
Seli berjalan sendiri ke kelasnya. di sisi gerbang terlihat Abrian seperti menunggunya. Seli memutar bola matanya. Dia malas sekali bertemu dengan Abrian. sejak bentakannya dan perkelahian mereka kemarin. Tapi tak ada cara lain untuk menghindar. Hanya itu gerbang satu satunya menuju sekolah. Langkahnya semakin dekat dengan Abrian. Dia terus melangkah dengan ekspresi datar. Tak seperti biasanya ceria.
Seli melihat Abrian sebentar kemudian mengalihkan pandangannya dan tak berhenti sedikit pun saat berpapasan dengan Abrian. Tidak mengucapkan selamat pagi seperti biasa atau sekadar melemparkan senyuman. Hari ini dia benar benar cuek pada Abrian
"Sel" panggil Abrian saat Seli tidak berhenti sedikit pun saat melewatinya
"Sel kamu masih marah?" Yang dipanggil tetap berjalan tak peduli sama sekali. Seakan dia tidak mendengar panggilan itu.
"Sel aku minta maaf" Abrian meraih tangan Seli. Secepat mungkin Seli melepaskannya. Tapi tidak berhasil. Sepertinya genggaman Abrian terlalu kencang.
"lepasin" Seli menggoyang goyangkan tangannya untuk melepaskan tangan Abrian dari sana.
"maafin aku sel. aku ga bermaksud seperti itu"
"lepasin!" Seli menarik tangannya
"kamu mau maafin aku kan Sel"
"Aku bilang lepasin" bentak Seli.
"baiklah. kalau itu yang kamu mau. Aku akan selalu datang meminta maaf sampai kamu memaafkan aku" Abrian melepaskan tangan Seli perlahan.
Seli kembali berjalan menuju kelasnya sedangkan Abrian terlihat kehabisan cara untuk mendapatkan maaf dari Seli. Mungkin perlakukannya terlalu keterlaluan. Abrian menghela nafas kemudian mengacak acak rambutnya lantas pergi ke kelasnya.
"Pagi sel" Mira yang entah sejak kapan sering sekali menyapa nya seperti itu. Seli yang mendengar hanya membalasnya dengan mengangguk.
"lo kenapa? pagi pagi udah muka kusut?"
"jangan jangan..."
"iya lo benar"
"wah, akhirnya"
"lo senang gue bertengkar sama kak Abrian?"
"bukan gitu sel"
"terus maksud lo apa? jangan buat gue curiga dong"
"jangan galak galak dong sel. masih pagi nih. maksud gue, akhirnya gue ga salah lagi Sel"
"masalahnya apa Sel?"
"malas cerita"
"yah, lo ga boleh gitu dong sel. lo harus cerita sama gue"
"harus?"
"ya kan mana tau gue bisa bantu"
"lo bantu apa?"
"bantu doa."
__ADS_1
"ayo dong sel. cerita deh sama gue"
"nanti Mir"
"Sel, ayo dong cerita sama gue"
Ini sudah matapelajaran terakhir tapi Mira tetap saja memaksa untuk cerita masalah itu.
"cerita dong Sel. udah mau pulang nih"
"iya gue cerita"
Seli menceritakan segalanya secara detail. mulai dari dia bertemu dengan mario, Mario mengantarnya pulang, Abrian yang menuduhnya berselingkuh, sampai pertengkaran mereka yang membuat Seli marah pada Abrian hingga saat ini.
"Astaga! lo dituduh selingkuh?" Pertanyaan itu hanya dibalas anggukan dari Seli.
"kok bisa segitunya sih kak Abrian" lagi lagi pertanyaan itu dibalas Seli dengan mengangkat bahu nya
"gue jadi curiga deh"
"tentang apa?"
"jangan jangan kak Abrian tuh yang selingkuh"
"jangan asal ngomong lo"
"lo mungkin ga percaya karena lo ga pernah selingkuh. ini pertama kalinya lo pacaran kan. tapi biasanya sih orang yang selingkuh itu, biasanya curigaan takut pasangannya selingkuh. emangnya lo punya bukti dia ga selingku?"
"gue percaya sama dia Mir. Gue ga mau jafi orang yang curigaan juga lah"
"okay stop. kita ga perlu membahas kak Abrian lagi Mir. lama lama jadi gue yang gila lo buat"
Bel pulang sekolah menghentikan percakapan mereka tentang Abrian.
