Please Come Back

Please Come Back
~17~


__ADS_3

Seli masih memikirkan hal yang terjadi kemarin. Dia juga enggan menanyakan langsung pada Prilly. Dan tidak mungkin dia meminta penjelasan dari Melly. semuanya baru usai dan dia sama sekali tidak ingin brrurusan dengan Melly and the genk. Seli beranjak duduk sesaat sebelum sebangkunya menyapanya


"Pagi Sel"


"eh Mir? tumbun bangt lo nyapa gue kaya gitu? ga panas tuh" kata Seli menurunkan tangannya dari dahi Mira


"ish apaan sih lo? gue gapapalah. emang serang gue udah ga bisa nyapa lo?


"bisa sih. tapi kan lo ga pernsh nyapa kaya vitu ya gue kaget dong"


"ngomong ngomong tumben lo lama"


"ya begitulah"


"lo udah ngerjain tugas matemayika?"


"udah dong"


"eh lo tau ga?-"


"engga"


"ih gue belum cerita. kebiasaan lo"


"haha iya iya apaan?"


"lo tau ga, kak Melly and the gank udah ga ngebully adik kelasnya lagi. gue sih ga tau sih siapa yang dibuly"


"baguslah kalau lo ga tau" jawab Seli keceplosan


"hah maksud lo?"


ya... ya bagus kalo lo ga tau siapa yang dibully. kalo lo kenal kan mungkin lo bisa jadi korban juga. baguslah lo ga ada hubungannya sama semua itu"


"iya sih lo benar juga"

__ADS_1


"eh lo tau ga kalau-"


"apa lagi sih mir?"


"lo kenapa sih sel? sensitif banget pas gue cerita twntang kak Melly.


"ya... ya enggalah. emangnya lo mau nyeritain apa?" kata Seli memperbaiki posisi duduknya


"sebenarnya kak Melly itu kadian banget tau ga?"


"kenapa?" kali ini Seli lebih serius mendengarkan


"dulunya ayah nya preman. ibunya meminta bercerai sejak lama tapi permintaan itu tidak pernah disetui ayahnya. karena sering didesak akhirnya ayahnya menandatangani surat perceraian itu dan persis 2 tahun setelah bercerai ayahnya meninggal. Dan kak Melly juga pernah jadi korban bully sewaktu dia masih SMP. dia korban broken home dan bully Sel. kasian banget kan"


"seharusnya dia ga ngebully orang lain dong kalau dia pernah dibully. emangnya dia ga mikir orang lain bakal ngerasain apa yang pernah dia rasain?"


"lo kok jadi marah dih sel?.


Seli menghela nafasnya sejenak


"kaya nya sih dia balas dendam karena pernah dibully Sel"


"bagus kalau dia bisamembalaskan dendamnya sama orang orang yang membully dia. tapi dia bahkan membully adik kelasnya yang ga tau apa apa"


"iya sih lo benar. Dipikir pikir sih gue sekarang tau kenapa dia marah besar sampai membully adik kelasnya karena diputuskan kak Zohan."


"emangnya apa?" Seli mengerutkan kening


"Dia kembali kehilangan orang yang dia sayangi ra. makanya dia ga terima."


Seli hanya diam tidak menanggapi penyataan Mira


"Dia kehilangan ayah, ibu nya. keluarga yang harisnya harmonis memberika dia cibta dan kasih sayang. tapi dia tidak pernah mendapatkannya. anak mana yang ga menyayangi orang tua nya Sel? mungkin saat perceraian orang tuanya dia terpukul. ditambah lagi ayahnya yang meninggal. Dan ibunya, mungkin ibunya tidak pernah menemuinya krmbali setelah perceraian. gue sih ga tau dia tinggal dimana dan sama siapa. tapi yang pasti dia kehilangan banyak cinta dan kasih sayang Sel. Saat bertemu dengan kak Zohan mungkin dia mendapatkan semua yang hilang. tapi ga tau kalau itu juga akan hilang."Mira menatap Seli yang diam


"Sebenarnya dia melalukan itu karena tidak berdaya Sel. bukan karena memiliki genk yang kuat. tapi lebih karena dia merasa kesepian, merasa ditinggalkan dan merasa kebahagiaannya selalu direnggut. Semua itu yang memunculkan benci dalam hatinya Sel. yah walau perlakuannya tetap tak termaafkan. caranya memvully cukup sadis.

