Please Come Back

Please Come Back
~6~


__ADS_3

Seli duduk di bangku taman. Dia menikmati senja yang hangat dan nyaman. dia merasa tenang. Sepulang sekolah tadi dia tidak langsung pulang ke rumah. Dia menghabiskan waktu di taman mengisi buku hariannya sambil menikmati senja yang indah. setiap hari dia menulis apa yang dia alami di sekolah di rumah atau dimana pun dan apa pun kegiatan yang dia lakukan selalu Ia tumpahkan di buku hariannya.


Dia merasa malas cepat cepat pulang hari ini. Dia hanya ingin menenangkan diri dan tidak perlu berpura pura tidak terjadi apa pun padanya hari ini kepada mbak Citra-asisten rumah tangga itu. karena mbak Citra pasti selalu bertanya bagaimana sekolahnya hari ini. tapi jika dia sampai di rumah sore hari, mbak Citra pasti sedang sibuk dan tidak ada waktu bertanya padanya.


sesekali terdengar ponselnya yang bergetar. itu dari Zohan dan beberapa notif dari grup. dia masih sering berbalasan pesan dengan Zohan sejak pertama kali Zohan mengiriminya pesan.


Dia menyimpan buku harian ke tas sekolahnya dan melihat ponselnya. Dia mematikan ponselnya dan memasukkannya lagi ke dalam tasnya. bukannya dia tidak ingin membalas pesan Zohan tapi dia hanya tidak ingin diganggu menikmati senja hangat yang menenangkan hatinya.


perutnya terasa lapar tapi dia masih betah menikmati senja. dia sama sekali tidak ingin bergerak dari tempat duduknya. Dia teringat bahwa Ia membawa sebungkus roti dan sekaleng cola. dengan cepat dia kembali membuka tasnya dan benar saja. roti dan cola ada di tasnya.


dia mulai membuka bungkus roti dan memakannya. sebenarnya roti itu bukan roti favoritenya tapi sangkin laparnya dia tetap memilih memakan roti itu. Roti yang ia makan itu seketika hanya tinggal kemasan plastiknya saja. dia mulai merasa tenggorokannya kering. tanpa basa basi dia langsung meletakkan bungkusan plastik roti di sampingnya dan membuka kaleng cola miliknya. kemasan plastik rotinya malah terbang dibawa angin entah kemana.


Dia tidak begitu peduli dengan kemasan plastik itu bahkan dia merasa terbantu tidak harus capek capek berjalan 2 meter ke depan untuk membuang sampahnya. dan tentu saja tidak akan ada yang memarahinya. karena itu sama sekali bukan salahnya. salahkan saja angin yang membawa kemasan itu pergi.


sebenarnya belum cukup kenyang makan sebungkus roti dan sekaleng cola tapi setidaknya itu bisa mengganjal perutnya saat perjalanan pulang nanti. dia melihat ke tangan kanannya. colanya tinggal sedikit. mungkin tinggal 1 teguk. dengan cepat dia langsung menghabiskan cola yang tersisa itu.


malas harus berjalan membuang sampah, ia memilih melempar kaleng yang ada di tangan kanannya ke tempat sampah di depannya. sebenarnya jaraknya tidak jauh. hanya saja dia sudah terlanjur nyaman duduk di bangku itu.


"plak" dia melempar kaleng bekas cola nya dengan enteng. tapi, itu bukan suara kaleng yang masuk ke tempat sampah tapi itu suara kaleng yang membentur lengan seseorang yang sedang berjalan.


"aduh" kata orang yang lewat sambil memegang lengan sebelah kanannya


"apa apaan cowo itu? cuma kena lengan aja kok kaya baru kecelakaan motor? kan cuma kaleng cola yang kosong dan ringan. jangan jangan dia cuma caper. biar bisa diobati kaya di novel novel yang sering gue baca. ah dasar modus. ah sejak kapan pula gue berpikir negatif seperti ini? emangnya gue pernah berpikir positif kalo menyangkut cowo? iya juga ya. semua cowo itu sama. mereka cuma cari perhatian. modus."


"tapi kenapa gue ngerasa dia ga main main merasa sakit? tapi itu kan cuma kaleng kosong. ah bodo amat lah. gue samperin aja lah lagian gue perlu minta maaf juga kan" kata Seli beranjak menemui cowo yang dia lempar tadi.

