencurigakan?"
"Gue juga ga tau."
"Itu dia!" Seli menunjuk
"ayo"
"Bisa ikut kami sebentar?" Rendy bertanya pada Fernando.
"kau seperti polisi saja" Seli berbisik.
"kalian siapa?" Fernando melihat Rendy dan Seli bergantian
"Fernando, ayo pulang. Keluargamu cemas." kata Remdy lagi
"Aku ga kenal siapa kalian"
"Kami ini teman kakakmu Mira. Kami membantunya mencari kamu"
"Dan... juga polisi?"
"enggak. kami sama sekali tidak melibatkan polisi satu pun. Mira juga melarang itu. Ayo pulang sama kami. keluargamu rindu padamu. Apa kamu ga rindu?" kata Seli
"Sebenarnya aku juga merindukan rumah. Tapi, apa papa masih mau menerimaku dan memaafkanku setelah aku kabur seperti ini?"
"Dia pasti menerimamu kembali. Orang tua ga akan pernah bisa membenci anaknya. Percaya sama kamk"
"Sepertinya aku belum siap dengan segala kemungkinan. Aku ga bisa pulang sekarang. kalian, pergilah dan jangan cari aku lagi"
"Fernando dengarkan aku. Mama mu setiap hari menangis karena kamu kaburdari Rumah. Sydah berapa hari kamu tidak pulang? selama itu pula dia menangis. apa kamu tega?"
Fernando diam sejenak. Dia tidak tega ibunya seperti itu tapi disisi lain dia takut untuk pulang.
"kamu tak perlu takut. Aku yakin Mira pasti bisa membantu kamu. Lagi pula, dua sepupu kamu juga ikut dalam pencarian ini. Mereka juga bisa membantu kamu kan. Ayo kita pulang" Seli menyakinkan Fernando. Kali ini Fernando mengangguk dan ikut bersama dengan mereka keluar dari ruang bawah tanah itu.
"halo"
__ADS_1
"Fernando sudah ditemukan dan sudah diamankan. misi Selesai"
Mira menghela nafas "Syukurlah. kami kesana sekarang."