__ADS_1


"eh, gue juga baru tau Sel. tenyata Cica dan Melly punya hubungan. kayanya sih mereka teman baik."Kali ini Mira mulai mengeluarkan buku nya dari tas yang tanpa dia sadari Seli membelalakkan matanya karena kaget dengan ucapannya barusan.


"lo tau darimana?" Seli bertanya pertama kalinya setelah lama membungkam


"yah, gue kan update tentang sekolah kita Sel"


"termasuk gosip gosip kaya gini?"


"yah mau gimana lagi Sel?" Mira tertawa. "lagi pula gue cuma cerita sama lo tentang info info yang gue dapat kok. gue bukan tukang gosip" sekali lagi Mira tertawa


"sepertinya srkarang aku sudah tau kenapa Prilly dekat dengan kak Melly. Ternyata kali ini dia benar benar meninggalkan aku lagi dan lebih memilih Prilly lagi. Sama kaya kemarin itu."


"mungkin ini pembelajaran untukku. aku bukan orang yang semenyenangkan Chica. Wajar saja dia lebih memilih Cica. lagi pula aku siapa? dari smp hanya korban pertemanan. Semua kebaikanku dari dulu hanya dimanfaatkan teman temanku" Seli menghela nafas panjang. dia sudah duduk di taman kota sejak 5 menit lalu.


" Entah kenapa aku tidak pernah beruntung dalam pertemanan. entah mengapa mereka hanya memanfaatkanku. padahal aku tulus membantu. Tidak ada sama sekali harapan bahwa mereka harus membalas apa yang aku lakukan pada mereka."


"jika aku bisa meminta sesuatu, aku akan minta seorang teman tanpa khawatir dia akan meninggalkan aku atau pun menghianati aku. Tapi sudahlah. jangan terlalu berharap lagi pula siapa yang bisa aku mintai srperti itu?" Seli membenarkan posisi duduknya bersandar ke bangku dan menyilangkan kakinya sambil sesekali menggoyangkannya ke depan dan ke belakang.


Vito bergegas menuju tempat Seli duduk. Dan tanpa mengatakan apa pun dia langsung duduk di ujung kanan bangku taman. Sedangkan Seli duduk di ujung bangku kiri. Vito meneguk minumannya dan meletakkannya di samping tempat duduknya.


Seperti sore sore yang lalu terlihat Vito mengenakan kaos dengan manset kaki yang diluarnya celana boxer lengkap dengan sepatu olahraganya. Dia juga terlihat berkeringat. Sepertinya dia baru saja selesai olahraga. entahlah olahraga apa yang dia lakukan. Seli tidak begitu peduli


Sekilas mereka terlihat seperti tidak saling mengenal. lengang sejenak sampai akhirnya Seli mengeluarkan kalimatnya. Dia tidak mungkin menunggu Vito untuk membuka percakapan. Jika ditunggu mungkin sampai nanti Malam Vito tidak akan mengeluarkan suara. Dia orang terdingin dan cuek yang pernah Seli tau dan, ya ekspresinya sangat sulit keluar. Seli bahkan tidak pernah melihat Vito tertawa karena dia hanya memiliki satu ekspresi yaitu ekspresi datar.


"kalau lo dihianatin atau ditinggal teman lo, apa respon lo?"


"gue ga punya teman" Jawab Vito yang tentu saja tanpa melihat Seli sedikit pun. dia hanya melihat ke depan dengan ekspresi datar nya. Seli melihat Vito sekilas kemudian kembali melihat ke depan.


"gue ga tau lebih menyedihkan ga punya teman atau dihianati teman. tapi yang pasti itu sama sama menyedihkan"


"gue ga peduli kalau gue ga punya teman" jawab Vito masih dengan ekspresi datarnya. Seakan dia malas membahas masalah pertemanan. atau mungkin saja dia juga orang yang selalu dimanfaatkan sehingga dia tidak peduli lagi dengan orang orang sekitarnya.


"dia... sejak mapan pula dia sedingin ini? hah oke oke dia memang dingin tapi ga sedingin ini juga lah. dia lupa ya kalo beberapa hari yang lalu kami jadi teman baik? kenapa perlakukannya seperti ini? jangan jangan dia memang orang yang menyebalkan" batin Seli beranjak meninggalkan Vito yang masih tetap pada posisinya. Seli pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Vito yang berhasil membuatnya kesal beberapa menit lalu karena dia tidak mendapatkan tanggapan yang baij dari Vito.


"teman? gue pernah punya teman. Dia bukan sekedar teman tapi dia orang yang paling aku sayangi"

__ADS_1


__ADS_2