"Lo pulang sam-"
"sama lo"
"tapi kak Abrian?"
"peduli amat"
"tapi dia udah nunggu sel" tunjuk Seli dengan matanya. Mata seli mengikuti arah mata Mira dan melihat Abrian sudah menunggunya di depan kelas. Seli masih menatap Abrian dengan kesal.
"gue pulang sama lo"
"kak Abrian?"
"gue ga peduli"
"Sel, sejak kapan sikap lo berubah? biasanya sih lo lembut banget, ga tegaan. sekarang malah gini"
"sejak kemarin habis bertengkar dengan nya. Sekarang ge udah ga peduli lagi sama siapa siapa"
"lo yakin ninggalin kak-"
__ADS_1
"yakin. yuk pulang"
Seli melempar pandangan sejenak kepada Abrian kemudian berjalan meninggalkannya. Tapi Abrian malah menarik tangan Seli
"kamu masih marah?"
Seli tidak menoleh sedikit pun
"Sel, kita pulang bareng ya"
"aku pulang bareng Mira"
"Kamu belum bisa maafin aku Sel?"
"Aku udah maafin kakak. Tapi..."
"Tapi apa Sel?"
"Aku butuh waktu untuk bisa kembali seperti semula"
"Aku ga maksa kamu langsung maafin aku kok. Tapi jangan kaya gini Sel. Jangan buat aku merasa tambah bersalah pada diriku sendiri.
"maaf kak aku harus pulang" kali ini Seli berbalik melepaskan tangan Abrian perlahan
"kamu pulang bareng aku sel"
"bareng Mira"
posisi mereka sekarang ini sudah hadap hadapan.
"Sel, sekarang kamu pilih. Aku atau Mira"
Seli menatap Abrian lamat lamat. apa maksud laki laki ini dia harus pilih?
"kamu suruh aku memilih antara Teman atau pacar?"
"sekarang aku tau betapa egoisnya kamu"
"Kamu bahkan cemburu dengan Mira temanku."
"kemarin kak Mario dan sekarang Mira. Aku ga tau apakah kamu juga akan munyuruhku memilih kamu atau kak Mario atau mungkin kamu akan menyuruhku memilih kamu atau orang tuaku."
"ternyata kamu secemburu itu. ini sama sekali ga wajar kak. Kamu terlalu egois."
"jika seperti ini terus, jangan jangan kamu juga tidak akan mengizinkanku bergaul dengan siapa pun. tidak bisa dekat dengan siapa pun. untuk apa? untuk apa kak?"
"Tadinya mungkin marahku bisa segera reda. Hanya butuh sedikit waktu untuk pulih. tapi melihat betapa egoisnya kamu, aku merasa muak dengan semua ini"
Seli meninggalkan Abrian kemudian menarik tangan Mira untuk segera pulang. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Mira juga tak berani menanyakan apa pun. Dia mengerti perasaan Seli. Dia pasti butuh waktu untuk menenangkan hati nya.
Sedangkan Abrian, dia mengacak acak rambutnya dengan kasar dan mengusap wajahnya. Apa yang dia lakukan barusan? tentu saja itu memperunyam masalah. entah sampai kapan Seli akan marah padanya. Atau jangan jangan Seli tidak akan memaafkannya. bagaimana kalau Seli mengakhiri hubungan dengannya?
Dia menyesal telah mengatakan itu. Betapa bodohnya dirinya beberapa saat lalu. Otaknya sangat buntu. Pasti sangat sulit meminta maaf dari Seli yang sekarang semakin marah.
Abrian kembali mengusap Rambutnya kemudian memukul mukul dinding bangunan kelas Seli. Dia bersandar ke dindibg dan lagi lagi mengacak acak rambutnya. Dia terlihat seperti orang depresi. Tak tau harus melakukan apa. dan pasti sangat sulit berbicara dengan Seli lagi. Bagaimana dia akan menjelaskan pada Seli? bagaimana hubungannya dengan seli?
__ADS_1
Sejak kapan dia menjadi sebodoh itu? padahal dia sangat sayang pada Seli. Tapi semua perbuatannya pada Seli jelas jelas menunjukkan bahwa dia sangat bodoh dalam menjalankan sebuah hubungan. padahal sudah banyak sekali pengalaman dalam dirinya tentang hubungan seperti ini