__ADS_1


"eh, kamu gapapa kan?"


"bisa ga sih liat liat dulu?"


"kok bisa sih kaleng yang kosong gitu buat sakit? lo pura pura ya?" kata Seli mengangkat lengan baju berwarna hitam yang 3/4 itu. tapi dia kaget saat melihat lengan pria itu.


"i... ini kenapa?" tanya Seli kaget. tidak mungkin kaleng ringan itu membuat lengannya seperti itu.


"bukan urusanmu!" jawabnya ketus sambil menarik lengannya


"Aduh gue malah ga bawa apa apa lagi" kata Seli mulai panik


"minggir"


"bukan urusanmu"


"bisa diam ga sih? nurut aja kenapa?"


".........."


lo tunggu di bangku itu. tas gue masih disana. bentar gue beli air untuk bersihin darah di lengan lo."


"cepat! ngapain masih berdiri disini sih?" tanya Seli lagi.


Setelah dia memastikan laki laki itu duduk di bangku yang dia tunjuk, dia berlari membeli air dan tisu. sedangkan laki laki itu hanya menurut dan menunggu di bangku itu. menatap lurus ke depan. sepertinya dia tidak terlalu peduli dengan lengannya yang berdarah walaupun rasa nyerinya kembali setelah di lempar oleh Seli. tak lama Seli datang sambil berlari membawa air mineral dan tisu

__ADS_1


"sebenarnya lo kenapa sih?" tanya Seli menggulung lengan baju pria itu dan mulai membersihkan lukanya.


"bukan urusanmu" katanya berekspresi datar


"ya kalau bukan karena salah gue ya gue juga ga bakal ngajak ngomong duluan goblok. ini kan cuma basa basi aja. ga peka banget sih jadi cowo" batin Seli sambil membersihkan darah di lengan pria itu. Pria itu melihat ke tangan kanannya kemudian melihat ke arah Seli sekilas kemudian kembali menatap ke depan lagi.


"cewe bodoh. ngapain dia mau ngobatin luka orang padahal pipinya sendiri juga memar. seragamnya? ternyata kami satu sekolah" batin Pria itu


"emangnya lo darimana dan mau kemana? terus kenapa lo bisa berdarah gini? dan yang buat gue heran kenapa lo ga langsung obati? darahnya udah hampir mengering loh." kata Seli yang sekarang sedang membalut luka di lengan pria itu dengan sapu tangan. Dia selesai membalut lengan itu dengan rapi


"jangan banyak tanya. kau mau lenganmu berdarah juga kaya gini?" tanya nya datar


Seli yang terkejut seketika berdiri sambil menatap ke arah Pria itu. sebenarnya dia takut. Dia tiba tiba teringat bully yang dilakukan Melly kakak kelasnya kepadanya. seketika tangannya bergetar. sebenarnya dia merasa bersalah pada pria itu tapi dia takut. dan rasa takutnya mengalahkan rasa bersalahnya. karena dilihat pun tubuh pria itu tinggi. mungkin sekitar 170 atau lebih dan sepertinya dia suka berolahraga.


"ada apa dengan wanita ini?" batin Pria itu


"kau-"


Tapi yang ditanya malah mundur perlahan lahan dan sepertinya semakin ketakutan ketika pria itu berdiri. Pria yang melihat tingkah laku Seli bingung.


"jangan jangan, cowo itu bagian dari geng kak Melly. kuharap tidak. tapi bagaimana jika iya? tak ada bukti kuat yang mengatakan dia bukan bagian dari geng Kak Melly kan? lagi pula anggota geng nya bukan hanya di sekolah saja kan. jika dia memang salah satu dari mereka, sepertinya aku salah bermain main dengan siapa" batin Seli yang menunduk dan tubuhnya semakin bergetar. dia semakin takut setelah memikirkan itu


"kenapa dia setakut itu?" batin pria itu lagi


"ma... maaf se-sepertinya a-aku harus pulang dulu" kata Seli dengan takut. bagaimana pun dia takut kejadian itu menimpanya lagi. Memar di pipinya masih terasa perih dan dia tidak mau menambah rasa sakit itu.

__ADS_1


__ADS_2